Satu like salah. Satu DM berantai. Satu hidup yang kacau.
Ardi cuma ingin menghilangkan bosannya. Kinan ingin hidupnya tetap aesthetic. Tapi ketika Ardi accidentally like foto lama Kinan yang memalukan, medsos mereka meledak, reputasi hancur, dan mereka terpaksa berkolaborasi dalam proyek paling absurd: menyelamatkan karir online dosen mereka yang jadi selebgram dadu.
#SalahFollow Bukan cinta pada like pertama, tapi malu pada like yang salah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ilonksrcc, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4: WHEN THE DICE ROLLS VIRAL
Disclaimer: Bab ini mengandung deskripsi tentang presentasi yang berantakan, tarian dosen yang tak terduga, dan satu momen yang mengubah segalanya dari "kacau" menjadi "kacau parah namun menghasilkan uang".
---
Hari Presentasi.
Ardi berdiri di depan cermin kamar mandi kos, mencoba mengikat dasi yang dia pinjam dari Bima. Hasilnya: seperti tali tambang yang sedang sekarat di lehernya.
"Gue nggak sanggup pakai ini," keluhnya, melepas dasi dan menggantinya dengan kaus polos terbaikny yang, hari ini, untungnya tidak ada noda.
Di sakunya, dadu emas pemberian Pak Suryo terasa berat. Jimat. Atau mungkin petaka. Dia belum memutuskan.
HP bergetar. Notifikasi dari grup "Manajemen Operasi GASSS!!!":
Rendra: "TEAM! Meet di depan kelas 30 menit sebelum presentasi. Bawa slide terakhir, data backup, dan SENYUM. Ini perang!"
Ardi mendengus. Bagi Rendra, segalanya adalah perang. Ujian adalah perang. Tugas kelompok adalah perang. Bahkan antre di kantin pun adalah "perang lapar".
Notifikasi lain muncul. DM dari Kinan.
kinanstudies: Big day. Udah siap?
ardi.pras: secara fisik iya. secara mental... hancur lebur.
kinanstudies: Jangan overthink. Data lo kuat. Gue aja yang jualan self love aja masih demam panggung.
ardi.pras: ka demam panggung? tapi di story ka selalu confident.
kinanstudies: That's the secret. We're all faking it. Now go fake it till you make it.
Pesan itu membuat Ardi tersenyum. Knowing that even Kinan, dengan semua aesthetic dan quotes nya, juga merasa gugup, membuatnya merasa... normal. Bahkan sedikit terhubung.
Dia mengirim sticker burung hantu memberi semangat.
Kinan membalas dengan sticker kupu-kupu yang terbang.
---
Kelas Manajemen Operasi pagi itu penuh dengan aroma ketakutan dan parfum murah. Pak Suryo duduk di kursi dosen dengan ekspresi wajah yang biasa: batu. Tidak ada tanda-tanda bahwa dia adalah seorang pedagang dadu karet bersemangat dengan koper rahasia.
Presentasi kelompok lain berjalan. Ada yang tentang usaha es teh, usaha laundry kiloan, usaha jastip. Semuanya... biasa saja.
Lalu, giliran kelompok Ardi.
"Selamat pagi, Pak. Kami dari kelompok 5 akan mempresentasikan analisis break even point untuk usaha... Dadu Karet Kreatif 'Lucky Roll'," Rendra memulai dengan suara bariton palsu.
Ardi berdiri di samping, tangannya berkeringat dingin. Dia bertugas menjelaskan bagian analisis data. Dadu di sakunya seolah terbakar.
Saat gilirannya tiba, dia maju. Matanya bertemu dengan mata Pak Suryo. Sang dosen mengangguk sekali, hampir tak terlihat.
"Untuk mencapai break even point," suara Ardi sedikit gemetar di awal, tapi lalu menguat saat dia melihat data di slide data yang dibuat Kinan dengan rapi. "Dibutuhkan penjualan 134 unit dadu per bulan. Dengan margin per unit sebesar Rp 12.700."
Dia menjelaskan grafik, menunjukkan tabel proyeksi. Beberapa mahasiswa mulai terlihat tertarik. "Usaha dadu karet?" bisik seseorang. "Aneh tapi lucu."
Lalu, di akhir presentasi, Rendra dengan percaya dirinya yang berlebihan mengajukan kesimpulan. "Jadi, usaha ini sangat layak secara finansial dan memiliki potensi pasar yang unik. Sebagai penutup, kami bahkan memiliki... produk sampel."
Rendra menoleh ke Ardi dengan senyum lebar. "Ardi, tunjukkan sample-nya."
Ardi membeku. Mereka tidak pernah membicarakan ini. Rendra sedang improvisasi. Dan improvisasi Rendra selalu berakhir buruk.
Semua mata tertuju padanya. Termasuk mata Pak Suryo yang tiba-tiba menyipit, penuh peringatan.
Dengan tangan gemetar, Ardi merogoh saku. Dadu emas itu terasa panas. Dia mengeluarkannya, memegangnya di telapak tangan. "Ini... salah satu produknya."
"Bisa kita lihat bagaimana cara kerja dadu ini?" tanya seorang mahasiswi penasaran.
Ardi panik. Dia melempar dadu itu ke meja depan. Dadu itu berputar-putar dengan gemerlap, lalu berhenti di angka 2.
"Angka dua!" seru Rendra antusias. "Itu bisa berarti... keputusan untuk makan siang di warteg! Contoh aplikasi yang sangat... relatable!"
Beberapa orang tertawa. Tapi Pak Suryo tidak. Wajahnya semakin tegang. Ardi tahu dia telah melanggar perjanjian "rahasia".
Saat sesi tanya jawab, pertanyaan paling menakutkan datang dari Nadia, si cerdas yang selalu ingin tahu.
"Data untuk analisis ini sangat detail," kata Nadia. "Bisa tahu dapat dari mana? Apakah dari usaha yang benar-benar ada?"
Rendra, dengan bodohnya, menjawab, "Oh, kami melakukan wawancara mendalam dengan pengusaha langsung."
Ardi ingin menjatuhkan diri dari jendela lantai tiga.
"Pengusaha dadu karet? Bisa kami tahu namanya? Atau kontaknya?" tanya Nadia lagi, penasaran.
Rendra tersedak. Ardi melihat Pak Suryo mulai menggeser kursinya, bersiap untuk intervensi.
Tapi sebelum Pak Suryo atau Ardi bisa berkata apapun, sesuatu yang tidak terduga terjadi.
Dari arah belakang kelas, terdengar musik. Musik dengan beat catchy, remix dangdut koplo yang tiba-tiba menggelegar dari speaker bluetooth seseorang.
Dan Pak Suryo entah karena refleks, stres, atau mungkin panggung jiwanya yang tak terbendung langsung bereaksi.
Dia berdiri. Bukan dengan marah. Tapi dengan... gerakan tarian.
Lengan kanannya naik, berputar perlahan. Kaki menyentak sesuai irama. Kepalanya mengangguk-angguk. Ekspresinya serius, tetapi gerakannya... adalah gerakan joget dadu khasnya yang biasa dia tampilkan di TikTok @suryo_daduchamp.
Seluruh kelas terdiam, terpana. Musik itu (yang ternyata adalah HP milik anak sebelah yang tidak sengaja terhubung ke speaker) terus berputar.
Pak Suryo, dalam keadaan trance jogetnya, mengambil sebuah spidol dari meja. Bukan untuk menulis. Tapi untuk dipegang seperti mikrofon, sambil terus bergoyang.
Rendra, Bima, Farel, dan Ardi hanya bisa melongo. Selama lima detik yang terasa seperti lima abad itu, dunia berhenti berputar.
Lalu, seseorang mungkin karena shock mengeluarkan HP dan merekam.
Flash kamera menyala. Pak Suryo tersadar. Jogetnya berhenti mendadak. Musik juga dimatikan dengan cepat. Suasana kelas menjadi sunyi yang memekakkan telinga.
Wajah Pak Suryo memerah, lalu pucat. Dia membersihkan kerongkongannya. "Eh... itu... demonstrasi tentang... improvisasi dalam bisnis," ujarnya, berusaha menyelamatkan muka. "Kadang, pasar bergerak tak terduga, dan kita harus... menari mengikutinya."
Itu adalah penjelasan yang paling kacau dan genius yang pernah Ardi dengar.
Presentasi mereka berakhir dengan tepuk tangan yang bingung dan terkekeh-kekeh. Nilai? Tidak ada yang tahu. Tapi satu hal yang pasti: video itu sudah tersebar.
---
Di kamar Kos, Ardi terbaring di kasur, menghadap langit-langit. HP nya penuh dengan notifikasi.
Grup Angkatan sudah ribut.
WA Story dipenuhi oleh video pendek Pak Suryo joget.
Twitter kampus sudah memiliki hashtag #DosenJogetDaduchamp.
Dan DM dari Kinan? Bertubi-tubi.
kinanstudies: ARDI. VIDEO ITU.
kinanstudies: ITU DOSEN DADU KARET KAMU?!
ardi.pras: iya ka... gue minta maaf. ini jadi berantakan banget.
kinanstudies: BERANTAKANNYA INI LUAR BIASA. GUE TIDAK BISA BERHENTI TERTAWA.
kinanstudies: Ini... ini bisa jadi sesuatu.
Sesuatu? Sebelum Ardi bertanya, Kinan mengirim link. Sebuah video TikTok yang diunggah oleh akun anonim. Itu adalah klip 15 detik dari Pak Suryo joget, dengan efek slow motion dan filter sparkle. Captionnya: "When your Manajemen Operasi lecture hits different. 😭🎲 #DosenGoyang #Daduchamp"
Like: 2.3k. Share: 700.
"Astaga," gumam Ardi.
HP nya berdering. Panggilan dari nomor tidak dikenal. Dengan perasaan campur aduk, dia mengangkat.
"Ardi?" suara di seberang sana dalam, tegas. Pak Suryo.
"P-Pak?"
"Kamu lihat video yang beredar?" suaranya datar, sulit ditebak.
"Iya, Pak. Saya minta maaf sekali, ini pasti gara-gara—"
"Tidak," potong Pak Suryo. "Ini bukan salahmu. Ini... takdir."
Ardi terdiam. Takdir?
"Tapi, Ardi," lanjut Pak Suryo, suaranya tiba-tiba berubah, penuh semangat bisnis. "Engagement-nya tinggi. Very viralable."
"Maaf, Pak?"
"Aku sudah analisis. Video itu memiliki potensi viral yang besar. Ini adalah momentum untuk mem-branding Dadu Champ ke pasar yang lebih luas."
Ardi tidak bisa berkata-kata. Dosennya tidak marah. Malah melihat ini sebagai peluang marketing.
"Kamu dan teman-temanmu, kelompok presentasi tadi, akan menjadi... tim konten dadaku."
"Apa?!"
"Kita akan buat serial konten. Kamu yang jadi host muda, relatable. Temanmu yang sok CEO itu bisa jadi narator. Dan aku... akan menjadi bintang tamu yang joget."
Ardi memegangi dahinya. Dunia ini telah gila.
"Tapi Pak, kami bukan content creator."
"Semua orang adalah content creator, Nak! Ini era digital! Besok kita rapat. Bawa laptop dan ide-ide segar." Pak Suryo berhenti sebentar. "Oh, dan... bawa juga teman online-mu yang membantu analisis data itu. Aku lihat Excel-nya sangat rapi. Dia bisa jadi strategi konten kita."
Teman online. Kinan.
"Pak, dia... dia bukan teman dekat. Dia cuma"
"Bawa. Atau nilai akhirmu akan seperti dadu yang selalu menghasilkan angka satu." Ancaman itu halus, tapi jelas.
Pak Suryo menutup telepon.
Ardi terpana. Dia membuka chat dengan Kinan, mencoba merangkai kata-kata yang bisa menjelaskan kekacauan yang baru saja meningkat levelnya.
ardi.pras: ka. ada perkembangan gila.
ardi.pras: dosen dadu kita mau bikinin kita tim konten. dan dia mau ketemu lo.
kinanstudies: ...
kinanstudies: You're joking.
ardi.pras: sumpah gak. dia bilang lo jago excel dan bisa jadi strategi konten.
kinanstudies: Tapi aku... aku Kinan. Aku punya persona. Aku tidak bisa terlibat dalam konten dadu karet yang viral karena joget dosen!
ardi.pras: dia ancam nilai gue ka.
kinanstudies: Oh, perfect. Emotional blackmail. Classic.
Diam lama. Ardi bisa membayangkan Kinan di seberang sana, sedang berjuang antara menjaga aesthetic nya dan penasaran yang menggelegak.
kinanstudies: Kapan rapatnya?
ardi.pras: besok.
kinanstudies: Lokasi?
ardi.pras: kantor dosen. jam 4 sore.
kinanstudies: Aku akan datang. TAPI INI HANYA UNTUK MELIHAT KEBERANIAAN NYA. Bukan untuk setuju.
ardi.pras: oke ka. makasih.
Ardi menghela napas. Besok, dia akan bertemu Kinan secara langsung untuk pertama kalinya. Di kantor dosen yang juga adalah markas dadu karet. Dengan seorang dosen yang ingin menjadi bintang TikTok.
Ini adalah titik di mana hidupnya berubah dari "mahasiswa biasa" menjadi "karakter di sitkom yang terlalu absurd".
Dia melemparkan dadu emas di atas meja.
1: Everything will be fine.
2: This will be a disaster.
3: You will fall in love.
4: You will become a TikTok star.
5: You will change your identity and move to Papua.
6: Roll again.
Dadu itu berputar.
Berhenti di angka 4.
Ardi tertawa getir. Mungkin dadu ini memang tahu sesuatu.
Sementara itu, di akun @suryo_daduchamp, video jogetnya sudah mencapai 50k views. Komentar terbanyak: "Saya mau beli dadunya, Bang Dosen! Link!"
Pak Suryo, dengan cermat, membalas satu per satu: "DM untuk katalog. Mahasiswa diskon 10%."
#ToBeContinued
(Besok: Pertemuan Pertama, Kontrak Aneh, dan Awal Sebuah Kolaborasi yang Tidak Diminta Tapi Mungkin... Dibutuhkan.)