Selepas menjadi dokter, Clarissa Aluna Sebastian, atau yang kerap disapa Luna itu, bertugas jauh dari kota kelahiran. Ia menemui banyak sekali karakter manusia. Salah satunya ketua geng motor yang mendadak membuat keributan saat dia sedang dinas di rumah sakit.
Arash Frederic mengalami luka di kepala akibat tawuran tengah malam. Semua anak buahnya bergegas ke rumah sakit, mengamuk agar ketua geng motor itu didahulukan. Tanpa diduga, Dokter muda yang terlihat anggun melawan mereka karena dianggap membuat keributan. Kemampuan bela diri yang mumpuni mampu melumpuhkan para anggota geng motor tersebut. Luna menegaskan, jika ingin diobati harus sesuai prosedur.
Sejak Dokter Luna menanganinya, Arash tidak bisa mengelak pesona dokter cantik yang multitalenta itu. Ia selalu berusaha menarik simpati gadis itu.
Akankah Arash bisa meluluhkannya? Mengingat, Luna berasal dari keluarga terpandang, memiliki saudara kembar yang posesif, ditambah seorang lelaki yang mencintainya sedari dulu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sensen_se., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27 : Polisi?
Tiba di dalam, Arash menjatuhkan tubuhnya setelah ia menemukan wanita paruh baya yang tidur di atas kasur lantai. Arash meraih tangan ibunya, menciumi tangan yang semakin kurus itu dengan air mata yang tak sengaja berjatuhan.
"Maafin Arash, Ma. Maaf,” gumamnya penuh sesal.
“Arash, kamu datang, Nak? Uhuk! Uhuk!” Novita beranjak duduk. Dibantu oleh putranya, lalu memeluk lelaki itu dengan sangat erat. Tangis keduanya pun memenuhi ruangan kecil itu.
“Maaf, karena Arash baru menemui Mama!” ucap lelaki itu.
Pelukan keduanya mulai merenggang, Novita tersenyum sembari menyeka air mata putranya. “Tidak apa-apa, kamu pasti sangat sibuk ya,” tutur wanita itu.
“Kita ke rumah sakit sekarang ya, Ma. Mama harus diperiksa,” ajak Arash tak ingin berlama-lama.
“Tunggu adikmu dulu, dia sedang bekerja.”
DEG!
Hati Arash semakin hancur mendengarnya. Tidak bisa membayangkan adik kecilnya itu bekerja. Dan ternyata, kini adik kecilnya itu juga tengah terbaring di rumah sakit, “Kerja? Di mana, Ma?” tanya Arash penasaran.
“Di loundry katanya, dia ingin melanjutkan sekolah dengan hasil keringatnya sendiri! Padahal, Mama masih ada simpanan. Tapi dia kekeh,” tutur Novita bangga dengan putrinya. Senyum terbit dari bibirnya.
Arash menyugar rambutnya kasar, memegang kedua tangan ibunya, “Ma, nanti aku hubungi Anjeli. Sekarang Mama harus ke rumah sakit ya. Mama harus sehat lagi!”
“Biayanya mahal, Arash. Mama berobat jalan aja. Uangnya bisa dipakai yang lain.”
“Astaga, jangan pikirkan biayanya. Arash masih punya banyak simpanan. Bengkel juga lumayan ramai, Ma.” Arash langsung berjongkok, menarik kedua tangan mamanya agar melingkar di bahunya. “Ayo, Ma!”
Arash menggendong ibunya hingga keluar dari gang. Ia sama sekali tak merasa keberatan, justru sangat menikmatinya.
“Kamu lelah?” tanya Novita merasa tidak enak. Menyeka keringat yang mengalir di pelipis Arash.
“Enggak, Ma. Ini tidak ada apa-apanya dibanding Arash sewaktu kecil,” sahutnya menoleh sembari tersenyum tulus pada sang mama.
Novita terharu, meski Arash terlihat brandalan di mata orang lain, tapi baginya, Arash adalah malaikat dalam hidupnya. Lelaki yang selalu mati-matian menjadi garda terdepan untuknya.
“Mobil siapa ini, Rash?” tanya Novita ketika ia diturunkan di sebelah mobil lalu membukakan pintu untuknya.
“Mobil bengkel, Ma!” cetusnya belum berani mengungkap statusnya.
Novita hanya mengangguk saja, beruntung Arash diam-diam mendirikan bengkel beberapa tahun lalu tanpa sepengetahuan Carlos. Sengaja Arash selalu meminta banyak uang dengan alasan biaya kuliah yang tak kunjung usai, nyatanya justru ia mendirikan bengkel yang dikelola bersama teman-temannya. Hanya Novita yang tahu dan selalu mendukung keinginan Arash.
...\=\=\=\=000\=\=\=\=...
Tiba di rumah sakit, Arash langsung mendaftarkannya di IGD agar segera mendapat penanganan. Ia tidak tahu jika ternyata, Carlos masih berada di sana untuk persiapan operasi.
Carlos membeliak kala menemukan putranya satu ruangan dengannya. Kebetulan pria tua itu tengah mengurus berkas persetujuan operasi. Walaupun Tisa menolak dan bersikeras agar rahimnya tidak diangkat, Carlos tetap melakukannya. Ia tidak ingin kekasih gelapnya itu kenapa-napa.
"Heh! Bocah sialan!” umpat Carlos tepat di belakang Arash. Novita terkejut dengan kehadiran mantan suaminya dan langsung menyerang putranya.
“Gara-gara kamu! Gara-gara kamu Tisa harus diangkat rahimnya, Badjingan!” pekik Carlos mencengkeram kerah jaket Arash.
"Mas, lepaskan! Apa maksud kamu?" Novita mencoba melepaskan cengkeraman Carlos meski kesulitan.
Luna yang mendengar keributan segera berlari ke arahnya kemudian memukul lengan pria tua itu hingga cengkeramannya terlepas. Matanya memicing tajam, “Jangan membuat keributan di sini. Saya memiliki hak penuh untuk mengusir Anda dari sini!” ucapnya dengan suara pelan tetapi penuh ketegasan.
Deru napas Carlos berembus dengan kasar, mata pria itu memerah menatap Arash dan mantan istrinya dengan bengis. Arash hanya merapikan jaketnya kemudian mengabaikan lelaki tua itu. Melanjutkan pendaftaran untuk ibunya.
“Pak Polisi! Pak Polisi! Tangkap dia. Ini tersangkanya!” pekik Carlos. Dari sekat ruangan Tisa, muncul dua orang berseragam yang langsung membekuk Arash.
“Apa-apaan ini?” pekik Novita menekan dadanya yang terasa sesak.
Bersambung~