NovelToon NovelToon
SOLEDAD

SOLEDAD

Status: tamat
Genre:Romantis / Cintapertama / Nikahmuda / Tamat
Popularitas:644k
Nilai: 4.9
Nama Author: Xiie Lu

"I accept you Maxwell Del Montaña to be my husband, to have one another and keep, from now and forever. In times of trouble and joy, in times of abundance and in deprivation, in good health and sicness, to love one and another and to esteem, till death divides us, according to the sacred law, and this is my sincere faithfull promise."

Karena keserakahan ayahnya, Sara O'connor harus berakhir di tangan seorang mafia pemilik kartel terkenal di Spanyol. Dia menjadi istri dari pria yang tidak dicintainya.

Keinginannya untuk menaklukan pegunungan Himalaya harus berakhir begitu saja. Kesendirian dan kekosongan kembali dirasakan Sara ketika mata dan bibir pria itu mengatakan tidak menginginkan dirinya.

Max, nama mafia itu, Sara tidak mencintainya, tetapi janji suci sudah diikrarkan di hadapan Tuhan dan jemaat.

--------------------^-^------------------

Banyak konten horor, yang belum cukup umur, jauh-jauh sono! Dosa tanggung sendiri!😁

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xiie Lu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Godaan

Happy reading!

.

.

.

***

Selesai mandi, keduanya turun untuk makan malam. Sara yang terlihat murung itu membuat Max prihatin.

"Maaf, aku tidak akan membawamu lagi ke sana," sesalnya. "Tapi hukumanmu tetap harus dibayar."

Sara mengerucut sebal, betapa menyebalkannya Max disaat seperti ini.

"Kenapa kau tidak membiarkanku diterkam serigala itu saja? Itu hukuman yang seharusnya kau berikan."

Sambil menarik kursi untuk istrinya, Max mencuri kecupan di bibir sang istri. "Aku tidak akan membiarkanmu mati dengan mudah, Sayang," bisiknya parau.

Menahan napas, Sara menggigit bibirnya. "Kau memang pria menyebalkan."

"Kau sudah mengetahuinya, Sayang," ucapnya mengedikkan bahu lalu duduk di samping istrinya. "Ambilkan lauk itu untukku!"

Cih, masih seenaknya saja.

Sara melakukannya.

"Suapi aku!"

Dalam hati, Sara mengutuk pria itu agar lumpuh dan tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Segala hal harus dia yang mengurus, sungguh menyebalkan.

Tangannya memberikan suapan untuk Max. Sementara matanya menatap tajam jauh ke dalam bola mata biru itu.

"Istri pintar," ucap Max setelah menelan makanan itu, dia mengelus lembut rambut pelangi yang menyilaukan matanya. "Kapan kau berniat mengubah warna rambutmu?"

"Kau akan membantuku?"

"Ya, setelah kau melakukan apa yang kumau!"

Max menipiskan bibirnya kemudian menyuapkan satu suapan untuk istrinya.

"Apa itu?"

"Kau ingin tahu?"

"Tentu saja! Aku juga tahu istilah balas budi," ketusnya sambil memalingkan wajah saat senyuman iblis Max tercipta di bibirnya.

"Habiskan dulu makanan ini. Suapi aku lagi!"

"Kau bisa melakukannya sendiri, Max!"

"Sayang ...."

Tak kuasa mendengar panggilan yang buat merinding itu, Sara menyuapi Max sampai makanan di piringnya benar-benar tandas. Kemudian, Max beralih menyuapinya.

"Aku bisa sendiri," sanggahnya tidak mau Max menyuapinya. Dan ia tahu itu bukanlah sebuah suapan biasa, Max pasti akan mencuri kesempatan.

"Jangan membantah! Jadilah istri penurut!"

Mau tak mau, Sara menerima suapan maut dari sang suami. Tentu saja penuh dengan drama yang dibuat Max seromantis mungkin, mengusap bibir sang istri dengan menggoda agar Sara tidak konsentrasi.

"Max ...."

"Kenapa, Sayang?"

"Hentikan."

Bukannya berhenti, Max membawa Sara ke pangkuannya. Tangannya tak henti berkeliaran bebas, mengganggu istrinya yang sesekali memerah.

Yang tidak diduga oleh Sara, Max menyuapinya dengan mulut. Ia melotot. Tangannya yang hendak menghentikan aksi itu ditahan oleh Max.

"Kau tahu istilah balas budi 'kan?"

"Tapi kau belum melakukan apapun untuk--mmphh ...."

Max membungkam mulutnya dengan makanan yang banyak. Belum sempat menelannya, Max menuangkan anggur yang dimintanya tadi dan memberinya kepada Sara dengan cara yang sama.

Ketika perempuan itu hampir memuntahkan isi mulutnya, Max langsung membungkamnya dengan tangan.

"Jangan dimuntahkan!"

Perintah tegas sang raja tidak bisa dibantah. Meski aroma anggur itu sangat harum, diminum dengan cara seperti yang dilakukan Max sangat merepotkan. Apalagi jantungnya hampir copot setiap kali Max menyentuh bibirnya.

Pipinya pasti sudah merona. Untuk menghindari tatapan menggoda Max, ia menunduk. Tapi tangan kekar pria itu menahannya. Mengangkat kepalanya agar tatapan mereka beradu.

Ditatap intens dan sangat dekat seperti itu membuat jantung Sara kalang kabut. Dan yang sedang menatapnya itu adalah suaminya sendiri, orang yang diam-diam didambanya.

Masih berusaha menghindari tatapan yang memabukkan itu, Sara memutar bola matanya ke berbagai arah asal bukan ke depan. Ia gugup dengan mendengar degup jantungnya sendiri.

Sial, jantung tidak tahu malu! Kau tidak boleh berdetak untuk pria ini! Dia milik orang lain!

Ia berteriak histeris dalam hati, menyangkal setiap sentuhan yang diberikan Max pada tubuhnya. Menghalau pikiran buruk untuk memiliki pria itu sendiri.

Satu kecupan mendarat di bibirnya dan itu sanggup membuatnya sangat terkejut dari lamumannya.

Astaga, apa ini hukuman yang dimaksudnya? Akh, kalau hukuman seperti ini terus aku akan menerimanya dengan senang hati. Biarlah aku egois sekali ini saja.

"Kenapa pipimu memerah? Apa kau sangat senang?" goda Max. Sesekali ia menggoda Sara dengan kecupan-kecupan ringan di rahangnya.

"A-aku terkejut," kilahnya. Ia memegang pipinya yang memanas.

Sara berusaha menenangkan diri. Setelah menghabiskan makanan di piringnya, ia segera berlalu.

"Max sialan, beraninya dia membuat aku terkena serangan jantung!"

Ia merenggut sepanjang menaiki tangga dan itu didengar Max. Pria itu menyeringai. Sorot matanya terdapat aura yang berbeda.

***

Terus menerus menggoda istrinya sungguh menyenangkan bagi Max. Wajah Sara yang memerah membuatnya ingin terus mencubit.

"Hentikan, Max! Kau keterlaluan!"

"Kau terus memerah, itu sangat menggemaskan."

Bibir Sara mengerucut sebal, kalimat itu selalu membungkam mulutnya. 'Menggemaskan, menggemaskan' terus terngiang di kepalanya.

"Itu sakit! Kau mencubit pipiku terus menerus, ini bukan bantal!"

Dengan tengilnya, Max hanya menanggapi dengan kekehan. "Aku menyukai pipi besarmu," aku Max.

"A-apa?" Suara Sara tercekat. Mendapat pengakuan langsung seperti itu membuat jantungnya kembali berulah.

Desiran halus di bawah telinganya menggelitik, membawa sejuta rasa yang tak dapat diuraikan dengan kata-kata.

Jambang Max mulai tumbuh dan itu menusuk kulitnya. "Kau terlihat seksi dengan pipi bulat besarmu ini," ucap Max sambil mencium pipi Sara.

"Hentikan! Kau membuatku malu."

"Astaga, di sini hanya kita berdua. Apa yang perlu dikhawatirkan?"

Tentu saja jantungku, sialan! Aku belum mau mati muda meski tadi sore aku menyerah karena tidak bisa bergerak oleh serigala itu.

"Kau mesum!"

"What?!"

Sekarang sebutan untuknya berubah mesum, apa yang dipikirkan istri liciknya itu?

"Kau bilang apa?"

"Aku tidak mengatakan apa-apa."

"Padahal kau yang selalu mencuri kesempatan menyentuhku saat aku lengah. Kau sungguh licik, Sara."

Sara terkejut. "Licik?"

"Kau tidak menyadarinya?"

Tanpa menjawab, Sara berbalik memunggungi Max.

"Sara?"

"Hm."

"Berbalik ke sini!"

"Aku terganggu oleh tampangmu! Kau menyebalkan!"

Max tergelak, dia memeluk istrinya dari belakang dan mengecupi lehernya.

Apa lagi ini? Kenapa dia melakukan itu? Membuatku merinding saja!

"Max, jangan lakukan itu!"

"Hm."

Jawaban singkat itu memiliki berbagai arti. Dan artinya sekarang adalah dia mendengar tapi tidak mau berhenti. Pria itu terus mengecupi leher istrinya dan meninggalkan jejak kemerahan di sana.

"Max .... Hentikan!"

"Hukumanmu, Sayang."

"Dasar menyebalkan," sungutnya lalu bangkit dan duduk bersandar di kepala ranjang.

"Sayang ...," rengek Max. Ia menarik istrinya agar kembali tidur, tapi Sara tetap bersikeras.

"Aku tidak mau!" tukas Sara tegas. Tidak ingin tergoda oleh sikap manis suaminya.

"Masa hukumanmu masih berlanjut, Sayang."

Mau tidak mau Sara menurut saat tangan Max tidak terkendalikan.

Lelaki iblis!

"Kembalikan warna rambutmu besok. Aku tidak suka warna mencolok ini," ucapnya sambil menarik-narik rambut Sara lalu menciumnya.

"Lepaskan dulu tanganmu, Max."

"Tidak, ini juga hukuman untukmu karena mewarnai rambut ini dengan warna jelek. Oh iya, kembalikan juga ke bentuk semula. Aku tidak suka rambut lurusmu."

Ck, semuanya dia tidak suka.

"Kau pakai sampo apa? Kenapa rambutmu bau?"

"Hah?!"

Sara menciumi rambutnya. Ini wangi. Apa indera penciumannya bermasalah? Bahkan sampo yang kupakai sama dengan miliknya.

"Aku memakai sampo yang ada di kamar mandi."

"Ternyata aromanya berbeda saat kau pakai. Coba cium rambutku, ini sedikit tidak nyaman."

Sara mencium rambut Max dan wangi itu sama dengan miliknya. Apa yang berbeda?

Apa dia mengerjaiku? Akkkhhh, Max sialannn!

"Ini sama!"

Godaannya berhasil, Max tergelak. "Kau polos atau bodoh? Tentu saja sampo yang kupakai harus harum. Akan kemana harga diriku sebagai orang kaya kalau memakai sampo yang tidak beraroma?"

Sara memukul lengan Max dengan kesal. Wajahnya memerah. "Kau benar-benar menyebalkan!"

"Tapi kau menyukainya," ujar Max percaya diri.

Seperti tertangkap basah karena mencuri, Sara gelagapan. Ia memalingkan wajahnya demi menghindari tatapan menggoda Max.

"A-aku tidak menyukaimu," ketus Sara.

Meski kalimat itu yang terucap dari mulutnya dengan ketus, entah kenapa hatinya seakan tidak bisa diajak berkompromi. Rasa sesak di dada mengatupkan bibirnya perlahan, lalu masuk ke dalam selimut dan menghindari Max.

Aku tidak bisa mengatakannya sekarang. Biarlah aku menyimpan rasa ini sendirian.

Max menatap datar perempuan yang sudah masuk ke dalam selimut itu. Ia merasa ada yang berbeda dari istrinya.

"Apa kau benar-benar menyukaiku?" Max ikut masuk ke dalam selimut dan memeluk istrinya. "Jangan menyerah untukku, Sara. Kau istriku, ingatlah itu! Kau berhak menyukaiku bahkan mencintaiku, diriku milikmu."

.

.

.

***

Maaf, Xie jarang up. Dan ini akan berlanjut dalam waktu yang lama. Xie bakal fokus pada cerita Silver dan Sue dulu. Bukan berarti ini tidak up, kalau ada waktu nulis naskah ini, Xie akan up tapi tidak janji akan up setiap hari. Mohon pengertiannya ya. Dan tolong baca juga cerita Bang Silver dan Sue ya, judulnya Devil Side of The Athlete.

Selamat Idul Adha buat semua yang merayakannya!

.

Salam hangat ^_^

Xie Lu

1
yhoenietha_njus🌴
Luar biasa
im3ld4
Halah.. baru sadar dah ambyar
Jelita S
bagus banget
Sulisayaheaisyah Sulis
terima kasih utk karya terbaiknya thor,,seru menarik dan keren
Sulisayaheaisyah Sulis
liat max panik aku malah ngakak 🤣🤣🤣🤣
Sulisayaheaisyah Sulis
aku berharap sara bisa hamil thor
Sulisayaheaisyah Sulis
speachless
Sulisayaheaisyah Sulis
padahal aku berharap sara segera hamil
Sulisayaheaisyah Sulis
max dan Peter sudah seperti tom & jerry
Sulisayaheaisyah Sulis
kapan sara hamil thor
Sulisayaheaisyah Sulis
keren keren thor
Sulisayaheaisyah Sulis
benar" gila thompson, anak sendiri mau di bunuh
Sulisayaheaisyah Sulis
oh ya ampun lagi lagi kena prank
Sulisayaheaisyah Sulis
menantu dan mertua yg sama" somplak🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Sulisayaheaisyah Sulis
karyamu keren thor
Sulisayaheaisyah Sulis
dr awal aku jg benci dg peter tp trnyata smpai di sini peter tdk sejahat itu
Sulisayaheaisyah Sulis
keluarga yg harmonis
Sulisayaheaisyah Sulis
tuan,,D-dad,,🤣🤣🤣🤣
Sulisayaheaisyah Sulis
❤️❤️❤️❤️❤️❤️
Sulisayaheaisyah Sulis
senengnya liat yg manis" kyk gini
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!