NovelToon NovelToon
TUMBAL DI TANAH PENGABDIAN

TUMBAL DI TANAH PENGABDIAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Horror Thriller-Horror / Tumbal
Popularitas:178
Nilai: 5
Nama Author: S. N. Aida

Sekelompok mahasiswa mengikuti KKN di Desa Wanasari, desa terpencil yang tak tercatat di peta digital. Siang hari tampak normal; malam hari dipenuhi bisikan, mimpi cabul yang terasa nyata, dan aturan ganjil yang justru mengundang pelanggaran.

Nara Ayudia, ketua KKN yang rasional, berusaha menjaga jarak emosional. Namun satu per satu anggota berubah. Raka digoda sosok perempuan dari sumur lewat mimpi; Lala menjadi sensual dan agresif saat malam tanpa ingatan; Siska disiksa lewat godaan yang bertabrakan dengan imannya; Dion menemukan jurnalnya terisi catatan ritual yang tak pernah ia tulis; Bima mengalami teror fisik paling awal.

Warga desa selalu ramah—dan selalu setengah jujur. Larangan dilanggar. Hubungan menjadi intim, obsesif, dan merusak. Kematian pertama membuka tabir: desa hidup dari tumbal.

Menjelang malam ke-37, terungkap bahwa tumbal terakhir haruslah pemimpin—yang paling kuat menahan diri, namun menyimpan hasrat terdalam. Pilihan desa jatuh pada Nara.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. N. Aida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 9 — KEMATIAN PERTAMA

​Teriakan Raka yang menuduh warga sebagai "setan" menggantung di udara malam, berat dan menyesakkan. Namun, tidak ada petir yang menyambar. Tidak ada angin ribut yang tiba-tiba datang. Yang ada hanya kesunyian kolektif ratusan manusia yang berhenti bernapas serentak.

​Pak Wiryo masih berdiri di pendopo, bayangannya jatuh memanjang menelan Raka yang bersujud gemetar di tanah. Kepala desa itu tidak marah. Wajahnya justru memancarkan ketenangan yang mengerikan—ketenangan seorang tukang jagal yang tahu bahwa sapi di hadapannya sudah tidak punya celah untuk lari.

​"Raka sedang sakit," kata Pak Wiryo pelan, suaranya menggelegar tanpa perlu berteriak. Ia menatap warga desa yang mengelilingi Balai Desa. "Lihat. Dia demam. Pikirannya kacau karena tidak sopan menolak suguhan Ibu Pertiwi."

​"Dia nggak sakit!" jerit Nara, berdiri menghadang di depan Raka. Tangannya merentang, gemetar namun berusaha melindungi. "Dia melihat sesuatu di sumur! Di mana Bima? Kalian apakan teman kami?!"

​Pak Wiryo turun dari pendopo. Langkahnya pelan, diiringi bunyi krek-krek sendi lutut yang terdengar kering. Ia berhenti tepat di depan Nara. Bau tubuh pria tua itu tercium jelas—campuran antara minyak kelapa tengik, tembakau, dan bau tanah kuburan yang basah.

​"Nak Nara," ucap Pak Wiryo lembut, "Kalau kamu ingin tahu di mana temanmu, mari kita cari bersama. Tapi jangan menyesal kalau apa yang kamu temukan... tidak sesuai harapan."

​Pak Wiryo memberi isyarat tangan. Kang Jaya dan empat pemuda desa berbadan tegap maju. Mereka tidak membawa senjata tajam, melainkan tambang besar yang digulung di bahu dan galah bambu panjang dengan pengait besi di ujungnya.

​Alat-alat itu bukan alat pencari orang hilang. Itu alat untuk mengangkat bangkai dari lubang.

​"Bawa si Raka. Dia penunjuk jalan," perintah Pak Wiryo.

​Dua pemuda menyeret Raka bangun. Raka meronta, menangis histeris seperti anak kecil. "Gue nggak mau balik ke sana! Ada bayi! Ada bayi makan daging!"

​"Diam!" bentak Kang Jaya, menampar pipi Raka keras-keras. Plak!

​Sudut bibir Raka pecah. Darah segar mengalir. Ia terdiam seketika, matanya mendelik, syok.

​Rombongan itu bergerak. Bukan lagi iring-iringan upacara, melainkan parade kematian. Obor-obor dibawa, menciptakan lidah api yang menjilat-jilat kegelapan hutan bambu.

​Dion berjalan di belakang Nara, mencengkeram lengan Siska yang terus-menerus membaca Ayat Kursi dengan bibir pucat.

​"Sis, doa lo..." bisik Dion, keringat dingin membasahi kacamata tebalnya. "Mereka nggak kepanasan, Sis. Mereka malah kayak menikmati."

​Benar. Warga desa yang mendengar lantunan doa Siska tidak menutup telinga. Beberapa dari mereka justru menyeringai, bibir mereka berkomat-kamit menirukan irama doa itu, tapi memelintir lafalnya menjadi gumaman yang sumbang dan menghina.

​Mereka tiba di Sumur Keramat di tengah hutan.

​Tempat itu sunyi. Suara serangga hutan seolah mati ketakutan. Cahaya bulan purnama menyinari struktur batu kuno itu, membuatnya tampak seperti altar purba yang menunggu darah.

​"Di sini?" tanya Pak Wiryo pada Raka.

​Raka hanya mengangguk lemah, tubuhnya merosot ditahan oleh para pemuda. Ia tidak berani membuka mata.

​"Senter," perintah Kang Jaya.

​Tiga senter sorot berkekuatan tinggi dinyalakan, diarahkan serentak ke dalam lubang sumur yang menganga.

​Nara memaksakan kakinya melangkah maju. Ia harus melihat. Sebagai ketua, ia bertanggung jawab atas nyawa anggotanya. Meski setiap sel di tubuhnya berteriak untuk lari, Nara memaksa matanya menatap ke bawah.

​Cahaya senter menembus kegelapan, turun sepuluh meter, lima belas meter, hingga mencapai permukaan air.

​Air sumur itu tenang. Hitam pekat. Tidak ada cahaya hijau seperti cerita Raka.

​"Kosong," kata Kang Jaya datar.

​"Bohong!" teriak Raka, membuka mata, nekat merangkak ke bibir sumur. "Tadi dia di situ! Dia ngambang! Banyak lintah! Banyak bayi!"

​Kang Jaya mencelupkan galah bambu panjang ke dalam air. Ia mengaduk-aduknya.

​Kocak... kocak...

​Air bergelombang.

​"Berat," gumam Kang Jaya. Urat-urat lengannya menonjol. "Ada yang nyangkut di bawah."

​Kang Jaya menarik galah itu naik perlahan. Pengait besi di ujung galah menangkap sesuatu. Kain.

​Perlahan, sosok itu muncul ke permukaan.

​Bukan monster. Bukan hantu.

​Itu Bima.

​Nara menutup mulutnya, menahan jeritan yang tertahan di kerongkongan.

​Tubuh Bima membengkak, kulitnya pucat kebiruan karena terendam air. Tapi yang membuat Nara mual bukan pembengkakannya.

​Seluruh tubuh Bima—wajah, leher, lengan yang terlihat—penuh dengan bekas gigitan.

​Bekas gigitan kecil-kecil, seukuran mulut kucing atau bayi, yang telah merobek dagingnya hingga terlihat tulang putih di beberapa bagian. Mata Bima hilang, menyisakan rongga hitam yang kosong. Dan mulutnya... mulutnya terbuka lebar dalam ekspresi jeritan abadi yang tak pernah terdengar.

​"Angkat," perintah Pak Wiryo tanpa emosi.

​Para pemuda bekerja efisien. Mereka menurunkan tali tambang, menjerat badan Bima, dan menariknya ke atas. Tubuh kaku itu berdebam jatuh di tanah berlumpur di samping sumur.

​Bau anyir yang luar biasa langsung menyerbak. Bau darah basi, lumut, dan kotoran.

​Siska langsung muntah di tempat. Dion memalingkan wajah, kacamata berembun oleh air mata.

​Nara jatuh berlutut di samping mayat temannya. Ia ingin menyentuh Bima, memastikan ini nyata, tapi tangannya berhenti di udara.

​Dari saku celana Bima yang robek, sesuatu terjatuh.

​Dompet. Dan sebuah tumbler minum mahal yang selalu dibawanya.

​Ini nyata. Bima Satria, mahasiswa atletis yang sombong dan penuh vitalitas itu, kini hanyalah seonggok daging dingin yang rusak.

​"Ini kecelakaan," suara Pak Wiryo memecah tangisan mereka. Nadanya santai, seolah sedang membicarakan panen gagal. "Nak Bima pasti terpeleset saat jalan-jalan gelap. Jatuh. Terbentur. Kasihan."

​"Kecelakaan?" desis Nara, mendongak menatap Pak Wiryo dengan mata nyalang. "Liat badannya, Pak! Itu bekas gigitan! Binatang apa yang gigitannya kayak gitu?!"

​"Ikan," jawab Mbah Sakir yang tiba-tiba muncul dari balik punggung Pak Wiryo. "Ikan gabus di sumur tua itu giginya tajam, Ndhuk. Lapar."

​"Bohong!"

​"Sudah!" potong Pak Wiryo tegas. Senyumnya hilang. Wajah aslinya yang keras dan otoriter muncul. "Jangan bikin keributan di depan jenazah. Pamali. Sekarang kita bawa ke Balai Desa. Kita mandikan. Kita doakan."

​"Kami mau bawa dia pulang," kata Nara, berdiri. Kakinya goyah tapi ia memaksakan diri tegak. "Kami mau pulang sekarang. Kami bawa jenazah Bima ke kota. Orang tuanya harus tahu."

​Suasana mendadak hening. Angin hutan berhenti berhembus.

​Pak Wiryo menatap Nara lekat-lekat.

​"Pulang?" Pak Wiryo tertawa kecil. "Jalanan longsor, Nak Nara. Tidak ada mobil yang bisa lewat. Sinyal mati. Dan membawa mayat keluar desa malam-malam begini... bisa mengundang teman-temannya yang lain."

​"Maksud Bapak?"

​"Teman-teman yang tak kasat mata," Pak Wiryo menunjuk kegelapan hutan. "Mereka suka bau kematian yang masih segar."

​Prosesi pemindahan jenazah itu adalah mimpi buruk yang surealis. Bima ditandu menggunakan sarung dan bambu. Warga desa mengiringi dengan diam.

​Lala berjalan di barisan paling belakang bersama warga. Ia tidak menangis. Ia bahkan tidak melihat ke arah jenazah Bima. Matanya menatap kosong ke depan, senyum tipis terukir di bibirnya, seolah ia sedang mendengarkan musik yang menyenangkan lewat earphone yang tak terlihat.

​Sesampainya di Balai Desa, jenazah Bima diletakkan di atas meja kayu panjang.

​"Kita sholatkan," kata Siska, menghapus air matanya. "Bima Muslim. Dia harus dimandiin, dikafanin, disholatin."

​"Tentu," kata Pak Wiryo. "Tapi cara Wanasari sedikit berbeda."

​Mbah Sakir maju ke depan. Ia membawa mangkuk berisi air kembang dan... tanah kuburan.

​"Ini bukan tahlilan," bisik Dion ke Nara. "Liat tangan Mbah Sakir."

​Mbah Sakir tidak memandikan Bima dengan air sabun. Ia mengusapkan campuran air kembang dan tanah itu ke dahi, dada, dan pusat perut mayat Bima.

​Mulut Mbah Sakir merapalkan mantra.

​"Sirolah dadi banyu... Rogolah dadi watu... Sukmalah dadi paku..."

(Rasa menjadi air... Raga menjadi batu... Sukma menjadi paku...)

​"Itu mantra pengikat," bisik Dion, wajahnya semakin pucat. "Mereka bukan doain Bima masuk surga. Mereka lagi ngiket arwah Bima biar nggak lari. Biar tetep di sini."

​"Stop!" teriak Siska. Ia tidak tahan lagi. Iman dan akidahnya terusik. "Ini syirik! Ini nggak bener! Minggir kalian!"

​Siska menerobos maju, hendak menyiramkan air bersih ke wajah Bima.

​Grep.

​Tangan Bu Kanti menangkap pergelangan tangan Siska. Cengkeramannya kuat seperti catut besi.

​"Jangan lancang, Ndhuk," desis Bu Kanti. Wajah keibuannya lenyap, digantikan ekspresi dingin tanpa jiwa. "Kalau tidak diikat, temanmu ini akan bangun lagi. Kamu mau dia bangun dan minta makan?"

​Siska tertegun. "Bangun?"

​"Dia mati tidak wajar," bisik Bu Kanti di telinga Siska. "Orang yang mati dimakan 'anak-anak' akan jadi inang. Kalau tidak dipaku sukmanya... dia akan pulang ke rumah kalian malam ini. Mengetuk pintu."

​Siska gemetar hebat. Cengkeraman Bu Kanti lepas. Gadis itu mundur, ketakutan melumpuhkan logika agamanya.

​Ritual berlanjut. Mayat Bima dibungkus kain kafan yang sudah kekuningan—bukan kain putih bersih baru. Kain itu berbau kapur barus tua dan apek. Mereka membungkusnya rapat, seperti kepompong, lalu meletakkannya di sudut pendopo.

​"Besok pagi kita kubur di makam desa," putus Pak Wiryo. "Malam ini, kalian kembali ke Joglo. Istirahat. Jangan ada yang keluar."

​"Kami mau nungguin jenazah Bima," kata Nara keras kepala.

​"Tidak boleh," jawab Pak Wiryo. "Malam ini... Bima milik desa."

​Para pemuda desa, dipimpin Kang Jaya, "mengantar" mereka kembali ke Joglo. Itu bukan pengawalan. Itu penggiringan tahanan.

​Kembali di Joglo, suasana berubah total. Rumah itu bukan lagi tempat tinggal sementara. Itu penjara.

​Nara mengunci pintu depan, lalu mendorong meja kayu berat untuk mengganjalnya. Dion menutup semua jendela, memalangnya dengan kursi.

​Mereka duduk di ruang tengah, di bawah cahaya lampu pijar yang kembali redup.

​"Bima mati..." rintih Raka. Ia duduk memeluk lutut di pojok ruangan, menggigil demam. Luka di dadanya merembeskan nanah kuning yang berbau anyir. "Gue liat dia... gue liat dia..."

​"Kita harus pergi, Nar," kata Dion. Ia membuka jurnalnya, tangannya gemetar hebat. "Liat ini."

​Dion menunjukkan halaman terbaru jurnalnya.

​Di sana, di bawah tinta merah yang kemarin, ada gambar sketsa kasar. Gambar sebuah sumur. Dan di dalam sumur itu, ada coretan hitam tebal yang menggambarkan tubuh manusia yang hancur.

​Dan satu kalimat di bawahnya:

​Satu wadah pecah. Isinya tumpah. Siap untuk disantap.

Tinggal empat.

​"Mereka ngitung mundur," kata Dion.

​Nara menatap teman-temannya. Raka yang hancur mentalnya. Siska yang diam membisu memeluk tasbih. Dan Lala...

​Lala sedang berdiri di depan cermin lemari hias. Ia mematut diri, memutar tubuhnya ke kiri dan ke kanan, mengagumi lekuk tubuhnya dalam balutan kebaya merah yang belum ia lepas.

​"Lala," panggil Nara tajam. "Lo nggak sedih Bima meninggal?"

​Lala menoleh. Senyumnya lebar, memperlihatkan gusi.

​"Sedih?" tanya Lala dengan nada bingung yang dibuat-buat. "Kenapa sedih? Bima kan udah berguna. Dia ngasih makan 'adik-adik'. Itu mulia, Nar."

​"Lo ngomong apa sih, anjing!" bentak Nara, emosinya pecah. Ia mencengkeram bahu Lala. "Sadar, La! Itu temen kita!"

​Lala tidak bergeming. Tubuhnya kokoh seperti patung batu. Ia menatap Nara dengan tatapan merendahkan.

​"Teman?" Lala terkekeh. Ia mendekatkan wajahnya ke telinga Nara. "Di sini nggak ada teman, Nar. Yang ada cuma pemangsa dan mangsa. Dan gue... gue udah milih jadi pemangsa."

​Lala menepis tangan Nara kasar, lalu berjalan masuk ke kamar. "Gue ngantuk. Besok kan pemakaman. Harus cantik."

​Nara berdiri terpaku. Ia sadar, Lala yang ia kenal sudah hilang. Tubuh itu masih milik Lala, tapi isinya... isinya sudah digerogoti oleh entitas desa ini sedikit demi sedikit.

​"Nar," panggil Dion pelan. Ia sedang memeriksa peta offline yang sempat ia unduh di ponselnya sebelum sinyal mati total.

​"Kenapa?"

​"Gue baru sadar sesuatu," kata Dion, jarinya menunjuk titik lokasi desa. "Posisi desa ini... secara geografis aneh. Dikelilingi bukit melingkar."

​"Terus?"

​"Ini bentuk kawah purba, Nar. Cekungan," jelas Dion. "Dan Joglo ini... Joglo ini ada di titik tengah persis."

​Dion menelan ludah.

​"Kita bukan cuma di desa terpencil. Kita ada di dalam mangkuk. Mangkuk persembahan. Dan Bima... Bima cuma pembuka segelnya."

​Tiba-tiba, dari arah luar, terdengar suara gedoran di pintu depan yang sudah diganjal meja.

​DUG! DUG! DUG!

​Keras. Kasar. Bukan ketukan manusia.

​"Siapa?!" teriak Raka histeris.

​Hening sejenak.

​Lalu terdengar suara Bima.

​Suaranya persis seperti Bima. Tapi nadanya datar, tanpa intonasi, seperti rekaman yang diputar lambat.

​"Nar... buka... pintunya... dingin... airnya... dingin..."

​Siska menjerit, menutup telinganya.

​"Buka... aku... lupa... bawa... kepalaku..."

​Gedoran itu berubah menjadi cakaran. Bunyi kuku beradu dengan kayu jati tua. Krek... krek... krek...

​Nara mundur, memegang pisau dapurnya erat-erat.

​Mereka tidak bisa keluar.

Dan sekarang, yang mati ingin masuk.

​Malam kematian pertama baru saja dimulai, dan teror psikologisnya sudah menembus dinding-dinding pertahanan terakhir kewarasan mereka. Nara tahu, jika pintu itu terbuka, yang masuk bukan Bima. Melainkan sesuatu yang memakai kulit Bima sebagai jas hujan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!