NovelToon NovelToon
Unconditional Love (Ben And Jeslin)

Unconditional Love (Ben And Jeslin)

Status: sedang berlangsung
Genre:Pelakor / Cerai / Selingkuh / Playboy
Popularitas:17.6k
Nilai: 5
Nama Author: Osi Oktariska

Adrian tiba tiba ketahuan menjalin hubungan dengan Astrid, sahabat Jeslin sendiri. Hal ini membuat hubungan ketiganya rusak. Sehingga membuat Jeslin terpaksa pergi dari Ibukota. Namun, sebelum itu terjadi, Jeslin sempat dekat dengan Ben, Sahabat adiknya sendiri. Tapi hubungan mereka masih menggantung.

Jeslin pergi ke Bali, di mana kakek dan neneknya tinggal. Namun dia tidak menyangka kalau di sana dia akan bertemu lagi dengan Ben. Kisah cinta mereka yang dulu belum berlanjut membuat keduanya makin dekat. Sayangnya, Jeslin baru tahu kalau Ben sudah punya tunangan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Osi Oktariska, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

27 Ben sakit hati

Hari berganti minggu, minggu pun berganti bulan. Hubungan Ben dan Jeslin masih aman aman saja sejauh ini. Tidak ada konflik berarti, walau tetap dengan status sama. Teman. Tapi keduanya sangat menikmati kebersamaan yang telah mereka ukir bersama.

Satu tahun berlalu, karir Jeslin makin melejit. Apalagi sejak novel nya akan diangkat ke layar lebar. Tidak hanya itu saja, sebuah rumah produksi dari Korea Selatan telah merekrutnya untuk menulis skenario untuk sebuah cerita bertema misteri yang akan ditayangkan di stasiun tv Korea sebagai film serial. Tentu semua orang tau bagaimana majunya industri film di Korea. Tidak hanya laris di negaranya saja, tetapi juga di negara negara tetangga, bahkan tanah air kita.

Sementara itu, bisnis Ben juga sedang naik. Dia makin bertanggung jawab pada perusahaan. Tidak jarang, Ben memenangkan banyak proyek besar dan membuat namanya semakin dikenal dalam jajaran pengusaha muda sukses.

Ben mengirimkan pesan sejak pagi ke Jeslin. Dia hendak mengajak Jeslin makan siang seperti biasanya. Hanya saja sudah tiga jam menunggu, Jeslin tidak membalas pesan dari Ben. Bahkan saat sudah jam makan siang, Jeslin tidak juga membaca pesan pesan Ben. Sehingga Ben pun menghubungi gadis itu, namun hanya ada suara operator yang mengatakan kalau telepon Jeslin sedang tidak aktif.

[Ben, makan siang bareng, ya. Gue mau bahas proyek yang di Solok.]

[Ya.]

Dengan berat hati Ben akhirnya melupakan keinginannya makan siang dengan Jeslin, dan digantikan Daniel. Akhir akhir ini Jeslin memang tampak sibuk. Bahkan untuk membalas pesan Ben saja, akan membutuhkan waktu berjam jam lamanya. Tidak seperti biasanya. Ben pun sebenarnya maklum karena pekerjaan Jeslin yang makin banyak. Karena dia pun sebenarnya juga sama sibuk nya. Hanya saja, Ben masih tetap mementingkan Jeslin di atas hal lainnya.

Seperti saat Jeslin terlambat bangun dan mobilnya mogok. Dia menghubungi Ben untuk meminta bantuan. Padahal Ben sudah ada di kantor, dan sedang bersiap siap pada meeting mingguan yang sudah menjadi agenda rutin di perusahaannya sekarang.

Alih alih melanjutkan meeting, Ben justru menunda meeting itu, dan menjemput Jeslin ke apartemen. Sebuah pengorbanan yang besar, tanpa pernah Jeslin tau. Ben tidak pernah merasa keberatan saat Jeslin meminta bantuan apa pun. Sekalipun dia sedang kelelahan, bahkan sedang tidur, jika Jeslin yang menghubungi, maka Ben akan siap sedia untuk gadis itu.

"Kenapa muka lo ditekuk gitu?" tanya Daniel, saat mengiris steak daging sapi yang masih panas itu.

"Nggak apa apa," sahut Ben tanpa tenaga dan semangat seperti biasanya.

"Jeslin?"

"...." Ben tidak menyahut, dia hanya fokus makan, walau sebenarnya dia sedang tidak ingin makan.

"Kenapa lagi?"

"Berapa kali lo ketemu Jeslin minggu terakhir ini?"

"Eum, berapa, ya? Sebentar gue ingat ingat dulu," cetus Daniel sambil menatap ke langit langit. "Kayaknya belum pernah ketemu dia selama seminggu ini. Malah nggak pernah WA-an juga. Gue sibuk banget ngurus proyek ini. Memangnya kenapa?"

"Oh." Hanya kata itu yang terucap dari mulut Ben, diikuti kentang goreng yang masuk ke mulutnya.

"Kenapa sih? Kalian berantem?"

"Enggak."

"Terus?"

"Dia lagi mulai sibuk. Gue maklum sih, soalnya kan lagi mulai bikin skrip buat cerita yang lagi mau tayang di tv."

"Eh, gue denger dari Astrid, Jeslin mau ke Riga lagi?"

"Kapan?"

"Bulan depan, dan kali ini lebih lama dari sebelumnya. Soalnya beberapa barangnya udah di paking rapi dan siap dibawa. Bajunya aja hampir semua dia bawa."

"Serius?"

"Iya kayaknya. Gue belum tanya ke dia sih. Baru kata Astrid. Memangnya dia nggak cerita ke lo, Ben?"

"Enggak. Gimana mau cerita. Gue sama dia aja sekarang jarang ketemu. Telepon dan WA sekalipun udah jarang."

"Oh paham gue sekarang. Dia sibuk banget, sampai sampai nggak ada waktu buat ngobrol kayak dulu lagi? Gitu, kan?"

"Hm, iya. Kurang lebih nya begitu."

"Kan dia kerja Ben. Impian dia nih sekarang satu persatu mulai terwujud. Lo harusnya dukung dia."

"Gue selalu dukung, Nil. Sejak kapan gue larang larang dia ini itu?"

"Kalau pun dia sibuk, kalian nggak bisa ketemu, ya lo aja temui dia duluan. Nggak usah tanya dia, langsung aja ke sana. Pernah gitu, nggak?"

"Eum, belum sih. Beberapa kali gue selalu tanya dulu, dia mau makan bareng nggak, atau mau gue jemput pulang kerja. Selebihnya gue jarang malah nggak pernah tiba tiba ke sana. Takut dia lagi sibuk, malah gue jadi nggak enak."

"Yah, masa Ben cemen sih! Perasaan dulu lo malah agresif banget. Tiba tiba nongol aja di depan dia. Jeslin aja sering cerita sambil ngomel ngomel. Se-kesel apa dia pas dulu kalian belum akrab, malah lo yang agresif banget. Sekarang giliran udah akrab, malah lo anteng aja. Gimana sih? Takut ditolak? Lah kan, udah?"

"Sialan!"

"Eh, tapi, Ben. Lo yakin nggak apa apa? Setelah penolakan itu, dan sekarang kalian cuma menjalani hubungan persahabatan, nggak lebih? Lo bisa nerima itu?"

"Kenapa enggak? Justru gue suka. Walau kami nggak ada, atau belum ada komitmen, tapi asal dia udah bersikap lunak aja, bagi gue udah lebih dari cukup. Lo tau, kan, Nil, kalau gue udah sayang sama seseorang bakal gimana?"

"Iya, bucin banget. Tapi ke Jeslin, nggak sebucin dulu dulu deh, Ben."

"Memang enggak. Kalau dulu gue bisa sebucin itu ke mantan mantan gue, tapi itu berlangsung cuma sebentar, kan? Coba lo sebutin, cewek mana yang bertahan satu tahun aja sama gue? Enggak ada."

"Masa? Eh, iya juga. Bahkan si Clarisa aja cuma 6 bulan paling lama, kan? Selebihnya cuma 1 bulan, atau 3 bulan aja. Makanya lo menyandang predikat fakboy. Hahaha." Daniel justru menjadikan momen ini menjadi ajang untuk mengejek sahabatnya.

"Iya memang. Terserah deh, kalau sebutan fakboy dianggap tepat buat gue. Gue juga heran kenapa gue disebut begitu. Padahal gue nggak pernah selingkuh. Kalau gue udah komitmen sama satu cewek, ya dia aja yang gue deketi. Nggak pernah gue nyabang di mana mana."

"Iya, tapi mantan lo paling banyak! Berapa coba. Lima, enam, tujuh, sebelas, Riri, lima belas. Nah, jari gue aja nggak cukup buat hitung mantan mantan lo dulu."

"Kambing emang lo!"

"Hahaha. Kenyataan lo emang begitu dulu. Eh tapi, gimana gimana? Maksud lo apa tadi, kenapa lo nggak sebucin itu ke Jeslin."

"Dia satu satunya cewek yang nggak pernah bikin gue bosen buat mengungkapkan perasaan dan perhatian gue. Gue bisa mengontrol sikap dan perilaku gue ke dia. Bahkan perasaan gue sekarang, masih sama kayak perasaan dulu waktu pertama kali gue ketemu Jeslin. Nggak berkurang. Kalau bertambah, gue nggak tau dan nggak mau. Karena buat gue, segini aja gue udah cukup buat menjadikan dia satu satunya cewek di hati gue, tanpa status yang jelas."

"Eh jadi, kalian udah berapa lama deket, ya?"

"Satu tahun lebih."

"Wah, lama juga. Berarti sama Jeslin ini yang paling lama, ya?"

"Iya. Walau cuma temen."

"Ah, buat gue kalian malah kayak pacaran kok. Lihat aja perlakuan lo ke dia kayak apa! Jeslin juga nggak pernah kayak gini ke cowok lain, cuma ke lo aja. Nggak penting mah, status pacar."

"Masa sih? Tapi beneran, Nil, Jeslin nggak pernah deket sama cowok lain sebelumnya? Padahal dia cantik, masa nggak ada yang suka."

"Yang suka mah banyak. Tapi yang mau berjuang dapetin hati dia, nggak ada. Sikap Jeslin yang dingin itu, yang bikin cowok cowok pada mundur. Lo aja yang ndablek!"

"Hehehe. Ya habisnya gimana? Gue sayang dia, Nil."

"Ya bagus! Gue malah setuju kalau dia sama lo. Gue percaya lo, Ben. Gue tau lo kayak gimana, dan gue yakin, kalau lo nggak bakal sakitin dia."

"Aamiin. Doain aja, semoga kami berjodoh. Jadi nanti lo panggil gue kakak ipar," sela Ben sambil terkekeh.

"Idih, sok tua lo!"

_______

Obrolan dengan Daniel tadi siang, membuat Ben akhirnya berniat mendatangi Jeslin saat pulang kerja nanti. Dia berniat menjemput Jeslin karena tau, kalau mobil nya sedang dipakai Astrid.

Ben sudah berada di parkiran kantor Jeslin. Dia terus menunggu di dalam sambil mengamati Jeslin yang sejak tadi belum keluar dari kantor. Padahal jam pulang sudah satu jam lalu.

Karena tidak sabar, Ben akhirnya memutuskan turun dari mobil dan hendak menemui Jeslin di ruangannya. Tapi belum sempat dia turun, dari kejauhan justru Jeslin muncul. Tapi dia tidak sendirian. Ada seorang pria yang baru pernah dilihat Ben, tampak berbincang dengan Jeslin. Mereka berdua terlihat sangat akrab, bahkan tak jarang Jeslin memukul lengan pria itu karena gemas.

Tidak sampai di situ saja, kini mereka berdua berjalan menuju salah satu mobil

Ferrari berwarna abu abu yang parkir tepat di depan mobil Ben. Yang membuat Ben semakin panas, adalah karena pria itu membukakan pintu mobil untuk Jeslin dan membuat gadis itu layaknya seorang putri dan dia pangerannya.

Ben menggenggam keras kemudi mobilnya. Bahkan tubuhnya ikut bergetar karena menahan emosi. Ben langsung menghubungi Jeslin, tapi telepon nya tidak kunjung dijawab oleh gadis itu. Membuat pria berjambang tipis tersebut makin kesal.

______

"Kamu mau makan dulu ... Atau aku antar pulang aja, Jes?" tanya Reymond begitu mobilnya keluar dari pintu gerbang kantor.

"Langsung pulang aja deh. Capek banget hari ini. Aku makan di rumah aja. Lagian kamu mau jemput tunangan kamu juga, kan?"

"Iya sih. Ya siapa tau kamu mau ikut makan bareng kami. Biar rame."

"Lain kali aja, Rey. Lagian hapeku ketinggalan di apartemen. Takut ada hal penting yang terlewat. Jadi aku mau buru buru pulang aja."

"Cie, hal penting. Pasti cowok kamu."

"Ish, ngaco kamu!"

"Biasa mah gitu. Hal penting yang disebutkan adalah seseorang yang penting. Cuma mau buat mengakuinya. Iya, kan?" Reymond makin membuat Jeslin merona pipinya.

"Enggak ah. Temen. Cuma temen."

"Oh ya? Kalau cuma temen, kenapa kamu gelisah gitu. Ah, kamu perlu kenalin ke aku siapa temen kamu yang katanya penting itu deh."

"Apa sih, Rey," cicit Jeslin sambil tersenyum malu malu.

Reymond kini menurunkan Jeslin di depan gerbang apartemen. Jeslin turun lalu melambaikan tangan pada Reymond. Pria itu pun pergi dari hadapan Jeslin. Tanpa Jeslin sadari, dari beberapa meter di belakang mobil Reymond, ada mobil Ben yang sejak tadi membuntutinya.

Ben terus memperhatikan Jeslin dari kejauhan. Setiap detil ekspresi wajah gadis itu, dapat terus diperhatikan lekat lekat oleh Ben. "Bahagia banget kamu di deket cowok itu," gumam Ben tanpa berniat turun dari mobil nya untuk menemui Jeslin.

Jeslin pun masuk ke dalam. Meninggalkan Ben yang tampak masih sangat kesal.

_______

Ben menghempaskan tubuh ke ranjang empuk miliknya. Dia merenggangkan dasi yang sejak tadi melingkar di leher sambil menatap langit langit. Kejadian tadi masih ia ingat setiap detil nya.

Tak lama ponselnya bergetar. Pesan balasan masuk dari Jeslin tentunya. Sebuah pesan yang ditunggu tunggu oleh Ben sejak tadi, tapi kini dia sudah enggan membacanya.

[Hai, Ben. Maaf, aku baru balas. Aku baru pulang kerja, terus hapeku ketinggalan. Kamu udah makan? Sekarang udah pulang atau lembur di kantor?]

Jangankan untuk membacanya, melirik ke ponselnya saja tidak dia lakukan. Tak kunjung mendapat balasan dari Ben, Jeslin kini menghubungi Ben lewat panggilan telepon. Bukannya menerima panggilan itu, Ben malah beranjak dan pergi ke kamar mandi. Dia menyalakan kran air untuk mengisi bathup.

Tubuhnya sudah terendam air hangat. Biasanya dia akan berendam air hangat jika suasana hatinya sedang tidak baik. Kini hatinya memang sedang porak poranda. Sulit untuk dibenahi.

Ben hanya berbalut handuk di bagian pinggang ke bawah. Tubuhnya yang kekar dan atletis, terpampang jelas di depan cermin kamar mandi. Sudah satu jam dia berendam hingga mulai menggigil. Begitu keluar dari kamar mandi, Ben segera memakai celana boxer dan masuk ke dalam selimut tebal di atas ranjangnya. Lampu ia matikan, bahkan ponselnya tidak lagi ia lihat. Baterai yang tinggal 10% sudah meminta untuk diisi daya, tetapi sang empunya, justru tidak memedulikannya.

Ben memutuskan tidur. Tidak ingin lagi memikirkan hal yang macam macam. Karena tubuh, otak, serta hatinya sedang lelah sekarang.

[Ya sudah. Kalau kamu sudah tidur, kita ketemu besok aja, ya. Oh iya, aku sebenarnya pengen ngobrol banyak sama kamu, cuma ... Belum ketemu waktu yang pas aja. Besok aku ke kantor kamu, ya. Sampai ketemu besok, Ben. Selamat istirahat.]

Layar datar itu pun redup, dan kini benda tersebut mati total.

_____

Jeslin sudah memakai setelan blouse berwarna cream yang menjadi favorit nya sekarang. Bukan hanya karena warna serta modelnya yang bagus, tapi juga karena setelan itu adalah hadiah dari Ben bulan lalu. Tidak harus ada sebuah perayaan penting bagi Ben untuk memberikan Jeslin hadiah. Bahkan hampir satu minggu satu kali, selalu ada saja barang yang Ben bawa untuk Jeslin.

Entah itu pakaian, makanan, atau tiket bioskop. Ben selalu memberikan ke juga kejutan kecil yang membuat Jeslin makin menyukainya.

Jeslin berjalan memasuki kantor Ben. Kini orang orang di kantornya sudah mengenal gadis itu, sebagai teman dekat bos mereka.

"Nggak masuk? Kenapa?" tanya Jeslin begitu menanyakan keberadaan Ben di lobi.

"Kurang tau, Kak. Belum ada konfirmasi dari Pak Ben sampai sekarang. Siska saja belum dihubungi sama sekali. Katanya hape Pak Ben tidak aktif."

"Oh begitu, ya?" Jeslin tampak cemas. Dia lantas memeriksa pesan pesan yang ia kirimkan pada Ben semalam. Nyatanya benar, sebagian pesan Jeslin tidak terkirim, dan sebagian lagi belum juga terbaca. Dia makin mengkhawatirkan kondisi Ben yang tiba tiba menghilang tanpa kabar. "Ya sudah, saya permisi dulu. Terima kasih banyak."

"Sama sama, Kak."

Jeslin mundur beberapa langkah, tanpa ia sadari ada beberapa orang yang sedang berjalan ke arahnya, dan membuat mereka hampir saling bertabrakan.

"Astaga, maaf." Jeslin memekik lalu membungkukkan badan sedikit, sadar kalau dia lah yang lalai.

Tapi begitu dia menoleh, Jeslin cukup terkejut kalau ternyata yang hampir dia tabrak adalah orang orang bertubuh tinggi besar dengan pakaian serba hitam, sedang mengawal seorang pria paruh baya. Karena yang membuat Jeslin terkejut, sosok pria paruh baya itu pernah dilihatnya di apartemen Ben. Yang telah ia kenalkan sebagai Papanya Ben.

"Maaf sekali lagi," kata Jeslin kembali melakukan hal yang sama seperti tadi. Tiba tiba nyali nya ciut begitu melihat ayah kandung Ben tersebut. Jeslin tidak menyangka kalau aura Hadi membuatnya rendah diri. Dia bahkan tidak berani menatap lagi pria yang seharusnya bisa ia panggil dengan panggilan santai, seperti Om Hadi, atau Papa Ben. Karena dia adalah teman Ben, putranya. Hal seperti ini biasa terjadi dalam hubungan antar teman, bukan?

"Tidak apa apa. Kamu ... Mau ketemu Ben?" tanya Hadi spontan. Mendengar pertanyaan itu, Jeslin langsung membulatkan mata, dan mengangguk.

"Iya, Om. Eh, Pak Hadi. Tapi katanya Ben nggak masuk kerja. Saya sudah hubungi ponselnya, tapi nggak aktif."

"Oh ya? Tumben sekali. Padahal kemarin dia pulang awal, katanya mau jemput kamu," jelas Hadi dan membuat Jeslin makin membulatkan mata.

"Memangnya Ben pulang jam berapa, Pak?"

"Jam 5 sore dia sudah pergi. Kalian nggak ketemu?"

"Jam 5 sore? Tapi ... Dia nggak muncul di kantor saya, dan saya pu ... Lang sendiri," jawab Jeslin yang tiba tiba teringat kalau kemarin malam dia pulang dengan Reymond. Pantas saja dia tidak melihat Ben.

Kalau memang dia mau jemput aku, kenapa dia nggak muncul sih? Dia ke mana? Nggak mungkin Ben telat. Apa mungkin ... Dia lihat aku pergi sama Reymond, ya?

"Oh, kalau begitu saya permisi dulu, Pak. Coba saya datangi apartemennya."

"Baiklah. Tolong tengok anak saya, siapa tau terjadi sesuatu sama dia."

"Baik, Pak. Permisi."

Jeslin menjalankan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Dia ingin segera sampai ke apartemen Ben, dan melihat sedang apa pria itu. Sampai sampai tidak mau menyalakan ponselnya dan membuat banyak orang cemas.

1
kalea rizuky
lanjut donk
kalea rizuky
Astrid bner bner jalang pcr sahabat di embat
kalea rizuky
Astrid bner bner jalang
Asmaiyyah AjjhLah
semangat kak
Asmaiyyah AjjhLah
ceritanya lompat ini gimana kak, kadi gak nyambung🥲
SnowySecret
lanjut Thor seru dan bagus ceritanya SEMANGAT AUTHOR
ruby sunn
akhirnya up juga sekian lama perjuangan ku menunggu .hehehe lanjut ! cemangat
estycatwoman
good job jes 👍
Wajah Boneka
Malesnya aku jadi senyum-senyum sendiri baca ceritanya thor.. daku tunggu nextnya
SoftMambo
Yo ayo thor! aku selalu mendukungmu dalam doa hehehe
skyeandstaghorn
jangan gantung Thorr Cepetan Up ya Thorr Semangat
Prasetya Wibowo
Next thor💕
estycatwoman
ditggu updteya ka makasih 🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!