Natalie terpaksa bekerja pada Ares demi memenuhi kebutuhan ekonominya, termasuk bekerja di club malam dan kemudian menjadi asisten pribadinya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sabana01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27: Drama Publik dan Peran yang Membeku
Pukul 10:00 Pagi: Panggung di Mata Dunia
Konferensi pers diadakan di aula paling mewah milik Ares. Dunia menanti. Natalie, mengenakan setelan bisnis yang elegan, berdiri di samping Ares. Dia tampak tenang, tetapi di balik mata itu, ada pertarungan yang sengit.
Ares memulai dengan pernyataan yang tegas, membantah semua klaim ilegal dan mengumumkan bahwa semua aset Sastrawan diambil alih secara hukum. Lalu, ia beralih ke bagian yang paling ditunggu.
"Dan mengenai Nona Natalie," kata Ares, suaranya dipenuhi ketenangan yang mengancam. "Media telah mencoba menggunakan masa lalu pribadinya untuk mendiskreditkan penilaian saya. Mereka telah mengungkit kesulitan yang ia alami sebagai seorang wanita muda yang berjuang sendirian."
Ares menoleh ke Natalie, dan sentuhan acting yang ia berikan membuat pernyataan itu sangat memukau. "Natalie bukanlah asisten. Dia adalah mitra strategis saya. Dia adalah seorang wanita yang bangkit dari kesulitan, yang membangun dirinya sendiri, dan yang saya percaya untuk menjalankan kerajaan ini. Saya bangga dengan ketangguhannya, dan saya bersumpah, siapa pun yang menggunakan masa lalunya untuk menyakitinya akan berhadapan langsung dengan kekuatan penuh saya."
Natalie mengambil mikrofon, ia harus memainkan peran sebagai wanita yang "diselamatkan" oleh Ares.
"Saya berterima kasih kepada Ares atas kepercayaannya," kata Natalie, suaranya sedikit lebih rendah dari biasanya, memancarkan kerentanan yang telah ia latih. "Banyak wanita di luar sana yang tahu bagaimana rasanya dihukum karena masa lalu mereka. Tetapi Ares melihat lebih dari itu. Dia melihat potensi. Saya berdiri di sini bukan sebagai korban, tetapi sebagai bukti bahwa loyalitas dan kecerdasan akan selalu menang. Ancaman ini tidak akan memecah belah kami, justru akan memperkuat kami."
Konflik Peran: Kehilangan Jati Diri
Setelah konferensi pers yang menjadi headline global, mereka kembali ke penthouse. Ares puas.
"Sempurna," kata Ares, melemparkan jasnya ke sofa. "Kau menjualnya dengan sempurna. Petrov akan melihatnya dan menyadari bahwa serangan pribadinya gagal."
"Gagal?" Natalie menanggalkan senyumnya. "Aku harus berpura-pura menjadi wanita lemah yang kau tarik dari lumpur, Ares. Aku harus menjual masa laluku sebagai sesuatu yang patut dikasihani."
"Itu adalah strategi, Natalie. Kita membalikkan narasi. Kita memanfaatkan emosi publik," balas Ares, mencoba memeluknya.
Natalie mundur selangkah. "Aku tahu itu strategi, tapi itu adalah peran yang kau paksakan padaku. Aku meminta kesetaraan, dan kau memberiku panggung untuk menjadi 'wanita yang ditebus.' Aku benci harus menjadi korban yang diselamatkan." Natalie merasa Ares, meskipun dengan niat baik, masih mengukir citranya agar sesuai dengan narasinya sendiri—narasi Raja yang menyelamatkan Ratu.
"Aku tidak memaksamu, Natalie. Itu adalah kenyataan," jawab Ares, nada suaranya mengeras karena frustrasi. "Kau pikir aku ingin semua orang tahu kau pernah bekerja di klub malam? Aku melakukan ini untuk melindungi ibumu dan statusmu! Jika kau tampil terlalu agresif, mereka tidak akan membelinya. Mereka akan melihatmu sebagai manipulator."
"Dan jika aku tidak bisa menjadi diriku sendiri di sisimu—sebagai wanita yang tangguh, yang tidak membutuhkan belas kasihan—apa gunanya tahta ini, Ares?" tanya Natalie, matanya penuh tantangan. "Aku bukan boneka yang kau dandani untuk konferensi pers. Aku adalah yang menciptakan jebakan Budapest. Jangan pernah melupakan itu."
Ares menatap Natalie. Ia melihat bahwa perannya sebagai pelindung, meskipun didorong oleh cinta, kini menjadi racun bagi otonomi Natalie.
"Baiklah. Aku minta maaf. Peranku memang terlalu dominan. Aku hanya mencoba melindungi bagian yang paling rapuh dari hidupku," aku Ares, nada suaranya lebih lembut. "Tapi di Budapest, kau tidak akan bermain sebagai korban. Kau akan menjadi pemburu. Kau akan menjalankan strategimu. Kita harus fokus. Petrov sedang mengawasi setiap langkah kita."
Natalie menghela napas, ketegangan sedikit mereda. "Kita adalah Bayangan. Kita tidak butuh panggung atau simpati. Kita butuh kontrol. Dan di Budapest, aku akan mengambil kendali itu sepenuhnya."
Ares mengangguk. Dia tahu, meskipun mereka telah berdamai, konflik tentang kendali tidak akan pernah hilang. Itu adalah dinamika yang akan mendefinisikan hubungan mereka.
Perjalanan Dimulai
Malam itu, mereka terbang dengan jet pribadi menuju Budapest. Ares menghabiskan seluruh penerbangan dengan menyiapkan lapisan keamanan untuk Natalie, tetapi kali ini, ia memastikan Natalie menyetujui setiap protokol. Natalie, sementara itu, kembali merancang rencana penangkapan Petrov, matanya tajam dan fokus.
Dalam diam, di ketinggian, mereka kembali membangun jembatan kepercayaan yang hampir dirusak oleh drama publik.