Elena
"Pria itu unik. Suka menyalahkan tapi menerima saat disalahkan."
Elena menemukan sosok pria pingsan dan membawanya pulang ke rumah. Salahkah dia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Emma Shu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
27. Kemana Salva
Matahari telah turun. Sudah hampir senja. Elena berjalan menyusuri jalan setapak yang kiri kanannya ditumbuhi rerumputan. Isi gerobak sudah kosong. Senyuman menghias wajah mengingat para pembeli yang datang silih berganti hingga membuat sotonya ludes. Ia mendorong pintu reot setelah mengonggokkan gerobak di samping rumah. Sepi. Tidak ada orang.
Bukannya Salva sedang sakit, kemana dia pergi? Sudah beberapa hari Salva demam tak kunjung sembuh. Bocah cilik itu tidak bersekolah karena suhu tubuhnya semakin tinggi. Revan yang mengurusinya sejak pagi. Elena menolak keras saat Revan menawarkan diri agar dia saja yang berjualan soto. Elena tidak ingin Revan mengambil alih seluruh pekerjaannya. Lagi pula, Elena percaya Revan bisa dipercaya untuk mengurusi adiknya.
Sekilas ia melirik coretan merah di langit Barat melalui jendela. Indah mengukir senja. Sudah senja begini apakah mungkin Revan membawa Salva keluar? Pikir Elena bertanya-tanya.
“Elena!” panggil Revan mengejutkan Elena dari arah belakang. Lelaki itu masuk dan mendekati Elena yang sedang mengelap meja kecil yang tingginya satu jengkal.
Elena menoleh. “Salva mana?”
“Salva gue bawa ke klinik,” jawab Revan.
“Apa? Ke klinik?” kejut Elena cemas. Langsung berdiri dan menatap Revan gusar. Urat-urat wajahnya menegang. “Apa yang terjadi dengannya?”
“Suhu tubuh Salva semakin panas. Gue lariin dia ke klinik terdekat.”
“Kita ke sana.” Elena bergegas keluar dengan langkah tergesa-gesa. Kemudian menoleh, ia berbalik lagi ketika melihat Revan diam terpaku.
Belum sempat Revan menerangkan lebih lanjut, Elena sudah berlalu pergi.
Elena menarik tangan Revan sambil berseru, “Ayo!”
Revan menurut.
***
Elena dan Revan sudah sampai di klinik. Sebenarnya Elena tidak suka menginjakkan kaki di sana. Klinik itu mengingatkannya pada kepergian Dava, yang diusir oleh bidan gendut, juga oleh Bu Diana.
Elena dan Revan memasuki kamar dimana Salva tengah dirawat. Bidan berjilbab yang tengah duduk di tepi ranjang tersenyum menyapa. Bidan yang tempo hari pernah memberikan obat secara cuma-cuma kepada Elena. Ia tengah menyuapi bubur hangat ke mulut Salva.
“Hai… kamu Elena, kan? Kakaknya Salva?” bidan itu menyambut hangat.
“Ya,” jawab Elena menghambur memeluk adiknya.
“Salva baru aja bercerita tentangmu,” terang bidan itu.
“Gimana keadaan Salva?” Elena beberapa kali menyentuh kening Salva. Merangkulnya. Lalu mengecup keningnya. Panas tinggi adalah salah satu penyebab kematian Dava. Jangan sampai kejadian itu terulang pada Salva.
“Salva demam. Dia tadi juga sempat muntah-muntah. Dia amandel. Sudah sangat besar dan infeksi. Saya sarankan untuk segera dioperasi.”
Elena terbelalak kaget. Selalu sakit yang menjadi kabar buruk di setiap kebahagiaannya. Kenapa Tuhan selalu memberi penyakit? Kenapa? Hati Elena kebas.
“Apa selama ini Salva nggak ngerasain sakit di tenggorokan? Kenapa bisa sampai parah begitu?” Elena cemas sembari menatap wajah Salva lekat-lekat.
“Tenggorokan Salva memang selalu sakit,” sahut Salva lemas. “Salva tau itu pasti penyakit. Tapi Salva nggak tau sakit apa namanya. Salva nggak mau ngomong sama kakak. Salva nggak mau kakak kerepotan ngurusin penyakit Salva. Jadi Salva biarin aja.” Polos ia bercerita.
To be continued
Author Note : Nggak bosen aku katakan ini, jangan lupa baca karyaku berjudul PCARKU DOSEN, kalian bakalan ketawa ngakak, baper, dan menemukan banyak pengalaman di sana. Itu cerita yang paling kuandalkan dan menguras energy banget.
So, jangan sampe ketinggalan baca.
Love,
Emma Shu
kan revan hampir dirampok crita'a