Ketika cinta datang dari arah yang salah, tiga hati harus memilih siapa yang harus bahagia dan siapa yang harus terluka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santika Rahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 26
“Oke gayss.. Karena besok hari ulang tahun gue. Gue mau bagiin sesuatu buat kalian semua.” ujar Nayla lantang di depan kelas.
Kelas yang semula riuh perlahan mulai fokus ke arahnya.
“Hah? Bagi apa?”
“Serius nih?”
Beberapa siswa langsung bersorak kecil.
Nayla terkekeh, lalu mengangkat sebuah paper bag kecil berwarna putih yang sedari tadi dipegangnya.
“Undangan...” serunya bersemangat, gadis itu mengangkat salah satu kertas undangan dari tasnya.
Nayla kemudian melangkah ke bangku-bangku temannya, membagikan undangan itu sesuai nama yang tertera.
Suasana kelas kembali ramai, tapi kali ini oleh antusiasme.
Ketika Nayla berhenti di bangku Sagara, langkahnya melambat sedikit.
“Ini buat lo, Sa.” Ia menyodorkan satu undangan dengan senyum yang dibuat selembut mungkin.
Sagara menerima tanpa banyak reaksi. “Makasih.”
Nayla berdiri sebentar di sana, seolah menunggu komentar, tapi Sagara sudah kembali menunduk pada bukunya.
Wajah Nayla mengeras tipis, lalu ia melanjutkan membagikan undangan lain.
Beberapa bangku kemudian, Nayla berhenti di depan Alleta. “Let.”
Ia menyerahkan undangan itu sambil tersenyum ramah. “Dateng ya besok.”
Alleta menerima kertas itu, membaca sekilas nama dan tempat yang tertera.“Iya. Makasih.”
Nayla mengangguk puas, lalu melanjutkan ke bangku lainnya.
“All..” Suara Aru terdengar memanggil Alleta membuat gadis itu menoleh ke belakang.
“Lo ngerasa gak sih?”
“Ngerasa gimana?” tanya Alleta bingung.
“Tuh anak aneh banget. Beberapa hari lalu dia selalu kelihatan kesel sama Lo, hari ini tiba-tiba baik lagi.” tutur Aru, yang dia maksud jelas adalah Nayla.
Alleta menoleh sekilas ke arah gadis yang masih sibuk membagikan undangan itu, “Kan udah gue bilang, mungkin beberapa hari lalu dia lagi jelek moodnya. Besok kan mau ulang tahun, pasti sekarang lagi bahagia lah.” katanya yakin.
Aru mengantupkan bibirnya, dia mengangguk pelan. “Iya sih.., tapi lo harus hati-hati All.” ujarnya lagi, mengingatkan.”
Alleta berdecak pelan, “Udah ah, gak usah berpikir berlebihan. Ga baik nuduh orang.”
Aru tersenyum, “Kan cuma ngingetin.”
Baggg!!!
Kedua gadis itu terjingkrak kaget, saat sepasang tangan tiba-tiba menggebrak meja di hadapan mereka.
Bara tertawa terbahak melihat reaksi keduanya, “Serius banget.., udah kayak mau perang dunia aja.” ujarnya, ketika tawanya akhirnya mereda.
“Apa sih Bara!! Ngagetin tau ga.” Aru langsung menggeplak lengan pemuda itu.
Bara masih tertawa geli sambil mengusap lengannya yang dipukul Aru. “Yaelah. Lagian kalian berdua mukanya tegang banget tadi, gue pikir lagi bahas strategi negara,” candanya.
Alleta mendengus sambil menutup bukunya. “Biasa aja kali. Lo bikin orang jantungan, tau nggak?”
“Tau nihh, kayak jelangkung. Datang tak diundang, pulang tak diantar.” timpal Aru lagi.
Di bangku sebelah kanan Alleta, Tristan menyaksikan interaksi mereka dengan seksama. Bukan pemandangan langka melihat Bara yang bercanda dengan Aru. Namun bagi Tristan yang sudah mengetahui apa yang sebenarnya dipendam Bara pada Aru, tentu ada rasa prihatin melihatnya.
“Hebat Lo Bar. Bisa-bisanya masih senyum.” gumamnya dalam hati.
Perasaan tidak nyaman kembali meluap, “Kalo nasib gue juga kayak Bara, apa gue bisa setegar itu?” pikirnya.
...****************...
“Mama...Papaa...”
Alleta berhamburan ke pelukan kedua orang tuanya, setelah hampir empat bulan tidak bertemu. Rasa rindu yang selama ini benar-benar membuat tersiksa akhirnya bisa dilepaskan.
“Akhirnyaa... Alleta kesepian gak ada kalian..” ujar Alleta dalam pelukan mereka.
Suasana Bandara Internasional Yogyakarta saat itu cukup ramai, namun itu sama sekali tidak menggangu keluarga kecil yang tengah melepas rindu setelah lama tidak berjumpa.
Ibunya mengelus rambut Alleta pelan. “Mama juga kangen banget sama kamu, Let.”
Ayahnya tersenyum sambil mengusap punggung Alleta. “Anak Papa kok makin kurus?.”
Alleta tertawa kecil, lalu melepaskan pelukannya. “Kalian malah kelihatan lebih bahagia daripada Alleta di sini.”
Ibunya terkekeh. “Ya iyalah, liburan sambil kerja, masa nggak bahagia.”
Mereka bertiga berjalan menuju parkiran bandara. Di dalam mobil, Alleta duduk di tengah, memegang tangan ibunya erat seperti anak kecil yang takut kehilangan.
“Sekolah kamu gimana?” tanya ayahnya yang juga duduk di sebelah Alleta.
“Baik… capek, tapi baik,” jawab Alleta jujur.
Ibunya menoleh. “Capek kenapa?”
“OSN… tugas numpuk… terus…”
Alleta terdiam sesaat, lalu tersenyum kecil. “Ya gitu deh.”
Pak Edo yang tengah menyetir, melirik sekilas dari kaca sepion. Ia ikut senang melihat nonanya kembali terlihat bahagia.
“Oh ya. Ma, mama masih ingat gak? Cowok yang waktu itu ngirim salad ke rumah.” Alleta bertanya dengan malu-malu.
“Iya, gimana? Kamu dikirim apa lagi?” Sekar balik bertanya dengan antusias.
“Hehe. Alleta diajak jalan.” sahut Alleta malu-malu.
“Diajak jalan??” Mata sang Ayah sedikit membulat. “Wahh ngambil kesempatan kalo gitu, mentang-mentang ayahnya gak di rumah.” candanya, menggoda putri semata wayangnya itu.
Alleta hanya tertawa.
“Terus.., kamu diajak kemana?” tanya Sekar, wanita itu terlihat bersemangat mendengar cerita percintaan putrinya.
“Ke pantai, diajak main jetski juga.” tutur Alleta.
“Tuhh dengerin.” Sekar memukul pelan lengan Bagas, “Mama dulu, first date masa diajak ke pasar.”
Bagas terkekeh kecil. “Ya kan kondisi beda, Ma. Papa dulu tanggal tua.”
“Alasan,” potong Sekar cepat.
Alleta ikut tertawa melihat orang tuanya kembali saling menggoda seperti dulu.
“Mama sama papa capek gak?” tanya Alleta tiba-tiba, dia menoleh bergantian ke kedua orang tuanya.
“Enggak, kenapa?” kata Sekar.
“Temenin Alleta beli kado ya, besok Nayla ulang tahun, bingung mau ngasih apa.” Alleta mengajukan permintaan itu dengan nada manja.
Sekar langsung tersenyum lebar. “Wah, ayo. Mama juga sekalian mau lihat-lihat baju.”
Bagas menghela napas seolah pasrah, tapi sudut bibirnya terangkat.“Ya sudah. Hari ini pilih semua barang yang kalian mau, papa yang bayar.”
Alleta tertawa kecil. “Makasih paa.”
Setelah dari bandara, mereka tidak langsung pulang. Sore itu mereka berhenti terlebih dahulu di sebuah mall yang mereka lewati.
Alleta terlihat sangat bersemangat, dia sudah sering berbelanja ke mall. Tapi kali ini tentu berbeda karena dia ditemani kedua orang tuanya.
Mereka berjalan beriringan. Alleta berhenti di depan sebuah toko aksesori yang memajang gelang dan kalung, dan berbagai aksesoris lainnya.
“Kayaknya Nayla suka yang begini,” gumamnya. Alleta meraih satu set perhiasan titanium berisi anting, gelang, dan kalung dengan liontin berbentuk angsa.
Sekar mengangguk setuju, “Iya bagus. Desainnya simple tapi elegan.”
“Yaudah deh, ini aja.” final Alleta.
Bagas membayar di kasir, lalu menyerahkan kantong kecil itu pada Alleta.“Semoga temannya senang.”
Alleta tersenyum. “Makasih, Pa.”
Setelah selesai di toko aksesoris, mereka kemudian melanjutkan ke toko pakaian. Bersama kedua orang tuanya, Alleta benar-benar merasa diayomi, tidak seperti bersama Aru yang lebih mementingkan video call dengan pacarnya.
“Yang ini kayaknya bagus buat kamu.” Sekar menempelkan sebuah dress berwarna dusty pink di badan Alleta.
“Tapi dress Alleta masih banyak ma.” protes Alleta pelan.
“Tapi ini cocok buat pesta, iya kan pa?” kata Sekar meminta pendapat suaminya.
“Iya, bagus. Jadi makin cantik anak papa.” Bagas ikut menimpali.
“Yaudah deh, Alleta coba dulu.” Gadis itu kemudian melangkah ke ruang pas.
Disaat Alleta tengah mencoba dress, Sekar kembali melihat-lihat beberapa pakaian untuk dirinya.
“Bu Sekar?”
Suara itu terdengar dari belakang membuat Sekar seketika menoleh.
“Ehh Bu Sofi.., apa kabar??” Sekar terlihat antusias menghampiri sahabat lamanya itu.
“Baik.., yaampun nggak nyangka bisa ketemu disini.” Mereka pun saling mendekat, melakukan hal rutin tiap kali bertemu–cipika cipiki.
“Iyaa, Bu Sofi makin cantik aja.” puji Sekar dengan tulus.
“Ihh bisa aja, Bu Sekar juga cantik. Ngomong-ngomong disini sendiri?” tanyanya.
“Oh enggak, saya sama anak, sama suami juga.” Sekar menoleh ke arah Bagas yang berdiri di belakangnya. Pria itu pun langsung berjabat tangan dengan Bu Sofi.
“Pak Bagas, saya lihat sekarang makin sukses ya.” Sekarang giliran Bu Sofi yang memuji.
“Iya, Bu Sofi juga perusahaannya makin besar.” balas Bagas.
“Oh ya, ngomong-ngomong, anaknya mana?” Bu Sofi melirik sekeliling, “Udah lama gak ketemu, pasti makin cantik.”
“Oh ini, dia di kamar pas.” ujar Sekar. “Bu Sofi, belanja juga?”
“Iya, ini titipan anak. Katanya temennya mau ulang tahun, jadi disuruh nyariin kado.” Sekar menunjukkan sepasang pakaian yang dibelinya.
“Ohh sama dong, ini juga nemenin anak nyari kado.” tutur Sekar.
Bu Sofi terkekeh, “Bisa sama gitu ya, yaudah saya duluan ya, ini lagi buru-buru sebenarnya.”
“Iya, hati-hati ya. Kapan-kapan kita janjian, hangout bareng.” ajak Sekar, masih dengan senyumnya.
“Nanti kita kenalin anak-anak juga, siapa tau cocok.” balas Bu Sofi dengan candaan.
Sekar tertawa kecil. “Boleh banget. Biar sekalian reuni kecil.”
Bu Sofi mengangguk. “Setuju. Kalau gitu saya pamit dulu ya.”
“Siap. Hati-hati di jalan.” balas Sekar.
Bu Sofi pun berlalu, menyisakan Sekar dan Bagas yang kembali menunggu Alleta di depan ruang pas.
Tak lama kemudian, pintu ruang pas terbuka. Alleta melangkah keluar dengan dress dusty pink yang pas di tubuhnya. Rambutnya tergerai rapi, wajahnya terlihat lebih cerah dari biasanya.
“Gimana?” tanya Alleta sedikit gugup.
Sekar langsung menghampiri, matanya berbinar. “Cantik banget. Cocok di badan kamu.”
Bagas mengangguk mantap. “Papa setuju. Beli.”
Alleta tersenyum malu. “Oke deh.”
Mereka pun lanjut memilih beberapa pakaian lainnya, Alleta sebenarnya tidak membutuhkan baju baru lagi, karena pakaiannya masih banyak. Tapi kesempatan untuk berbelanja riang bersama kedua orang tuanya sangat jarang terjadi, sehingga dia menurut dan membeli beberapa pasang pakaian lagi.
Setelah selesai, mereka pun membayar di kasir dan keluar dari toko dengan beberapa kantong belanja di tangan.
Senja semakin turun, tawa kecil masih terdengar dari keluarga kecil itu. Alleta diam-diam memotret kedua orang tuanya yang tengah bercanda riang.
Ia menaruh foto itu di instastory dengan caption, "pantes mereka awet muda, sehat-sehat yang kalian, Alleta sayang."
Malam itu, setelah sampai di rumah, Alleta membantu ibunya menata belanjaan ke lemari. Rumah terasa lebih hidup dari biasanya—aroma masakan hangat, tawa kecil di sela percakapan, dan suara televisi yang menyala di ruang tengah.
Semuanya adalah hal-hal yang sangat dirindukan Alleta, ketika tengah duduk di depan televisi, ponsel Alleta yang tergeletak di meja tiba-tiba memunculkan notifikasi.
@Sagara_Kelana31 menyukai cerita Anda.
...Bersambung......
...–Punya orang tua yang selalu support, ngasih segalanya, dan selalu menganggap kita sebagai putri kecilnya. Tapi diuji oleh pekerjaan yang selalu memisahkan.–...
^^^~Alleta Cassandra Sabiru~^^^