NovelToon NovelToon
Duke, Tolong Minggir

Duke, Tolong Minggir

Status: sedang berlangsung
Genre:Time Travel / Mengubah Takdir / Menjadi NPC / CEO
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Leel K

Masuk ke dalam dunia novel seharusnya menjadi impian setiap pembaca. Kecuali jika novel itu adalah "Tears of the Caged Bird"—sebuah kisah dark romance di mana pemeran utamanya adalah Duke sosiopat yang hobi meneror gadis yatim piatu.

Sialnya, itulah nasib Vivienne.

Terbangun sebagai sepupu miskin dari tunangan sang Duke, Vivienne seharusnya hanya menjadi figuran yang diam dan mati muda. Tapi, melihat Freya Lark (si female lead) terus-terusan menangis dan Damian von Hart (si male lead) terus-terusan bertingkah seperti penguntit elit, kesabaran Vivienne habis.

Persetan dengan alur asli!

Jika penulis aslinya ingin drama, Vivienne akan memberinya komedi.
Jika Duke ingin bermain dark romance, Vivienne akan menyiramnya dengan air pel.

"Maaf, Duke. Anda menghalangi jalan saya menuju kebebasan finansial. Tolong minggir, atau saya tagih biaya parkir."

Selamat datang di Hartfield, di mana romansa sudah mati, dan digantikan oleh chaos yang sangat menguntungkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leel K, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Eksekusi: "BYUR!"

Damian mencondongkan tubuhnya semakin dekat. Hidungnya mungkin sudah menyentuh rambut Freya. Freya terlihat seperti akan pingsan karena panik.

Inilah saatnya.

Aku menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan segenap kekuatan paru-paruku, dan memutar keran air sampai maksimal.

Selang karet di tanganku menyentak hidup seperti ular yang marah. Tekanan airnya luar biasa kuat.

Aku melompat keluar dari balik pohon palem, mengarahkan moncong selang tepat ke tengah-tengah drama picisan itu, dan berteriak sekuat tenaga.

"AWAS!!! HAMA! HAMA RAKSASA!"

CROT!

Semburan air deras meluncur deras, membelah udara lembab rumah kaca, dan menghantam sasaran dengan akurasi 100%.

Bukan Freya. Tapi punggung tegap Duke Damian von Hart.

BYURRRRRR!

Efeknya instan dan spektakuler.

Damian tersentak ke depan, menabrak meja potting dengan suara gedebuk yang menyakitkan. Cengkeramannya pada meja terlepas. Dia terhuyung ke samping, berusaha menjaga keseimbangan di lantai bata yang licin, tapi serangan airku tidak memberinya ampun.

Aku tidak berhenti. Aku terus menyemprot.

"MATI KAU HAMA! MATI KAU KUTU LONCAT MESUM!" teriakku, suaraku teredam masker kain tapi tetap menggelegar. "JANGAN MAKAN BUNGA SAYA! PERGI! SYUH! SYUH!"

Damian berbalik.

Dan pemandangan yang menyambutku adalah sesuatu yang seharusnya dipajang di museum seni modern dengan judul: 'The Fall of a Tyrant'.

Damian von Hart, Duke yang agung, kini tampak seperti tikus got yang baru saja ditarik dari selokan.

Rambut hitamnya yang biasanya ditata rapi dengan pomade mahal, kini lepek total, menempel rata di dahinya, dan meneteskan air ke matanya. Kemeja putih mahalnya yang tadi terlihat seksi karena basah hujan, sekarang basah kuyup secara menyedihkan, menempel di kulitnya seperti plastik cling wrap murah.

Wajahnya... oh, wajahnya.

Wajah dingin dan angkuh itu hilang. Digantikan oleh ekspresi shock murni. Matanya terbelalak, mulutnya sedikit terbuka, dan dia terbatuk-batuk karena kemasukan air. Air menetes dari ujung hidung bangsawannya yang mancung.

Wibawanya? Hilang 100%. Minus malah.

Dia mengangkat tangan untuk melindungi wajah dari semprotan air yang masih kutembakkan tanpa henti.

"HENTIKAN!" bentaknya. Suaranya pecah, serak karena batuk. "APA YANG—UHUK!"

"APA?! HAMA MASIH BERGERAK?!" teriakku histeris, pura-pura tidak mendengar. Aku menaikkan sudut semprotan, kali ini mengincar area dada untuk mendorongnya mundur. "TAHAN, FREYA! SAYA AKAN SELAMATKAN TANAMANNYA DARI PARASIT INI!"

Freya, yang berdiri di balik Damian, menatap kejadian ini dengan mulut menganga lebar. Dia begitu kaget sampai lupa caranya takut. Dia menatapku, sosok misterius berbaju kuning neon norak dan bermasker, lalu menatap Duke yang sedang diperlakukan seperti mobil kotor di tempat cuci motor.

Damian mencoba maju untuk merebut selang dariku.

Tapi lantai rumah kaca itu licin karena lumut dan air sabun yang sengaja kutumpahkan dari ember tadi.

Kaki Damian terpeleset.

Gubrak!

Duke Hart jatuh terduduk. Pantat bangsawannya mencium lantai bata yang keras dan becek.

Cipratan air kotor membasahi celana panjangnya.

Hening.

Aku mematikan keran air. Bukan karena kasihan, tapi karena tekanannya mulai turun dan aku butuh momen dramatis.

Suara hujan di luar kembali terdengar dominan. Di dalam, hanya ada suara napas ngos-ngosan Damian dan suara tetesan air dari ujung hidungnya. Tes. Tes. Tes.

Damian duduk di lantai, kedua tangannya menumpu di belakang badan. Dia terlihat begitu... menyedihkan. Seperti anak anjing yang dibuang ke sungai.

Perlahan, dia mendongak menatapku. Mata birunya menyala dengan amarah yang bisa membakar hutan.

"Kau..." desisnya pelan. "Siapa kau?"

Aku berdiri tegak dengan jas hujan kuningku yang menyilaukan mata, memegang sikat lantai seperti tombak prajurit.

"Saya Petugas Pengendali Hama Harian Lepas!" jawabku dengan suara yang disamarkan. Aku menjepit hidungku dari balik masker agar terdengar cempreng. "Lapor! Ada laporan masuk tentang ulat bulu raksasa yang mencoba memakan bunga kenari! Saya sudah melakukan tindakan preventif!"

Damian mengusap wajahnya yang basah dengan kasar. "Ulat bulu? Kau buta?! Aku Duke Hart!"

Aku pura-pura kaget. Aku mundur selangkah, menutup mulut yang tertutup masker dengan tangan dramatis.

"Ya ampun! Tuan Duke?!" seruku. "Astaga! Maafkan hamba! Hamba kira Anda ulat bulu! Soalnya tadi Anda nempel-nempel sama bunga itu agresif banget! Persis kayak hama yang lagi musim kawin!"

Wajah Damian memerah padam. Urat di lehernya menonjol. Dia mencoba berdiri, tapi kakinya selip lagi. Dia merosot kembali. Splat.

Harga diri: -1000.

"KAU..." Damian menunjukku dengan jari gemetar.

"Maaf Tuan! Jangan pecat saya! Saya cuma menjalankan tugas suci menjaga keasrian Hartfield!" potongku cepat. Lalu aku menoleh ke arah Freya yang masih mematung.

"HEI KAMU! GADIS BUNGA!" bentakku pada Freya, memberi kode mata. "Ngapain bengong?! Cepat evakuasi diri! Di sini bahaya! Hawanya lembab, banyak bakteri, dan ada... eh... Duke yang lagi bad mood karena basah!"

Freya mengerjap. Dia menatapku, lalu menatap Damian yang masih berjuang untuk berdiri dengan martabat yang tersisa.

Otak cerdas Freya akhirnya klik. Dia sadar ini kesempatan emas.

"Ba-baik!" seru Freya. Tanpa pamit, tanpa menoleh lagi, dia menyambar keranjang bunganya dan berlari kencang menuju pintu keluar belakang, melewati Damian yang masih terkapar.

"Freya! Tunggu!" teriak Damian.

Tapi sebelum dia bisa mengejar, aku "tidak sengaja" menyenggol ember seng di kakiku. Ember itu menggelinding berisik dan TANG! menabrak tulang kering Damian.

"Argh!" Damian mengerang, memegangi kakinya.

"Ups! Maaf lagi, Tuan! Lantainya miring ya?"

Aku melihat punggung Freya menghilang di balik pintu kaca, menembus hujan. Dia aman.

Sekarang, tinggal aku dan Damian.

Damian menatapku. Kali ini, tatapannya bukan lagi marah. Itu tatapan membunuh. Dia akhirnya berhasil berdiri, meskipun air kotor menetes dari ujung celananya.

Dia melangkah mendekatiku. Aura predatornya kembali muncul sedikit, meski agak rusak karena rambut lepeknya.

"Kau..." Damian melangkah maju, mengabaikan ember yang menghalangi. "Kau bukan petugas kebersihan. Siapa kau sebenarnya?"

Tangannya terulur, hendak menarik maskerku.

Sial. Dia pintar.

Tapi aku lebih licik. Dan aku punya satu senjata terakhir di emberku.

"SIAPA SAYA TIDAK PENTING!" teriakku. "YANG PENTING ADALAH..."

Aku merogoh saku jas hujanku, mengambil segenggam bubuk: tepung terigu yang kubawa dari dapur.

"...BOM ASAP!"

Aku melempar tepung itu ke wajahnya.

Puff!

Kabut putih mengepul di udara. Damian terbatuk-batuk, matanya perih kelilipan tepung. Sekarang dia bukan cuma basah, tapi juga terlihat seperti adonan roti yang gagal mengembang. Basah dan bertepung.

"Adieu, Duke! Jangan lupa mandi air hangat!"

Memanfaatkan kebutaan sementaranya, aku berbalik dan lari secepat kilat keluar dari pintu samping, meninggalkan Damian sendirian di tengah rumah kaca yang becek, berantakan, dan bau sabun pel.

Operasi Anti-Hama sukses besar.

Hama berhasil dinetralisir. Korban berhasil diselamatkan.

Dan Damian von Hart? Yah, dia butuh shampoo dan terapi mental yang panjang setelah ini.

1
dunia isekai
lucuuu
dunia isekai
halo kak! ceritanya lucu banget! Mau saling mampir like dan komen di cerita masing masing? Mampir di ceritaku The Legend Of Roseanne ya!
takeru lukcy
lanjut thorrrrrr kl gak lanjut aku samper nihh kerumah🤭🤭bagusss 👍
takeru lukcy
baguss cokk bacaa ajaa dehh dijamin gak bakal nyesel
takeru lukcy
thorrr lanjutin gak bagus lohhh😍😍gak bosen aku bacanyaaa
Leel K: aaaa makasih bangetttt 😆😍
total 1 replies
takeru lukcy
lanjut thor
takeru lukcy
anjayy otw bacaa sampe habis nihh😍
takeru lukcy
thorrr bagusss lanjutinn ahh 😍😍😍
Puch🍒❄
astaga akhirnya aku mendapatkan novel yg kusukaaaaaaaaaaaaa yg konyol2 gini nih yg kusuka tp sisi romantisnya jg harus ada pokoknya seru deh bikin gk bosen😌
takeru lukcy: pliss ini novel ke4 yang gue suka suka bangett😍😍
total 1 replies
Puch🍒❄
anjg lucu lg bangke😂🤣😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!