aku berdiri kaku di atas pelaminan, masih mengenakan jas pengantin yang kini terasa lebih berat dari sebelumnya. tamu-tamu mulai berbisik, musik pernikahan yang semula mengiringi momen bahagia kini terdengar hampa bahkan justru menyakitkan. semua mata tertuju padaku, seolah menegaskan 'pengantin pria yang ditinggalkan di hari paling sakral dalam hidupnya'
'calon istriku,,,,, kabur' batinku seraya menelan kenyataan pahit ini dalam-dalam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sablah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
perubahan raka
Di malam harinya
suasana rumah sudah terasa lebih tenang, hanya terdengar suara samar-samar dari meja makan perbincangan ringan antara Ibu dan Ayah Rama.
sedangkan di dalam kamar, Rama dan Alda tengah bersiap untuk bergabung dengan mereka. Alda baru saja menyisir rambutnya, sementara Rama merapikan lengan bajunya. namun, ketika mereka akan membuka pintu, tiba-tiba suara notifikasi ponsel Alda berbunyi nyaring.
Alda yang awalnya santai, kini mengerutkan kening begitu membaca pesan yang masuk.
Rama, yang memang selalu peka dengan perubahan ekspresi Alda, langsung bertanya, "kenapa, Da? ada sesuatu?"
Alda mengangkat wajahnya. "ini pesan dari pihak sekolah, Ram. aku lupa jika besok adalah acara hari guru, dan sekolah mengadakan bazar besar. aku diminta untuk datang jika memungkinkan."
Rama mengangguk pelan, tampak memahami. "acara besar, ya? kamu berencana pergi?"
Alda tampak ragu sejenak. "sebenarnya, iya. tapi aku belum izin ke kamu..."
Rama tersenyum tipis. "kenapa harus izin? itu bagian dari tugasmu, Da. besok aku antar ya?"
Alda sedikit terkejut, tidak menyangka Rama langsung memberikan jawaban seperti itu. "kamu tidak keberatan?"
"tentu saja tidak. aku selalu ingin memastikan kamu sampai dengan aman," jawab Rama santai.
namun, di saat yang bersamaan, sebuah ide tiba-tiba terlintas di benak Rama. ia berpikir, jika acara ini adalah bazar besar, pasti akan ada kesibukan disana. dan ini bisa menjadi kesempatan untuk memberikan sesuatu yang spesial untuk rekan-rekan Alda, anggap saja sebagai oleh-oleh dari masa cuti pernikahan Alda dan dirinya.
Rama menatap Alda sejenak sebelum mengangguk pelan. "apa tidak masalah aku mengantarmu?" tanyanya.
Alda justru tersenyum hangat. "kenapa tidak boleh? besok sekalian aku akan memperkenalkan kamu dengan rekan kerjaku, Ram. dan bukankah kamu ingin bertemu Rendra? ini kesempatan kamu untuk mencari kebenaran itu sendiri."
Rama sedikit terkejut. jujur, ia hampir lupa tentang masalah Rendra yang pernah dibicarakan oleh Karina waktu itu. tapi mendengar Alda menyebut nama itu lagi, seketika ingatannya kembali. ada rasa penasaran yang kembali muncul dalam dirinya.
"kamu benar," gumam rama sambil menghela napas. "baiklah, besok aku pasti mengantarmu."
Alda tersenyum dan menggamit lengan Rama dengan lembut. "yasudah, ayo kita keluar," ajaknya.
Rama mengangguk, lalu berjalan berdampingan dengan Alda menuju ruang makan. begitu mereka tiba, aroma masakan yang menggugah selera langsung menyambut mereka. di meja, berbagai hidangan telah tersaji, termasuk ikan nila hasil tangkapan Rama tadi siang.
sang Ibu yang sudah duduk di kursinya tersenyum begitu melihat mereka datang. "ayo duduk, nak. mari kita nikmati hasil tangkapan kalian," ucapnya ramah.
Rama menatap hidangan di meja dengan takjub, lalu bergantian menatap Alda dan Ibunya. ada perasaan bangga dan senang dalam dirinya. bukan hanya karena makanannya yang tampak menggugah selera, tetapi juga karena keakraban yang mulai terjalin antara istri dan ibunya.
dengan senyum lebar, Rama menarik kursinya dan duduk disamping sang Istri "baiklah, kalau begitu aku makan yang banyak malam ini," ucapnya penuh semangat.
Saat semua sudah duduk, Ibu dengan lembut berkata, "Ibu dan Alda sudah memasaknya. ada nila bumbu kuning dan juga nila bakar. makan yang banyak, ya."
Rama tersenyum, merasa bangga bukan hanya karena makanannya, tetapi juga melihat bagaimana Ibunya dan Alda bekerja sama di dapur.
saat Rama hendak mengambil lauk, Alda lebih dulu menoleh padanya. "mas, mau yang bumbu kuning atau yang nila bakar,?" tanyanya sambil menyodorkan sendok.
Rama melirik kedua pilihan itu sejenak, lalu menjawab, "aku coba yang bumbu kuning dulu."
Alda mengangguk dan mengambilkan untuknya. "kalau mau tambah, bilang saja. oh iya, mas Rama mau sekalian tumis tauge dan tahunya juga?"
Rama mengangguk. "boleh, terima kasih."
Ayah dan Ibu yang melihat interaksi mereka hanya tersenyum kecil. suasana makan malam terasa lebih hangat dengan percakapan ringan di antara mereka.
saat suasana makan malam terasa begitu hangat, tiba-tiba Rama menyadari sesuatu. ada yang kosong di ruangan ini.
ia melirik ke arah kursi yang biasa ditempati oleh abangnya, tetapi tetap tak berpenghuni. Raka belum juga muncul.
tanpa menunda, Rama akhirnya bertanya, "abang belum turun?"
Ibu dan Ayahnya saling berpandangan sejenak sebelum sang Ibu akhirnya menjawab, "iya, tadi Ibu sudah membujuk abang mu untuk makan bersama, tapi dia bilang nanti saja. katanya kalau sudah lapar, dia akan turun sendiri."
Rama mengernyit, rasa herannya semakin bertambah. lagi-lagi Raka menghindari mereka. sebelumnya, dia juga enggan menjawab pertanyaan-pertanyaan Rama soal Risa. dan sekarang, bahkan untuk sekadar makan malam bersama pun dia memilih untuk tetap di kamar.
ada apa sebenarnya? lagi-lagi, Rama merasa ada sesuatu yang disembunyikan oleh abangnya.
belum lama pikiran itu muncul di benak Rama, tiba-tiba suara langkah kaki terdengar menuruni tangga.
Rama menoleh dan mendapati Raka akhirnya menampakkan diri. namun, bukannya bergabung di meja makan, abangnya justru terlihat sudah mengenakan pakaian rapi, seolah hendak pergi ke suatu tempat.
"abang mau ke mana?" tanya Rama spontan, sedikit terkejut.
Raka melirik sekilas ke arah meja makan sebelum menjawab singkat, "keluar sebentar."
Ibu yang sejak tadi memperhatikan langsung angkat bicara, "kenapa tidak makan dulu, nak? ibu sudah memasak banyak, termasuk ikan nila kesukaan kamu dan Rama."
Raka tersenyum kecil, tapi tetap menggeleng. "nanti saja, Bu. aku nggak lapar sekarang."
Ayah hanya menghela napas pelan tanpa berkomentar, sementara Alda menatap Rama, seolah bisa merasakan kebingungan yang kini ada di benak suaminya. Rama sendiri merasa semakin yakin bahwa ada sesuatu yang Raka sembunyikan.
Rama tetap menatap punggung Raka yang mulai menghilang di balik pintu. ia masih belum bisa memahami apa yang sebenarnya terjadi dengan abangnya. namun, daripada terus menerka-nerka, ia memilih untuk kembali fokus pada makan malam.
Ibu, yang menyadari suasana sedikit berubah sejak kepergian Raka, segera berusaha mencairkan suasana. dengan nada lembut, ia berkata, "jangan dipikirkan abangmu. Ibu yakin dia hanya butuh waktu sendiri. mungkin ini ada kaitannya dengan masalah pribadinya"
Ayah yang sejak tadi lebih banyak diam, akhirnya ikut menanggapi, "mungkin ada benarnya. sudah lama Risa tidak kesini"
Ibu mengangguk sambil tersenyum, lalu menatap sang suami dengan hangat. "iya. Risa dan Raka sudah cukup lama bersama. sejak kuliah, kalau tidak salah. sepertinya ada masalah di antara mereka akhir-akhir ini."
Rama menyuapkan makanannya sambil berpikir, lalu menimpali, "Risa itu orangnya pendiam, Bu. tidak mungkin dia berani menyakiti bang Raka. ditambah hubungan mereka juga sudah terjalin cukup lama"
Ayah kembali menimpali, "kadang hubungan panjang juga bisa menghadapi ujian berat, Nak. tidak ada yang tahu pasti apa yang terjadi di antara mereka kecuali mereka sendiri."
Rama mengangguk mengerti, lalu tersenyum kecil. "semoga saja bukan masalah yang terlalu berat."
Ibu tersenyum, lalu beralih pada penghuni meja makan "sudahlah, jangan terlalu dipikirkan. kita lanjutkan makan malam nya"
Ayah kembali menimpali, "kadang hubungan panjang juga bisa menghadapi ujian berat, Nak. tidak ada yang tahu pasti apa yang terjadi di antara mereka kecuali mereka sendiri."
Rama mengangguk mengerti, lalu tersenyum kecil. "semoga saja bukan masalah yang terlalu berat."
Ibu tersenyum, lalu beralih pada penghuni meja makan. "sudahlah, jangan terlalu dipikirkan. kita lanjutkan makan malamnya."
suasana kembali hangat, dan mereka mulai menikmati hidangan yang tersaji. saat perbincangan kembali mengalir, tiba-tiba suara dering telepon rumah berbunyi, memecah kehangatan di meja makan. Ibu yang paling dekat dengan telepon segera bangkit dan mengangkatnya.
"halo?" sapanya lembut.
dari seberang, terdengar suara seorang wanita. "selamat malam, tante. ini Risa."
Ibu langsung sedikit terkejut. "oh, Risa? ada apa, Nak?"
suasana di meja makan menjadi sedikit lebih hening ketika Alda dan Rama memperhatikan ekspresi ibu yang berubah serius.
"tante... Raka baik-baik saja, kan? dia sakit?" suara Risa terdengar cemas. "seharian ini dia tidak menjawab telepon atau membalas pesanku. aku jadi khawatir."
Ibu mengernyit, merasa semakin heran. "bukankah kalian sedang bertengkar?" tanyanya spontan. "apa masalahnya memang sebesar itu sampai Raka menghindari komunikasi denganmu?"
namun, jawaban dari Risa justru lebih mencengangkan. "bertengkar? tidak, tante. kami baik-baik saja."
Ibu semakin terkejut. "apa?"
"satu minggu belakangan dia memang sedikit berubah, tapi puncaknya hari ini... dia benar-benar menghilang tanpa kabar. aku tidak bisa langsung ke sana karena kebetulan sedang tugas di luar kota, jadi aku memutuskan menghubungi rumah," jelas Risa dengan nada penuh kekhawatiran.
ibu terdiam sesaat, mencerna informasi itu. ia menarik napas pelan, lalu dengan suara lembut berusaha menenangkan Risa. "Raka baik-baik saja, Nak. tapi saat ini dia sedang keluar. nanti kalau dia sudah pulang, Ibu akan tanyakan sebenarnya ada apa ini."
dari seberang telepon, terdengar helaan napas lega dari Risa. "syukurlah, tante... aku benar-benar khawatir. rasanya tidak biasanya dia seperti ini."
Ibu tersenyum kecil, mencoba mencairkan suasana. "kamu jangan terlalu dipikirkan, ya. mungkin Raka hanya sedang butuh waktu sendiri. nanti kalau sudah ada kabar, Ibu akan sampaikan ke kamu."
"terima kasih, tante. maaf merepotkan, ya," ujar Risa dengan nada sedikit lebih tenang.
"ah, tidak apa-apa. kamu tetap jaga kesehatan di sana, ya. jangan terlalu stres dengan pekerjaan," pesan Ibu dengan hangat.
"iya, tante. salam untuk om dan semuanya di rumah," balas Risa sebelum akhirnya menutup telepon.
begitu panggilan berakhir, Ibu menghela napas panjang lalu kembali ke meja makan dengan ekspresi yang lebih kebingungan daripada sebelumnya. Ayah, yang memperhatikan perubahan sikap istrinya, langsung bertanya, "siapa yang menghubungi tadi?"
"Risa," jawab Ibu sambil duduk kembali. "dia menanyakan keadaan Raka. katanya sejak tadi pagi Raka tidak membalas pesan atau mengangkat teleponnya. dia khawatir, mengira Raka sakit atau ada masalah."
Rama mengerutkan kening, semakin bingung. "tapi bukankah mereka bertengkar?"
Ibu mengangguk pelan. "itu yang Ibu juga herankan. Risa bilang mereka baik-baik saja, tidak ada pertengkaran apa pun. hanya saja, sejak satu minggu terakhir Raka memang berubah... dan hari ini, dia benar-benar menghilang tanpa kabar."
Rama langsung memasang ekspresi serius. "kalau begitu, Rama akan cari bang Raka setelah ini, masalah ini tidak akan selesai jika bang Raka terus menghindar."
namun, sebelum Rama bisa bergerak, Ayah dan Ibu langsung melarang.
"tidak usah, Nak," ujar Ayah tegas. "situasi tidak memungkinkan. sudah malam, dan lagipula, kamu baru saja menikah. tidak baik meninggalkan Alda sendirian di rumah."
Ibu mengangguk setuju. "biarkan Ayah dan Ibu saja yang mencarinya. kalian berdua di rumah saja, jaga rumah. kalau Raka pulang sebelum kami kembali, tolong tanyakan baik-baik, ya?"
Rama tampak ingin membantah, tapi melihat kesungguhan di wajah kedua orang tuanya, akhirnya dia hanya bisa mengangguk. "baiklah..."
setelah makan malam selesai, Ayah dan Ibu bersiap untuk keluar mencari Raka. sebelum pergi, sang ayah berpesan, "Ram, rumah dikunci saja. Ayah bawa kunci cadangan, jadi kalau nanti kami pulang larut, tidak perlu khawatir."
"baik, Yah," jawab Rama.
setelah melihat kedua orang tuanya pergi, kini tinggal Rama dan Alda di rumah. keduanya saling bertukar pandang, sama-sama memikirkan hal yang sama, ada apa sebenarnya dengan Raka?