Lia, gadis desa Tanjung Sari, menemukan seorang pria pingsan di pematang sawah tanpa ingatan dan tanpa identitas. Ia menamainya Wijaya, dan memberi lelaki itu tempat pulang ketika dunia seolah menolaknya.
Tekanan desa memaksa mereka menikah. Dari pernikahan sederhana itu, tumbuh rasa yang tak pernah direncanakan—hingga Lia mengandung anak mereka.
Namun Wijaya bukan lelaki biasa.
Di kota, keluarga Kusuma masih mencari Krisna, pewaris perusahaan besar yang menghilang dalam kecelakaan misterius. Tanpa mereka sadari, pria yang dianggap telah mati kini hidup sebagai suami Lia—dan ayah dari anak yang belum lahir.
Saat ingatan perlahan mengancam kembali, Lia harus memilih: mempertahankan kebahagiaan yang ia bangun, atau merelakan suaminya kembali pada masa lalu yang bisa merenggut segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indah yuni rahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Doa Sang Istri
Saat pintu mobil dibuka, Ana berbalik ke arah Lia.
“Naik bersama kami.”
Lia terkejut. “Saya… ikut, Bu? Apa tidak apa-apa…?”
Ana menggenggam kedua tangannya erat. “Kamu yang paling dia kenal sekarang. Dia mungkin akan terbangun di jalan. Dia butuh melihat orang yang membuatnya bertahan selama ini.”
Kalimat itu menghantam tepat di jantung Lia. Ia tahu, kalau lelaki itu sembuh… lelaki itu mungkin akan melupakannya.
Tapi ia tetap mengangguk.
Karena cinta bukan tentang ia diingat, melainkan memastikan orang itu tetap hidup.
Mobil melaju menembus malam.
Lampu jalan berlari mundur. Suara sirine samar dari kejauhan. Angin dingin kota dan bau tanah basah desa tercampur entah bagaimana.
Di dalam mobil, suasananya sunyi.
Ana menggenggam tangan Krisna di sisi kanan. Lia menggenggam tangan yang lain di sisi kiri.
Ardian duduk di depan. Natan mengikuti dengan mobil lain di belakang, masih menyusun pikirannya sendiri.
Di pangkuannya, Lia merasakan jari lelaki itu hangat, hidup, namun jauh. Ia menunduk, berbisik nyaris tak terdengar,
“Mas… kalau nanti kamu ingat semuanya… dan lupa aku… aku tetap bahagia, asal kamu baik-baik saja.”
Mobil terus melaju, membawa mereka ke rumah sakit besar.
Dan Lia sadar, perjalanan itu bukan hanya perjalanan menuju ruang operasi, tetapi perjalanan menuju akhir satu kisah dan awal dari luka yang harus ia relakan.
Mobil melaju menembus malam.
Lampu jalan berpendar samar, seperti kunang-kunang yang letih. Kota semakin padat, tetapi bagi Lia semua terasa jauh, seperti mimpi panjang yang tidak mau usai. Ia hanya mendengar deru mesin, detak jantungnya, dan napas lirih Krisna di antara alat bantu.
Begitu mobil berhenti di halaman rumah sakit besar, petugas sudah menjemput dengan brankar. Semua bergerak cepat. Lia ikut berlari kecil di belakang Ana, takut kehilangan sosok itu bahkan sedetik saja.
Di depan ruang tindakan, seorang dokter muda dengan jas putih dan kacamata tipis menghentikan keluarga.
“Orang tua pasien?” tanyanya.
Ana dan Ardian mengangguk hampir bersamaan.
Dokter itu melihat sekilas berkas pemeriksaan dari puskesmas, lalu berkata tenang tapi tegas, “Kondisi pasien tidak stabil. Ada pendarahan di kepala yang harus segera kami tangani. Kami curiga ada benturan sebelumnya yang tidak tertangani.”
Lia meremas ujung bajunya.
“Dok… operasi… pasti perlu, ya?” suara Ana bergetar.
Dokter mengangguk pelan.
“Ya, Bu. Ini menyangkut nyawa. Jika tidak segera ditangani, risikonya sangat besar.” jelas dokter itu.
Ia menatap mereka satu per satu, lalu menambahkan dengan hati-hati, “Namun ada satu hal yang perlu keluarga ketahui. Jika benar pasien sebelumnya mengalami amnesia, operasi di bagian kepala bisa… mengembalikan sebagian atau seluruh ingatan lamanya.”
Ardian menegakkan badan. “Syukurlah kalau begitu.”
Dokter mengangkat tangan sedikit, memberi jeda. “Tapi konsekuensinya,” lanjutnya pelan, “Ingatan baru yang terbentuk setelah ia mengalami amnesia… bisa hilang.”
Kata-kata itu jatuh seperti batu ke dada Lia.
Ingatan baru.
Itu berarti tentang desa… sawah… tawa sederhana… malam hujan… dan dirinya.
Dokter kembali menegaskan, “Kami tidak bisa menjamin apa pun. Bisa saja semuanya kembali normal. Bisa sebagian hilang. Bisa juga… orang-orang terakhir yang ia temui tidak lagi ia kenali.”
Ana menutup mulutnya, menahan haru dan takut yang campur aduk.
Ardian mengangguk mantap. “Lakukan yang terbaik, Dok. Selamatkan anak kami.”
Dokter memberi hormat kecil, lalu mendorong pintu ruang operasi bersama timnya. Krisna — Wijaya, menghilang di balik pintu bercahaya itu.
Lampu indikator operasi menyala merah.
Koridor terasa panjang dan dingin.
Ana duduk pelan. Tangannya gemetar, tetapi genggamannya pada rosario kecil di pergelangan tangan sangat kuat. Ardian berdiri bersandar pada dinding, bahunya naik turun menahan emosi.
Lia berdiri sedikit jauh, tapi tidak beranjak. Ia menatap pintu itu seakan matanya bisa menembusnya.
Jantungnya perih.
Jika operasi berhasil… lelaki itu kembali menjadi Krisna Kusuma, pewaris keluarga besar, tunangan orang lain.
Jika operasi gagal… lelaki itu mungkin tak pernah bangun lagi.
Lia menutup mata. Air matanya mengalir pelan.
“Aku nggak apa-apa dilupain…” bisiknya dalam hati. “Asal kamu hidup.”
Ana meliriknya.
Perempuan itu berdiri, lalu mendekati Lia, menepuk bahunya pelan dan hangat, keibuan, namun sarat kesedihan yang sama.
“Kalau nanti Krisna bangun dan mencarimu,” katanya hati-hati, “tolong… tetap ada di dekatnya, ya.”
Lia menahan tangis. “Kalau dia tidak mengenal saya lagi…?”
Ana tersenyum tipis, mata berkaca-kaca.
“Kalau pun dia lupa… hatinya tidak akan benar-benar lupa.”
Lampu operasi masih menyala merah.
Waktu seolah berhenti.
Dan di lorong rumah sakit besar itu, Lia sadar, malam ini bukan hanya tentang menunggu hasil operasi.
Ini tentang menunggu keputusan takdir, apakah ia masih menjadi bagian hidup lelaki itu… atau hanya menjadi kenangan yang diam-diam ia tinggalkan di sebuah desa kecil.
Lia berdiri pelan dari kursi tunggu. Wajahnya pucat, namun sorot matanya sudah tidak bergetar seperti tadi—lebih tenang, namun sarat tekad.
“Bu… saya izin sebentar,” ucapnya pelan pada Ana.
Ana menoleh. “Mau ke mana, Nak?”
“Saya… mau cari musala. Saya ingin berdoa,” jawab Lia dengan suara yang hampir berbisik, seakan takut kata-katanya jatuh dan pecah di lantai rumah sakit.
Ana menatapnya beberapa detik. Ada sesuatu di pandangan itu—rasa hormat, bukan sekadar terima kasih. Ia mengangguk lembut. “Pergilah. Doakan yang terbaik untuk kita semua.”
Lia tersenyum tipis lalu melangkah. Koridor rumah sakit besar itu terasa panjang, lampu-lampu putih menggantung seperti bintang yang dingin. Suara roda brankar, langkah dokter, dan pengumuman dari pengeras suara berbaur menjadi satu—namun semua terdengar jauh.
Di sudut terpencil dekat taman kecil, Lia menemukan musala kecil rumah sakit.
Sandal-sandal plastik berjejer tak rapi di depan pintu. Ia melepas sandalnya, menarik napas panjang, lalu masuk.
Ruang itu sederhana. Sajadah tipis. Dinding putih. Bau karpet yang lama. Tapi bagi Lia, tempat itu seperti satu-satunya ruang yang tak goyah di tengah hidupnya yang runtuh.
Ia duduk, lalu menunduk.
Air matanya jatuh tanpa suara saat keningnya menyentuh sajadah.
Bukan tangis putus asa—tangis yang pasrah.
“Ya Allah…” bisiknya lirih, “kalau Engkau takdirkan dia bukan untukku… jangan ambil nyawanya. Ambil saja bahagiaku, jangan hidupnya.”
Bahunya bergetar. Ia tak meminta dipertahankan. Ia tidak meminta dipilih. Ia hanya memohon satu hal: Krisna hidup.
“Kalau nanti dia lupa aku… aku mohon, jangan hilangkan rasa baiknya. Jadikan dia lelaki yang Engkau cintai. Itu sudah cukup, Ya Allah..."
Satu tangan menutup mulutnya menahan isak. Air mata membasahi sajadah. Ia tidak tahu berapa lama ia berdoa, waktu seperti berhenti, hanya suara hatinya yang berdialog dengan Tuhannya.
Sampai suatu saat, pintu musala berderit pelan.
Ana berdiri di sana, tidak masuk, tidak mengganggu. Hanya menyaksikan punggung gadis desa itu yang bersujud sungguh-sungguh demi anaknya.
Di mata Ana, rasa hormat itu berubah menjadi sesuatu yang lain, sejenis sayang.
Lia selesai berdoa. Ia mengusap wajahnya, menenangkan napasnya, lalu bangkit.
Saat keluar, Ana menyambutnya. “Terima kasih… sudah mendoakan anak saya,” ucap Ana pelan.
Lia menggeleng. “Saya juga mendoakan diri ibu….”
Ana terdiam, menatap gadis sederhana itu lama-lama.
Lalu ia menggenggam tangan Lia. “Tidak ada doa yang sia-sia,” katanya. “Terutama doa yang dipanjatkan sambil menangis.”
Mereka berjalan kembali ke ruang tunggu.
Lampu merah di atas ruang operasi sudah menyala.
Dan malam itu, tanpa mereka sadari, bukan hanya pisau bedah yang bekerja… tetapi juga takdir yang mulai menulis ulang segalanya.