Menjadi sekretaris di KALUMPERRI CORP seharusnya menjadi puncak karier Aulia Putri yang elegan. Namun, realitanya jauh dari ekspektasi. Alih-alih mengurus agenda bisnis bernilai triliunan, pekerjaan Aulia lebih mirip seorang peternak: menggembala Khatyr Ali Fatih, sang CEO super malas!
Khatyr itu jenius, tapi moto hidupnya adalah rebahan. Ia hobi bolos rapat, sembunyi di bawah meja, dan tidur di gudang arsip. Saat dewan direksi mulai gerah dan mengancam posisi Khatyr, sebuah kesepakatan rahasia terjalin. Aulia menjadi "otak" di balik layar, sementara Khatyr menjadi tameng korporatnya.
Di antara kejar-kejaran kocak di lorong kantor dan intrik politik perusahaan, Aulia sadar bahwa di balik kemalasan Khatyr, ada kejeniusan berbahaya yang siap melindungi dirinya. Mampukah Aulia menjinakkan bos ajaib ini, atau justru ia yang ikut terperangkap dalam pesona santainya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Althea Shalmaira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Infiltrasi di Bogor
Gerbang besi hitam berukir naga kembar terbuka perlahan, menyambut kedatangan mobil Maybach hitam yang dikendarai oleh Pak Ujang.
Sorot lampu mobil menerangi jalan setapak berkerikil yang dikelilingi oleh pepohonan pinus tinggi khas pegunungan Bogor.
Di ujung jalan tersebut, berdiri sebuah rumah kolonial megah bergaya Eropa klasik abad ke-19, dengan pilar-pilar putih raksasa yang menopang atap tinggi kediaman utama keluarga besar Fatih.
Aulia Putri menatap keluar jendela kaca mobil yang basah oleh rintik gerimis.
Jantungnya berdetak dengan ritme yang tidak beraturan, jauh lebih cepat daripada saat ia menghadapi dewan komisaris di kantor.
Malam ini, ia tidak sedang membawa berkas audit atau draf analisis keuangan biasa.
Di dalam tas pesta sutra kecil berwarna merah maroon yang senada dengan kebayanya, tersimpan sebuah kandar kilas khusus yang telah dienkripsi dengan sistem Project Slacker milik Khatyr.
Misi mereka malam ini sangat jelas, namun teramat berbahaya, menyelinap ke ruang kerja pribadi Andra Ali Fatih di paviliun barat dan mengunduh data transaksi PT Sinar Sumatra Abadi yang membuktikan aliran dana ilegal dari Aji Naim.
"Aulia," panggilan lembut dengan suara bariton yang hangat membuyarkan lamunan Aulia.
Aulia menoleh dan mendapati Khatyr sedang menatapnya dengan binar mata yang dipenuhi oleh kehangatan dan rasa percaya yang mendalam.
Khatyr mengulurkan tangan kanannya, menggenggam erat telapak tangan Aulia yang terasa dingin dan sedikit gemetar.
"Tarik napas dalam-dalam, Partner," bisik Khatyr lembut, ibu jarinya bergerak perlahan mengusap punggung tangan Aulia untuk menyalurkan ketenangan.
"Kamu terlihat sangat anggun malam ini. Jangan biarkan ketegangan ini merusak kecantikanmu. Ingat, tidak ada yang perlu ditakutkan. Aku akan selalu bersamamu."
Aulia menghela napas panjang, mencoba mengulas senyum tipis yang tulus.
"Aku hanya takut membuat kecerobohan yang bisa mengacaukan rencana ini, Khatyr. Menghadapi ibumu dan Andra di rumah mereka sendiri... tekanannya sangat berbeda dengan di kantor."
"Kamu adalah gembala terbaikku, Aulia. Dan gembala terbaik tidak pernah takut pada domba-domba liar, bahkan jika mereka berkumpul di satu kandang besar," goda Khatyr dengan cengiran jenakanya yang khas, berhasil mencairkan suasana tegang di antara mereka.
Mobil akhirnya berhenti sempurna di depan tangga marmer lobi utama.
Pak Ujang dengan cekatan turun dan membukakan pintu mobil sambil memayungi mereka.
Khatyr turun terlebih dahulu, lalu mengulurkan tangannya yang kokoh untuk membantu Aulia melangkah keluar dengan anggun.
Begitu mereka memasuki lobi utama, kemewahan perjamuan makan malam keluarga besar Fatih langsung menyapa indra penciuman dan penglihatan mereka.
Aroma harum hidangan premium berpadu dengan wangi bunga melati segar yang menghiasi setiap sudut ruangan.
Puluhan anggota keluarga besar Fatih yang semuanya mengenakan pakaian batik sutra dan kebaya mewah tampak berkumpul di ruang perjamuan utama, menyesap sampanye non-alkohol sambil tertawa kecil.
Namun, kehadiran Khatyr yang menggandeng mesra lengan Aulia Putri langsung membuat riuh rendah ruangan tersebut seketika sunyi sesaat.
"Khatyr, Sayang," sebuah suara merdu yang sangat berwibawa memecah keheningan.
Ibu Rahayu Fatih melangkah anggun mendekati mereka dengan kebaya sutra berwarna emas yang sangat megah.
Di belakangnya, menyusul Andra Ali Fatih yang mengenakan kemeja batik tulis hitam-emas.
Senyuman sinis yang khas terukir di wajah tampan Andra, seolah-olah ia sama sekali tidak terpengaruh oleh penonaktifan jabatannya minggu lalu.
"Ibu..." Khatyr melangkah maju, mencium takzim tangan ibunya, diikuti oleh Aulia yang membungkuk sopan dengan senyum profesional yang anggun.
"Selamat malam, Ibu Rahayu," sapa Aulia lembut.
"Selamat malam, Aulia," jawab Ibu Rahayu dengan senyuman hangat yang sarat akan makna persetujuan tersirat.
"Ibu sangat senang kamu bersedia menemani Khatyr malam ini. Putraku yang malas ini biasanya selalu mencari seribu satu alasan untuk bolos dari perjamuan keluarga."
"Tentu saja aku datang, Ibu," sahut Khatyr santai, melirik Andra dengan pandangan dingin.
"Apalagi malam ini ada banyak hal menarik yang ingin kusaksikan di rumah ini."
Andra terkekeh pelan, melangkah maju sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
"Selamat malam, sepupuku yang jenius. Dan... Sekretaris Aulia yang luar biasa berkelas. Aku tidak menyangka asisten pribadi CEO kita ternyata juga sangat gemar menghadiri urusan keluarga besar kami. Apakah ini juga bagian dari 'tugas pendampingan eksekutif'?"
Aulia menatap Andra dengan pandangan mata yang sangat tenang di balik kacamata bacanya.
"Selamat malam, Pak Andra. Sebagai asisten pribadi, tugas saya adalah memastikan kenyamanan dan efisiensi waktu Pak Khatyr di mana saja, termasuk memastikan beliau mendapatkan dukungan moral terbaik dari keluarga besarnya."
Jawaban taktis dan tajam dari Aulia langsung membuat senyuman sinis di wajah Andra sedikit membeku.
Ibu Rahayu yang menyadari ketegangan dingin di antara keponakan dan putranya hanya tersenyum tipis. "Sudahlah. Acara sambutan dan doa bersama akan dimulai sepuluh menit lagi di taman belakang. Mari kita berkumpul di sana."
Tepat pukul delapan malam, perhatian seluruh tamu dan anggota keluarga besar Fatih terfokus sepenuhnya ke arah panggung kecil di taman belakang yang beratap kaca transparan.
Ibu Rahayu berdiri di depan mikrofon, memulai pidato sambutan keluarga tahunan yang biasanya berlangsung selama tiga puluh menit tanpa henti.
Andra tampak berdiri di barisan depan di samping pamannya, Pak Haryo, mendengarkan pidato tersebut dengan patuh.
Khatyr melirik jam tangan platinumnya. 20.02 WIB.
Ia meremas pelan jemari tangan Aulia yang berdiri di sampingnya, lalu memberikan kode kedipan mata yang sangat halus.
Tanpa menimbulkan kecurigaan dari anggota keluarga yang sedang fokus menatap panggung, mereka berdua perlahan-lahan melangkah mundur, menyelinap keluar dari kerumunan taman belakang menuju koridor dalam rumah yang sunyi.
Langkah kaki mereka yang cepat namun sunyi menyusuri lorong panjang yang berlantai kayu jati gelap, menuju ke arah paviliun barat, area pribadi tempat ruang kerja Andra berada.
"Kita hanya memiliki waktu maksimal dua puluh menit sebelum sambutan ibuku selesai dan para tetua mulai mencari keberadaanku, Aulia," bisik Khatyr pelan saat mereka berdiri di depan pintu kayu jati tebal paviliun barat yang terkunci rapat.
Aulia merogoh tas pesta sutra kecilnya, mengeluarkan sebuah alat tipis berbahan titanium yang biasa digunakan untuk membuka kunci manual, sebuah keahlian taktis tambahan yang ia pelajari dari modul keamanan siber di unit manajemen risiko.
"Berikan aku waktu satu menit," bisik Aulia, membungkuk di depan kenop pintu kayu tebal tersebut.
Dengan gerakan tangan yang sangat telaten dan presisi, Aulia memasukkan alat tipis tersebut ke dalam lubang kunci, memutarnya perlahan hingga terdengar bunyi klik yang sangat halus.
Klik.
Pintu terbuka. Khatyr menatap sekretaris galaknya dengan binar mata yang dipenuhi oleh kekaguman luar biasa.
"Luar biasa, Partner. Kamu benar-benar tidak pernah berhenti membuatku takjub."
"Masuk cepat, Khatyr. Jangan buang waktu," desis Aulia pelan sambil mendorong tubuh tegap Khatyr masuk ke dalam ruang kerja Andra yang remang-remang, lalu menutup pintu itu kembali dari dalam.
Ruang kerja pribadi Andra Ali Fatih tampak sangat mewah, didominasi oleh furnitur bergaya gotik modern dan sebuah meja kerja besar dari kayu ek hitam.
Di atas meja tersebut, sebuah komputer layar lebar berspesifikasi tinggi tampak berada dalam mode tidur.
Khatyr segera melangkah cepat menuju meja kerja tersebut.
Ia mengeluarkan laptop terenkripsi militernya dari balik lipatan jas biru gelapnya, lalu menghubungkannya ke port USB komputer Andra menggunakan kabel konektor khusus yang sudah ia siapkan.
"Aulia, jaga pintu luar. Jika kamu mendengar langkah kaki mendekat, ketuk pintu ini tiga kali secara ritmis," perintah Khatyr serius, jemari tangannya yang panjang mulai mengetik dengan kecepatan maksimal di atas papan ketik laptopnya.
"Baik," jawab Aulia, berdiri bersandar di balik pintu kayu jati tebal, menatap lorong luar yang sunyi melalui celah kaca kecil dengan jantung yang berdegup liar.
Di layar laptop Khatyr, proses pembongkaran enkripsi keamanan komputer Andra mulai berjalan dengan baris-baris kode hijau yang bergerak sangat cepat.
Enkripsi Keamanan Divisi Fatih Development... Pembongkaran 15%... 30%...
Waktu merambat dengan sangat menyiksa bagi Aulia.
Setiap detik terasa seperti satu jam. Keringat dingin mulai membasahi dahinya, merusak sedikit riasan wajahnya yang segar. Ia berkali-kali melirik jam tangannya. 20.12 WIB.
"Khatyr... bagaimana perkembangannya?" tanya Aulia cemas dengan suara berbisik yang gemetar.
"Sedikit lagi, Aulia. Andra menggunakan sistem pengaman berlapis tiga. Aku sedang memintas gerbang keamanan firewall-nya yang terakhir," sahut Khatyr tenang namun dahinya tampak berkerut sangat dalam karena konsentrasi penuh.
Pembongkaran 75%... 90%... Sukses.
Mengunduh Basis Data Transaksi PT Sinar Sumatra Abadi... 20%... 45%...
Tiba-tiba, dari celah kaca kecil pintu paviliun, Aulia melihat seberkas bayangan tubuh tinggi melangkah masuk ke dalam koridor paviliun barat dari arah taman belakang.
Langkah kaki yang dibalut sepatu pantofel mahal terdengar mendekat dengan ritme yang cepat dan tidak sabaran.