Bermodal paras cantik dan tubuh yang indah. Gendhis, bukan nama aslinya. Bertahan hidup dengan bekerja sebagai koki di sebuah hotel bintang lima. Namun, sesuatu hal yang tak terduga terjadi padanya, hingga Gendhis bertekad untuk mengambil pekerjaan sampingan sebagai "teman kencan semalam" tamu-tamu VIP hotel Pacifik.
Narendra Arjuna Guinandra, pengusaha di bidang perhotelan dan pariwisata yang terobsesi untuk menyewa jasa Gendhis. Berapa pun budget yang dia keluarkan, dia tidak perduli. Asalkan gadis itu tetap berada dalam genggaman dan menuruti segala perintahnya.
Sebuah fakta terungkap, membuat Narendra terperosok semakin jauh ke dalam dendam dan kebencian atas kejadian yang tidak pernah dilakukan oleh Gendhis. Hingga gadis itu harus berjuang untuk sebuah kepercayaan yang menyakinkan hati seorang Narendra.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Najwa Camelia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pengacara Firdaus
Happy reading..
Di dalam ruangan yang tertutup, tiga orang pria tengah duduk saling berhadapan. Mereka adalah Heru suami Nindy yang duduk tak jauh dari Narendra. Sedangkan Pengacara Firdaus, duduk di sofa single di depan keduanya.
Kedatangan Pengacara Firdaus untuk membacakan wasiat yang dibuat oleh Nindy putri dari Keluarga Guinandra, beberapa bulan yang lalu telah meninggal dunia.
Di depan Pengacara Firdaus, Heru menunjukkan sikap yang sopan, meskipun dia tidak senang jika saudara laki-laki dari istrinya itu juga berada di dalam ruangan yang sama dan juga mendengarkan wasiat dari mendiang istrinya.
Pria bertubuh tegap di usia setengah abad nya itu sudah menjadi Pengacara kepercayaan Keluarga Guinandra.
Di kesempatan kali ini Pengacara Firdaus akan menjelaskan pada kedua pria yang duduk di depannya secara gamblang agar tidak ada lagi kesalahan fahaman atau pun berprasangka buruk padanya tentang surat wasiat yang dipercayakan oleh mendiang Nindy padanya.
Heru berakting di depan Pengacara Firdaus sesempurna mungkin, agar ia terlihat sangat kehilangan mendiang istrinya yang sangat dicintainya
Tak lama kemudian, Pengacara Firdaus mulai membuka map yang ada di atas kertas dengan wajah yang tampak antusias.
"Maaf jika kedatanganku hari ini, mengganggu waktu istirahat dan hari libur kalian berdua. Karena hari ini tepat tiga bulan kepergian Nona Nindy dan beliau menunjuk saya sebagai Pengacaranya sekaligus membacakan surat wasiat yang telah dibuatnya sebelum mendiang Nona Nindy pergi untuk selama-lamanya.
"Santai saja Tuan Firdaus, kami siap kapan saja. Anda membacakan surat wasiat yang dibuat oleh mendiang istrinya saya," Heru berusaha menunjukkan sikap bahwa dirinya sangat kehilangan mendiang istrinya. Dengan berpura-pura berbicara dengan suara bergetar dan mata yang berkaca-kaca.
'Ck! Pandai kali dia berakting di depan Pengacara Firdaus, agar terlihat bahwa dia sangat kehilangan kak Nindy! Dasar bajing4n, tunggu saja aku buka tabiatmu di depan Pengacara Firdaus sebentar lagi!' batin Narendra tetap dengan senyum manisnya.
"Saya langsung saja membacakan surat wasiat nya sekarang, untuk mempersingkat waktu," Pengacara Firdaus memakai kacamata bacanya dan membuka lembaran kertas yang ada dipegang tangannya.
Sedangkan pria yang duduk tak jauh dari Narendra, sudah tidak sabar lagi untuk menunggu Pengacara Firdaus membaca semua is1 surat yang ada di depan matanya.
Rasa penasaran yang tinggi dan juga angan-angan untuk menjadi pewaris tunggal dari mendiang istrinya yang tidak dicintainya. Heru menikahi Nindy hanya sekedar untuk mengejar harta Nindy. Kerjaan Heru setiap harinya hanya bermalas-malasan saja.
Pengacara Firdaus juga membawa beberapa dokumen yang diperlukan untuk diperlihatkan pada Heru dan Narendra.
Sebelum membacakan surat itu, Pengacara Firdaus menghela napas panjang dan membaca basmalah untuk memulai pekerjaannya.
Setelah Pengacara Firdaus menyampaikan bahwa sebelum dia selesai membacakan int1 dari surat wasiat Nindy, dia tidak ingin ada seorang pun yang menyela.
Narendra sedari tadi sudah mengepalkan tangannya, ingin sekali dia menonjok muka pria yang duduk satu sofa dengannya.
'Benar-benar licik, manusia satu ini!' desis Narendra.
"Dengarkan aku baik-baik!" kata Pengacara Firdaus kembali sebelum, ia memulainya.
"Teruntuk suamiku tercinta, maafkan aku sebelumnya. Jika rasa cintaku lebih besar dari rasa cemburuku, tapi maafkan aku juga bila diakhir menjelang ajalku. Aku lebih besar menggunakan logikaku dari pada rasa cintaku yang telah bertahun-tahun bertahta di hatiku. Dan saat Pengacara Firdaus membacakan surat wasiat ini, mungkin aku sudah tidak bernyawa lagi. Aku telah meninggalkanmu untuk selama-lamanya dan membebaskan mu untuk memilih jalanmu sendiri.
Mungkin di dunia ini hanya sebentar saja waktuku untuk menemanimu. Dan kamu bebas terbang sesuka hatimu mencari sarang yang baru. Aku sudah mengetahui semua tabiatmu, suamiku. Dan aku sangat yang bahwa dirimu tidak akan kesulitan untuk mencari pengganti diriku. Tapi aku yakin dirimu tidak akan bisa mendapatkan cinta yang tulus melebihi cintaku padamu, yang telah mati bersamaku.
Dan maaf juga, suamiku. Jika hartaku nanti bukan hanya untukmu saja melainkan akan ku bagi pada sebuah panti asuhan yang telah lama aku dirikan bersama adik laki-laki ku yaitu Narendra Arjuna Guinandra. Panti Asuhan yang kita beri nama Kasih Putih Guinandra."
Belum juga Pengacara Firdaus selesai membacakan semua surat wasiat itu, karena dia menjeda ucapannya untuk melihat reaksi pria yang bernama Heru.
Dan sesuai dengan firasat Pengacara Firdaus sebelum kedatangannya di mansion milik Keluarga Guinandra.
Nampak jelas perubahan ekspresi terkejut di wajah Heru. Sempat beberapa detik yang lalu keduanya saling beradu pandang, tapi Heru segera memalingkan wajahnya dari Pengacara yang ditunjuk oleh mendiang istrinya.
'Apa maksud Nindy! Dengan membagikan separuh hartanya ke sebuah panti asuhan! Dikira waktuku selama menemani hidupnya itu gratisan! Tidak Nindy! Aku mendekatimu hanya untuk sebuah harta karena aku sudah bosan hidup dalam garis kemiskinan! Tapi ini apa? Setelah kamu tidak bernyawa saja masih merepotkan aku!' Heru menggerutu dalam hatinya tidak terima dengan apa yang dibuat Nindy.
"Bisa kita lanjutkan?" Pria setengah baya itu menanyakan pada Heru dan Narendra.
"Sebentar Pengacara Firdaus, aku ijin permisi ke kamar mandi sebentar," pamit Heru beranjak dari posisi duduknya dan langsung keluar dari ruangan tertutup itu.
-
-
-
Bughh.
"Maaf, Tuan," kata Nayaka dengan menundukkan kepalanya.
"Siapa kamu?" Heru bertanya pada wanita yang baru saja menyenggol lengannya, dengan mengangkat dagu wanita yang berdiri gemetaran di depannya.
Sedikit memberontak dan melengos dari hadapan Heru, Nayaka membuang muka. Tapi cengkeraman Heru lebih kuat dan...
"Kamu..!"
☘️☘️☘️☘️
dan semoga nayaka berbahagia dengan ...... tuan gapian . yesss 😍
ganbatte, nay 💪💪💪
di novel aja ada judulnya tuh
CINTA DAN DENDAM
atau
CINTA DI ANTARA DENDAM
atau
MENIKAH KARENA DENDAM
awalnya mah dendam, nay.... eehhhh ujung ujung nya duit ...ehhh salah 😅
ujung ujungnya cinta lahhh
kaya miskin
cantik jelek
....... bukanlah suatu patokan akan hadirnya cinta dan kemana cinta akan bermuara .
jadi .... jangan pesimis, nay ..... 💪😁