Mencari cinta sejati tidak semudah membalikkan telapak tangan. Pria bermata biru terus mencari cinta sejatinya yang telah lama menghilang. pengorbanan yang tulus tidak selalu membuahkan hasil yang memuaskan. Namun, Perjuangan untuk menemukan wanitanya akan terus ia lakukan walaupun rintangan datang menghadang.
"Aku kembali untuk mu, Tidak akan kubiarkan kau pergi dari kehidupan ku!"
Wanita cantik dan berkelas lahir dari anak konglomerat ternama di Jakarta. Sang Daddy memiliki banyak bisnis di berbagai Negara, Ia memilih berkarir dan meneruskan bisnis kelurga.
Akan kah Petualangan cinta si kembar akan berakhir di pelabuhan terakhir? bagaimana nasib Safira setelah memilih menikah dengan pria yang tidak pernah ia cinta?"
Yuk ikuti kelanjutannya hanya di karya Bunda enny76.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon enny76, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perjanjian Vano dan Markus
Angin kencang terus berhembus, menerpa dedaunan yang berterbangan. Seluruh tubuh Vano merasakan dingin bagai tersiram air es. Sekuat tenaga ia mencoba melepaskan dari jeratan tali tambang yang mengikat seluruh tubuhnya.
"Semoga Sean dan Markus belum terlambat sampai di perbatasan." ucapnya pelan.
*Flashback on.
Malam itu Markus datang kembali kerumah kayu dengan membawa makanan yang tidak biasanya.
"Apa yang kau bawa ini?" tanya Vano saat Markus melempar kan makanan yang di bungkus plastik hitam.
"Kau buka saja, makanan itu akan mengenyangkan."
Vano membuka plastik hitam, terlihat daging panggung yang wangi menyengat. "Daging apa ini?! tanya Vano curiga.
Markus menggeleng kesal "Kau pikir aku membawa daging manusia?!
"Wanginya sangat berbeda dari daging hewan."
"Itu daging domba yang sudah di asap, sengaja aku mengambil di dapur untuk mu. Malam ini ada pesta adat suku Xenzial, untuk penyambutan arwah para leluhur."
"CK! orang-orang primitif masih percaya hal Kuno!"
"Itu adalah tradisi mereka." tukas Markus seraya memotong beberapa bagian daging yang ia bawa.
"Makanlah, kau dan teman mu jarang makan ini."
"Sungguh membosankan, aku sudah sering makan daging kambing dan sapi. Apalagi bila masakan mommy, aku sangat menyukai nya."
"Kau masih memiliki keluarga?" tanya Markus, satu tangannya memasukkan daging yang sudah ia potong kecil-kecil kedalam mulut.
Vano mengangguk "Kedua orang tua ku masih lengkap. Aku memiliki saudara kembar perempuan dan adik laki-laki. Aku juga punya satu anak putri." Vano menceritakan tentang keluarga nya tanpa Markus minta, tanpa Vano katakan latar belakang keluarganya yang memiliki banyak perusahaan.
Sejurus kemudian Markus terdiam, matanya mulai berembun. Vano mengernyit kan alisnya sebab ia tidak menceritakan kesedihan tentang kelurganya.
"Kau menangis? tanya Vano pelan
"Aku tersentuh mendengar cerita keluarga mu. Keluarga yang begitu harmonis."
"Kelurga ku sama seperti kebanyakan orang. Lalu di mana kelurga mu? bagaimana kau bisa sampai di pulau Xenzial? apa kelurga mu tidak merasa kehilangan?"
Markus mengusap air matanya yang sudah terjatuh. Ia membuang nafas panjang, makanan di depannya sudah tidak berselera.
"Aku di buang oleh kelurga ku!"
Vano terkejut, lalu menoleh ke arah Markus dengan tatapan bingung "Bagaimana bisa? bukankah kau seorang Dokter?"
"Aku memiliki dua kakak tiri, setelah Ayahku meninggal setahun yang lalu. Perusahaan ayahku Valerie Corp jatuh ke tangan ku sebagai ahli waris yang sah. Tetapi kedua kakak tiri ku sangat murka, ia tidak terima dan bersandiwara dengan berputar-putar baik padaku."
Vano terdiam sambil mendengarkan cerita Markus.
"Suatu hari mereka mengajakku berlayar, sebagai rasa gembira karena aku mendapatkan perusahaan Velerie Corp. Aku tidak pernah berpikir buruk tentang mereka berdua. Pada suatu malam tiba-tiba aku mendengar suara tombol berbunyi, aku terkejut dan terbangun. Tanpa aku sadari berada di kapal laut sendirian. Kapal mengalami banyak kebocoran hingga aku tenggelam ke dalam lautan."
"Lalu siapa yang menyelamatkan mu?"
"Saat itu aku sudah tidak sadar kan diri. Tiba-tiba aku sudah berada di pulau Xenzial. Saat aku membuka mata, sudah di kelilingi orang-orang primitif. Aku menjadi tawanan mereka untuk di jadikan tumbal monster penunggu bukit Xenzial. Tetapi nasib ku mujur setelah menyembuhkan Luna."
"Siapa Luna?'
"Anak gadis kepala suku Xenzial."
Vano mengangguk "Sudah berapa lama kau tinggal di sini?"
"Hampir enam bulan."
Vano terkejut "Enam bulan? kau bisa betah selama itu? Apa tidak ingin keluar dari tempat ini? untuk melanjutkan hidup mu di luar?
"Aku sudah tidak memiliki siap-siap lagi, kedua orang tua ku sudah tiada." Suara Markus menahan tangis "Aku sudah bertekad untuk selamanya tinggal disini, mengobati orang-orang Xenzial."
"Apa kamu tidak berkeinginan kembali ke kota dan membalas dendam pada kakak tiri mu?"
"Ada! tetapi semua yang ku lakukan nihil. Aku pernah ingin pergi, tetapi kepala suku Xenzial marah besar bila aku keluar dari tempat ini."
"Kau hanya di peralat oleh orang-orang suku Xenzial. Kebebasan mu telah terenggut."
"Aku bisa apa sekarang?"
"Kita bisa pergi bersama-sama, asalkan kau tahu jalan lembah ini."
Markus terdiam, lalu ia menggeleng lemah. "Aku sangat tahu jalan keluar tempat ini. Tetapi Kalian berdua sudah di targetkan untuk tumbal penunggu bukit Xenzial."
Vano membuang nafas kasar "Apa kamu tidak ingin bebas dan menikmati hidup dengan layak. pikirkan sekali lagi Markus!"
"Aku tidak punya apa-apa lagi, perusahaan Valerie Corp sudah diambil oleh ke kakak tiriku,"
"Tunggu, nama Valerie Corp sepertinya sudah tidak asing aku dengar. Apa perusahaan itu ada kerja sama dengan perusahaan lain?"
"Benar, Valerie Corp berada di bawah naungan Perusahaan besar Mahesa grup."
Vano tersenyum, akhirnya ia merasa lega "Aku berjanji akan membantu mu untuk mendapatkan Valerie Corp ke tangan mu kembali."
Markus terbelalak "Apa yang kau katakan bener? kamu sedang tidak bercanda bukan? kau jangan mengelabui ku!"
"Hey, kau tidak percaya dengan kemampuan ku?!" balas Vano
Markus menatap intens wajah tampan Vano. Wajah itu seperti tidak asing baginya, tetapi dimana ia pernah melihat Vano "Siapa kau sebenarnya, apa hubungan mu dengan perusahaan Mahesa grup?"
Vano menyinggung senyuman tipis "Apa kamu tidak pernah mengenal aku sebelumnya?
Markus menggeleng lemah dengan tatapan penasaran. "Sepertinya ingatan ku sangat tumpul."
"Aku salah satu pewaris perusahaan Mahesa grup."
"What! Markus Berlonjak kaget, kedua bola matanya hampir saja keluar saking terkejutnya.
"Ja-di kau adalah anak pertama tuan Reno Mahesa?"
Vano mengangguk "Aku Zevano Mahesa."
"Tuan Zevano!" buru-buru Markus membungkukkan badan di depan Vano yang lagi duduk.
"Apa-apaan kau ini, bangunlah." Vano meraih bahu Markus.
"Sungguh aku tidak menyangka bisa bertemu dengan pewaris Mahesa grup."
"Kenapa kamu bisa begitu percaya padaku, kalau aku anak dari Reno Mahesa. Bisa saja aku berbohong!"
"Aku sangat yakin kalau Anda anak dari tuan Reno. Mata mu bisa berbicara dan ucapan anda tidak bisa di bohongi. Saat berbicara Anda tidak gugup dan terlihat berwibawa. Sekilas wajah anda pernah aku lihat, kalau tidak salah saat peluncuran perdana kapal pesiar di Denmark.'
Vano tersipu "Kalau begitu apa kau mau bekerjasama dengan ku?"
"Kerja sama apa Tuan?"
"Panggil saja saya Vano. Aku sedang tidak berbisnis apapun dengan mu. Kecuali masalah pembebasan aku dan Sean." Vano menoleh ke samping, menatap sahabatnya yang sedang tertidur pulas di atas jerami.
"Aku tidak bisa sombong di depan Anda, kelurga tuan sangat terhormat dan di segani."
"Ini bukan saat yang tepat untuk memanggil ku dengan embel-embel tuan! sekali lagi Vano menegaskan.
"Baiklah kalau itu pinta anda. Tetapi aku tidak bisa bebaskan keduanya."
"Maksud mu?"
"Kalian adalah tawanan dan harus menghadapi monster penunggu bukit Xenzial. Salah satu dari kalian harus tinggal. Bila aku membawa kalian berdua pergi, bukan hanya nyawa ku saja yang melayang. Tetapi satu penduduk desa Xenzial akan menjadi korban keganasan monster itu."
Vano tercengang mendengar cerita Markus. Di lubuk hati Vano ingin sekali membantu penduduk pulau Xenzial, tetapi nyawa jad taruhannya. Dia juga penasaran dengan monster penunggu bukit Xenzial. "Baiklah, tinggalkan aku di sini, lalu bawa pergi Sean untuk meminta bantuan. Aku yakni daddy sedang mencari keberadaan ku."
"Apa kau yakin?! tanya Markus tak percaya.
"Sangat yakin. Aku tahu sifat daddy ku, dia tidak akan tinggal diam demi keselamatan anaknya."
"Apa kau bisa menghadapi monster itu sendirian?"
"Aku akan berusaha semampu yang ku bisa!"
"Sungguh kau pria sejati. Benar kata orang-orang di luar sana. Kalau kelurga Reno Mahesa dan anak-anak nya petarung yang tangguh dan tidak mengenal takut pada hal apapun. Aku beruntung menemukan mu sobat!" Markus langsung merangkul Vano.
"Jadi, kapan eksekusi aku dan Sean akan di lakukan."
"Besok malam, tepatnya di bukit Xenzial."
"Lalu apa yang akan kau lakukan selanjutnya.'
"Mereka akan membawa kalian pergi ke bukit Xenzial. Di saat mereka lengah dan sibuk pada kalian berdua, aku akan menyiapkan kapal booth. Setelah itu aku Kembali untuk membebaskan Sean."
"Kapal booth? dari mana kau dapatkan?"
"Beberapa bulan lalu ada dua turis tersesat di pulau ini. Mereka sudah menjadi tumbal monster ganas itu. Lalu aku sembunyikan kapal booth dari mereka, di sebuah tempat yang tersembunyi. Bila suatu hari aku berubah pikiran dan ingin pergi dari pulau ini."
"Baiklah, lakukan rencana mu dengan baik, setelah itu bawa Sean pergi. Aku berjanji akan memberikan Valerie Corp padamu. Seandainya aku tidak kembali, tagihlah janji ku pada daddy."
"Kau jangan berbicara seperti itu sobat. Setelah mengenal mu, aku sudah tidak menginginkan perusahaan ayahku lagi. Bisa bertemu anak dari tuan Reno suatu keberuntungan bagiku."
Kedua nya larut dalam perbincangan untuk pembebasan Sean. Vano juga perintahkan Markus untuk menemui sang daddy dan meminta bantuan. Sebagai tanda bukti untuk sang daddy, Vano memberikan kode rahasia.
💜💜💜💜
Bab ini panjang, jangan lupa komen yang banyak😁. Terus dukung karya bunda, dengan cara: Like setelah membaca, kasih Gift/vote sebagai penyemangat bunda, Rate bintang lima untuk karya terbaru. Terima kasih😘💕
SYUKURLAH MAMA DENA DAN VANO SDH MERESTUI TERHARU SAMPE KELUAR AIR MATA BUN😥😥