"Tandatangani ini dan pergilah dari rumahku! Anak haram di rahimmu itu bukan darah dagingku!"Devan Mahendra, CEO dingin penguasa bisnis kota, melempar surat cerai tepat di wajah Anya. Terhasut oleh fitnah kejam, Devan mengusir Anya yang sedang hamil tua di tengah badai malam. Anya pergi membawa luka sedalam lautan dan dianggap tewas dalam kecelakaan tragis
Lima tahun berlalu. Devan hidup dalam penyesalan setelah kebenaran terungkap. Namun, dalam sebuah perjamuan bisnis kelas atas, sosok wanita yang sangat mirip dengan mendiang istrinya muncul. Dia bukan lagi Anya yang miskin dan penurut, melainkan Anastasia Wijaya, putri tunggal pewaris takhta keluarga terkaya nomor satu, didampingi sepasang anak kembar yang berwajah sangat mirip dengan Devan
Saat Devan berlutut memohon ampun, Anya hanya tersenyum dingin, "Maaf, Tuan Mahendra. Anda salah orang."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Finus Ina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 30
happy reading guys
------------------------------
Bab 30: Benteng di Balik Pintu Baja
Kegelapan pekat yang menelan lantai VIP Rumah Sakit Pusat Jakarta mendadak terasa begitu menyesakkan dada.
Bau mesiu dari gesekan senjata dan uap hawa dingin fajar yang menembus celah kaca balkon menciptakan atmosfer yang teramat mencekam.
Di dalam ruang pemulihan steril, detak jantung Anastasia Wijaya bergemuruh hebat laksana genderang perang, namun naluri protektifnya sebagai seorang ibu membuat sepasang netra indahnya tetap berkilat tajam.
"Mami... mereka dekat," bisik Alta dengan nada suara yang begitu datar namun sarat akan ketajaman taktis [Punchy list].
Jemari kecil bocah berusia empat tahun itu bergerak cepat di atas layar jam tangan pintarnya, memantau pergerakan visual dari kamera pengawas koridor belakang yang kini menggunakan pemancar daya baterai cadangan.
"Ada lima orang bersenjata laras panjang. Wanita ular itu berada di posisi tengah."
Mendengar laporan taktis dari putra sulungnya, Devan Mahendra memejamkan matanya sejenak, menahan denyut perih yang luar biasa membakar dari jahitan luka perut kirinya.
Dengan satu hentakan nekat yang melanggar seluruh logika medis, pria itu mencabut paksa selang alat pacu jantung mekanis sementara yang menempel di dadanya, menimbulkan bunyi alarm pendek yang berderit halus dalam kegelapan.
"Devan! Apa yang kamu lakukan?! Kamu bisa mati!"
pekik Anastasia tertahan, refleks meredam suaranya agar tidak memicu deteksi musuh di luar, kedua tangannya bergerak cepat menahan pundak tegap mantan suaminya.
Devan mencengkeram kuat pergelangan tangan Anastasia, menatap langsung ke dalam manik mata wanita itu dengan sepasang netra elangnya yang memancarkan pendaran janji seorang ksatria sejati.
"Saya tidak akan mati sebelum memastikan Siska membusuk di bawah lantai ini, Anya... Rian! Berikan saya senjata taktis cadangan di bawah nakas!"
Rian yang berdiri siaga di dekat pintu baja utama sempat ragu sejenak, namun kepatuhan mutlaknya pada sang CEO membuat pria paruh baya itu dengan gemetar menyerahkan sebuah pistol jenis Glock-19 hitam yang sudah terkokang sempurna ke tangan Devan.
Devan menerima senjata tersebut, menegakkan punggungnya bersandar pada dinding kepala ranjang dengan posisi menembak yang presisi mengarah langsung ke pintu masuk.
"Hendra! Rian! Pasang formasi pertahanan silang di balik meja resepsionis dalam!" perintah Devan dengan suara baritonnya yang rendah namun menggelegar tenang penuh wibawa pimpinan tertinggi [Punchy list].
"Jangan biarkan mereka menembakkan peluru pertama ke arah sofa anak-anak."
"Baik, Tuan Besar!"
Hendra dan Rian berbisik serentak, tubuh mereka langsung tiarap di balik barikade meja marmer internal ruangan, mengacungkan laras senjata mereka menembus kegelapan.
------------------------------
Di luar ruangan, di dalam lorong tangga darurat belakang yang pengap, Siska Amalia melangkah dengan napas yang memburu satu-satu.
Seragam narapidana oranye yang ia kenakan kini telah berlumuran noda debu dan darah kering dari petugas jaga yang ia lumpuhkan di lantai bawah.
Sebelah tangan kanannya mencengkeram kuat sebilah senapan serbu otomatis jenis HK-416 dengan jemari yang gemetar hebat akibat kegilaan dendam yang telah merusak seluruh akal sehatnya.
"Cari kamar pemulihan Devan Mahendra!" desis Siska kepada empat tentara bayaran fanatik sisa peninggalan ayahnya di Singapura.
"Bantai siapa pun yang berada di dalam ruangan itu! Anastasia, Devan, bahkan dua anak haram sialan itu... aku ingin mereka semua mati sebelum matahari pagi ini meninggi seumur hidup mereka!"
Siska menarik tuas pengokang senjatanya dengan sentakan kasar.
Kebangkrutan mutlak keluarganya di Swiss, kematian ayahnya di dasar laut Singapura, serta penangkapan Samuel telah mengubah jiwanya menjadi monster haus darah yang tidak lagi memedulikan keselamatan dirinya sendiri.
Ia hanya ingin menyeret seluruh keluarga Anastasia masuk ke dalam neraka bersamanya malam ini.
Komplotan bersenjata itu bergerak maju dalam formasi taktis senyap, menyusuri dinding koridor lantai VIP yang gelap gulita.
Namun, tepat saat kaki pemimpin tentara bayaran di posisi depan hendak menapakkan kakinya di depan belokan pintu ruang ICU utama, Alta yang mengawasi dari dalam kamar kembali menekan satu tombol eksekusi digital terakhir pada jam tangannya.
Bzzz... Klik!
Alta sengaja mengaktifkan sistem penguncian darurat magnetik (magnetic-lock) pada seluruh pintu sekat koridor bagian luar secara serentak.
Brak! Pland!
Dua buah pintu baja pembatas koridor di depan dan belakang posisi pasukan Siska mendadak bergeser menutup otomatis dengan hantaman keras laksana jebakan tikus raksasa yang mengunci ruang gerak mereka di tengah lorong sempit tersebut.
"Sial! Kita terjebak! Pintu bajanya terkunci otomatis!"
raung pemimpin tentara bayaran panik, mencoba menembaki engsel pintu baja dengan rentetan peluru laras panjang, namun timah panas itu hanya memantul liar menabrak dinding semen tanpa hasil.
Siska Amalia tertawa histeris penuh kegilaan di tengah kepungan besi tersebut.
"Kamu mengira pintu jahanam ini bisa menahanku, Anastasia?! Pasang bom tempel plastik (C4) di dinding kaca pembatas sekarang! Hancurkan dindingnya seutuhnya!"
Salah satu tentara bayaran dengan cekatan mengeluarkan sebuah balok peledak taktis kecil dari balik rompi militernya, menempelkannya tepat di atas permukaan dinding kaca tebal yang menghubungkan lorong luar dengan area resepsionis dalam kamar Devan.
------------------------------
Di dalam ruangan, sepasang netra elang Alta seketika melebar sempurna saat melihat indikator visual jam tangannya menampilkan hitung mundur peledak musuh yang tinggal menyisakan waktu lima detik.
"Mami! Tiarap! Mereka menggunakan peledak plastik!"
Anastasia tidak membuang waktu sepeser pun.
Dengan seluruh sisa kekuatan batinnya, ia menjatuhkan tubuhnya di atas karpet tebal, memeluk erat tubuh Arka dan Alta di bawah perlindungan tubuh tegapnya sendiri sebagai tameng hidup.
Di atas ranjang, Devan mengepalkan rahangnya kuat-kuat, meremas pegangan senjatanya menembus kegelapan.
Duuuaaarrr!!!
Ledakan keras berskala kecil namun berdaya hancur tinggi seketika meledak dahsyat membelah keheningan fajar.
Dinding kaca tebal ruang ICU hancur berkeping-keping menjadi jutaan serpihan kristal tajam yang melesat liar ke segala arah, memenuhi seisi ruangan dengan kepulan asap hitam pekat dan debu semen yang menyesakkan napas seutuhnya.
Di balik kepulan asap hitam yang pekat dan pendaran lampu korsleting listrik yang menyambar liar, siluet tubuh Siska Amalia merangsek masuk terlebih dahulu dengan senapan serbu yang memuntahkan rentetan peluru secara membabi buta ke arah meja resepsionis dalam.
Tratatatata! Tratatatata!
"Mati kalian semua! Mati!"
raung Siska histeris di tengah desingan peluru yang merobek dinding dan menghancurkan seluruh peralatan medis di dalam ruangan.
Hendra dan Rian melepaskan tembakan balasan yang sengit dari balik barikade meja marmer, menciptakan baku tembak jarak dekat yang sangat berdarah di tengah kegelapan yang pekat.
Kilatan cahaya dari moncong senjata api menjadi satu-satunya penerang temporer yang mengerikan, menampilkan bayangan-bayangan tubuh yang saling hantam.
Tepat di detik yang paling krusial tersebut, seorang tentara bayaran Siska berhasil melompat menembus asap dari sudut kanan, laras senjatanya membidik lurus ke arah posisi Anastasia dan si kembar yang masih tiarap di lantai bawah sofa.
Devan Mahendra yang menyaksikan bahaya maut mengincar anak istrinya tidak tinggal diam. Dari atas ranjangnya, dengan pergelangan tangan yang gemetar hebat menahan pendaran darah segar yang mulai merembes kembali membasahi perban perutnya, Devan menarik pelatuk Glock-19 miliknya dua kali berturut-turut.
Bang! Bang!
Peluru Devan menghantam telak dada tentara bayaran tersebut hingga pria itu ambruk tewas seketika di atas lantai marmer. Namun, suara letusan senjata Devan seketika mengalihkan pandangan kegilaan Siska Amalia.
Wanita ular itu membalikkan laras senapan HK-416 miliknya secara ekstrem, membidik tepat ke arah dada bidang Devan Mahendra yang terbaring lemah tanpa perlindungan di atas ranjang.
"Devan! Kamu mengkhianatiku demi jalang itu?! Kalau begitu, kita mati bersama malam ini!"
Siska menarik pelatuk senjatanya seutuhnya. Di saat yang sama, Anastasia yang melihat maut mengincar Devan langsung melompat bangkit dari lantai dengan gerakan nekat demi menerjang tubuh Siska, sementara Alta bergerak cepat menekan tombol frekuensi radio darurat di jam tangannya.
Bang!
Satu suara letusan senapan serbu kembali menggema keras memotong seluruh jeritan di dalam ruangan, bertepatan dengan sepasang lampu indikator lift VIP di ujung luar koridor yang mendadak menyala hijau tanda adanya kedatangan pasukan bantuan berskala besar dari Kakek Angga
Bab ini resmi berakhir di titik gantung (cliffhanger) yang teramat menegangkan dan menguras emosi malam itu, meninggalkan misteri besar tentang peluru Siska Amalia berhasil mengenai dada tegap Devan Mahendra atau justru Anastasia yang tertembak demi melindunginya, serta bagaimana nasib akhir dari penyerbuan bunuh diri ini saat fajar menyingsing di Kota Jakarta.
------------------------------
bersambung....