Sebelah tangan Inara yang hendak membuka pintu tiba - tiba saja langsung terhenti dan melayang di udara. Ketika ia tak sengaja mendengar pembicaraan Brian dengan Melisa - mertuanya.
" Aku akan menikahi Anita ma.."
" Apa maksud kamu Brian? Kamu itu sudah menikah dengan Inara. Kenapa kamu malah ingin menikah dengan wanita tak tahu diri itu."
" Maaf ma. Aku harus segera menikahi Anita. Saat ini dia telah mengandung anaku. Yang berarti penerus dari keluarga Atmaja."
Kedua mata Melisa langsung terbelalak lebar.
Begitu pula dengan kedua mata Inara yang sedari tadi tak sengaja menguping pembicaraan rahasia dari kedua orang yang ada di dalam ruangan sana.
Perih , sakit , dan sesak langsung menyelimuti hati Inara.
Wanita berkulit putih itu tak menyangka. Jika selama ini pria yang selalu ia cintai dan sayangi sepenuh hati . Malah menorehkan luka sebesar ini pada hatinya yang rapuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INNA PUTU, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
Mata Brian menajam.
Ketika melihat di seluruh penjuru kamar tak ada Inara di sana.
Padahal sebelum pria itu bebersih diri. Brian sudah berharap akan kehadiran Inara yang tengah sibuk menyiapkan semua keperluannya di pagi hari ini.
Namun siapa yang menyangka. Jika pemandangan yang ia lihat malah kesunyian.
Jangankan keberadaan Inara. Seekor lalat pun tak ia lihat keberadaannya di sana.
Hingga dengusan nafas kasar pun Brian keluarkan.
Dengan rambut depan pria itu sugarkan ke arah belakang. Seolah telah jengah dengan perilaku Inara yang akhir - akhir ini telah berubah, tak mau memperhatikan dirinya lagi.
Sampai tiba - tiba saja sudut bibir pria itu tersenyum miring. Dan terkekeh kecil sendiri di dalam kamar.
" Haha.. Haha.. Sepertinya aku benar - benar sudah gila sekarang."
Selama beberapa detik pria itu terus saja tertawa sendiri. Sampai Brian menarik nafas dalam. Dan berkata." Kau telah berhasil mencuri perhatian ku Inara. Kau telah berhasil."
Brian yang masih hanya mengenakan handuk di bagian bawah pun perlahan melangkah menuju ruang ganti.
Disana Brian terlihat memilih dan mengambil sebuah setelan pakaian yang akan ia kenakan di hari itu.
Kembali Brian terkekeh kecil sendiri.
Mengingat jika selama ini ia tak pernah melakukan hal ini lagi. Lebih tepatnya setelah menikahi Inara.
Semua keperluannya terbilang selalu di penuhi oleh Inara.
Bahkan wanita itu cenderung terlihat seperti seorang cenayang. Dibandingkan seorang wanita biasa.
Mengingat jika Inara selalu tahu apa yang ia inginkan dan butuhkan.
Maka oleh sebab itu..
Ketika Inara tak memperhatikannya lagi. Brian merasakan sedikit kehilangan.
Bahkan kehadiran Anita kembali pun tak bisa menggantikan rasa aneh yang saat ini tengah menjalar di hati Brian.
Seolah - olah hati Brian berkata. Jika saat ini yang ia butuhkan adalah Inara, bukanlah Anita lagi.
Namun pemikiran konyol itu tentu saja selalu Brian tepis.
Mengingat betapa cintanya dulu ia kepada Anita. Sementara Inara..
Brian masih ingat dengan sangat jelas. Jika wanita itu hanyalah seorang pengantin pengganti. Yang tentu saja tak akan pernah bisa ia cintai. Sebagaimana ia mencintai Anita yang sudah ia pacari sejak lama.
__
" Nona.. Maaf mengganggu. Tapi ada sesuatu untuk anda."
Mata Inara yang sedang melihat ke arah ponsel pun, tampak sedikit melirik ke arah sesuatu yang di serahkan pelayan kepadanya.
Sebuah benda berbentuk kotak dengan terbungkus kado di sisi luarnya.
Apakah ia saat ini tengah mendapat kiriman hadiah?
Tapi dari siapa dan untuk apa?
Mengingat jika hari ini bukanlah hari ulang tahunnya.
Jadi tentu saja hal iti membuat Inara bertanya - tanya dalam hati.
" Ini.. Dari siapa? "
" Ini dari tuan Brian nona. Khusus di pesan untuk anda."
Tangan Inara yang hendak mengambil hadiah itu pun mendadak berhenti di udara.
Hadiah dari Brian?
Tentu saja ia tak akan mau menerima hadiah dari pria pengkhianat itu.
" Kembalikan saja pada tuan kalian. Sampaikan padanya aku tak membutuhkan hadiah itu."
" Ya?"
Kedua mata Prita seketika mengerjap pelan.
Dalam hati pelayan muda itu tentu saja cukup terkejut akan sikap aneh yang sudah sekian kalinya di tunjukan Inara di hadapannya.
Pertama , sarapan pagi sendiri di taman.
Dan sekarang...
Wanita pemuja Brian itu malah menolak hadiah pemberian Brian. Padahal dulu, wanita itu sangatlah menanti hadiah pemberian dari Brian. Yang sialnya tak pernah pria itu berikan untuk Inara.
Tapi setelah semuanya telah terwujud.
Wanita berparas cantik nan lembut itu malah secara terang - terangan menolak hadiah pemberian dari Brian.
Ada apa ini sebenarnya?
Kenapa sikap Inara terlihat sangat berubah sekali sekarang?
" Kenapa kau menatapku seperti itu Prita? Aku bilang , kembalikan saja hadiah itu pada Brian. Jika dia tetap memaksa. Hadiah itu boleh kau buang ke tong sampah. Atau .. Kalau kau mau. Kau boleh mengambilnya. "
Yang bener Naura atau Inara Thoor
ok kita lihat sebadast apa kau Ra