Selina Saraswati, dokter muda baru lulus, tiba-tiba dijodohkan dengan Raden Adipati Wijaya — pria tampan yang terkenal sebagai pengangguran abadi dan kerap ditolak banyak perempuan.
Semua orang bertanya-tanya mengapa Selina harus dijodohkan dengannya. Namun kejutan terbesar terjadi saat akad: Raden Adipati menyerahkan mahar lima miliar rupiah.
Dari mana pria pengangguran itu mendapatkan uang sebanyak itu?
Siapa sebenarnya Raden Adipati Wijaya — lelaki misterius yang tampak biasa, tapi menyimpan rahasia besar di balik senyum santainya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Prettyies, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Salting
Selina keluar dari kamar mandi dengan rambut masih sedikit lembap. Ia melangkah pelan, lalu duduk di tepi ranjang, mendekati Adipati.
“Mas…” Selina menunduk. “Maaf ya soal yang tadi pagi.”
Adipati menoleh, ekspresinya lembut.
“Iya, mas paham kok, Sel.”
Selina mengusap jemarinya sendiri, ragu-ragu.
“Aku cuma heran… setelah minum minuman itu, badan aku rasanya gerah dan nggak nyaman.”
Wajah Adipati berubah serius.
“Itu karena Sinta,” katanya pelan. “Dia ngasih obat perangsang ke minuman yang kamu minum.”
Selina terbelalak.
“Hah? Obat perangsang? Buat apa?”
“Dia mau jebak mas,” jawab Adipati jujur. “Supaya kelihatan seolah-olah mas tidur sama dia. Tapi kamu yang kena.”
Selina terdiam beberapa detik, lalu napasnya bergetar.
“Makasih ya, Mas…” Ia memeluk Adipati erat.
“Kalau nggak ada kamu, aku nggak tahu apa yang bakal terjadi. Bisa aja aku diapa-apain laki-laki hidung belang.”
Adipati mendengus kecil.
“Kamu lebih rela diapa-apain laki-laki hidung belang daripada sama suami sendiri?”
Selina langsung melepaskan pelukannya dan memukul dada Adipati pelan.
“Ih, Mas! Kok ngomongnya gitu sih!”
Adipati memasang wajah pura-pura ngambek.
“Ya soalnya tadi kamu marah-marah. Padahal mas nggak ngapa-ngapain.”
Selina menunduk lagi, kali ini lebih lembut.
“Mas… aku salah. Aku cuma belum siap. Tapi mas mau nungguin aku, kan?”
Adipati menatapnya lama, lalu tersenyum.
“Mas tahu. Dan mas menghargai itu,” katanya sambil memegang pipi Selina. “Kita pelan-pelan, ya. Mas pasti nunggu kamu.”
Selina memejamkan mata, jantungnya berdebar.
Adipati tersenyum, menyelipkan rambut Selina ke belakang telinganya.
“Anjir…” Selina membuka mata lagi, malu, lalu menoleh ke arah lain. “Aku kira mau dicium.”
Adipati terkekeh, lalu menarik dagu Selina pelan. Ia mengecup bibir Selina singkat tapi hangat.
" mmmpphh.. "
Selina tidak menolak. Saat suasana mulai hening, tiba-tiba—
Tok....Tok....
Adipati langsung menjauh.
“Sebentar,” katanya. “Mas buka pintu. Kayaknya housekeeping nganterin sarapan.”
Ia membuka pintu kamar.
“Permisi, Pak, Bu,” ujar petugas hotel ramah.
“Kami membawakan sarapan. Ini teh hangat untuk Bu Selina yang sedang datang bulan, dan obat anti-nyeri perutnya.”
Selina menoleh ke Adipati.
“Mas… kamu yang pesenin?”
Adipati mengangguk santai.
“Iya. Yuk, sarapan dulu. Maaf aku gak tau kalau kamu mens minum apa jadi mas inisiatif beliin teh anget.”
Petugas melanjutkan, “Ini roti bakar dan kopi untuk Bapak.”
“Terima kasih,” jawab Adipati.
“Kami permisi,” ujar petugas itu sebelum keluar dan menutup pintu.
Selina tersenyum kecil, menatap Adipati dengan mata hangat.
“Mas perhatian banget.”
Adipati menarik kursi.
“Mas kan suami kamu, kalau bukan mas siapa yang harus perhatian sama kamu.”
Selina tertawa pelan.
“Iya… suamiku.”
Adipati dan Selina duduk berhadapan di meja kecil dekat jendela. Aroma kopi dan roti bakar memenuhi kamar.
“Rotinya enak,” Selina menggigit kecil. “Kayaknya lebih enak dimakan pas hangat.”
Adipati tersenyum sambil mengaduk kopinya.
“Iya. Mas sengaja pesenin yang simpel biar perut kamu nggak kaget.”
Selina menatapnya sebentar, lalu menunduk.
“Maaf ya aku belum bisa bales apa-apa sama Mas. ”
“Sayang itu sudah kewajiban suami menyayangi istrinya,jadi kamu gak perlu merasa bersalah,” jawab Adipati santai.
Selina tersenyum, lalu kembali menggigit roti.
“Mas jangan ngomong gitu terus dong.”
“Kenapa?” Adipati mengangkat alis.
“Bikin aku…” Selina berhenti bicara, pipinya memerah. “Bikin aku nggak fokus makan.”
Adipati terkekeh pelan.
“Padahal mas lihat kamu yang nggak fokus.”
“Hah?” Selina mengangkat wajahnya.
Adipati mendekat sedikit.
“Ssstt.”
Ia mengangkat tangannya, ibu jarinya menyentuh bibir Selina perlahan.
“Ada bekas roti,” katanya pelan.
Selina membeku. Jantungnya berdebar kencang, napasnya tertahan.
“Oh… i-iya?” suaranya nyaris berbisik.
Adipati tersenyum tipis, menarik tangannya kembali dengan santai.
“Sekarang udah bersih.”
Selina menelan ludah.
“Mas… jangan tiba-tiba gitu.”
“Kenapa?” Adipati pura-pura polos.
“Deg-degan,” Selina jujur sambil memegangi dadanya. “Jantung aku hampir lompat.”
Adipati tertawa kecil.
“Mas cuma ngelap roti.”
“Cara mas itu…” Selina melirik kesal tapi malu. “Nggak wajar.”
Adipati menyandarkan tubuhnya di kursi.
“Berarti mas sukses bikin istri mas sadar kalau lagi diperhatiin.”
Selina tersenyum kecil, lalu kembali makan.
“Mas jahat.”
“Tapi kamu senyum,” balas Adipati.
Selina diam sebentar, lalu berkata lirih,
“Iya… soalnya aku nyaman.”
Adipati menatapnya hangat.
“Kalau gitu, mas bakal lebih sering begini.”
Selina langsung menoleh cepat.
“Mas!”
Adipati tertawa, sementara Selina menunduk, berusaha menyembunyikan wajahnya yang semakin merah.