NovelToon NovelToon
MENIKAHI MUSUH BEBUYUTAN

MENIKAHI MUSUH BEBUYUTAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Romansa Fantasi / Bad Boy
Popularitas:752
Nilai: 5
Nama Author: yurisii

Alena dan Elio adalah musuh bebuyutan di sekolah. Setiap hari mereka tak pernah akur dan selalu saling adu mulut. Namun, hidup mereka berubah ketika kedua kakek mereka mengumumkan bahwa mereka telah dijodohkan sejak kecil.
Menolak bukanlah pilihan. Kini, mereka harus menjalani hari-hari sebagai calon pasangan, meski saling membenci.
Akankah kebencian itu berubah menjadi cinta? Atau perjodohan ini justru membuat mereka semakin menjauh?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yurisii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5

Satu bulan telah berlalu sejak kesepakatan satu tahun itu dimulai. Bagi Alena dan Elio, waktu itu terasa berjalan sangat cepat namun juga membawa banyak perubahan tak terduga. Awalnya mereka mengira akan terus hidup dalam perselisihan dan kebencian seperti biasa, namun kenyataannya justru sebaliknya. Setiap pagi yang dijemput, perjalanan pulang yang sunyi, pertengkaran ringan yang berubah menjadi candaan, hingga kejadian tak terduga seperti ciuman di lampu merah itu—semua perlahan melunakkan hati mereka masing-masing. Meskipun masih sering saling ejek, namun nada bicara dan tatapan mata mereka sudah tidak lagi sama seperti dulu.

Kini, sebuah rencana telah disepakati oleh kedua keluarga: mengadakan piknik bersama di sebuah puncak perbukitan yang terkenal dengan pemandangannya yang menakjubkan dan udaranya yang sejuk. Bagi kedua kakek, ini adalah kesempatan emas untuk semakin mendekatkan hati kedua cucu mereka.

Pagi itu, jam baru menunjukkan pukul enam pagi ketika Elio sudah tiba di depan rumah Alena seperti biasa. Namun kali ini, tidak ada lagi nada protes atau tatapan kesal yang keluar dari Alena. Ia keluar dengan mengenakan pakaian santai berwarna krem dan celana panjang yang nyaman, lengkap dengan topi dan sepatu gunung. Wajahnya terlihat segar dan sedikit bersemangat.

“Kamu datang lebih pagi dari biasanya,” ujar Alena sambil meletakkan tas ranselnya di kursi belakang mobil.

Elio tersenyum tipis, membukakan pintu penumpang untuk gadis itu. “Kita harus berangkat lebih awal agar sampai di sana sebelum matahari terlalu tinggi. Perjalanannya memakan waktu sekitar dua jam, lho.”

Begitu mereka duduk dan mobil mulai melaju, suasana di dalam kendaraan terasa sangat berbeda dari satu bulan yang lalu. Tidak ada keheningan kaku, tidak ada ejekan yang menusuk, melainkan obrolan ringan yang mengalir alami. Mereka membicarakan pelajaran sekolah, teman-teman sekelas, hingga hal-hal sepele yang membuat mereka tertawa kecil.

“Kamu tahu tidak, tadi malam Kakek bercerita banyak tentang masa mudanya bersama Kakek Baskara,” kata Alena sambil menatap ke arah jalan yang mulai menanjak. “Ternyata mereka sering melakukan perjalanan seperti ini, menjelajahi hutan dan mendaki bukit bersama.”

Elio mengangguk sambil tetap fokus mengemudi. “Kakekku juga bercerita hal yang sama. Dulu mereka berjanji bahwa jika salah satu memiliki cucu laki-laki dan satunya perempuan, mereka akan menjodohkan agar persahabatan itu terus terjaga. Awalnya aku menganggap itu janji konyol, tapi sekarang… rasanya tidak seburuk yang kubayangkan.”

Ucapan itu membuat Alena menoleh, matanya sedikit melebar. Jantungnya berdegup sedikit lebih kencang, namun ia berusaha menyembunyikan perasaannya dengan berpura-pura melihat ke luar jendela. “Aku juga awalnya mengira ini bencana terbesar dalam hidupku. Tapi entah kenapa, satu bulan ini terasa berjalan dengan baik-baik saja.”

Mereka berdua saling melirik sekilas, lalu tersenyum malu-malu, menyadari bahwa perasaan mereka perlahan mulai bergerak ke arah yang sama tanpa perlu mengucapkannya secara gamblang.

Setelah dua jam perjalanan yang menyenangkan, mobil Elio akhirnya sampai di tempat tujuan. Begitu keluar dari kendaraan, Alena langsung tertegun dan matanya terbelalak takjub.

Di hadapannya terbentang pemandangan yang luar biasa indah. Dari ketinggian itu, mereka bisa melihat hamparan lembah yang hijau membentang luas, dipenuhi pohon-pohon rindang dan aliran sungai kecil yang berkilau terkena sinar matahari pagi. Di kejauhan, deretan gunung terlihat samar terbalut kabut tipis, sementara udara yang dihirup terasa sangat sejuk, segar, dan bersih, jauh berbeda dari udara kota yang penuh debu.

“Wah… indah sekali,” gumam Alena pelan, matanya tidak berkedip menikmati pemandangan itu.

Elio berdiri di sampingnya, ikut memandang ke sekeliling sambil tersenyum melihat reaksi gadis itu. “Kubilang kan, tempat ini memang terkenal indah. Kalau kamu suka, kita bisa sering-sering datang ke sini nanti.”

Alena menoleh dengan wajah berseri, lalu segera mengangguk antusias. “Pasti! Rasanya lelah di sekolah seketika hilang melihat pemandangan seperti ini.”

Tak lama kemudian, kedua kakek dan orang tua mereka pun tiba dengan kendaraan terpisah. Setelah saling menyapa dan menyiapkan tempat, tugas pertama yang harus dilakukan adalah mendirikan tenda untuk tempat beristirahat nanti.

“Nah, kalian berdua yang bertugas mendirikan tenda utama ini ya. Kami akan menyiapkan peralatan masak dan makanan,” perintah Kakek Wijaya dengan nada santai, seolah sudah merencanakan hal ini dari awal.

Alena dan Elio saling pandang, lalu mengangkat bahu pasrah. “Baiklah, Kek. Kami kerjakan,” jawab Elio sambil mengambil kantong berisi rangka dan kain tenda.

Awalnya, mereka sempat bingung dan sedikit berantakan. Alena berusaha membaca petunjuk pemasangan, namun tulisannya terlalu kecil dan rumit. Elio mencoba menyusun rangka, tapi beberapa kali terbalik arah.

“Kamu ini salah pasang tiangnya, Elio! Kalau begini nanti tendanya miring,” tegur Alena sambil menunjuk ke arah rangka yang belum rapi.

“Kalau kamu tahu cara yang benar, coba saja kerjakan sendiri! Tanganmu yang halus itu pasti lebih pandai daripada tanganku yang kasar ini,” balas Elio sambil menyandarkan tangan di pinggang, namun nada bicaranya justru terdengar seperti bercanda.

Alena mendengus kesal, lalu mendekat dan membantu memasangkan ikatan kainnya. “Ayo bekerja sama saja, jangan banyak bicara. Kalau lama-lama, nanti matahari sudah terik.”

Mereka pun bekerja bersama-sama. Kadang tangan mereka bersentuhan secara tidak sengaja, membuat keduanya tertegun sejenak sebelum melanjutkan pekerjaan dengan wajah sedikit memerah. Namun, kerja sama itu berjalan lancar. Dalam waktu kurang dari satu jam, tenda sudah berdiri kokoh dan rapi.

“Bagus juga hasilnya,” puji Elio sambil mengusap keringat di dahinya. “Ternyata kalau kita bekerja sama, tidak seburuk yang kubayangkan.”

Alena tersenyum bangga, lalu menyodorkan sebotol air minum. “Itu karena aku yang mengarahkanmu, kalau tidak bisa jadi rumah miring ini.”

Setelah tenda selesai, Kakek Baskara menyampaikan tugas berikutnya. “Sekarang, kalian berdua cari kayu bakar yang cukup kering di sekitar hutan di belakang sini. Kita butuh untuk menyalakan api nanti saat memasak dan saat malam tiba.”

Mendengar perintah itu, Alena sedikit ragu. “Di hutan? Apakah aman, Kek?”

“Tenang saja, jalannya sudah sering dilalui orang. Jangan pergi terlalu jauh, tetap saling berpegangan atau terlihat satu sama lain. Elio, jaga Alena baik-baik,” pesan Kakek Wijaya dengan nada tegas namun penuh perhatian.

Elio mengangguk mantap, lalu menoleh ke arah Alena. “Ayo, jangan takut. Aku ada di sini.”

Mereka berdua berjalan masuk ke dalam area hutan yang tidak terlalu lebat. Di sana, pohon-pohon besar tumbuh rindang, menciptakan suasana yang sejuk dan teduh. Suara kicauan burung dan gemerisik daun menambah kesan alami yang menenangkan. Alena berjalan mengikuti Elio, sesekali menunduk mencari ranting kayu yang kering dan cukup besar.

“Hati-hati jalannya, ada banyak akar pohon yang menjulur keluar,” peringatkan Elio sambil terus berjalan di depan.

“Iya, aku tahu,” jawab Alena sambil melangkah hati-hati. Namun, saat ia berusaha mengambil sebatang kayu yang agak jauh dari jalur, kakinya tidak sengaja menginjak akar pohon yang licin tertutup lumut. Tubuhnya terhuyung ke samping, lalu jatuh duduk ke tanah dengan suara berdesis.

“Aw!” pekik Alena sambil memegang pergelangan kakinya yang terasa nyeri dan panas.

Elio segera berbalik dan berlari mendekat dengan wajah panik. “Alena! Kamu tidak apa-apa? Lihat kakimu!”

Alena mengerutkan dahi menahan rasa sakit, wajahnya memucat sedikit. “Kaki… pergelangan kakiku terasa sangat sakit. Sepertinya terkilir.”

Elio segera berjongkok dan memeriksa bagian pergelangan kaki itu dengan hati-hati. Ia menyentuhnya perlahan, dan melihat area itu mulai sedikit bengkak. “Benar, terkilir. Kamu tidak bisa berjalan lagi kalau dipaksakan.”

“Bagaimana caranya kembali ke tempat berkumpul? Jaraknya cukup jauh,” tanya Alena dengan nada cemas, mencoba menggerakkan kakinya namun justru menimbulkan rasa sakit yang lebih tajam.

Tanpa berpikir panjang, Elio berdiri lalu membalikkan badannya ke arah Alena sambil membungkuk sedikit. “Ayo naiklah ke punggungku. Aku akan menggendongmu kembali.”

Alena terkejut mendengar tawaran itu. “Tidak perlu! Kamu bisa memanggil yang lain saja, aku tidak mau merepotkanmu.”

“Kalau aku memanggil, butuh waktu lebih lama dan kakimu bisa makin bengkak. Ayo, jangan membuang waktu lagi,” desak Elio dengan nada tegas namun lembut.

Melihat ketegasan di wajah Elio, Alena akhirnya mengangguk ragu. Dengan bantuan laki-laki itu, ia berusaha naik ke punggungnya. Kedua lengannya melingkar di leher Elio, sementara tubuhnya menempel rapat di punggung yang terasa kokoh dan hangat.

“Pegang erat-erat ya,” pesan Elio, lalu berdiri perlahan dengan mengangkat beban tubuh Alena dengan mudah.

Perjalanan pulang terasa lebih lambat dan hati-hati. Elio melangkah dengan langkah yang mantap namun berhati-hati agar tidak terjatuh atau membuat Alena merasa sakit. Di punggungnya, Alena merasakan detak jantung Elio yang teratur dan tenang, sementara aroma tubuhnya yang segar bercampur bau hutan membuat hatinya terasa sangat aman dan nyaman. Rasa sakit di kakinya seolah berkurang seketika, digantikan oleh rasa hangat yang menjalar ke seluruh tubuhnya.

“Berat tidak?” tanya Alena pelan, suaranya terdengar lembut di telinga Elio.

Elio tersenyum tipis, lalu menjawab dengan nada santai. “Tidak sama sekali. Kamu ini ringan saja, seperti membawa sekantong beras ukuran kecil.”

“Wah, berani sekali kamu membandingkanku dengan beras!” protes Alena sambil mencubit lembut bahu Elio, membuat laki-laki itu tertawa kecil.

“Baiklah, baiklah. Maksudku kamu ringan dan mudah dibawa. Tidak perlu khawatir, sebentar lagi sampai.”

Mereka melanjutkan perjalanan dalam keheningan yang terasa nyaman. Alena menyandarkan kepalanya perlahan di bahu Elio, merasakan kehangatan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Ia sadar, musuh bebuyutan yang selama ini ia benci ternyata bisa menjadi sosok yang sangat melindungi dan membuatnya merasa tenang.

Sesampainya kembali di area piknik, kedua keluarga langsung terkejut melihat kondisi Alena yang digendong oleh Elio. Mereka segera mendekat dengan wajah cemas.

“Ya ampun, ada apa ini? Kenapa terkilir?” tanya Kakek Wijaya sambil segera memeriksa kaki cucunya.

“Dia tergelincir di hutan dan pergelangan kakinya terkilir. Tidak terlalu parah, tapi tidak bisa dipakai berjalan dulu,” jelas Elio sambil menurunkan Alena dengan hati-hati di atas tikar yang sudah disiapkan.

Orang tua Alena segera mengoleskan minyak hangat dan membalut pergelangan kakinya dengan lembut. Selama proses itu, Elio duduk di sampingnya, terus menatap wajah Alena seolah ingin memastikan gadis itu tidak merasakan sakit yang berlebihan.

“Terima kasih ya, Elio. Kalau tidak ada kamu, pasti aku masih kesulitan di sana,” ujar Alena dengan tatapan tulus, matanya menatap lurus ke mata Elio.

Elio tersenyum lembut, senyum yang tulus dan penuh perhatian. “Tidak perlu berterima kasih. Itu sudah tugasku menjagamu, kan? Lagipula, kita kan sudah terikat janji.”

Mendengar kata-kata itu, hati Alena terasa meleleh. Di hadapan mereka, kedua kakek saling bertukar pandang dan tersenyum penuh makna, melihat bagaimana hubungan kedua cucu mereka telah berubah secara perlahan namun pasti.

Sore harinya, saat matahari mulai terbenam dan langit berubah menjadi oranye keemasan, suasana menjadi semakin hangat. Api unggun sudah menyala, menerangi wajah mereka semua. Alena duduk bersandar di batang pohon, kakinya disangga dengan bantal, sementara Elio duduk tepat di sebelahnya, sesekali menawarkan air atau makanan ringan.

Mereka menyadari, satu bulan ini bukan hanya tentang menjalani kesepakatan, melainkan tentang menemukan sisi baru satu sama lain yang selama ini tersembunyi. Di tengah keindahan alam dan kehangatan kebersamaan ini, benih cinta yang perlahan tumbuh itu kini mulai terlihat jelas, meskipun keduanya masih berusaha menyembunyikannya di balik senyum dan candaan ringan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!