NovelToon NovelToon
Ketulusan Cinta Wisnu

Ketulusan Cinta Wisnu

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Cintamanis / Tamat
Popularitas:2.3M
Nilai: 4.9
Nama Author: Syala yaya

Sebuah ikatan pernikahan harus berlandas cinta, kasih sayang dan komitmen untuk terus bersama.

Tapi apalah daya ketika pernikahan itu terjadi hanya karena sebuah bentuk pertanggungjawaban dari kesalahan.

Wisnu Tama, seorang pria berusia 27 tahun yang harus menikahi Almira Putri, gadis polos berusia 22 tahun.

Bagaimana cara Wisnu menakhlukkan hati wanita yang sudah menjadi istrinya itu, agar mau memaafkan kesalahan yang tidak dia sengaja dan mau sama-sama mempertahankan ikatan suci berlandas kebencian menjadi sebuah ikatan cinta? Ikuti yuk kisahnya.

Ini novel kedua saya dan merupakan sequel dari novel pertama.

Selamat membaca ^_^

Follow IG @Syalayaya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syala yaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27 Pulang Ke Kota

Almira dan Wisnu saling sikut dan saling mendorong, merasa sangat gemas dengan keadaan yang mereka berdua ciptakan pagi ini.

“Kamu yang buka,” perintah Almira menunjuk jarinya ke arah Wisnu dengan raut wajahnya memerintah.

“Kenapa harus aku?” gerutu Wisnu menampilkan wajah protesnya.

“Suami harus menjadi tameng istrinya, ck! masa tidak tahu,” jawab Almira dengan tangan bersedekap.

Wisnu menghembus napas dengan bibir menggerutu, mendorong pundak Almira menyamping agar tidak menutupi pintu. Dengan senyuman masam Almira menggeser kakinya menjauh dan berdiri dibelakang Wisnu, menutupi dirinya kalau berondongan ejekan orang tuanya dia terima saat pintu dibuka nanti.

“Dasar penakut,” ejek Wisnu menoleh Almira dengan cibiran sambil membuka pintu kamar mandi.

Wisnu melongok keluar dari kamar mandi begitu saja, ternyata kedua mertuanya sudah pergi semua. Batinnya menjadi lega. Ternyata mereka hanya berniat menggoda.

Dengan cepat dia tarik Almira dari belakangnya dan mendorongnya keluar dari kamar mandi.

“Cepat siap-siap sana,” perintah Wisnu sambil menutup pintu.

Almira memukul pintu ringan dengan kepalan tangannya menampilkan kekesalan. Segera menoleh ke arah dapur, terlihat orang tuanya sedang sibuk di area dapur, Almira mengendap dan segera berlari menuju kamarnya menghindari pertanyaan. Perasaannya menjadi geli sekaligus malu. Ingin sekali dia tertawa terbahak. Untung saja dia dan Wisnu sudah menikah, kalau belum bisa-bisa dirinya digeruduk se-Rt kalau sampai ketahuan sedang berduan di kamar mandi.

Segera mencari tas besarnya di lemari atas dan menariknya perlahan dari tempatnya, Almira menata barang bawaannya. Dirinya merasa sangat lega ketika Wisnu menepati janjinya untuk segera membawanya pergi dari rumah. Akan menyesakkan bila dia harus pura-pura bahagia dengan pernikahan ini di depan orang tuanya.

Almira menghela napas panjang saat menatap album foto yang berderet di rak bukunya. Dengan langkah berat dia menuju ke sana dan menyentuh album dengan ujung jemarinya. Mengambil satu dari sana dan membuka perlahan.

“Kenapa harus kamu? Kenapa kita harus bertemu dan kenapa aku malah menikah denganmu?” ujar Almira mengusap foto seorang wanita yang tertangkap fotonya di samping Wisnu.

Almira mengusap air mata yang menetes dipipinya dan menutup album kembali dengan rasa nyeri di hatinya.

Ingin rasanya dia meneriaki diri sendiri atas keputusan ataupun lalai pada nasehat orang tuanya hingga harus terjebak di Bar dan harus melalui malam kelu itu.

“Maafkan aku, bukan maksudku mengingkari ucapanku sendiri,” gumam Almira terduduk lemas.

Dirinya baru berdiri dengan wajah gelagapan saat Wisnu sudah membuka pintu kamar dan masuk ke dalam. Almira pura-pura membuka lacinya dan mengambil beberapa barang perhiasannya dari dalam.

“Tidak perlu bawa barang banyak, nanti kita beli saja yang baru.”

Wisnu sudah mengusap kepalanya dengan handuk dan berjalan mendekati Almira yang mengangguk menurut, Wisnu nampak menatap aneh sikap itu.

“Ini perhiasan mas kawin darimu kok, jadi harus aku bawa,” jawab Almira merasa Wisnu curiga dengan gelagatnya yang canggung.

“Baiklah … bajunya bawa beberapa saja, jangan terlalu banyak.”

“Iya,” jawab Almira mengangguk setuju dan beralih pada tas besarnya lagi.

Wisnu memandang punggung Almira dengan perasaan mendadak aneh, merasa reaksi ketusnya yang mendadak hilang malah membuat gadis itu terlihat aneh.

Tok tok tok!

“Almira, ayo sarapan dulu. Ajak suamimu keluar ya?” seru ibunya memanggil dari luar kamar.

“Iya, Bu. Sebentar ya,” jawab Almira bersuara agak keras agar terdengar dari luar.

“Ya sudah, jangan lama-lama ya,” sahut ibunya diiringi langkah kaki menjauh.

Almira menoleh Wisnu yang duduk di kasur dengan rambutnya yang masih acak-acakan. Menghela napasnya dalam kemudian menghembuskannya perlahan. Menarik tasnya dan meletakkan di lantai dekat kaki Wisnu.

“Ayo sarapan,” ajak Almira melangkah menjauh.

“Tunggu, kenapa kamu jadi aneh?” tanya Wisnu penuh selidik.

“Aku hanya terbawa suasana saja, berpisah dengan orang tua sebenarnya cukup berat.” Almira menoleh kemudian melepaskan pandangannya dari Wisnu.

“Euh tenanglah, aku akan bersikap baik padamu. Tunggu, kita keluar sama-sama,” ajak Wisnu sambil berdiri dan meraih tangan Almira dan menggandenngnya.

Sesaat langkah Almira malah berhenti. Dirinya membeku seolah tidak bisa menggerakkan kakinya. Memandang jemari tangannya yang tertaut di sela-sela jemari tangan Wisnu. Wisnu yang menyadari reaksi Almira segera menoleh kearahnya dengan wajah heran memandang.

“Kenapa?” tanya Wisnu dengan seolah ragu dan merasa tidak nyaman.

“Tidak ada, ayo,” jawab Almira melangkah dengan jemari tangan terlepas dari genggaman Wisnu.

Wisnu memandang punggung Almira yang mulai menghilang dibalik pintu. Memandang jemari tangannya sendiri dan menggenggamnya, seolah ada perasaan kosong yang menyerang perasaannya.

Dengan batin yang penuh pertanyaan untuk Almira tapi urung juga dia lontarkan, Wisnu merasa waktunya tidak tepat.

Segera menyusul Almira keluar kamar menuju ke ruang makan untuk sarapan. Jam masih nampak pagi untuk sarapan bagi Wisnu tapi dia menurut saja dengan peraturan yang ada di rumah ini.

Terlihat pak Ramlan sudah duduk dikursinya ketika Wisnu dan Almira menarik kursi untuk gabung sarapan. Memandang raut wajah Almira dan Wisnu bergantian.

“Hari ini saya ijin pamit membawa Almira ke rumah saya di kota, Pak,” ucap Wisnu memandang pak Ramlan dengan suara tenang dan sopan.

“Baiklah, walau berat tapi karena Ira anak bapak sudah sah menjadi istrimu maka bapak harus ikhlas melepaskan anak bapak untuk tinggal denganmu,” jawab pak Ramlan menampakkan guratan wajah bijaksana.

“Ira, mulai sekarang setelah kamu menjadi seorang istri maka surga dan nerakamu berada di telapak kaki suamimu. Kamu mengerti maksud ibu 'kan?” tambah ibu memandang Almira dengan wajah meyakinkan.

“Iya, Bu. Ira paham,” jawab Almira memandang ayah dan ibunya secara bergantian.

“Menurut dan patuh kepada suamimu, jangan membuatnya kecewa dengan sikap dan sifatmu, ya?” tambah ibu Halimah lagi.

“Iya, Bu,” jawab Almira dengan suara menahan sesak. Dia seperti sedang diberi titah atau beban berat dipundak, untung jemari tangan Wisnu meraih pungung tangannya di pangkuan hingga beban berat itu seolah berkurang.

“Terimakasih, Pak, Bu, atas dukungannya. Saya akan menjaga Ira dengan baik selama di kota,” ungkap Wisnu segera diberi anggukan kepala pak Ramlan dan bu Halimah senang.

“Ya sudah, kita sarapan. Makanannya keburu dingin.”

Ibu Halimah menyela pembicaraan dan segera meraih piring untuk Almira memberi isyarat kepalanya agar melayani Wisnu. Setelah Almira meraih piring itu, ibu Halimah segera melayani pak Ramlan. Begitulah cara keluarga itu memberi contoh kepada anak-anaknya tentang menghormati orang yang lebih tua maupun cara berbagi hal di meja makan.

Wisnu berdo'a dalam hati, berharap agar kehidupanya kelak bisa seharmonis keluarga Almira ini. Dia sangat mendambakan sebuah keluarga kecil seperti ini.

“Nanti berangkat jam berapa?” tanya ibu Halimah membuka percakapan.

“Setelah sarapan kami berangkat, Bu,” jawab Almira lebih dulu menjawab sambil menoleh ke arah Wisnu yang segera mengangguk mengiyakan.

“Ya sudah, hati-hati. Kalau ada waktu kami akan berkunjung ke kota,” jawab pak Ramlan menambahkan.

Wisnu dan Almira mengangguk senang.

Beberapa saat setelah sarapan Wisnu dan Almira sudah menata barang bawaan ke dalam mobilnya, di bantu ibu Halimah yang tidak ada hentinya meleleh air matanya. Air mata bahagia maupun kehilangan bercampur. Melepaskan anak sulungnya menempuh hidup baru setelah pernikahannya.

Almira dan Wisnu mencium punggung tangan orang tuanya itu dengan perasaan haru, mau tak mau Wisnu ikut terharu juga. Dia amat bersyukur bisa bertemu dan menjadi bagian keluarga ini.

“Hati-hati ya di jalan, kalau sudah sampai jangan lupa hubungi rumah,” pesan ibu Halimah sambil menutup pintu mobil untuk Almira.

“Iya, Bu,” jawab Almira menitikkan air matanya.

“Wisnu, ibu titip dan jaga anak ibu ya? Yang sabar ya menghadapi gadis ketus ini, hukum saja dia kalau nakal,” celoteh ibu Halimah semakin membuat Almira mengangis haru.

“Baik, Bu,” jawab Wisnu mengulas senyuman dan mengangguk pamitan.

Setelah melambaikan tangan akhirnya Wisnu menjalankan mobilnya dan meninggalkan halaman rumah Almira, melaju di jalan desa yang sudah berbentuk cor-coran menuju jalan raya rute kota besar dimana rumah dan cerita indah sedang di rajut dalam alam pikiran Wisnu.

Wisnu fokus ke jalanan dan mengabaikan Almira yang membisu menatap jendela kaca hanya sekali menoleh ke arah Wisnu sekilas dan kembali pada pandangannya.

“Ada apa, San?” jawab Wisnu dengan headset sudah menempel di telinga.

“Aku perjalanan pulang,” jawab Wisnu dengan suara serius. “Kita bertemu setelah aku sampai di rumah,” sahut Wisnu kemudian menutup panggilan telepon.

Wisnu menambah kecepatan laju mobilnya hingga membuat Almira menoleh bingung, tapi tidak ada kata sanggup dia tanyakan ada apa. Dia mengingat untuk tidak mencampuri urusan Wisnu, dan malah dia sendiri yang membuat perjanjian itu. Almira menghempaskan punggungnya ke sandaran kursi dan memegang sabuk pengaman kuat-kuat mengusir rasa cemas.

“Mas,” panggil Almira pelan dan ragu-ragu. “Mas Inu,” panggil Almira meninggikan nada suaranya agar terdengar.

“Hmm,” jawab Wisnu masih fokus menyetir.

“Bisa pelan sedikit?” resah Almira dengan wajah memucat.

“Tahan sebentar ya, ada masalah sedikit di kantor jadi aku harus cepat sampai,” jawab Wisnu menoleh sejenak dan kembali fokus ke arah jalanan.

“Masalah apa? Kantor?” tanya Almira gelisah tidak mengerti.

“Aku akan dipecat kalau tidak masuk kerja,” jawab Wisnu berhenti saat lampu merah menyala, kemudian menoleh ke arah Almira yang memandangnya dengan bulatan mata terkejut.

“Kau akan dipecat?” tanya Almira kaget.

“Dan aku akan jadi pengangguran, kita bisa berduaan dirumah,” goda Wisnu menampilkan tawanya.

“Ish, berhenti bercanda. Benar-benar tidak lucu,” sahut Almira memberengut kesal. Merasa Wisnu selalu memberi kekonyolan disetiap hal yang menurut Almira sangat serius.

“Apa kamu akan sedih kalau aku pengangguran?” tanya Wisnu kemudian, menatap Almira sekilas. Almira memilih menatap jalanan dimana lampu hijau kembali menyala.

“Bukan begitu, tapi ngeri saja saat pasangan menikah tapi belum punya pekerjaan, bukankah akan terjadi pertengkaran karena masalah ekonomi melanda,” seloroh Almira dengan suara lemah.

“Ujian seorang istri saat suami tidak punya apa-apa, lalu ujian suami apa?” tanya Wisnu sambil melajukan kendaraanya kembali.

“Saat melihat banyak wanita melebihi istrinya hadir disekelilingnya, sedang istrinya nampak biasa dipandangan matanya,” jawab Almira memandang Wisnu yang tersenyum puas.

“Berarti ujianmu sedang menyapa,” sahut Wisnu membuat Almira menatap Wisnu dengan menelan salivanya cepat. Menahan dirinya untuk memukul karena kesal.

Wisnu tertawa melihatnya.

“Sudah kubilang, aku tidak suka dengan pria pengangguran apapun alasannya,” decak Almira diberi cibiran Wisnu.

“Sudah terlanjur, lalu mau apa?” goda Wisnu.

Almira memilih mengabaikan omongan Wisnu daripada menjawab dengan emosi. Semua nasehat orang tuanya begitu terngiang dikepalanya. Wisnu hanya bisa tersenyum saja saat menatap sikap diam Almira.

Perjalanan panjang mereka usai saat Wisnu membelokkan laju kendaraan menuju depan gerbang tinggi dan secara otomatis terbuka, Almira memandang ke depan dan Wisnu secara bergantian dengan mata mengerjap kebingungan.

“Selamat datang di rumah, Nyonya,” sambut Wisnu memarkir kendaraannya di halaman depan dan memandang Almira yang memandang kagum rumahnya.

“Apa ini rumahmu?” tanya Almira seakan percaya tak percaya. Kilatan matanya membuat Wisnu ingin sekali mencubit pipinya gemas.

“Bukan, milik Bank. Ini belum lunas cicilannya,” goda Wisnu sambil tertawa, tidaj menyangka rumah yang terlihat biasa ternyata bagi Almira bisa di anggap luar biasa.

“Oh … iyakah,” sahut Almira menatap Wisnu yang turun dari mobil dan menuju ke bagian bagasi untuk menurunkan barang-barang bawaan Almira.

“Apa rumah ini bagus?” tanya Wisnu menggoda Almira lagi.

“Bagus sekali,” jawab Almira menatap Wisnu dengan malu-malu.

Wisnu membiarkan Almira menarik tas ransel dari dalam bagasi dan membawa sendiri ke dalam.

Dengan helaan napasnya Wisnu memandang rumahnya dengan perasaan syukur, rumah sederhana baginya bila dibandingkan rumah milih mantan bos besarnya ternyata dipuji bagus istrinya sendiri. Dengan langkah semangat Wisnu mengambil tas besar dari bagasi dan menyusul langkah Almira ke teras rumah. Membuka pintu dengan sandi dan membiarkan Almira masuk.

“Kamarku mana?” tanya Almira menaiki tangga dengan suka cita.

“Di ujung sana,” jawab Wisnu menunjuk dengan ujung telunjuknya.

“Baiklah,” jawab Almira berlari kecil menuju ke sana.

Wisnu hanya menggelengkan kepalanya merasa Almira berubah kekanakan sekali, tapi dia malah menyukainya.

“Lalu kamarmu dimana?” tanya Almira membiarkan Wisnu ikut masuk dan meletakkan barang-barang Almira di lantai.

“Disini juga,” jawab Wisnu dengan suara santai.

“Apa? Kita tidak mungkin sekamar,” protes Almira bersedekap di depan Wisnu dengan wajah protesnya yang lucu.

“Memangnya kenapa? Kamu ini aneh, aku pergi dulu ya ... semua bahan makanan ada di kulkas.”

“Tunggu! Mau kemana?” tanya Almira menghalangi jalan.

“Bekerja, kamu mau aku dipecat? Aku sudah terlambat.”

“Tidak … baiklah, kamu kerja dulu. Tidak bisa ku bayangkan kalau kamu benar-benar menganggur,” celoteh Almira menggeser tubuhnya.

“Istri pengertian. Baiklah, aku berangkat dulu ya.”

“Iya, hati-hati,” jawab Almira memperbaiki poninya yang menjuntai dan menyelipkan ditelinganya.

Cup

Wisnu mencuri ciuman di kening Almira, dengan seulas senyuman kemenangan dirinya berjalan keluar kamar meninggalkan Almira yang mematung dan diam menatapnya.

Selamat datang di hidupku, saat ku biarkan ada nama lain mengisi rumahku maka itu berarti aku labuhkan kepercayaanku untukmu.

Kekuranganku dan kelebihanku semua menyatu ingin kau mengenalku.

Tutup aibku dan jaga kehormatanku, dengan begitu aku bisa menutup aibmu dan menjaga kehormatanmu.

Kita jaga sama-sama karena kita kini keluarga. ~ (Wisnu-Almira)

Bersambung …

Hai semua, maaf jarang update. Karena rutinitas dan anak menjalani tes semester dirumah membuatku harus mendampingi dulu. Semoga bisa memaklumi.

Terimakasih untuk semua dukungannya baik Like, komentar positif juga kritikan membangun untuk proses belajarku ya.

Buat yang Vote novel ini ... l Love You full ❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤

Baca juga novel sababat sambil menunggu updateku

Salam segalanya dari ku ~ Syala Yaya🌷🌷

1
Hotlin Situmorang
lanjutkan ceritanya
Siti Nina
oke
Hotlin Situmorang
Wisnu memang bertanggung jawab
Luwis Ida yasa
tidak bosen rasanya q BCA novel ini apa lagi yang bab ini hehehe
Dasem Ida Faizah
lucu bgt
Dasem Ida Faizah
lucu bgt
Suhartik Hartik
lucu ya kisah Alan dan yashna... dibikin kisah dong
Suhartik Hartik
author nya top banget bikin obrolan ringan tapi excellent banget
Nnuraeni Eni
Keren .keren ..kereeeeen... 👏👏
Nnuraeni Eni
Setuju tuh 😉
Nnuraeni Eni
Uuuuh So Sweet 😘😘
Nnuraeni Eni
Aku udh baca ini 2x lho kak , tp ga bosen buat baca lg .. Kisahnya itu yg bikin pembaca jd senyum² sendiri ... Kena dihati 🥰🥰
Nnuraeni Eni: /Kiss//Kiss//Kiss//Wilt/
total 2 replies
SETIA RINI
luar biasa
YK
karya luar biasa
YK
ck, lupa ya pernah nyium Isna???
YK: aduh, salah komen... 😌
total 1 replies
YK
aamiin...
YK
biar si johan kebakaran bulu ketek...
YK
mobilmu otw, ihsan...
YK
jadi curigation, nih, sama Bagus. jangan2 Imran diracun sama dia. biar wisnu balik sama depe dan almira dia jual...
YK
bagas ini kyknya dominan banget. bukankah dia yg minta putus lalu ngotot balikan lagi... mencla mencle...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!