Aku dan kamu terikat dalam sebuah ikatan yang diwali dengan kata-kata, berbahan dasar Aksara.
Cinta yang berawal dari sebuah aksara itu, awalnya tidak saling mengenal dan memahami. Takdirlah yang seolah mempertemukan, mengikat, dan berakhir dengan kebersamaan. Lantas, mengapa takdir juga yang memberikan sebuah ujian penuh liku itu? Mengapa seolah akan ada hari dimana akan ada sebuah jarak yang memisahkan mereka dan berakhir menjadi sebuah peristiwa bertajuk ANTARA.
Lalu benci dan cinta itu beda tipis KATANYA. Kata yang awalnya tak ingin kenal mengenal, caci mencaci-caci, bahkan berang memerangi, mendadak ada rasa yang tumbuh bersamaan keluarnya warna-warni bunga yang bermekaran.
Cinta itu manis, hidup tak indah bila kita tak merasakan iramanya cinta, itu JELASNYA. Tetapi seutas kata Cinta tak ada artinya, jika tak mengandung sebuah keabadian yang menjelma. Anggap saja cinta kita perlu diuji untuk menumbuhkan kesetiannya. Dari hal itu kita hanya menemukan dua opsi setelah mendapat ujian itu, BERTAHAN UNTUK KEMBALI atau PERGI UNTUK SELAMANYA.
Percayalah dibalik cinta yang hampir terkoyak itu, akan ada kebahagiaan yang tak berujung sedang menunggumu.
[PLAGIATOR DALAM JENIS APAPUN DILARANG MENDEKAT!]
*****
@Copyright: Agustus 2019.
Move: 30 Agustus 2020.
Picture by: @Vaa_Morn
Story By: Vaa_morn.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vaa_Morn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DUA PULUH TUJUH
Ara menghembuskan napas lelah, yang kemudian bangkit dari tidurnya. Waktu sudah menunjukkan pukul 6 pagi, langsung saja ia merosot dari ranjangnya dan pergi menuju kamar mandi. Ia sudah banyak absen, jadi ia tak ingin absen karena dirinya yang selalu kesiangan.
Perihal absen, minggu depan Ara akan menjalani Penilaian Akhir Semester. Tentu saja Ara harus rajin-rajin berangkat sekarang, jika nilainya tak ingin bobrok karena ulah dirinya yang gonta ganti sekolah. Benar, di kelas 12 ini Ara sudah pindah sekolah sebanyak 2 kali.
Setelah sekian lama Ara sibuk dengan kamar mandi, tak lama kemudian Ara keluar dari tempar itu dengan seragam yang sudah melekat di dalam tubuhnya. Ia memakai dasi, kemudian mengikat rambutnya layaknya ekor kuda.
"Sempurna." Meskipun tidak memakan make up satupun, Ara sendiri sudah sangat bahagia dengan tampilan sederhananya. Ia tak mau sesuatu yang berlebihan, sudah cukup ia tampil seperti ini. Begitulah pikirnya dari dalam hati.
Ara mengabsen tiap buku, kemudian memasukkannya kedalam tas. Setelah mengambil kaos kaki dan sepatunya, Ara langsung melesat pergi menuju lantai bawah. Menuruni tangga terlebih dahulu, lantas Ara pergi menuju ruang makan untuk sarapan pagi.
Pacarku memang dekat, lima langkah dari rumah.
Itu Reval yang sedang menyanyi. Sesekali memandang dirinya sekilas, ditemani dengan sepatu yang sedang dipakai olehnya. Ara sendiri nampak dongkol, Reval memang orang yang tidak pernah absen dalam mencari masalah kepadanya. Nggak ada kerjaan emang!
"Lo nyindir gue?" Ara bertanya pada Adiknya, namun dihiraukan begitu saja.
Reval sibuk dengan rotinya yang baru saja diolesi dengan selai. Mamahnya sendiri berada di dapur untuk menanak nasi, sekaligus dengan lauk beserta para pengikutnya.
Jika kalian tanyakan tentang Papahnya berada, maka dia sedang ada perjalanan bisnis di luar kota. Hal itu membuat Ara yang merasa kurang perhatian, merasa kurang diperhatikan Papahnya.
"Siapa juga yang nyindir lo!" Reval tak terima. Membuat Ara yang menatapnya, langsung melirik tajam.
"Lo kalau nggak sedang nyindir, ngapain? Nyinyir!"
Reval hendak maju dan mengepalkan tangannya, namun cepat-cepat ditangkis oleh Ara.
Ara sendiri tersenyum sinis. "Tenaga lo kayak cewek, mau main jotos-jotosan?"
Reval geram. Ia hendak memprotes, namun melihat Mamahnya yang baru saja datang dari dapur, langsung ia urungkan begitu saja. Tak inginlah jatah jajannya dikurangi, hanya untuk meladeni Kakaknya. Sorry, nggak level.
"Mimpi apa gue punya Kakak bar-bar kayak dia, nggak ngerasa aja kalau dia itu cewek." gumam Reval yang membuat Ara menggigit bibirnya berusaha untuk tidak mengeluarkan suaranya.
"Ehh, gini dong anak Mamah pada rajin-rajin. Kalau ngelihatnya akur gini kan, Mamah jadi seneng." puji Mamahnya. Namun mendapatkan lirikan sebal oleh kedua anaknya.
"Gue sih sepet ngelihat muka dia pagi-pagi." Ara berpendapat, yang mendapat erangan penuh emosi dari mulut Reval.
"Lo?" desis Reval tajam.
"Apa? Kenapa!" tantang Ara sembari mengepalkan tangannya tepat di samping kepalanya.
Reval bangkit, tak ada gunanya ia duduk-duduk saja dan menghiraukan mulut Ara yang tak pernah terkontrol. Keduanya sudah seperti tikus dan kucing, yang langsung membuat Mamahnya mendengus sebal.
"Ternyata kalian nggak berubah ya!" Mamahnya menggerutu sebal setelah mendengarnya.
"Ara mah udah berubah, yang belum berubah kan situ. Bisanya cuma nyindir dari belakang doang." tepis Ara membela diri.
"Yang nyindir siapa? Gue mah mengungkap sesuatu berdasarkan fakta. Emang situ, tukang fitnah." sahut Reval tak mau kalah. Padahal niatnya mau pergi ke sekolah saja.
"Mana ada fakta? Kata siapa lo? Gue aja nggak ngebenerin!"
Mamahnya yang sedari tadi menyaksikan, hanya melipat kedua tangannya di bawah dada. Ingin melihat keduanya melayangkan tinjunya masing-masing, tapi yang pasti mereka tidak akan mendapatkan uang jajan. Benar saja keduanya sudah saling memberikan pukulan yang langsung dilerai oleh dirinya sendiri.
"Minggu ini, kalian nggak dapat uang jajan!" final sudah keputusan Mamahnya, ia menaiki tangga dengan keduanya yang memandang tak percaya.
"Lo sih?" Reval menyalahkan Ara. Bagaimana lagi? Baginya semua kesalahan di sini karena kesalahan Kakaknya sendiri.
"Lo!" seru Ara yang tak mau disalahkan.
"Lo!" desis Reval.
"Lo!"
"Uang jajan kalian dipotong sampai satu bulan!" Mamahnya berteriak dari lantai dua, yang membuat keduanya langsung mengerang frustasi.
Ara menghentakkan kedua kakinya, dan berjalan keluar. Sudah tak ada nafsu ia sarapan pagi. Hukuman dari Papahnya juga belum usai, terus ditambah lagi dengan potongan uang jajan dari Mamahnya.
Ara berhenti tepat di depan gerbang. Ia menggaruk-garuk kepalanya bingung dan tak tahu harus bagaimana. Apakah ia harus jalan kaki ke sekolah? Tentu saja ia tak mau ambil resiko dengan mendapatkan SP pertama karena terlambat sekolah. Ia sudah tidak berniat untuk gonta-ganti sekolah lagi. Tapi harus bagaimana?
Ara berjalan dengan wajah yang bisa dikatakan lesu. Sudah tak sarapan pagi, uang jajan pun tak ia dapatkan. Percuma saja ia menunggu angkutan umum, toh dia tak bisa membayarnya.
Tin... Tin...
Sebuah mobil keluaran terbaru berhenti di samping Ara. Tentu saja ia mengernyit bingung, namun ketika sang pemilik memunculkan wajah tampannya. Ara langsung menunjukkan wajahnya yang semakin lesu.
"Ayo masuk, aku nggak mau kamu terlambat." itu suara Aksen. Wajah putihnya sudah mulai bersih, sebentar lagi luka memar akibat serangan tiba-tibanya kemarin akan akan hilang.
Ara melirik kearah jam tangannya, dan benar juga! Tak mungkin ia dapat menempuh perjalanan yang amat panjang ke sekolah, dengan hanya berjalan kaki saja.
"Kalau gue nolak gimana?" Ara bertanya-tanya. Ia pasti tahu bahwa orang di depannya itu benci dengan penolakan, namun Ara juga memiliki sedikit gengsi.
"Aku nggak suka penolakan sayang. Ayo masuk." ucap Aksen lagi
Memang tidak ada cara lagi, ia memilih untuk langsung masuk saja. Tentu sembuat sang pemilik mobil langsung menyunggingkan senyum manisnya. Andai Ara melihatnya, mungkin bisa membuat detak jantungnya bekerja lebih cepat.
"Kamu sudah makan?" tanya Aksen sambil fokus dengan kemudinya.
Ara menggeleng pelan, membuat Aksen yang baru saja menoleh langsung membelalakkan matanya tak percaya.
"Kenapa?" Aksen bertanya lagi, ia sendiri ingin tahu alasan kekasihnya tak sarapan pagi itu.
"Gue kesel sama Reval. Pengin banget gue buang dia ke rawa-rawa." Ara mengepalkan tangannya, membuat Aksen yang sesekali menatapnya bergidik ngeri. Ara sepertinya bukan orang yang main-main dengan ucapannya.
Aksen sendiri malah berpikir ke arah lain. Di telinganya merasa tidak enak, ketika Ara masih memakai bahasa gaul untuk berbicara dengannya. Dirinya saja sudah mengganti kosokatanya. Namun apa boleh buat, melihat Ara yang tampak sudah kesal pagi-pagi sekali, Aksen memilih untuk membungkam mulutnya kali ini.
Mobilnya berhenti tepat di depan gerbang sekolah Ara. Namun sebelum Ara turun, Aksen mencekal tangannnya agar jangan dulu keluar dari mobilnya.
"Kenapa?" tanya Ara bingung.
Aksen mengambil sesuatu di dalam jasnya. Kemudian memberikannya kepada Ara. Ara tentu saja mengernyit bingung, pasalnya Aksen memberinya sebuah credit card.
"Untuk apa?" lagi-lagi Ara bertanya.
"Untuk kamu. Apapun yang kamu beli, kamu bisa memakai ini." jawab Aksen dengan senyuman tipis.
Ara terkejut. Apa-apaan ini? Apakah ia terlihat matre dimata Aksen. Ara langsung mengembalikan credit card milik Aksen, kemudian menggeleng pelan.
"Ambil aja. Gue masih punya sedikit tabungan untuk beli apapun yang gue mau."
Aksen tentu saja tak ingin mendengar kata-kata itu keluar dari mulut Ara. "Aku ikhlas kok ngasih ini ke kamu."
"Tapi gue nggak mau, gue masih punya uang dari hasil nabung gue. Lo pikir gue matre? Kalaupun gue nggak punya uang, gue masih punya cara lain buat makan. Udahlah, gue mau masuk. Hati-hati di jalan."
Aksen tersenyum penuh arti. Meskipun ia sedikit kecewa, yang ia tidak salah dalam mencari pasangan. Semoga Ara ditakdirkan untuknya sampai akhir hayat.
Satu hal yang harus Aksen lakukan, mendapatkan hati Ara sepenuhnya!
*****
1204 Kata.