NovelToon NovelToon
Cinta Di Tapal Batas

Cinta Di Tapal Batas

Status: sedang berlangsung
Genre:Idola sekolah / Romansa pedesaan / Diam-Diam Cinta / Cintamanis
Popularitas:14k
Nilai: 5
Nama Author: Buna Seta

Dini Kirana yang masih kelas dua SMA dijual oleh ayah tirinya kepada pria kaya yang sudah banyak istri untuk melunasi hutang. Dini memilih kabur dari rumah dan akhirnya kesasar ke salah satu Desa. Di tempat itu, Dini bertemu Aksa yang sudah berusia 28 tahun.

"Mas, boleh ya saya tidur di rumah kamu? Tolong Mas, saya butuh tempat tinggal."

"Kamu bukan siapa-siapa saya Dini, saya tidak mau digerebek warga Desa."

Bagaimana kisah selanjutnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Buna Seta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17

"Sekarang sudah bel, nanti pulang sekolah kita bertemu di tapal batas ya" titah Aksa lembut. Dini akhirnya mengangguk.

"Senyum dulu dong" Aksa tersenyum menatap lekat wajah Dini.

Dini pun lagi-lagi menurut, tersenyum tipis.

"Yang lebar dong... mana gingsulnya? Hahaha..."

"Aaagghhh... Pak Aksa" Seru Dini, memukul pelan lengan Aksa yang tertawa lebar.

Saking seriusnya mereka tidak mendengar langkah kaki Handoko yang baru saja keluar dari toilet pria. Bahkan menarik resleting celana pun sambil berjalan karena bel sudah berdering. Ketika melewati koridor, Handoko pada akhirnya melambatkan kakinya ketika telinganya mendengar tawa pria dan wanita dari taman sebelah kirinya.

"Itu kan Dini bersama Pak Aksa... Ternyata mereka pacaran" Batin Handoko. Dengan hati galau ia melanjutkan perjalanan. Selama ini ia berharap wanita cantik itu akan menerima cintanya. Sebab, Dini pernah menolaknya dengan alasan ingin serius sekolah. Tetapi ternyata Dini justru menjalin kasih dengan Aksa.

Putus sudah harapan Handoko, cinta pertamanya layu sebelum berkembang. "Tapi kan janur belum melengkung? Aku tidak akan menyerah walau harus bersaing dengan Pak Aksa" monolog Handoko.

"Kenapa Han? Sarapan kamu tadi dihinggapi lalat hijau kali? Dari toilet kok lemas begitu" Bejo pikir Handoko buang-buang air.

"Geser!" Handoko tidak menjawab justru Ketus menyuruh Bejo teman sebangkunya itu geser ke pinggir tembok.

"Iya, iya. Dari kamar mandi kok galak amat" Bejo bingung dengan perubahan Handoko, padahal lima menit yang lalu biasa-biasa saja.

"Jangan-jangan Handoko di to'el hantu cantik penunggu kamar mandi. Hahaha" Cahyono yang duduk di belakang mereka pun tertawa diikuti teman-teman pria yang lain.

"Sial" Handoko mengumpat dalam hati.

Pagi itu ternyata bukan hanya Handoko saja yang syok melihat hubungan Aksa dengan Dini. Namun, teman-teman sekelas Dini yang lain pun terkejut.

"Lihat kawan, ternyata Dini kekasih Pak Aksa" ucap salah satu dari mereka menyembulkan kepala di pinggir tembok.

"Mereka memang cocok."

"Benar, cantik sama tampan, sama-sama jenius pula."

"Tapi bu Lusi pasti kebakaran jenggot. Hihihi..." salah satu siswa terkikik diikuti yang lain.

Seeett... "Pelankan suara kalian" Tari menutup mulutnya dengan jari. "Sudah... biarkan saja, kita masuk kelas yuk..." Lanjut Lestari yang berada di antara mereka. Lestari menarik tangan teman-temannya berjalan ke kelas melaui koridor lain, tidak mau aksi kepo nya diketahui oleh guru dan sahabatnya.

Di tempat yang tidak jauh dari taman pun seorang wanita tengah memperhatikan Aksa dan Dini dengan hati panas. "Jadi, mereka pacaran? Awas kamu Dini!" Batin si wanita dengan wajah merah menahan emosi.

Sementara Dini dan Aksa sudah tiba di depan kelas dan akhirnya berpisah. Aksa sebenarnya pagi ini tidak ada jam mengajar, tapi ambil buku ke kantor terlebih dahulu kemudian pulang. Pagi ini ia janjian dengan ibunya karena kesibukannya belum sempat menanyakan soal ayahnya.

Sedangkan Dini segera masuk kelas, tapi merasa diperhatikan oleh teman-temannya.

"Cieee... Cieee..." seru Lestari diikuti teman-teman yang lain.

"Kalian ini ada apa?" Dini mengedarkan pandanganya. Beberapa teman senyum-senyum menatapnya.

"Kamu tidak tahu Ni, bedak kamu terlalu tebal" gurau Bejo menampilkan wajah serius.

Jelas Dini tidak percaya kata-kata Bejo karena ke sekolah pakai bedak pun belum pernah ia lakukan. Dini memperhatikan Handoko yang hanya diam tapi tangan kanannya berisik mengetuk-ngetuk meja menggunakan pulpen sambil menopang dagu dengan tangan kiri.

Dini tidak berkata-kata lalu duduk di sebelah Lestari. "Mereka kenapa Ri?" Tanya Dini penasaran karena Lestari pun ikut menyoraki ciee-ciee.

"Mereka lihat kamu sama Pak Aksa di taman tadi loh Ni... Hihihi..." Lestari tertawa.

"Masa?" Dini terkesiap.

"Iya, eh ngobrolnya nanti saja" Lestari menoel lengan Dini karena bu Lusi sudah masuk kelas.

Dini mengangkat kepala, hingga saling tatap dengan bu Lusi yang tampak angkuh dan tiba-tiba melengos. Guru yang sebenarnya cantik, tapi sulit tersenyum hingga tampak anker. Tidak ada ucapan selamat pagi seperti biasanya, guru matematika itu mengeluarkan kaca mata dari tas lalu menyangkutkan di hidung.

"Bu Lusi kenapa ya? Apa beliu juga melihat aku dan Pak Aksa di taman tadi?" Dini bertanya-tanya masih enggan berpaling dari Lusi. Hingga beberapa detik kemudian menunduk ketika bu Lusi menatapnya tajam.

"Kumpulkan tugas yang saya berikan kemarin" titah Lusi tidak ada lembut-lembut nya.

"Sudah Bu..." semua siswa menjawab. Sebenarnya mereka sudah tahu apa yang akan Lusi perintahkan. Maka kertas jawaban sudah berada di atas meja masing-masing.

"Bejo, kumpulkan ke depan" Perintah Lusi sembari balik ke depan papan tulis memberi soal untuk hari ini.

"Baik Bu..." Bejo dengan cepat melintasi meja demi meja mengumpulkan kertas kemudian meletakkan di atas meja bu Lusi.

Sepi, di dalam kelas, semua siswa fokus ke papan tulis. Begitulah jika jam pelajaran Lusi, tidak ada yang berani bicara hingga pelajaran selesai. Jika berani melanggar otomatis didamprat.

"Dini, pulang sekolah nanti kamu temui saya di kantor," perintah Lusi mengejutkan Dini. Dini hanya diam berpikir. Siapa pun yang dipanggil bu Lusi pasti ada masalah, padahal ia tidak merasa melakukan kesalahan.

"Dini, kamu tidak mendengar perintah saya?!" Ketus Lusi menahan kesal.

"Baik Bu" Dini mengangguk santun, hatinya sedikit lega ketika memandangi Lusi yang sudah melenggang ke luar kelas.

Dini menoleh ke belakang ketika mendengar kasak kusuk dari teman-temannya. Mungkin mereka pun bingung mengapa dirinya dipanggil.

"Kenapa Bu Lusi memanggil kamu, Ni?" Lestari yakin ada masalah pribadi antara Dini dan gurunya itu. Biasanya bu Lusi akan memanggil siswa ketika tidak bisa mengerjakan soal. Tentu tidak mungkin jika Dini sampai mengalami kesulitan dalam hal pelajaran.

"Mungkin tugas yang aku kerjakan tadi banyak yang salah, sudahlah kita makan, yuk" Dini mengeluarkan bekal spesial buatan ibunya kemudian makan bersama Lestari.

*************

Di dalam rumah bu Susilo Wati, saat ini Aksa baru ada kesempatan bertanya kepada ibunya tentang ayahnya. Sebab, selama dua hari kemarin, ia ditugaskan mewakili rapat sekolah ke kantor diknas pendidikan.

"Jangan paksa Ibu untuk mengingat masa lalu lagi, Sa..." jawab bu Wati, dadanya sesak ketika mengingat semua itu.

"Tolong Ibu... ini menyangkut wanita yang aku cintai, Dia syok begitu tahu kalau aku anaknya Ayah."

"Jadi... kamu sudah ada calon istri, Sa? Siapa wanita itu, Ibu ingin berkenalan" Wati seketika berbinar-binar. Dia pikir anaknya itu ada kelainan, karena selalu dingin terhadap semua wanita yang ia kenalkan.

"Aku janji akan mengenalkan wanita yang aku cintai sama Ibu, tapi tolong ceritakan tentang Ayah" Aksa tidak kehilangan akal untuk memaksa Ibu.

Bu Wati memandangi pohon jagung di luar dengan tatapan kosong. Dia seperti kembali ke masa lalu setiap mengingat mantan suaminya. Kenangan-kenang muncul tapi tidak pernah ia rasakan bahagia. Sebenarnya Wati tidak mau menceritakan tapi ia takut calon istri Aksa mengalami masalah karena ulah Burhan.

"Bu" Aksa pindah duduk di kursi sebelah Wati mengusap pundaknya. Aksa sebenarnya tidak tega melihat ibunya sedih, tapi demi Dini ia akan melakukan apapun.

"Ketika Ayah kamu melamar Ibu mengaku masih bujang Sa," bu Wati meneteskan air mata. Wanita mana yang tidak akan mau dinikahi pria kaya yang baik hati dan menerima apa adanya walaupun Wati hanya anak seorang petani dan bekerja sebagai pelayan restoran.

Tidak Wati sangkal bahwa Burhan sayang kepadanya. Terutama ketika Burhan tahu jika setahun kemudian ia mengandung. Namun, kebahagiaan itu hanya seumur jagung karena tiba-tiba dua istri Burhan datang melabrak bergantian dan menuduhnya pelakor.

Flashback On.

"Hai jalang, jika kamu tidak mau angkat kaki dari rumah ini saya pastikan anak dalam kandungan kamu tidak akan sempat lahir ke dunia!" Ancam wanita 30 tahunan.

Tubuh Wati pun menjadi bulan-bulanan istri pertama Burhan. Dijambak, ditampar, bahkan ditendang, hingga tubuh Wati tersungkur. Takut terjadi sesuatu dengan bayi yang ia kandung, Wati menyerah.

"Jangan Mbak, anak ini tidak berdosa. Saya akan minta Mas Burhan agar menceraikan saya secepatnya" jawab Wati menangis menyedihkan di lantai rumah.

"Awas kamu, saya beri waktu seminggu, jika belum cerai, kamu akan menyesal!" Ancam istri pertama Burhan lalu pergi.

Tentu saja, Wati merasa ditipu Burhan dan minta diceraikan. Tapi Burhan menolaknya dengan alasan Wati sedang hamil. Wati tetap bertahan walaupun hidup dalam ketakutan. Ia tidak peduli dengan dirinya sendiri, tapi anak dalam kandungannya harus ia lindungi. Teror dari kedua istri Burhan sungguh membuat jiwa Wati terguncang.

Pada akhirnya Wati mampu mempertahankan bayi dalam kandungannya hingga anak laki-laki tampan lahir ke dunia dan diberi nama Aksa. Belum genap usia Aksa satu bulan, cobaan datang lagi. Burhan bukan menceraikan Wati tapi justru minta tanda tangan agar Wati menyetujui karena Burhan hendak menikahi lagi dengan seorang gadis.

"Baik Mas, saya bersedia tanda tangan, tapi ceraikan saya dulu" Wati sudah tidak peduli lagi, Burhan hendak menikah seribu kali pun. Karena baginya hanya ingin cerai dan hidup tenang bersama Aksa.

"Saya tidak akan menceraikan kamu Wati. Kamu ngerti tidak!" Burhan ngamuk, karena Burhan sangat mencintai Wati yang kecantikannya melebihi kedua istri sebelum Wati.

Pertengkaran setiap hari terjadi, karena Wati tetap minta cerai. Namun, Burhan mengancam akan menjual Aksa jika Wati nekat.

Wati ternyata bukan orang bodoh, ia menyambar pisau buah di atas meja, kemudian mengacungkan ke leher Burhan. "Jika kamu berani menyentuh Aksa, pisau ini akan menancap di lehermu!" Wati tidak takut lagi.

Burhan menarik kakinya mundur, lalu pergi dari rumahnya. Kesempatan itu digunakan Wati untuk berkemas-kemas. Wati pergi menggendong Aksa, tidak ada yang ia bawa selain baju dalam tas. Ketika sedang menyerahkan surat gugatan, Wati yang masih kondisi nifas di tolong oleh seorang polisi bersama istrinya.

"Setelah ini kamu mau kemana?" Tanya istri polisi.

"Saya tidak tahu, Bu..." Wati tidak mau pulang dalam keadaan seperti ini. Dia takut kepada orang tuanya karena sudah tidak setuju ketika menikah dengan Burhan. Kedua orang tua Wati ingin anaknya menikah dengan pria desa yang jelas sudah kepribadiannya.

"Kamu bisa memasak?" Tanya istri polisi.

"Bisa Bu."

"Kalau gitu, kamu boleh bekerja di rumah membantu Mbok."

"Ya Allah... Terima kasih Bu... saya mau."

Untuk menyambung hidup dan sebagai ucapan terima kasih kepada polisi, Wati rela bekerja di rumah tersebut hingga usia Aksa dua tahun.

Flashback Off.

"Astagfirullah... Ibu..." Aksa memeluk Ibunya erat. Ia sedih, ternyata Ibunya menyimpan sakit hati yang begitu dalam. Pantas saja sang ibu tidak mau bercerita kepadanya.

"Begitulah ceritanya Sa, menurut kabar yang Ibu dengar, hingga saat ini pun Ayah kamu masih gila, membeli gadis-gadis akan dia jadikan pemuas nafsu."

"Apa?" Aksa bangkit dari dada Wati, seketika ingat Dini. "Aku pergi dulu Bu" Aksa segera berlari keluar menjalankan motornya ke sekolah. Otak cerdasnya segera menangkap bahwa Dini pun mengalami nasib seperti gadis-gadis itu.

"Tari, Dini sudah pulang?" Tanya Aksa begitu tiba di sekolah dengan wajah cemas. Sebab, di sekolah sudah sepi.

"Dini dipanggil bu Lusi ke kantor Pak."

"Ada apa lagi ini?" Aksa berjalan cepat mencari Dini ke kantor.

...~Bersambung~...

1
Darti abdullah
luar biasa
Eka ELissa
knpa tu Lusi..... entahlah hy emk yg tau.....
Buna Seta: Jangan jangan bunting
total 1 replies
Attaya Zahro
typo kak..yang memberi Burhan bukan Ringgo
Attaya Zahro: Iya kak 😍😍
total 2 replies
Ita rahmawati
ada apa nih dg bu lusi
Ita rahmawati
polisi dateng,,apakah 22 nya ditangkep 🤔
Eka ELissa
nah lohh.... Burhan Ringgo msuk bui.,. tu bersiap udh di jmput mo di bawa ke hotel 🏨🏨🏨 prodeo 😄😄😄😄🤭
Buna Seta: Kapok dia 😁
total 1 replies
neng ade
aku hadir disini thor .. 🙏😍
Buna Seta: Lanjut ya
total 1 replies
Ita rahmawati
aksa kah yg dateng atau orang lain
vj'z tri
🫣🫣🫣🫣 semoga selamat 🫣🫣
Eka ELissa
Lusi pa Ringgo.....yg culik....dini... entahlah hy emak yg tau...
Eka ELissa
aduh....Bu ..dini....di culik tau ...smoga GK knpa2....yaaa......🤦🤦🤦
Bu Kus
lanjut
Fitriah Fitri
pleazee thor ... 2 bab tudey. nti sore up lg kan dr kmrn 1 bab trs up nya
Buna Seta: Lagi galau say, retensi buruk 😭
total 1 replies
vj'z tri
sabar Mak sabar tanya pelan pelan jangan langsung gas 🤭🤭🤭🤭
Ita rahmawati
siapa ya yg nyulik,,lusikah atau ringgo kah atau ada lg orang baru 🤔
Eka ELissa
dini....pak....msih inget kan kmu...😡😡😡
Ita rahmawati
hadeuh siapa nih yg bekap dini
Attaya Zahro
Jangan² nih kerjaan si Bu Lusi,.dan malah membuat Aksa jadi salah paham ma Burhan..
Attaya Zahro
Waduh..Dini di culik..tolong Dini Bang Aksa
Bu Kus
lebih baik jujur aja dini kan Aska gak tahu dengan kamu jujur pasti akan bertindak jangan main curiga nanti kamu nyesel lho
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!