Akibat perselingkuhan yang di lakukan Owen calon tunangannya, membuat Sonya menghibur diri di sebuah Club di kota Paris. Yang nyaris saja menghancurkan masa depannya.
Karena kecerobohannya, Sonya tidak mengetahui pria asing sudah menaruh obat ke dalam gelas minumnya. Dan Sonya nyaris di manfaatkan pria asing itu kalau saja Alex, pria yang selama ini Sonya benci, tidak datang menyelamatkannya.
Satu hal berlanjut ke hal lainnya, yang membuat mereka harus menikah. Dan perlahan tapi pasti rasa benci Sonya ke Alex berubah menjadi cinta.
Meskipun Alex cenderung cuek dan dingin terhadap perjuangan cinta Sonya, Sonya tetap berusaha mendapatkan hati pria dingin, kaku dan angkuh itu.
Tapi kisah tragis masa lalu Alex membuat Alex menutup diri untuk cinta yang baru.
Sampai akhirnya Sonya harus memilih...
Tetap mengejar cintanya pada Alex..
Atau melepasnya dan menerima cinta yang lain.
Dan ketika saat itu tiba...
Bersediakah Alex melepaskan Sonya...?
Mampukah Alex melupakan masa lalunya...?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nicegirl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Apartment Alex
Operasinya berjalan dengan lancar, saat ini pak Bramanta sudah dipindahkan ke ruang ICU. Selang pernafasan yang tersambung ke ventilator masih terpasang di saluran pernafasannya, sampai ia bisa bernafas dengan normal.
"Dua-tiga hari ini kami akan terus pantau tanda vital Pak Bramanta secara berkala. Saat sudah bisa bernafas dengan normal tanpa bantuan ventilator, kami baru akan memindahkannya ke ruang perawatan." jelas Dokter Daniel tadi, tidak lama setelah selesai operasi.
Dan sekarang, setelah Mbok Yem sampai, dan waktu juga juga sudah menunjukkan pukul tujuh malam, Alex mengajak Sonya untuk pulang dulu ke Apartmentnya, besok pagi ia akan mengantar Sonya lagi ke sini.
"Tolong jaga Papa dulu ya Mbok... Kami pulang dulu." pamit Sonya.
"Iya Non..., sudah sekarang Non dan Tuan Alex istirahat dulu saja..." sahut Mbok Yem.
Beberapa menit kemudian mereka sudah sampai di Apartment Alex, yang berada tepat di tengah kota, tidak jauh dari kantor dan rumah Hardhan.
Setelah keluar dari private lift, Alex menekan password digital door locknya, dan Sonya langsung ternganga lebar melihat luas Apartment suaminya itu.
Sonya berpikir hanya Apartment sederhana, bukan Apartment ekslusif dan mewah seperti ini, luasnya hampir tigaratus meter, dan sudah dilengkapi dengan instalasi smart home.
Mempermudah penghuni mengendalikan hampir seluruh instalasi yang terdapat di dalam Apartment, seperti lampu, televisi, pendingin udara, pemanas air, dan peralatan elektronik lainnya, melalui telepon selular mereka, bahkan dari jarak jauh sekalipun.
"Bapak tidak kesepian tinggal sendiri di Apartment sebesar ini Pak...?" tanya Sonya, matanya masih terus menjelajahi isi Apartment Alex.
"Saya sudah terbiasa sendiri." jawab Alex sekenanya.
"Lah terus sekarang saya apa Pak...? Kok saya jadi merasa seperti iklan di Youtube ya Pak, ada tapi cuma untuk di skip..." cibir Sonya.
Alex langsung balik badan ke arah Sonya, "Maksud saya sebelum saya menikah denganmu. Kau selalu saja menyalah artikan perkataan saya!"
"Hmmmmppttt...!" tawa Sonya tertahan, rasanya senang bisa menggoda pria dingin itu.
Sambil menyilangkan kedua tangan di depan dadanya, Alex menyandarkan pinggulnya pada sandaran sofa putih di belakangnya, "Apanya yang lucu...?" tanyanya.
Sonya melambaikan tangannya dengan santai untuk menanggapi pertanyaan Alex itu. "Bukan apa-apa..."
Sonya kembali mengeksplorasi Apartment itu, Alex menekan tombol di telepon selularnya, gordyn setinggi langit-langit Apartment dan pintu sliding kaca yang mengarah ke balkon terbuka di kedua sisinya, sisi depannya terdapat kolam renang, dan sisi kirinya terdapat balkon dengan beberapa tanaman hidup yang berjajar rapi di sana.
"Waahh amazing..." gumam Sonya sambil berjalan ke arah balkon, dan langsung terlihat jelas Monumen Nasional yang menjadi icon Jakarta itu.
Puas memandangi wajah malam ibukota, Sonya balik badan dan langsung beranjak ke lorong yang mengarah ke kamar, terdapat empat pintu kamar. Sonya balik badan ke Alex, "Yang mana kamar Bapak...?" tanyanya.
"Paling ujung, sebelah kiri ruang kerja saya, dua pintu sebelah kanan kamar kosong."
"Aku boleh melihat-lihat...?" tanya Sonya ragu-ragu.
Alex menjawab dengan anggukan.
Sonya membuka dua kamar di sebelah kanannya, tidak terlalu besar, tapi setidaknya ada kamar mandi di masing-masing kamarnya. Tirai mewah setinggi langit-langit mendominasi kamar ini.
Lanjut ke kamar utama, kamar yang jauh lebih luas dari dua kamar sebelumnya, bentuk kamar yang mirip dengan penthouse Hardhan di Paris, dengan ruang tidur dan ruang ganti yang terpisah, serta kamar mandi mewah lengkap dengan Jacuzzi Whirlpool Bathnya, hanya saja dekorasi kamar ini terlalu maskulin.
Sonya kembali lagi ke lorong tempat Alex bersandar pada tembok ruang kerjanya, Sonya tidak mau berbagi kamar dengan Alex, jadi ia memilih kamar di depan ruang kerja Alex, "Aku tidur di sini saja yaa..." cetus Sonya.
Alex mengangkat kedua bahunya dengan acuh, "Terserah, bawa masuk kopermu ke kamarmu, dan anggap rumah sendiri." sahut Alex lalu bergegas masuk ke kamarnya sendiri.
Sonya menarik masuk dua koper besarnya ke dalam kamar, setelah menyusun baju-baju itu ke lemari pakaian, Sonya berniat membuka tirai jendela tapi tirai itu tidak bergeming.
Dengan kesal Sonya mengambil handphonenya lalu mengirim pesan ke Alex, "Pak gordynnya tidak bisa dibuka..."
Lalu sambil tersenyum licik Sonya menambahkan, "Apartment sebagus ini tapi tirainya macet..." lanjutnya dengan menambahkan laught out loud emoji. Sonya tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan untuk menjatuhkan harga diri Alex.
Sonya senyum-senyum sendiri membayangkan Jailangkung kutub itu merasa malu.
"Tidak lama lagi... Jailangkung itu pasti ke sini, membetulkan gordynnya yang rusak... hahaha." gumam Sonya lalu tertawa puas.
Sejurus kemudian, tirainya terbuka lebar secara otomatis, Sonya ternganga tidak percaya, sebelum akhirnya Sonya sadar, ia sudah mempermalukan dirinya sendiri. Ternyata tirai kamarnya juga terinstalasi ke smart home.
"Aaarrrgggghhhh.....!!" jeritnya ke arah jendela kaca besar di depannya sambil menghentakkan kedua kakinya.
"Kapan sih aku menang dari Jailangkung sialan itu...!!" gerutunya kesal.
Ting! Notif chatnya berbunyi, Sonya tahu itu pasti Alex, dan Sonya langsung membuka aplikasi chatnya.
Alex : "Kalau matamu masih berfungsi dengan baik, pasti kau bisa melihat remote di atas meja nakas samping tempat tidur."
Sonya melirik meja nakas, dan benar di atasnya tergeletak dengan manja remote yang dimaksud Alex, Sonya menghela nafas kesal.
Sonya menatap layar handphonenya sambil menyipitkan kedua matanya dan menggigit bibir dengan penuh rasa dongkol.
Cih... Jailangkung kutub itu pasti semakin pongah dia sekarang...!!
Dan rupanya Alex belum puas mempermalukannya, karena ada chat lanjutan dari pria itu,
Alex : "Kau masih bisa membedakan kan antara remote televisi dan remote smart home?"
Ingin rasanya Sonya membanting handphone di tangannya, kalau saja ia tidak ingat akan mengeluarkan uang lagi untuk membelinya.
Memangnya aku sebodoh itu...?
"Aaarrggggghhhh sial kau Jailangkung kutub...!!!" teriak Sonya sekencang-kencangnya, supaya Alex dapat mendengarnya.
Ting! notif chatnya berbunyi lagi. Sonya tidak yakin ingin membukanya atau tidak, tapi jiwa keponya kembali menang.
Alex : "Sudah malam, pelankan suaramu! Kau mau di datangi Security?"
Sonya berani mengiris kupingnya sendiri kalau ada Security yang mampu mendengar teriakannya dari dalam kamar ini. Bahkan suaranya tidak akan terdengar sampai ke private lift.
Sonya : "F**k lah...!!!" balas Sonya, lalu dengan perasaan yang amat sangat dongkol, dan demi ketenangan jiwanya, Sonya mematikan handphonenya.
"Bete... Bete... Bete... Aku selalu kalah telak dari Jailangkung sialan itu...!" gerutu Sonya sambil menjatuhkan badannya ke atas tempat tidur.
"Pernikahan macam apa ini...? Bahkan tidur saja terpisah, ya walau aku sendiri yang minta, tapi setidaknya Jailangkung kutub itu sedikit berusaha membujukku kek untuk tidur satu kamar, walau cuma basa-basi saja... Huft!"