Seorang abdi negara yang berusia matang, di pertemukan dengan gadis muda yang tingkahnya mirip petasan.
~
"Okee, kalau gitu kita fix tidak ada apa-apa yaa?"
"Iya, saya fix benar-benar pacar kamu!" jelasnya lagi sambil menirukan gaya bicara gadis di depannya.
"Apa?"
"Ihh, Bapak jangan ngawur yaa!"
"Saya tidak ngawur, sudah kamu sebaiknya cepat istirahat."
"Tidak mau! Saya mau Pak Braja tarik kata-kata barusan."
"Pantang bagi saya menarik ucapan yang sudah saya katakan."
"Uhhh! Ranti over kesal, ia mendelik sambil memukul-mukul dada bidang pria tersebut. "Kalau begitu rasakan bagaimana punya pacar yang rewel dan juga merepotkan, satu lagi jangan sampai siapapun tau perihal ini, kalau tidak saya sunatt ulang burung bapak," ancamnya dengan raut ketus yang sayangnya nampak berkebalikan dan begitu konyol.
Mendengus geli, Braja mengangguk mengiyakan ucapan gadisnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mitta pinnochio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pak Braja menakutkan
Pepatah bilang, kalau di tembak seseorang itu rasa senengnya bukan kepalang. Bisa tujuh hari tujuh malam, nyengir lebar tanpa butuh makan. Tapi lain cerita dengan yang di rasakan Ranti sekarang, bukannya senang ia malah tanda tanya besar, kira-kira ada apa gerangan spesies se kaku pak Braja bisa menyatakan cinta?
Wong di ajak bicara saja acuh tak acuh nampak enggan. Ini tidak ada angin tidak ada beldegg tiba-tiba ngajak pacaran, anehh!
Sempat sihh, terbesit dalam otak kecilnya jika pria itu berlaku demikian karena sikap usilnya kerap kali mengaitkannya, tapi apa mungkin? Iya kan lebih berlaku jail bukannya menggoda. Apa jangan-jangan dia ini sedang balas dendam yaa? Tapi kok_
"Huhh ...!"
Menghela nafas gusar, Ranti berguling di atas ranjang mengeratkan selimutnya.
Hujan malam hari memang begitu tepat untuk penghujung waktu. Menjadikan susana terasa asri hingga sesiapapun larut akan nyenyaknya tidur. Ingat saja seharian ini ia harus uring-uringan karena mood nya yang terbilang berantakan. Sudah semalaman tidak tidur, kerja juga tidak karuan, rekannya ngomong apa dia nyautnya kemana?
Seolah belum cukup penat fisik dan juga pikiran. Sosok itu tak lain adalah Braja, tiba-tiba menghubungi dan mengirimkan pesan semacam_
Cepat kemari, makan siang dengan saya, ijin minta pulang duluann. Ohh, ya ampun rasa-rasanya kepalanya ingin pecah saat itu juga.
Beruntung Ranti saat itu tengah bertugas bersama dengan kak Dio di ruang medis, jadi dirinya bisa mangkir tanpa perlu bertemu lagi. Saat pulang pun ia berpura-pura tidur demi menghindari interaksi dengannya.
Biarpun tengil begini, Ranti cukup sadar diri dimana ia berpijak dan siapa Braja. Mereka berdua layaknya bumi dan langit, mustahil untuk bersanding.
Bangkit dari tempat tidur, Ranti melangkah mematut dirinya di depan kaca. Surai bergelombang ia biarkan terurai sambil mengenakan daster macan di bawah lutut, Ranti clingak-clinguk di sela pintu memeriksa keadaan. Sepih dan sunyi, semua orang pasti sudah tidur. Berjalan cepat dan segera turun ke bawah.
Ranti berdiri di belakang rumah tepat di balik dinding.
Cukup sudah, ia uring-uringan seharian ini. Sekarang waktunya untuk serius dan memperjelas apa yang sebenarnya terjadi.
Melakukan panggilan suara kepada si empunya biang masalah, telepon belum sempat terhubung tau-tau sang empunya sudah di belakangnya.
"Astagfirullah!" Ranti memekik kaget.
Pria itu, Braja. Berdiri menjulang tepat di belakangnya.
Memakai kaos putih lengan pendek pas badan, Bisepnya nampak begitu jelas dengan dada bidang yang menggoda. Terlebih surainya yang lebat setengah basah, masih menguar aroma shampo yang begitu pekat.
Seriusan, pak Braja benar-benar menggoda saat ini. Harum dan seksi, Hihihi...
Berkedip lamat, sialnya, Ranti begitu terkesima oleh sosok maskulin di hadapannya. Sampai sebuah sentuhan halus di lengannya seketika membuat ia tersadar kembali.
"Ada apa?" tanyanya datar.
"Huh?"
Gugup, malam-malam berdiri di pojokan begini bersama Pak Braja kok jadi gemetaran ya?
"Ohh, ituu ... Ada yang mau aku bicarakan," ujarnya pelan dengan netra yang mengalihkan pandang.
Braja hanya diam menanti kelanjutan.
Melihat diamnya pria itu, Ranti seolah paham jika sang empunya siap mendengarkan. Lantas ia menarik nafas panjang sambil menunduk, di rasa capek juga jika Ranti harus terus mendongkak karena perbedaan fisik yang signifikan.
"Saya mau bap_"
"Tunggu,"
"Uhh?"
Braja meraih dagu gadis itu untuk balik menatapnya. "Lihat saya kalau sedang bicara, saya tidak suka di acuhkan."
"Apa?" Ranti bendecak kesal, " Ishh, bukan mau saya mengacuhkan, tapi leher saya pegal jika harus berlama-lama mendongkak," ketusnya yang kemudian bibirnya mencebik menunjuk tinggi badan yang berlawanan, sambil merengut tajam.
Kontan Braja langsung tergelak namun tak sampai berekpresi berlebihan. Sejurusnya tanpa aba-aba, ia mengangkat tubuh gadis itu, di dudukannya Ranti yang mungil di beton pembatas yang tingginya hampir se dada gadis itu.
Ehh! Ranti terkesiap.
Braja mendekat, mencondongkan tubuh dan mengurung Ranti dengan kedua lengannya, yang mana hal itu membuatnya tergagap mundur membuat jarak.
"Kamu mau bicara apa?" tanyanya santai sambil menatap iris yang menyorot takut ke arahnya.
Ranti balik menatapnya takut-takut. "Saya mau apa yang terjadi kemarin anggap saja tidak pernah terjadi. Saya tidak mau ada hal pelik yang nantinya akan memberatkan kita ke depannya, terlebih itu untuk Pak Braja sendiri."
"Kenapa begitu?"
"Ya jelas begitu, kan saya sudah bilang kalau rasa suka saya cuma kagum belaka, tidak ada unsur lebih sampai menuntut timbal balik segala. Lagi pula Bapak juga harus sadar, siapa saya dan siapa Bapak?" cicitnya.
Menghembuskan nafas sabar. "Memangnya kenapa dengan kita? Kamu suka saya dan saya balas perasaan kamu itu adalah hal yang wajar. Letak kesalahannya di mana?"
"Ya jelas semuanya salah! Jelas-jelas bapak sudah ada tante biduan, kenapa masih mau dengan saya?"
Ehh, kok jadi bawa-bawa Mbak biduan begini. Wahh, gawat mulut sama pikiran lagi gak sohiban pasti, duhh!
"Ohh jadi kamu cemburu ini ceritanya," sahutnya tersenyum kecil.
Dan sial! Untuk pertama kalinya, ia melihat seorang Braja tersenyum nan tampak begitu nyata, lebih lama dari kedutan bibir yang tempo hari ia dapati.
Ohh, jantung ... sabar sedikit, jangan pecicilan mencak-mencak beginihh!
Ranti menatap sengit. "Mana ada? Gak ada yaa itu namanya cemburu di kamus hidup ku. Sudahh ahh, pokoknya saya serius tidak mau ada apapun di antara kita!"
"Iya, saya serius Ranti. Saya bukan tipikal orang yang suka bercanda."
"Okee, kalau gitu kita fix tidak ada apa-apa yaa?"
"Iya, saya fix benar-benar pacar kamu!" jelasnya lagi sambil menirukan gaya bicara gadis di depannya.
"Apa?"
"Ihh, Bapak jangan ngawur yaa!"
"Saya tidak ngawur, sudah kamu sebaiknya cepat istirahat."
"Tidak mau! Saya mau Pak Braja tarik kata-kata barusan."
"Pantang bagi saya menarik ucapan yang sudah saya katakan."
"Uhhh! Ranti over kesal, ia mendelik sambil memukul-mukul dada bidang pria tersebut. "Kalau begitu rasakan bagaimana punya pacar yang rewel dan juga merepotkan, satu lagi jangan sampai siapapun tau perihal ini, kalau tidak saya sunatt ulang burung bapak," ancamnya dengan raut ketus yang sayangnya nampak berkebalikan dan begitu konyol.
Mendengus geli, Braja mengangguk mengiyakan ucapan gadisnya.
"Saya tunggu kerewelan kamu, dan asal kamu tahu, Biar pun dia," liriknya menatap ke bawah, "Kamu potong ulang, ukurannya dan rasanya pun akan tetap sama," bisiknya dalam.
"Dan satu lagi, dalamnya lautan sampai besarnya badai bisa saya taklukkan apalagi kamu yang hanya segini, tentu lebih dari kata mampu akan saya jabani," tegasnya dengan sorot kelam yang menghunus tepat di netranya yang bergerak asal.
Dan demi apapun, Ranti tak berani berkutik atau sekedar berkedip. Mulutnya seketika terasa kelu dengan desiran hebat di sekujur tubuh.
Braja kemudian menurunkan tubuhnya dan tanpa di duga, tangannya terulur mengusap pinggiran bibirnya lalu mengemutnya tanpa risih. "Sepertinya kamu begitu bersiap untuk bertemu saya," sindirnya sambil menunjuk jejak merah yang tertinggal di bibir gadis itu.
Ranti yang menyadari itu seketika menutup mulutnya dengan kedua tangan.
Braja lantas kembali tersenyum. "Tidak usah malu dengan pacar sendiri, karena kedepannya kita akan melakukan hal yang lebih."
Melirik jam tangan, Braja kemudian kembali menatap Ranti yang kehilangan kata-kata. "Sudah, cepat istirahat. Jangan sampai telat lagi atau saya sendiri yang akan menjemput mu dari dalam kamar," ucapnya nan kemudian melenggang pergi meninggalkan Ranti yang masih tergugu di tempatnya.
Mengerjap dengan raut linglung, Ranti melangkah gontai ke dalam rumah.
"Mbokkk ... Ranti rasanya mau semaput ini mbokk, pegangin hikss ...!"
Ternyata benar, bicaranya orang yang diam itu lebih menyeramkan dari pada dikejar anakan anakan ayam!
...----------------🍁🍁🍁----------------...
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
hhuuuuaaaaaaa 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
wesss tabok ae Ran....
jan macam² kamu BajaHitam...
s' BajaHitam ini ya...
klo smp rindu beneran ku tabok pake teflon keramat...
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤭🏃🏃
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣