Nayla, gadis yang dibesarkan di panti asuhan harus bekerja keras memenuhi kebutuhan adik-adik pantinya. Suatu hari dia bertemu dengan wanita kaya raya yang menyuruhnya untuk menikahi putranya.
Awalnya Nayla menolak, karena dia sudah berjanji pada teman masa kecilnya. Tapi karena suatu keadaan dia terpaksa menyetujuinya.
Akankah kehidupan rumah tangga Nayla bahagia, ketika rumah tangga yang di bangun berusaha di rusak oleh sang mertua yang awalnya menjodohkannya?
Bagaimana nasib Nayla, saat sahabatnya berubah menjadi musuh?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon samudra lee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ngobrol
"Tetaplah di sana Pangeran!" cegah Putri ketika mendengar langkah kaki Alvin yang hendak menghampirinya.
"Tapi kenapa?" tanya Alvin.
"Kamu dan aku sekarang berbeda, kamu sudah memiliki istri dan akupun sama sudah memiliki suami. Jadi lebih baik, kita tidak pernah tahu wajah masing-masing. Setidaknya dengan begitu tidak akan ada penyesalan di antara kita," jelas sang Putri dari balik tembok.
"Baiklah, jika itu keputusanmu. Tapi, bisakah kita mengobrol seperti dulu?" tanya Alvin lagi.
"Iya, Pangeran. Kita masih bisa berbicara saat kita membutuhkan teman," jawab sang Putri.
"Putri, aku minta maaf karena aku tidak datang tepat di hari ulang tahunmu yang ke 20. Aku benar-benar menyesal," ucap Alvin.
"Tidak apa-apa Pangeran. Mungkin saat itu belum waktunya untuk kita bertemu," jawab Putri dengan nada pasrah.
Alvin akhirnya memposisikan dirinya duduk dengan bersandar pada tembok.
"Pangeran, bolehkah aku bertanya sesuatu?" tanya Putri dari balik tembok sana.
"Tentu saja boleh, apa yang ingin kamu tanyakan? Aku pasti akan menjawabnya dengan jujur," jawab Alvin.
"Apa kamu mencintai istrimu?"
Pertanyaan yang di lontarkan oleh Putri dari balik tembok sedikit membuat Alvin terkesiap, bukan karena apa-apa Alvin tidak pernah menyangka akan mendapatkan pertanyaan to the point seperti itu.
"Kamu sendiri? Apa kamu juga mencintai suamimu?" Alvin melamparkan pertanyaan yang sama kepada Putri.
"Iya, aku mencintainya. Walau awalnya aku memang menikah dengannya karena terpaksa," jawab Putri.
"Syukurlah kalau begitu, setidaknya aku tahu kalau kamu mencintai suamimu," kata Alvin yang merasa lega setelah mendengar jawaban dari Putri.
"Lalu kamu?" ternya Putri masih belum melupakan pertanyaannya.
"Aku juga sudah mencintai istriku, walau awalnya juga sama kami menikah karena terpaksa," jelas Alvin.
"Lalu kenapa kamu menangis?" tanya Avin kepada putri lagi.
"Aku..suamiku mencintai orang lain," jawab putri.
"Maksudmu?" tanya Alvin sekali lagi.
"Iya, pangeran. Suamiku mencintai orang lain," jawab Putri lagi.
"Jika suamimu mencintai orang lain. Lalu bagaimana dengan rumah tanggamu?"
"Dia tetap bersikap baik padaku pangeran. Dia selalu memperlakukan aku dengan baik, meskipun aku tahu kalau hatinya milik teman masa kecilnya. Jadi aku juga mohon padamu pangeran, cintailah istrimu! Jangan sampai dia seperti aku yang belum bisa mendapatkan cinta suamiku," ujar Putri.
Tiba-tiba pikiran Alvin, kembali pada sosok Nayla, istrinya. Dia mengingat segala hal yang Nayla katakan sebelum dia pergi tadi.
"Pangeran," panggil Putri.
"Aku akan ingat segala ucapanmu, aku pasti akan berusaha mencintai istriku. Tapi aku juga mohon padamu, berusahala untuk mendapatkan cinta suamimu! Jadilah sosok Putri yang tegar, sama seperti janjimu padaku dulu," Kata Alvin.
Putri mengangguk, walau anggukannya tidak akan pernah di lihat oleh pangeran.
"Putri, jika kamu membutuhkan teman telponlah aku. Aku akan selalu ada di saat kamu membutuhkan aku," ucap Alvin.
"Iya, Pangeran" jawab Putri lagi.
"Putri, ini sudah hampir jam 2 pagi, apa tidak sebaiknya aku mengantarmu pulang?"
"Tidak usah pangeran, aku sudah izin kepada mertuaku kalau aku tidak akan pulang malam ini. Aku akan menginap di tempat ibu panti," jawab Putri panjang lebar.
"Baiklah, jaga dirimu baik-baik. Jika kamu membutuhkan teman untuk sharing atau sekedar mengurangi beban di hatimu, hubungi aku. Karena aku pasti akan selalu ada untukmu," tutur Alvin.
"Terimakasih pangeran," ucap sang Putri dari balik tembok sana.
Walau berat hati Alvin segera meninggalkan tempat itu. Karena dia juga mengkhawatirkan keadaan Nayla istrinya.
Alvin keluar meninggalkan gedung bekas panti tersebut, dia segera melajukan mobilnya setelah berpamitan dengan satpam yang menjaga tempat itu.
Tidak lama berselang keluarlah perempuan yang juga berpamitan dengan satpam tersebut.
"Apa Neng ketemu dengan orang yang selalu mencari Neng?" tanya satpam itu.
"Iya, Pak. Tapi sekarang kami berbeda, aku sudah bersuami dan dia juga sudah memiliki istri," jawab gadis itu dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
"Sabar, Neng. Itu artinya kamu tidak berjodoh. Pasti suami Neng saat ini adalah jodoh terbaik yang Tuhan berikan untuk Neng," kata Pak satpam yang memang sudah akrab dengan gadis itu.
"Iya, aku percaya itu," jawab gadis itu.
"Ini sudah hampir pagi, Neng. Apa suami Neng tidak mencari keberadaan Neng?"
"Suamiku pergi, Pak. Dia sedang menemui wanita yang dia cintai," jawab gadis itu sembari tersenyum.
"Maaf ya, Neng. Bapak tidak bisa berkata apa-apa soal itu," kata sang satpam.
"Iya, Pak. Tidak apa-apa. Nay, pergi ya Pak. Nay, sudah izin mau ketempatnya ibu Retno," pamit gadis itu.
Gadis itu adalah Nayla, Nayla datang 15 menit setelah kedatangan Alvin.
"Pak, itu mobil siapa?" tanya Nayla sambil menunjuk ke arah mobil yang semakin menjauh dari pandangannya.
"Lho, itukan mobil orang yang selalu mencari Neng Nayla," jawab Pak Satpam.
"Kenapa mobil itu sangat mirip dengan mobil milik Alvin ya," batin Nayla.
"Memangnya Neng Nayla tidak melihat saat Neng Nayla mau masuk ke tempat ini. Kan mobilnya di parkir di depan Neng," ujar Satpam itu lagi
"Aku tidak melihat Pak, tadi aku lansung berjalan masuk tanpa memperhatikan sekeliling Pak," jawab Nayla.
"Sudah ya, Pak. Nay pamit, assalammua'alaikum," pamit Nayla.
"Wa'alaikumsalam, Neng" jawab sang satpam.
Nayla meninggalkan tempat itu dan pergi ke ruamah ibu Retno.
*****
Alvin tiba di kediamannya, dia segera mencari keberadaan Nayla di kamarnya.
"Nay, Nayla," panggil Alvin sambil mengetuk pintu kamarnya. Namun tidak ada sahutan dari dalam kamar.
"Istrimu pergi tidak lama setelah kamu pergi," jawab Sarah yang baru saja keluar dari kamarnya.
"Nayla pergi?"
"Iya, istrimu itu akhir-akhir ini susah di kendalikan," keluh Sarah. Sarah sengaja ingin membuat Alvin membenci istrinya. Padahal dia sudah memberikan izin kepada Nayla untuk pergi ke rumah ibu pantinya.
"Nayla pergi pasti karena sikapku yang lebih mementingkan putri di banding dirinya. Dia pasti ke tempat ibu Retno untuk menenangkan diri," pikir Alvin.
"Al..," panggil Sarah.
"Iya, Bu. Al, lupa kalau Nayla sudah ijin sama Alvin, sebelum Alvin pergi ke luar tadi," jawab Alvin berbohong, dia tidak ingin istrinya itu di benci oleh ibunya.
"Alvin ke kamar ya, Bu. Parmisi," pamit Alvin. Alvin segera masuk dalam kamarnya meninggalkan sang ibu yang masih berdiri di dekat pintu.
"Sepertinya Alvin sudah mulai menyukai Nayla, aku harus melakukan sesuatu," batin Sarah.
Sarahpun kembali masuk ke dalam kamarnya.
*****
Pagi itu Nayla keluar dari rumah ibu Retno pukul 7 pagi karena dia memang harus berangkat kerja. Namun langkahnya terhenti saat melihat seseorang sudah berdiri di depan pintu dengan menunjukkan senyum manisnya.
➡️ Nah siapakah orang yang sudah menunggu Nayla di depan pintu?
➡️Boleh dong Author minta like, komen dan votenya✌️🤗
➡️Baca juga novel keren di bawah ini👍:
Tererengkyu...💗💗💗
suka banget, walopun sebel banget sama karakter Vita di novel ini.. 😡
semoga sehat selalu ya kak..
mau baca karya2mu lainnya, bikin nagih soalnya..
semangat terus untuk berkarya ya kak.. 💪🏻😘🥰
APA -APAAN INI ???!!!
semoga bs baca ampe tamat.