Dion Arvion, siswa SMA lemah yang setiap hari menjadi korban penindasan, hidup dalam keputusasaan hingga sebuah sistem misterius muncul di hadapannya.
[Sistem Sultan Tanpa Batas berhasil diaktifkan]
Sejak saat itu, uang, kekuatan, dan pengaruh mengalir tanpa batas dalam hidupnya. Dion yang dulu diinjak kini bangkit menjadi sosok mengerikan yang siap membalikkan keadaan.
Kini, dunia yang pernah merendahkannya akan dipaksa tunduk.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eido, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 35
Sebastian kini memandang Dion dengan sorot mata yang berbeda, tidak lagi sekadar mengejek atau meremehkan, ada ketertarikan yang tulus, meski tersembunyi di balik senyum tipisnya. Ia sadar, sejak awal dirinya belum benar-benar mengeluarkan segalanya.
“Dion…” ucap Sebastian pelan, nadanya terdengar aneh, bukan ancaman, melainkan undangan. “Aku hanya akan mengajakmu sekali, apakah kau mau bergabung dengan Mahkota Kegelapan Abadi?”
Dion mengernyitkan dahi, nama asing itu terdengar berat, seperti sesuatu yang lahir dari kegelapan panjang.
“Mahkota Kegelapan Abadi?” ulangnya. “Organisasi apa itu?”
Sebastian tersenyum bangga, dada bidangnya terangkat.
“Sebuah sindikat, organisasi yang menaungi orang-orang terkuat di dunia bawah. Kekuasaan, uang, pengaruh, semuanya ada di sana.”
Ia mulai menjelaskan panjang lebar, tentang jaringan gelap yang menjalar lintas kota, lintas negara. Tentang pertarungan, dominasi, dan hukum rimba yang hanya mengakui yang terkuat. Dion mendengarkan tanpa menyela, wajahnya tetap tenang, meski di dalam dadanya sesuatu mulai mendidih.
Di kejauhan, Andri, Bima, dan Kevin saling pandang.
“Hey, mereka ngomong apa?” bisik Andri bingung.
“Aku juga, tidak dengar." jawab Bima.
“Mungkin, saling membicarakan soal kekuatan masing-masing.” tebak Kevin.
Mordain yang terikat hanya bisa menatap cemas, tak mampu menangkap satu kata pun dari percakapan itu.
Beberapa saat kemudian, Sebastian mengakhiri penjelasannya.
“Jadi...” tanyanya. “Bagaimana, kau tertarik?”
Dion masih mengernyit, penjelasan itu tidak membuatnya tergoda, justru sebaliknya.
“Aku menolak.”
Sebastian sudah terlanjur tersenyum, mengira jawabannya pasti iya.
“Aku tahu kau terta...” Kalimatnya terhenti. “Apa?!” Suaranya mengeras. “Kau… menolak?”
“Iya,” jawab Dion singkat dan dingin. “Aku menolak, apakah kau tuli?”
Udara seakan membeku.
Wuuush!
Amarah Sebastian meledak, dalam sekejap, tubuhnya melesat dengan kecepatan penuh.
“Berani nya, sampah sepertimu menolak ajakanku!!” teriaknya.
Serangan Taekwondo meluncur brutal, tajam dan mematikan. Dion menghindar tipis, angin dari tendangan itu menyapu rambutnya.
"Kecepatannya… meningkat." gumam Dion dalam hati.
Buaaak! Buuuk!
Sebastian menyerang lagi, bertubi-tubi, kaki dan tubuhnya menyatu dalam rangkaian gerakan mematikan. Kali ini Dion tidak mundur, ia menahan serangan itu dengan satu tangan, mantap, lalu bergerak lebih cepat dari kedipan mata.
Wuuush!
Tinju Dion melesat lurus, bersih, tanpa ragu.
Buaaak!
Sebastian tidak sempat mengantisipasi. Pukulan itu menghantam wajahnya telak. Tubuhnya terangkat, terlempar ke belakang.
Wuuush!
Braaak!
Sebastian menghantam dinding bangunan kosong dengan keras. Retakan menjalar seperti jaring laba-laba, debu dan serpihan beton runtuh memenuhi udara.
Pandangan Andri, Bima, Kevin, dan Mordain tertutup debu. Mereka hanya bisa terpaku, jantung berdegup kencang, mencoba memahami satu hal yang jelas. Sebastian, baru saja dipukul jatuh.
“Se-Sebastian kalah…” Andri melongo, suaranya nyaris tak keluar.
“I-itu nggak mungkin, kan?!” Bima ikut terkejut, napasnya tercekat.
Kevin justru menyipitkan mata. “Jangan bodoh, Sebastian belum kalah. Apa kalian lupa julukannya?”
Ucapan itu seperti palu yang menghantam kesadaran mereka. Andri dan Bima saling pandang, lalu tertawa kaku. Benar, Sebastian bukan tipe yang tumbang hanya karena satu pukulan. Ia terkenal brutal, selalu memastikan lawannya berakhir di ranjang rumah sakit.
Di sisi lain, Mordain yang terikat berteriak panik, suaranya pecah oleh kecemasan.
“Hati-hati, Dion! Orang itu nggak tumbang semudah itu!!”
Dion mendengar teriakan itu dan mengernyit.
“Tidak tumbang? Mustahil...” gumamnya, setengah tak percaya.
Detik berikutnya.
Wuuush!
Sraaak!
Sebastian bangkit. Bukan sekadar berdiri, ia melesat. Terlalu cepat untuk diikuti mata, seketika kain baju Dion robek, tercabik seperti dicakar binatang buas.
“Kugh!” Dion terhuyung, sisi tubuhnya terasa perih oleh luka goresan itu.
“Apa yang barusan terjadi?!” Dion refleks mundur, jantungnya berdegup keras.
“Itu dia!!” teriak Kevin dengan mata membelalak.
“Itulah kekuatan Sebastian yang sebenarnya!” sambung Andri penuh gairah.
“Habis sudah dia! Dion nggak mungkin menang!!” seru Bima, suaranya bergetar oleh euforia.
Ketiganya terpaku, terpukau, ketika wujud Sebastian berubah. Tubuhnya merendah, dua tangan dan dua kakinya menyentuh lantai, seperti seekor predator yang siap menerkam. Gerakannya liar, napasnya berat, auranya kasar dan buas.
“Sistem, cepat! Tampilkan atributnya!” perintah Dion dalam hati.
Ding.
[Nama: Sebastian]
[Strength (Kekuatan): 2.350]
[Speed (Kecepatan): 2.500]
[Durability (Ketahanan): 2.100]
[Endurance (Daya Tahan): 1500]
[Jalur Inti (Core Path): Jalur Sang Buas (Path of The Beast)]
“Atributnya… meningkat?" gumam Dion cepat, matanya melebar. “Dan… apa itu Core Path?” Ia belum sempat mencerna.
Wuuush!
Sraaak! Sraaak!
Sebastian menerkam lagi. Cakaran bertubi-tubi melesat, cepat, brutal, tanpa pola yang jelas. Dion menghindar sebisa mungkin, tapi tetap saja satu-dua goresan mengenai tubuhnya.
“Kugh!” Napas Dion tersentak.
“Sial… kecepatannya benar-benar melonjak.”
“Grrrr…” Sebastian menggeram, suara rendah dan mengancam. Pupil matanya berubah, menyempit dan liar, tatapan seekor binatang yang hanya mengenal satu hal, memburu dan menghancurkan.
“Apa… apa itu?” Mordain gemetar. “Matanya...” ucap Mordain yang masih terikat kencang.
“Pupilnya, berubah?” ucap Dion pelan, fokusnya terkunci pada mata Sebastian.
Wuuush!
Sraaak! Sraaak! Sraaak!
Serangan terus datang, tak memberi jeda. Dion bergerak, menghindar, menahan, namun kali ini darah benar-benar menetes dari tubuhnya.
“Sial…” Dion mendecak, napasnya berat. “Path… apa sebenarnya Path itu?”
Di hadapannya, Sebastian tak lagi bertarung seperti manusia. Ia bergerak dengan naluri murni, liar, kejam, dan mematikan. Dan untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai, Dion merasakan tekanan yang sesungguhnya.