Masuk ke dalam dunia novel seharusnya menjadi impian setiap pembaca. Kecuali jika novel itu adalah "Tears of the Caged Bird"—sebuah kisah dark romance di mana pemeran utamanya adalah Duke sosiopat yang hobi meneror gadis yatim piatu.
Sialnya, itulah nasib Vivienne.
Terbangun sebagai sepupu miskin dari tunangan sang Duke, Vivienne seharusnya hanya menjadi figuran yang diam dan mati muda. Tapi, melihat Freya Lark (si female lead) terus-terusan menangis dan Damian von Hart (si male lead) terus-terusan bertingkah seperti penguntit elit, kesabaran Vivienne habis.
Persetan dengan alur asli!
Jika penulis aslinya ingin drama, Vivienne akan memberinya komedi.
Jika Duke ingin bermain dark romance, Vivienne akan menyiramnya dengan air pel.
"Maaf, Duke. Anda menghalangi jalan saya menuju kebebasan finansial. Tolong minggir, atau saya tagih biaya parkir."
Selamat datang di Hartfield, di mana romansa sudah mati, dan digantikan oleh chaos yang sangat menguntungkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leel K, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perkiraan Cuaca & Persiapan Perang
Langit di atas Hartfield berubah warna menjadi abu-abu gelap yang mengancam. Awan hitam bergulung-gulung tebal, seolah-olah ada raksasa yang sedang memeras tinta cumi-cumi di atmosfer.
Bagi orang normal, ini pertanda akan turun badai. Saatnya menutup jendela, menyalakan perapian, dan minum cokelat panas.
Tapi bagiku, pembaca veteran yang sudah hafal plot novel ini di luar kepala, awan hitam ini bukan sekadar fenomena meteorologi. Ini adalah Kode Merah.
"Sial," gumamku sambil menatap keluar jendela kamarku. "Langitnya sudah mode 'Angst'. Ini pasti waktunya."
Di novel Tears of the Caged Bird, cuaca buruk selalu menjadi plot device untuk satu hal: Momen intim yang dipaksakan.
Aku ingat betul bab ini. Chapter 45 atau 46? Entahlah. Judulnya: 'Hujan dan Gairah di Rumah Kaca'. Sinopsisnya: Hujan deras menjebak Freya di rumah kaca saat sedang merawat bunga. Damian "kebetulan" lewat (padahal sengaja), masuk ke sana, mengunci pintu, dan terjadilah adegan yang oleh penulis disebut "romantis" tapi oleh pengacara modern disebut "pelecehan dan penyekapan ilegal".
"Nggak bisa," kataku tegas, menyambar sisir dari meja rias dan menunjuk bayanganku sendiri di cermin. "Gue nggak bakal ngebiarin Freya kena trauma jilid dua cuma gara-gara Damian lagi pengen main drama rumah tangga."
Aku berbalik dan berlari keluar kamar. Bukan ke arah ruang tamu, tapi ke arah yang jarang dikunjungi oleh tamu terhormat: Gudang Kebersihan di lantai dasar.
Lupakan gaun sutra. Lupakan etiket. Hari ini, aku butuh perlengkapan tempur.
"Nona Vivienne?"
Suara kepala pelayan kebersihan, Bu Martha, terdengar kaget saat melihatku mengobrak-abrik lemari sapu.
"Minggir, Bu. Situasi darurat," jawabku tanpa menoleh. Tanganku sibuk memilah-milah ember. "Saya butuh ember yang paling besar. Yang bisa nampung air seukuran dosa manusia."
"Ember? Untuk apa, Nona? Jika ada kebocoran di kamar tamu, biar saya panggil tukang..."
"Bukan bocor air, Bu. Bocor moral," sahutku asal. "Nah, ini dia!"
Aku menarik sebuah ember seng tua yang penyok di bagian samping. Baunya sedikit apek, bau khas kain pel basah yang belum kering sempurna. Sempurna.
Selanjutnya: Senjata jarak jauh.
Mataku tertumbuk pada gulungan selang air yang tergeletak di pojok.
"Itu nyambung ke keran taman belakang, kan?" tanyaku.
Bu Martha mengangguk bingung. "Iya, Nona. Tapi tekanan airnya agak kuat, biasa dipakai untuk menyemprot lumpur di ban kereta kuda..."
"Bagus. Semakin kuat, semakin sakit. Saya ambil."
Terakhir, dan yang paling penting: Safety Gear.
Aku tidak mau gaun baruku rusak kena air atau lumpur. Aku butuh pelindung. Di tumpukan barang bekas tukang kebun, aku menemukan sebuah benda yang sangat... mencolok.
Jas hujan.
Tapi bukan jas hujan transparan yang estetik. Ini adalah jas hujan karet tebal berwarna Kuning Kenari Neon. Warnanya begitu norak sampai-sampai mataku sakit melihatnya. Mungkin ini dulu dipakai petugas jalan raya kekaisaran biar nggak ketabrak kuda.
Aku memungutnya. Karetnya tebal dan berat.
"Nona, Anda tidak serius akan memakai itu..." Bu Martha terlihat seperti mau pingsan. "Itu milik Pak Kebun lama. Sudah berdebu dan... warnanya..."
"Warnanya sempurna, Bu. Ini namanya 'Kuning Peringatan'. Biar musuh tahu kalau bahaya sedang mendekat."
Aku memakai jas hujan kedodoran itu di atas gaunku. Lengannya kepanjangan, jadi kulipat asal. Aku terlihat seperti Minion raksasa yang mengalami depresi.
Aku bercermin di kaca jendela gudang yang buram.
Di tangan kanan: Ember seng penyok. Di tangan kiri: Sikat lantai gagang panjang untuk jaga-jaga kalau perlu pertarungan jarak dekat. Di badan: Jas hujan kuning norak. Di wajah: Masker kain bekas biar dramatis dan misterius.
Aku menghela napas panjang, menatap pantulan diriku yang absurd.
"Di novel lain," gumamku pada diri sendiri, "protagonis wanita yang mau nyelamatin orang itu bawa pedang suci, atau tongkat sihir, atau minimal racun mematikan."
Aku mengangkat emberku tinggi-tinggi.
"Gue? Gue bawa ember bekas cucian pel."
Tapi tak apa. Pedang mungkin bisa melukai fisik, tapi dipermalukan oleh wanita gila berbaju kuning yang menyiram air pel? Itu melukai harga diri. Dan bagi Duke Damian von Hart yang sombong itu, harga diri adalah titik lemah utamanya.
Duar!
Suara petir menggelegar di luar, diikuti suara rintik hujan yang mulai turun deras.
Waktu habis.
"Operasi Anti-Hama dimulai," bisikku.
Aku menendang pintu belakang gudang hingga terbuka, lalu berlari menerobos hujan menuju rumah kaca yang berkilauan di kejauhan. Langkahku berat karena lumpur, tapi tekadku sekeras batu.
Tunggu aku, Freya. Bantuan logistik datang.