Sebelah tangan Inara yang hendak membuka pintu tiba - tiba saja langsung terhenti dan melayang di udara. Ketika ia tak sengaja mendengar pembicaraan Brian dengan Melisa - mertuanya.
" Aku akan menikahi Anita ma.."
" Apa maksud kamu Brian? Kamu itu sudah menikah dengan Inara. Kenapa kamu malah ingin menikah dengan wanita tak tahu diri itu."
" Maaf ma. Aku harus segera menikahi Anita. Saat ini dia telah mengandung anaku. Yang berarti penerus dari keluarga Atmaja."
Kedua mata Melisa langsung terbelalak lebar.
Begitu pula dengan kedua mata Inara yang sedari tadi tak sengaja menguping pembicaraan rahasia dari kedua orang yang ada di dalam ruangan sana.
Perih , sakit , dan sesak langsung menyelimuti hati Inara.
Wanita berkulit putih itu tak menyangka. Jika selama ini pria yang selalu ia cintai dan sayangi sepenuh hati . Malah menorehkan luka sebesar ini pada hatinya yang rapuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INNA PUTU, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Tubuh Brian membeku. Dengan kondisi kedua bola mata hampir jatuh ke bawah.
Ucapan ketus Inara benar - benar hampir membuatnya sport jantung.
Namun ketika mengingat bagaimana kerasnya usaha Inara dalam hal mengejar cintanya dulu. Membuat keterkejutan itu seketika pudar. Dengan wajah datar yang pria itu perlihatkan ke arah Inara.
" Jadi kau benar - benar ingin bercerai denganku Inara? "
" Ya tentu saja. Kau tak mungkin berniat untuk memiliki dua istri kan!?
Brian menggeser kursi. Dan perlahan duduk di sisi meja makan sana. Dengan garpu yang ia ambil, dan tancapkan ke arah apel yang telah terpotong rapi di atas meja.
" Bagaimana jika ku katakan sekarang aku memiliki niat itu? Apakah kau mau menerima Anita sebagai madumu? "
Kondisi jantung Inara seketika bergemuruh hebat.
Hidup di madu dengan wanita tak tahu malu itu?
Tentu saja ia tak akan sudi melakukannya.
Mengingat jika di dunia ini , pria tampan dan kaya bukan hanya Brian seorang.
Maka dengan perpisahan mereka. Inara akan membuktikan. Jika ia akan bisa mendapatkan pria lebih tampan, lebih kaya serta yang paling penting. Sikapnya jauh lebih baik dari pria pengkhianat itu.
Bila perlu jauh lebih muda dari Brian. Agar Brian dan pelakor itu merasa iri dengan kehidupan barunya yang akan ia tata bahagia.
__
Inara tersenyum sinis. Dan mengambil segelas air putih yang ada di sisi meja. Lalu meneguknya sedikit.
" Bermimpilah Brian. Karena hanya di alam mimpi kau akan mendapatiku hidup rela di madu. Apalagi di madu dengan wanita murahan seperti wanita yang telah kau hamili itu."
Inara tiba - tiba mengangkat gelas tepat di atas kepala Brian. Dan...
Byurr..
Air bening itu langsung saja mengguyur kepala Brian. Hingga kepala , rambut , wajah serta beberapa bagian tubuh pria itu jadi basah karena sikap tak terduga yang di tunjukan oleh Inara.
Sikap berani yang di tunjukan oleh Inara pun tentu saja langsung membuat semua orang yang ada disana terkejut.
Terutama Brian..
Lihat saja bagaimana membekunya tubuh pria itu sekarang. Karena tak menyangka jika Inara akan seberani ini melakukan hal gila terhadapnya.
" Inara kau..."
" Jadi aku sarankan tuan Brian yang terhormat. Cepat tanda tangani surat perceraian itu. Atau aku akan melakukan hal yang lebih gila dari ini."
Inara lekas berlalu pergi. Dengan meninggalkan sorot mata penuh kebencian serta permusuhan dengan Brian.
Sementara pria itu sendiri. Masih tampak setia melihat punggung Inara yang terlihat sudah mulai menjauh meninggalkannya di meja makan seorang diri.
Masih ingat dengan jelas di dalam ingatan Brian.
Bagaimana dulu Inara sangat memperhatikannya.
Bahkan gadis itu tak akan pernah mau beranjak dari meja makan. Jika ia tak menghabiskan makanan yang ada di atas meja makan.
Tapi kini. Lihatlah..
Wanita itu tampak acuh. Jangankan menunggunya makan.
Menanyakan dirinya sudah makan atau belum pun wanita itu terlihat sudah tak sudi untuk melakukannya.
Dan hal ini benar - benar sangatlah mengganggu pikiran serta hati Brian. Yang entah kenapa, malah merasa sangat tak suka ketika dirinya tak mendapatkan perhatian dari Inara lagi.
" Apa yang sedang ku pikirkan sebenarnya? Aku bisa mendapatkan semua perhatian itu dari Anita nanti. Memangnya dia pikir dia siapa? Berani memperlakukanku seperti ini."
Brian mendengus kasar.
Padahal di sepanjang perjalanan pulang, Brian terus memikirkan Inara yang telah banyak berbelanja menggunakan kartu kredit yang telah ia berikan kepada istrinya itu.
Brian pikir Inara sudah kembali menjadi Inara yang dulu pernah ia kenal.
Namun siapa yang menyangka. Malah lembaran surat perceraian yang ia dapatkan. Dan itu pun ia dapatkan dari Daniel. Ketika asisten kepercayaannya itu ia suruh untuk mengambil sebuah berkas penting yang ada di dalan ruang kerja mansionnya itu.
Yang bener Naura atau Inara Thoor
ok kita lihat sebadast apa kau Ra