Hari itu dimana aku salah memilih dan bersikeras walau orang tua ku melarang dan memperingatkan atas apa yang ku pilih.
aku hidup dengan status baru sebagai seorang istri, dimana aku harus selalu berusaha menutupi apa yang ku rasakan.
Hingga dimana hidup ku bagai di ujung jurang neraka yang menjelma di dalam bumi,
rasa ingin mengakhiri waktu untuk diriku sendiri.
sayang Tuhan masih baik mengirimkan perantara untuk hidup ku.
hari hari ku masih dengan segala pertanyaan hingga ayah ku datang ke rumah ku dengan seribu misteri jawaban.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ganendra Badrika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kegaduhan di Pengadilan
Selama persidangan mata Mariam terus memicing ke arah bunga, masih belum menerima walau sudah di jelaskan oleh anak anak nya yang lain, kuasa hukum yang di kirimkan oleh keluarga chandra lewat tante mereka sudah memasang wajah lesu.
Duduk di dampingi salah satu keluarga tergugat, kuasa hukum ingin rasa nya menyerah bukan karena lawan nya memiliki kuasa hukum yang kuat dan ada di lingkungan hebat, tapi karena memang tidak akan memiliki titik untuk membela sedikit pun "sulit rasa nya membela yang bisa membela anak itu hanya uang bang, gimana ini ?"
Bisikkan halus ke sang paman yang mereka percaya pasti bisa membantu chandra bebas dari segala tuntutan yang di lemparkan, David pun langsung melirik istri nya duduk tidak jauh dari mereka memberi kabar lewat telepati mata dan bahu.
Wajah lesu keluarga chandra tampak kentara mengerti dengan yang di sampaikan, Mariam berdiri ketika jaksa meminta dari pihak masing masing keluarga menjelaskan dalam mediasi singkat, jantung arma berngindik ngeri takut sang ibu salah bicara akan menjadi panjang masalah yang ada.
"Saya Mariam ibu dari chandra saya keberatan jika semua di tangguhkan menjadi salah anak saya, tidak ada orang melakukan kejahatan kalau tidak ada peluang di berikan, mungkin saja anak saya di jebak oleh perempuan itu. Tidak mungkin memberi uang cuma cuma kalau tidak ada maksud dan tujuan nya saya rasa tidak adil jika hanya mempercayai bukti yang di berikan mereka saja"
"Maaf saya menyela, Apa ibu memiliki bukti untuk membela nya?" kali ini Robert kuasa hukum dari pihak bunga angkat bicara setelah beberapa pertanyaan di layangkan dengan jawaban secukupnya untuk mengurangi hukuman yang akan di berikan, yang jelas Rinto kuasa hukum untuk chandra mengerti sejak awal bertemu di luar ruang sidang.
"Saya mengerti anak saya bapak pengacara terhormat, memang kalian dari keluarga memiliki apapun dan kalian bisa lakukan apa aja termasuk bukti palsu yang kalian buat, selama ini anak saya selalu mengirim foto-foto ketika bekerja dan kegiatan apapun, hasil dari kerja pun saya selalu di beri tahu lewat foto"
Mariam dengan senang dan semangat bisa berbicara seperti itu pikir nya itu bisa menjadi bukti pembelaan untuk anak nya, tapi di lain hati ada Arma dan adik adik nya tampak gelisah karena tau selama ini adik nya sudah membohongi sang ibu yang tinggal di kampung.
Dia langsung memberikan semua bukti foto ya g sudah di print dalam bentuk kerja, sayang hal itu tidak bisa di cegah oleh siapapun bukti palsu yang di kirimkan anak ke mariam malah menjadi tambahan lubang bumerang diri nya sendiri.
Hasil bukti yang di berikan Mariam di cocokkan dengan bukti yang pihak bunga berikan, ruangan mendadak hening, Jaksa juga hakim langsung memberi instruksi untuk jeda waktu beristirahat sambil mengecek ke valid bukti yang baru di berikan.
Semua keluar dari ruang sidang mata Mariam masih mendendam ke arah gadis itu, rasa ingin menikam dan memakan daging nya begitu saja, Mariam di bawa keluarga dan pengacara nya pun ikut serta "Waduh Bu kenapa ibu susah di kasih tau, saya tahan tahan supaya ngak panjang, ini ibu kok malah sembrono nambahin kerjaan saya" Rinto meluapkan segala isi kepala nya yang di tahan sejak dari dalam ruang sidang.
"Apa masuk nya, saya cuma membela anak saya" nada mariam meninggi karena yang dia tau Rinto hanya orang yang bekerja dan mendapat uang dari adik nya.
"Sebelum saya masuk keruang sidang saya sudah berbicara dengan Robert kuasa hukum gadis itu, dia banyak memberitahu kan saya, untuk mengalah tidak berdebat apapun tapi ibu malah mengacau, makin panjang nanti, keluarga gadis itu memiliki bukti yang akurat bukan palsu, malah bukti yang kau berikan ke mereka itu palsu semua"
Memang susah memberitahu mariam apapun cara nya sudah di beritahu tetap tidak menerima nya, ibu mana yang terima anak nya menderita, seperti itu mungkin hati nya Mariam.
"Mak udah saya bilang tadi tolong jangan memperkeruh malah semakin besar nanti, keluarga kita yang harus nya meminta maaf ke mereka, setelah chandra nanti kristi Mak, apa mamak tau anak Kristi di rawat dengan baik oleh keluarga mereka?"
"Betul itu mak, kristi pun terlibat sama hal nya dengan chandra tapi gadis itu kasian liat nia, nia jauh lebih baik sekarang di banding dalam asuhan anak kesayangan mamak" Fara yang sudah jengkel dengan tingkah nenek tua yang so pintar membela anak nya.
"Kalau ibu bersikeras percaya dengan ucapan saya ini, kalian akan di minta ganti rugi berupa barang dan uang yang sudah pernah di pakai, hilang dan rusak. jangan semakin mempersulit anak anak mu, apa kau bisa menggantikan nya kalau bisa silahkan saya akan membantu dalam membela nya"
"Halah ganti ya ganti kenapa harus sampai pengadilan segala orang kaya ribet banget" dengan angkuh nya Mariam masih mempertahankan egois nya yang masih merasa segala nya karena bantuan adik nya.
"Baik kalau begitu segera pikirkan sumber dana tersebut sebesar sepuluh miliar sebagai ganti rugi segala hal yang dari kegaduhan yang anak anak ibu lakukan"
Tubuh Mariam tampak tegang setelah mendengar angka yang di sebut kan Rinto mata nya melirik ke arah adik ipar nya lasmaria hanya bahu terangkat sebagai jawaban nya.
"Aku pikir memang ponakan ku ngak salah ka, tapi kalo seperti ini aku sendiri pun berat untuk membela nya apa lagi harus mengeluarkan uang untuk ganti rugi, ku rasa ya biarkan saja dia di dalam lapas itu kau pun tidak memberi cerita yang sesungguhnya pada ku, kalau aku tau seperti ini mungkin saja Rinto tidak akan ku minta ada disini"
Entah harus berbuat apa lagi tapi kali ini memang hati nya sulit untuk di mengalah demi anak anak. "harus ku beri pelajaran perempuan itu memeras keluarga ku seperti itu"
Mariam meninggalkan anggota keluarga nya entah pergi kemana yang lain pun malas mengejarnya karena percuma akan bersih keras dengan pikiran pendek nya hanya mau di mengerti sendiri.
Di tengah bunga dan yang lain lagi asyik duduk menikmati minuman dan mengobrol santai, syok yang tiba tiba di tarik baju nya sampai mau terjatuh ya tak jauh Mariam lah pelaku nya mata yang lain tampak begitu hentak dengan tingkah wanita tua itu.
"Apa mau mu tante? Kami tidak menganggu kalian dan membuat kerugian apapun kenapa kau datang dengan penuh dendam ke saya ?" gadis itu langsung berdiri tegak menatap nya suara berat menahan kesal.
Tiga yang lain ingin melindungi nya tapi di tahan tangan yang langsung memberi instruksi untuk mundur "Biar aku sendiri yang menghadapi nya seperti nya beliau ingin melampiaskan amarah nya"
Mariam langsung memberi tamparan kiri kanan ke wajah gadis itu, bukan membalas tapi tersenyum "sudah puas? Apa yang kau lakukan akan mendapat harga yang pantas untuk hidup mu sendiri, sudah tua bukan nya lebih baik malah semakin buruk" bunga seperti membaca latar belakang hidup Mariam.
"Apa maksud kau berkata seperti itu? Kurang puas kau memeras anak anak ku, sekarang kau berkata tidak pantas" semakin berapi api hati mariam tidak ada yang bisa membela nya.
"Aku memeras anak anak mu? Bukan kah kau merasakan juga hasil dari perlakuan anak mu? Kau tak jauh beda dengan mereka, seperti binatang tua yang tidak sanggup mencari makanan sendiri"
Tamparan kembali di berikan mariam, sekarang banyak mata yang menonton ke arah mereka "pukul lah terus selama kau kuat setelah ini akan ku pastikan kau sama seperti anak anak mu binatang tua" tidak lama keluarga Mariam datang berlari kecil supaya cepat sampai ke tempat mariam berdiri, Mariam terus membabi buta menjambak bunga, tidak ada perlawanan dari gadis itu.
"Bang Arma lihat lah ibu mu, apa kalian tidak memberitahu apa yang sudah terjadi dengan anak nya?" Arma berdiri kaku merasa malu nama nya di sebut di tengah kegaduhan itu.
"Diam kau perempuan jalang anak ku yang mana lagi akan kau peras dengan kasus kasus yang kau karang?"
Gadis itu tersenyum sinis menanggapi nya "saya malas berdebat dengan orang yang tidak memiliki otak walau sedikit, lalu kau tak malu di lihat oleh banyak orang karena perlakukan tolol mu itu?"
Tampak besan dari Mariam bersama menantu nya berdiri tidak jauh dari tempat nya berdiri pandangan nya seakan meminta bantuan untuk di bela "lihat lah besan ini yang membuat anak cucu kita susah"
Waliyah tersenyum dan berjalan menghampiri nya "Kau salah besan, tidak ada dari mereka yang membuat anak cucu ku susah, malah anak anak mu lah yang membuat mereka sengsara" kalimat sederhana yang di ucapkan begitu menohok tidak ada yang membela nya sedikit pun semua berpihak ke bunga.
"Vandy ....... Bawa perempuan tua ini buat laporan atas kekerasan kepada ku dan aku tidak akan membebaskan dia atau anak anak nya" bunga menatap vandy lekat dan beralih dengan tatapan mengitar ke keluarga mariam
"Kau benar benar perempuan jalang berani nya kau kepada ku" Mariam mengancam tanpa dasar membuat gadis itu terkekeh "sayang sekali kau salah menilai ku dan kau berlaku kasar pada ku, aku sangat tidak menyukai nya, jangan harap aku akan membebaskan kalian dari hukuman dan kau akan mati di dalam penjara"
Lasmaria yang melihat kesungguhan dari gadis itu menghampiri nya mengusap punggung nya emosi nya sudah di ujung sadar memang yang bersalah kakak ipar nya, "Sudah jaga emosi nya tidak baik untuk kesehatan mu, saya tau banyak tentang mu"
"Apa kau mau membela juga ? Silakan saja sekarang siapapun yang berusaha membela mereka akan ku pastikan akan menderita sama seperti mereka" mata nya lekat menatap lasmaria juga kuasa hukum yang di bawa nya semakin ngerti rinto berasa di tengah mereka dan tidak ada yang bisa di bela dari kasus sini kalau berdiri di tengah keluarga chandra.
Gadis itu menahan segala emosi yang akan mendatangkan petaka untuk mereka, andai mariam tidak kasar dengan nya, mungkin bukti yang di berikan bisa di jadikan kasus untuk Chandra seorang tapi kali ini berubah semua sudah terjadi bayaran mahal telah mereka terima.