Ranaya Aurora harus rela mengakhiri hubungan asmaranya dengan sang kekasih karena perselingkuhan. akibat dari itu, Naya tidak lagi percaya cinta dan pria sehingga memutuskan untuk tidak akan pernah menikah.
akan tetapi, tuntutan keluarga membuatnya harus menikah. Aero Mahendra menjadi pilihan Naya, lelaki asing dengan usia empat tahun di bawahnya. Walaupun pernikahan itu di tentang keluarga hanya karena perbedaan status sosial, Naya kekeh memilih Mahen atau tidak menikah sama sekali.
Bagaimana Naya menjalani pernikahan dan hidup bersama Mahen?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon intan_fa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Naik motor
Mahen tidak langsung pulang, ia diam bersandar pada mobil Naya. Sengaja memarkir motornya itu di dekat mobil Naya untuk menunggunya.
"Kenapa ya, Naya itu kayak punya magnet? Aku berasa ketarik terus. Hehee ..." gumamnya.
Kemudian matanya beralih pada ban mobil Naya lalu senyuman tersungging di bibirnya itu.
Tidak lama kemudian, terlihat Naya keluar dari kantor berbarengan dengan Rossi dan bergegas Mahen menaiki motornya berlalu pergi kearah lain agar tidak terlihat oleh Naya.
"Hati-hati di jalan, bu ..." pesan Rossi.
Naya sudah duduk di balik kemudi dan menyalakan mobilnya, tapi Rossi menyadari sesuatu dan mengatakannya pada Naya.
"Bu, Bu tunggu ... Itu sepertinya ban mobilnya kempes deh," tunjuk Rossi.
Naya kembali turun dan melihat keadaan ban mobilnya. "Ah elah kok kempes sih?"
"Lah, yang belakang juga kempes, bu," ungkap Rossi.
Naya melihat semua bannya dan benar kempes semua. "Ih sial banget sih!" gerutu Naya.
"Emmmh ... Saya di jemput adek pakai motor, bu. Jadi gak bisa ajak bu Naya pulang bareng," ujar Rossi dengan tersenyum menampakkan giginya yang rapi itu.
"Apa mau saya pesankan taksi online?" sambung Rossi.
"Hmmm boleh deh!" sahut Hana. "Biar aku hubungi orang bengkel untuk mengurus mobilku!" ujar Naya.
Rossi masih fokus dengan ponselnya dan membuat Naya menunggu lama.
"Rossi ... Sudah lebih dari lima menit loh!" cetus Naya.
"Maaf, bu. Taksi online di jam segini emang suka susah, kalau ojeg online sih banyak, tapi bu Naya gak mungkin pakai gojek, kan?" tutur Rossi.
Kemudian terdengar suara klakson dari belakang mereka dan ternyata itu Mahen yang menghampiri.
"Lagi pada ngapain nih?" tanyanya.
"Kau belum pulang?" tanya Naya.
"Oh, itu tadi ngadem dulu disana sambil nyebat ..." jawab Mahen.
"Yah ... Mas Mahen pakai motor," ujar Rossi.
"Kenapa? Ada apa? Ada yang perlu tumpangan?" tanya Mahen pura-pura.
"Iya sih, tapi gak mungkin bu Naya pakai motor!" jawab Rossi.
Mahen pura-pura melihat keadaan mobil Naya. "Oh ban mobilmu kempes? Ada ban serep gak? Biar aku bantu ganti," ia menawarkan diri.
"Hmmm ... Gak bisa Mahen. Di bagasi cuman ada satu ban serep!" jawab Naya.
"Ternyata empat-empatnya kempes ya ..." ujar Mahen.
Lalu adik Rossi telah datang menjemputnya.
"Aduh, bu. Masih susah dapat taksi online ni, bagaimana?" ujar Rossi.
"Sudah, sana kamu pulang duluan saja. Aku gampang kok!" titah Naya.
"Beneran bu?"
"Sudah sana."
"Baiklah, makasih bu. Bu Naya hati-hati, ya ..." Rossi berlalu lebih dulu.
"Ekhemmm ... Pakai motor gak apa-apa kali bu. Ayo naik ..." ajak Mahen.
"Gak perlu. Saya mau menunggu sopir saya saja!" jawab Naya. Lalu ia menghubungi sopirnya untuk segera datang menjemputnya.
"Dengan keadaan jalanan yang macet, mungkin kamu harus menunggu sekitar satu jam lebih. Beneran gak mau naik motorku? Ini udah mau gelap loh," ujar Mahen.
Naya mengernyitkan dahinya seraya menatap motor Mahen yang mirip dengan motor satpam di rumahnya itu. "Bagaimana bisa aku di bonceng pakai motor? Aku tidak pernah naik motor!" batinnya.
"Aman kok. Aku ahlinya! Ayo ... Aku antarkan dengan selamat sampai ke depan pintu rumahmu!" ujar Mahen.
"Tapi aku penasaran juga sih naik motor gimana rasanya," batin Naya.
"Sudahlah, jangan banyak berpikir lagi!" Mahen menarik tangan Naya dan bergegas memakaikan helm yang sebelumnya sudah ia siapkan.
"Kau memaksa sekali!" cetus Naya.
Mahen menepuk-nepuk jok belakangnya dengan senyuman semringah. "Ayo ...."
Dengan hati-hati Naya menaiki motor Mahen dan kedua tangannya berpegangan pada pundak Mahen. Ia tadi melihat Rossi berpegangan pada bahu adiknya.
Kemudian Mahen memindahkan tangan Naya pada pinggangnya. "Pegangannya kesini. Yang erat, ya ...."
"Pelan-pelan ..." protes Naya.
"Oke bos. Lets go ..." Mahen menarik gasnya dengan kencang sehingga membuat Naya terkejut dan memeluk Mahen dengan erat. Tentu itu membuat Mahen tersenyum.
"Mahennnnnn ... Kau gila!!!" teriak Naya.
"Tenang, tidak apa-apa!" sahut Mahen.
Di jalanan cukup padat sehingga Mahen melajukan motornya dengan perlahan-lahan seraya banyak bercerita. Sampai tiba di lampu merah, Mahen menghentikan motornya. Sudah menjadi pemandangan yang biasa banyak anak-anak yang mengamen atau berjualan.
Tanpa membeli apapun, Mahen memberikan selembar uang lima puluh ribu pada seorang anak perempuan penjual bunga mawar.
"Ambil aja, dek."
"Makasih, bang." Lalu anak itu memberikan satu tangkai mawar merah pada Naya. "Bang, ini bunganya aku kasih pada pacar abang aja, ya."
"Sa–saya bukan—" elak Naya.
"Semoga kalian langgeng dan selalu bahagia ..." ucap anak itu memotong omongan Naya dan bergegas pergi karena lampu lalu lintas telah berubah hijau.
Ucapan anak itu membuat Mahen tersenyum, entah kenapa hatinya merasa hangat dan tidak menepis omongan itu.
"Apaan sih tuh anak!" gerutu Naya seraya hendak melempar bunga itu.
"Eh ehhh jangan di buang dong," ujar Mahen.
"Buat apa bunga mawar? saya gak butuh!" sahut Naya.
"Hmmm ... Jangan galak-galak dong jadi cewek. Apa kamu gak lihat tadi bagaimana senyuman anak itu? Sudah ... Jangan di buang," tutur Mahen.
"Tapi, tadi dia nyangka kita pacaran!"
"Yaudah sih, gak kenal ini sama tuh anak kecil."
"Terserah deh!" gerutu Naya kemudian memegang erat bunga itu.
Baru setengah jalan dan itu terasa lama. Lama kelamaan, Naya menikmati naik motor, semilir angin pada wajahnya dan pemandangan yang lebih leluasa.
"Tidak seburuk itu ternyata!" batin Naya.
Mahen tersenyum menatap Naya dari kaca spion. "Duh, bahaya banget nih perasaan!" batin Mahen.
Tiba-tiba Naya menepuk pundak Mahen sekuat tenaga. "Stop ... Stop ... Minggir cepat minggir!" pintanya.
"Ada apa?" Mahen panik.
"Ayo ikut saya!" Naya menarik Mahen dan membawanya masuk ke dalam sebuah restoran.