NovelToon NovelToon
My Fake Bride

My Fake Bride

Status: tamat
Genre:Romantis / Pengantin Pengganti / Tamat
Popularitas:7.1M
Nilai: 4.9
Nama Author: NadiraBee

Follow ig author @tulisan_bee 😚

Menggantikan posisi anak majikannya untuk menikah dengan seorang lelaki bangsawan, sungguh tidak pernah terlintas dalam benak Luana Casavia.

Karena lelaki itu menatapnya dengan sorot mata dingin, bahkan ketika ia memasangkan cincin ke jari manis Luana.

My Fake Bride: Jika aku ini palsu, akankah kau bisa mencintaiku meski sedikit saja?

Terima kasih sudah mampir dan selamat jatuh cinta~

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NadiraBee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 26 - Kembang Api

"Seperti kembang api, aku hanyalah selekebat hal yang akan hilang saat waktunya tiba. Meski sempat memberikan terang, aku hanya akan tetap berakhir dalam kegelapan." ~Luana Casavia.

.

.

.

Jovi kehilangan kata-kata. Lelaki itu hanya bisa memperhatikan, belum tahu kalimat apa yang harus dia lontarkan sebagai balasan.

"Kau tahu Jovi," Luana kembali berujar. "Aku sungguh berharap Beatric akan hadir kembali, hingga aku bisa pergi ketika ia menempati posisinya semula."

Jovi semakin terdiam, tidak menyangka nyonya muda mereka akan mengatakan hal semacam ini kepadanya. Entah apa maksud dan tujuan Luana, tetapi kalimat perempuan itu terdengar begitu tulus dari lubuk hatinya yang paling dalam.

"Anda tidak seharusnya--"

Jovi belum sempat menyelesaikan kalimat balasannya, ketika kini suara teriakan dari seorang lelaki terdengar nyaring di belakang sana.

"Istriku!"

Sontak sama-sama menoleh ke sumber suara, baik Jovi dan Luana terkejut akan apa yang mereka lihat saat ini.

"Sayangku, aku datang!"

Langkah pria yang berteriak tadi semakin cepat, meneriakkan hal yang tidak bisa dipahami oleh Jovi dan Luana.

"Tuan?!"

Tersentak Jovi ketika menyadari bahwa yang menyebabkan keributan baru saja adalah tuannya, yang tampak berjalan kesulitan menggeret langkah.

Rey mendekat.

Lelaki itu melewati Jovi yang berdiri tegak, mendorongnya dengan satu tangan hingga membuat asisten pribadinya itu mundur beberapa langkah ke belakang.

Jovi hampir terjatuh, tetapi ia tidak bisa berbuat apa-apa.

Rey mendekati Luana. Napas lelaki itu terdengar memburu, naik turun secara tidak beraturan. Bola mata Rey menatap tajam ke arah Luana, yang kini mengerutkan kening karena belum memahami apa yang sedang terjadi.

Tiba-tiba saja lelaki itu menyeringai.

"Jadi kau di sini, Nyonya Lueic?"

Luana refleks mengibaskan tangan di depan wajah, menghalau bau alkohol yang khas yang begitu saja menyeruak dari mulut suaminya.

"Kau bau sekali!" seru Luana tanpa sadar. "Kau habis minum?!"

Perempuan itu menaikkan nada suaranya satu oktaf, hampir merasa mual akibat bau alkohol yang tercium sangat jelas.

Jika biasanya Rey tidak terima saat mendapati Luana menaikkan nada suara kepadanya, kali ini berbeda karna lelaki itu malah terkekeh pelan.

"Kau tahu aku mencintaimu, kan?" kata lelaki itu lagi.

Jovi mendengarkan apa yang dilontarkan tuannya itu samar-samar, saat kini lelaki itu memilih untuk mundur perlahan-lahan.

Sesuatu mungkin saja terjadi, dan sebaiknya dia berjaga dari jarak yang cukup jauh saat ini. Agar majikannya memiliki privasi, agar dia tidak berakhir sebagai obat nyamuk malam itu.

Luana semakin mengurutkan kening. Rey berdiri tepat di hadapannya, tampak tidak berniat untuk beranjak dari sana.

"Apa sih yang kau bicarakan?!" balas Luana masih dengan nada tinggi. "Kau mabuk, ya?!"

Semakin Luana mengeluarkan suara, maka semakin bergairah pula rasa yang menggelegak di dalam dada sang bangsawan.

Sinar bulan itu memantulkan siluet wajah Luana, yang jelas memandang Rey dengan tatapan tidak suka.

"Aku tidak mabuk," kilah Rey cepat. "Aku mencarimu kemana-mana, tetapi kau malah di sini menyendiri tanpa aku."

Luana menelan ludah dengan susah payah. Meneliti bola mata sang bangsawan, perempuan itu tahu Rey sedang tidak berada pada kesadaran penuh.

Bau khas yang menyeruak itu menjadi bukti, bahwa Rey mungkin saja baru menenggak alkohol dalam jumlah yang cukup banyak.

Lelaki itu tidak mungkin meracau seperti ini, jika dia tidak sedang kehilangan kesadarannya.

Luana belum bersuara ketika Rey maju dua langkah untuk memangkas jarak.

Lelaki itu berdiri tepat di sela kedua kaki Luana yang terbuka, membuat jarak yang tercipta di antara keduanya kini semakin dekat terasa.

Memasang badan dengan awas, Luana tanpa sadar memundurkan tubuhnya untuk tetap menjaga jarak.

"Kenapa kau mundur?" bisik Rey pelan. "Bukankah kau mengatakan kau juga mencintaiku?"

Luana bernapas dengan cukup sulit malam itu, saat kini aroma alkohol benar-benar memenuhi indra penciumannya.

Perempuan itu tidak tahu berapa gelas alkohol yang sudah ditenggak oleh Rey, tetapi sepertinya lelaki itu memerlukan pertolongan. Karena Rey sudah mulai meracau, karena lelaki itu sudah mulai berbicara melantur.

"Jovi!"

Luana berseru untuk memanggil Jovi, berharap asisten pribadi Rey itu akan datang untuk menolongnya.

Rey menaikkan dua alisnya bersamaan.

"Kau baru saja memanggil Jovi?" tanya lelaki itu bernada kesal.

Tidak menggubris untuk menjawab pertanyaan Rey, Luana menoleh ke belakang untuk memeriksa keberadaan Jovi.

"Jovi?!" ulang perempuan itu lagi.

Tetapi dia tidak menemukan siapapun di belakang sana, dan kini hanya mereka berdualah yang berada di gazebo itu sekarang.

Berdentum keras jantung Luana, memikirkan bagaimana caranya untuk menghadapi Rey yang mungkin sudah setengah mabuk.

"Jangan memanggil pria lain!" sentak Rey kali ini, dengan tangan yang bergerak cepat.

Lelaki itu menangkupkan kedua tangannya di pipi Luana, menahan agar tatapan perempuan itu hanya terarah lurus padanya.

Napas Rey masih tersengal, dengan sorot mata tajam yang melihat Luana lekat-lekat.

"Apa aku saja tidak cukup untukmu?" lirih sang bangsawan. "Katamu kita saling mencintai, bukan? Tetapi kenapa kau malah meninggalkanku dan mencampakkan aku seperti ini?"

Luana tidak tahu harus bereaksi seperti apa, karena ini adalah pengalaman pertamanya berhadapan dengan orang yang sedang mabuk.

Sialnya lagi, orang itu adalah Rey dan sepertinya bala bantuan tidak akan datang dengan mudah.

"Jawab aku!" seru Rey tidak sabar. "Kau tahu kan, betapa aku mencintaimu?"

Nada suara lelaki itu terdengar sendu dan menyayat kali ini, yang begitu saja membuat Luana mengerjapkan mata.

Pria di depannya ini sudah menunjukkan beberapa gambar yang berbeda, bahkan hanya dalam dua hari perkenalan mereka.

Bola mata Rey tampak memancarkan kekecewaan, dengan sayatan luka yang terlihat jelas. Berbeda sekali dengan bagaimana sikap yang ditunjukkan saat pernikahan mereka, lelaki itu tampak begitu rapuh seakan-akan sedang memikul beban yang cukup berat kini.

"Aku mencintaimu," lirih Rey lagi. "Seperti lautan ini, aku hanya mencintaimu."

Luana tidak bisa mengelak ketika Rey begitu saja kembali memangkas jarak di antara mereka, sudah mendaratkan bibirnya tepat ke bibir Luana.

Perempuan itu tersentak kaget, tidak menyangka Rey akan melakukan hal itu padanya. Tetapi bibir Rey sudah bergerilya di atas bibirnya, mencicipi bagaimana manisnya bibir merah muda gadis itu.

Luana berusaha melepaskan pagutan mereka, ketika sinyal di otaknya memberi peringatan bahwa ini tidak benar untuk dilakukan.

Tetapi lagi-lagi, tenaga yang dimiliki Rey sungguh tidak sebanding dengan tenaga yang dia punya. Dua tangan sang bangsawan masih menahan wajahnya, membuat perempuan itu tidak bisa pergi bahkan seinci pun dari Rey.

Dengan semilir angin yang berembus, Rey semakin masuk untuk memperdalam ciuman mereka. Hawa panas mengalir begitu saja, ketika kini gairah lelaki itu sepertinya sukses mengambil alih.

Rey bergerak cepat untuk naik ke atas tubuh Luana, mendorong gadis itu dengan paksa sehingga membuat Luana tanpa sadar telah berbaring di lantai gazebo yang tertutup.

Persis ketika Rey memberikan ruang untuk mereka menghirup napas, Luana tersengal dengan bola mata yang melebar sempurna.

"Tuan!" seru perempuan itu. "Sadarlah! Kumohon lepaskan aku!"

Tetapi seruan Luana itu tidak lebih kencang dari suara deburan ombak yang terdengar, yang entah mengapa sukses sekali meredam suara yang perempuan itu timbulkan.

"Jangan berteriak, Sayang. Itu hanya akan menghabiskan tenagamu bahkan sebelum kita memulainya," balas Rey mendominasi.

Lelaki itu sudah terlanjur berada di ambang batasnya.

Semakin mendempet Luana, Rey tidak mempedulikan bagaimana Luana memohon agar ia beranjak dari posisinya sekarang.

Luka yang menganga, kecewa yang mendalam, dan alkohol yang berlebihan sukses membuat Rey tidak lagi mengenal siapa dia sebenarnya.

"Aku tidak akan melepaskanmu," lirih Rey lagi, sekuat mungkin menahan Luana yang masih berusaha untuk berontak dari sisinya.

"Tidak akan kubiarkan kau pergi, tidak sedikit pun. Karena sejak dulu, kau memang hanya milikku."

Luana tidak bisa bernapas dengan baik, ketika kini Rey menenggelamkan kepalanya di ceruk leher perempuan itu.

Menghujaninya dengan ciuman bertubi-tubi, Rey membuat Luana melemas. Bahkan tidak mampu mengeluarkan sepatah kata pun, saat bibir sang bangsawan kembali mengunci bibirnya.

Luana meringis, masih berusaha untuk melepaskan diri dari cengkraman Rey yang semakin lama malah terasa semakin menguat.

'Kumohon jangan lakukan,' rintih Luana dalam hati. 'Karena ini semua tidak benar, karena seharusnya bukan aku yang berada di sini.'

Semakin Luana berusaha untuk melarikan diri, semakin kuat pula Rey mempertahankan perempuan itu dalam pengawasannya.

Hingga napas keduanya bersamaan tersengal setelah ciuman yang lagi-lagi cukup panjang, suara kembang api yang dilontarkan ke langit menjadi saksi bisu untuk sepasang anak manusia yang masih saling mendempet.

Menggigit puncak kuping Luana dengan gairah yang telah terlanjur membuncah, Rey mulai kembali berbisik lirih. Menyingkap dress yang dikenakan Luana, Rey benar-benar tidak akan mundur lagi.

"Kau tidak akan bisa pergi dariku. Tidak kemarin, tidak juga kapan pun."

Dan cahaya yang berpendar di langit itu menemani bagaimana Rey mengambil apa yang menjadi haknya sebagai seorang suami, menjadikan dirinya sebagai pemilik penuh dari kehidupan dan tubuh yang dimiliki Luana.

Lelaki itu memasuki Luana dengan gerakan lembut namun tegas, tidak menyadari bahwa perempuan itu sedang menyimpan dan mengingat kejadian kali ini di relung hati terdalamnya.

Menahan kesakitan yang baru pertama kali ini ia rasakan, Luana tanpa sadar meneteskan bulir air mata yang turun begitu saja.

Tubuhnya terhentak berulang kali, dipaksa untuk menerima kehadiran Rey di bawah sana.

Seiring dengan kembang api yang masih terus menyala, Luana merasakan bagaimana hatinya tersayat dan tercabik-cabik tanpa ampun saat ini.

Bukan karena dia tidak ingin menunaikan tugasnya sebagai seorang istri, tetapi karena Rey mendatanginya dan menganggapnya sebagai seseorang yang lain.

Hati perempuan itu berdenyut nyeri, sebab setiap kata yang diucapkan Rey tadi bukan tertuju untuknya.

Karena lagi-lagi bukan dia, yang seharusnya menjadi tempat untuk lelaki itu kembali.

.

.

.

~Bersambung~

1
Shifa Burhan
reader2 yang menyukai Pedro

sekarang tanya pada diri kalian jika ada sosok Pedro versi wanita dan menyukai suami kalian, apakah kalian juga akan kagum wanita lain yang itu

pakai ajala biar tidak jadi wanita jablay yang lebih melebih pria lain dari pada suami sendiri
Shifa Burhan
seorang istri nyaman duduk dan ngobrol berduaan dengan pria lain kalian (author) anggap itu hal benar dan buka kesalahan

coba dibalik Thor suami mu nyaman duduk dan ngobrol berduaan dengan wanita lain apakah kau anggap itu hal benar juga

pakai akal sehat biar bisa bedakan mana salah mana benar
baca ulangggg/Drool/
Wulan TitAnica
The Best....
Arida Susida
Luar biasa
Anisa Marcella
Luar biasa
yella xarim
dah baca novel ini berkali2 ttp ga bosen.. keren Thor
Mifta Özil
ntah baca yg keberapa kali ga ngitung, slalu kgn sama novel ini huhu
Ray Aza
dih marah sm org yg salah, berkat gadis itu muka lo msh selamat..
Nafis
ahaa... stelah skian lama tak bca novel² kak bee krna takut kecanduan 🤭 coz 2th kebelakang kerempongan ngurus baby & toddler,luv kak bee 😘
shelome
baca lagi kangen sama tulisan kk bee
Wati Astuti
ku baca ulang ya thorr kangen sm Rey Luana.. Rey yg lama2 bucin tingkat dewa
N. Y
/CoolGuy/
syahira alifa
mantap bee
syahira alifa
salah dia sendiri kenapa lari di hari pernikahannya, sekarang menyesal pun percuma keadaan sudah tak lagi sama
syahira alifa
i love you bee tak kira bakal ada pertentangan antara orang tua rey dan rey gara²status luana..
syahira alifa
benih-benih cinta mulai tumbuh
Sri Lestari
ceritanya bagus
iren thezer
ceritanya oke singkat tp good ending
Nur Hikmah
aduh bang Rey..kenapa menggantung
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!