karya pertama ini sedikit tidak layak untuk di baca, takutnya kalian baca malah jadi pening kepala 😅
"kamu itu hanya istri keduaku, jadi jangan banyak bertingkah"
perasaanku hancur seketika mendengar ucapan suami ku sendiri.
mengapa takdir seolah ingin mempermainkan ku.
apa istri pertama nya tau bahwa suaminya telah menikah lagi, bagaimana perasaan nya kalau tau suaminya telah menikah dengan ku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riska Almahyra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
adik ipar
di sini lah aku di ruangan serba putih dengan selang infus yang mengganggu ruang gerak tanganku. setelah kejadian Oma yang menghampiri ku di kamar, aku jatuh pingsan dan di bawa ke rumah sakit.
hari pertama aku masuk rumah sakit mas Danu tidak datang menjengukku. pikiran-pikiran buruk ku terus berkeliaran di kepalaku, pertama mas Danu sudah tidak peduli pada ku atau yang kedua mas Danu memiliki wanita lain. kepalaku tertunduk lesu memikirkan perkataan ku yang ke dua.
"bagaimana jika itu benar adanya" gumam ku.
terdengar suara pintu terbuka.
"selamat pagi non"
"pagi bi"
"hari ini saya yang akan menjaga non, soalnya nyonya sedang ada urusan" jelas bi Inah setelah menyimpan tasnya.
"duduk saja bi" pinta ku pada bi inah.
"apa tuan Danu ada di rumah?" tanyaku penasaran pada bibi.
"tuan semalam tidak pulang non" aku mengangguk kan kepalaku mencoba menerka-nerka kemana perginya mas Danu sampai tidak pulang, apa ke rumah orangtuanya.
"iya mungkin ke rumah orangtuanya, tapi bagaimana kalau mas Danu mencari perempuan lain" batinku, wajahku pias seketika memikirkan nya.
"non.....non........ non Laras" panggilan bibi yang ketiga kalinya membuat ku kembali dari acara melamunku.
"eh iya kenapa bi?" tanyaku gelagapan.
"non kenapa bengong gitu?" tanya bibi khawatir.
"eh gak papa bi, saya mau tidur ya Bi" aku menarik selimut ku membelakangi bibi, tidak terasa air mataku mengalir begitu saja saat pikiran ku kembali teringat saat dia meminta ku menikah dengan fakta yang baru ku ketahui setelah pernikahan ternyata aku hanya istri kedua mas Danu,apa mas Danu akan mencari istri kedua lagi.
aku mengerjapkan mataku melihat ke sekeliling ruangan, masih tetap seperti tadi hanya ada bi Inah, mas Danu tidak menjengukku.
"non kata dokter non sudah boleh pulang"
"aku ingin pulang sekarang juga bi" kataku serak, suara khas bangun tidur ku.
"yasudah saya kabari nyonya dulu ya non"
aku mengangguk kan kepalaku sebagai jawaban.
bibi sedang berbicara dengan telpon yang menempel di telinganya. tidak lama bibi menghampiri ku.
"non mau bersiap biar bibi bantu"
"tidak usah bi, aku bisa sendiri tolong siapkan baju Laras"
tidak lama suster datang dan mencabut Selang infus di tanganku.
aku berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuh ku.
tidak butuh waktu lama, karena aku hanya mandi biasa dan memakai baju gamis dan kerudung ku lalu berjalan keluar kamar mandi.
"halo Kaka ipar" aku terkejut dengan suara lelaki yang memanggilku.
"aku Tias Atmaj Wijaya, panggil Tias aja...... atau adik tersayang" Tias menggelengkan kepalanya.
"ah jangan-jangan, nanti mas Danu marah lagi''
Laras menatap bingung pada tias yang terus berbicara.
"maaf non Laras, den Tias pak Supri sudah di depan" bibi melihat ke arah ku dan ke arah Tias.
"yasudah ayo Kaka ipar kita pulang" Tias menggandeng tanganku.
aku yang diperlakukan seperti itu oleh adik ipar ku sendiri merasa sangat risih.
"tolong lepaskan Tias" ucap ku sambil melihat ke arah tangan Tias.
dengan cepat Tias melepaskan tangannya.
"maaf ya Kaka ipar, ini tangan emang suka nakal" Tias hanya tersenyum ke arahku, padahal aku sudah sangat kesal.
di dalam mobil menuju rumah oma Tias tidak berhenti bicara, rasanya kepalaku ingin pecah jika terus berada di dekatnya.
aku hanya terdiam tidak peduli dengan perkataan nya sampai suara lirih Tias yang sangat jelas ku dengar.
"mas Danu sepertinya sedang asik bersenang-senang sama istri barunya"
"jaga ucapanmu" aku melotot ke arah Tias yang berada di samping ku.
"emang nya aku ngomong apa ka?'' tanya Tias pura-pura kebingungan.
"mas Danu tidak mungkin menduakan aku" aku sudah sangat kesal padanya.
"cih, Kaka percaya diri sekali, sadar diri dong Kaka aja kalah cantik tuh sama mba cinta" sebenernya Tias hanya ingin memancing kemarahan istri kakanya. Tias tersenyum puas di dalam hatinya melihat kecemburuan yang nampak di wajah Kaka ipar nya.
"mas memang gak salah pilih istri, liat dia sangat cemberut mas, karena ucapanku" batin Tias tersenyum senang.
"kamu......" geram Laras namun tidak melanjutkan kata-katanya, malah memalingkan wajahnya ke arah jendela tidak ingin terpancing oleh ucapan adik iparnya.
"apa kamu setega itu sama aku" batin Laras merasa sakit yang teramat di hatinya.