NovelToon NovelToon
Sumpah Di Atas Luka

Sumpah Di Atas Luka

Status: sedang berlangsung
Genre:Dijodohkan Orang Tua / Slice of Life / Teen Angst / Penyesalan Suami / KDRT (Kekerasan dalam rumah tangga) / Romantis
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Peachy

Bagi Brixton, pernikahan ini bukanlah awal dari sebuah kebahagiaan, melainkan lonceng kematian bagi kebebasannya. Di bawah sumpah yang dipaksakan oleh ambisi keluarga, ia harus merelakan wanita yang ia cintai menjadi kenangan pahit, demi bersanding dengan seseorang yang dianggapnya sebagai kutukan hidup: dirimu. Brixton tidak pernah mencoba menyembunyikan kebenciannya. Baginya, setiap inci wajahmu adalah pengingat akan masa depan yang dirampas darinya. Di dalam rumah yang seharusnya menjadi surga, ia membangun tembok tinggi yang terbuat dari hinaan, penolakan, dan tatapan tajam yang menusuk. Puncaknya terjadi saat Brixton jatuh sakit dalam kesendiriannya. Di tengah demam yang membakar tubuh dan harga dirinya, ia tetap memilih untuk menderita daripada menerima uluran tanganmu. Baginya, sentuhanmu lebih panas dari demamnya, dan perhatianmu lebih menjijikkan daripada kematian itu sendiri. "Aku lebih baik merangkak menuju kematian daripada disentuh olehmu." Di antara benci yang mendarah daging dan luka yang tak kunjung kering, akankah sumpah di atas altar itu tetap menjadi penjara? Ataukah di balik rintihan sakitnya, tersimpan sebuah rahasia yang bahkan Brixton sendiri takut untuk mengakuinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Peachy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Drama

Kesunyian yang diciptakan Alana adalah siksaan paling lambat yang pernah dirasakan Brixton. Pria itu, yang biasanya memerintah dengan satu jentikan jari, kini merasa tidak lebih dari sekadar pajangan di rumahnya sendiri. Setiap kali ia mencoba mendekat, Alana akan menghindar dengan keanggunan yang menyakitkan. Alana tidak lagi marah, tidak lagi menangis, dan itu membuat Brixton merasa seolah-olah dirinya sudah mati di mata istrinya.

Dalam keputusasaan yang memuncak, sebuah ide gila muncul di benak Brixton. Ia harus tahu apakah masih ada sisa-sisa perasaan di balik mata hijau zamrud yang kini tampak dingin itu. Ia harus memastikan apakah Alana benar-benar sudah tidak peduli, ataukah ini semua hanya benteng pertahanan yang bisa ia runtuhkan.

Sore itu, saat hujan rintik-rintik mulai membasahi kota, Brixton sengaja tidak pulang dengan mobilnya yang biasa. Ia menginstruksikan sopirnya untuk menurunkannya beberapa blok sebelum gerbang mansion. Ia sengaja membiarkan dirinya sedikit basah kuyup, lalu dengan akting yang ia asah di depan cermin kantornya, ia masuk ke dalam rumah dengan langkah yang diseret-seret.

"Tuan Brixton!" Bibi Martha menjerit saat melihat tuannya masuk dengan wajah pucat yang sengaja ia buat-buat dengan sedikit bantuan bedak tipis dan napas yang diatur agar terdengar sesak.

Brixton tidak menjawab. Ia sengaja menjatuhkan diri di atas sofa ruang tengah dengan suara debuman yang cukup keras untuk didengar hingga ke lantai atas. Ia mengerang pelan, memegangi dadanya, seolah-olah ia sedang mengalami serangan jantung atau kelelahan yang luar biasa hebat.

"Tuan! Anda kenapa? Saya akan panggil dokter!" teriak Bibi Martha panik.

"Tidak... jangan panggil dokter dulu," bisik Brixton dengan suara serak yang dibuat-buat. "Panggil... panggil Alana."

Di lantai atas, Alana sedang asyik merajut sepatu bayi kecil di balkon. Mendengar suara gaduh dan teriakan Bibi Martha, jantungnya mencelos. Terlepas dari segala rasa sakit yang diberikan Brixton, insting dasarnya sebagai wanita yang lembut tidak bisa hilang begitu saja. Ia segera berdiri, meletakkan rajutannya, dan berjalan—hampir berlari kecil meski perutnya yang sudah buncit menghambat langkahnya.

"Bibi! Ada apa?" Alana muncul di puncak tangga, napasnya sudah mulai terengah-engah karena beban kehamilannya.

"Tuan Brixton, Nyonya! Beliau pingsan dan badannya panas sekali!"

Alana tidak menunggu lagi. Ia menuruni tangga dengan hati-hati namun gesit. Begitu sampai di ruang tengah, ia melihat Brixton tergeletak tak berdaya. Alana segera berlutut di samping sofa. Ia menyentuh kening Brixton dan matanya membelalak.

"Brixton! Brixton, kau dengar aku?" Alana menepuk pipi suaminya dengan cemas.

Brixton hanya mengerang, matanya terpejam rapat. Di dalam hati, ia merasakan kepuasan yang luar biasa saat merasakan tangan lembut Alana menyentuh wajahnya lagi. Aroma tubuh Alana—campuran antara wangi bunga lili dan minyak bayi—memenuhi indranya.

"Ya Tuhan, bajumu basah kuyup! Kau bisa terkena pneumonia!" Alana mulai mengomel. Ia menoleh ke arah Bibi Martha. "Bibi, ambilkan air hangat, handuk kering, dan kotak obat di kamarku. Sekarang!"

Dengan perutnya yang kini sudah memasuki trimester ketiga, Alana terlihat kesulitan untuk memindahkan tubuh Brixton yang besar. Namun, entah dari mana datangnya kekuatan itu, ia berhasil membantu Brixton untuk setidaknya duduk dan bersandar, lalu menuntunnya perlahan menuju kamar di lantai bawah agar pria itu tidak perlu menaiki tangga.

"Kau ini benar-benar tidak tahu cara menjaga diri sendiri, hah?" omel Alana sambil mencoba membuka kancing kemeja basah Brixton. Tangannya bergerak gesit meskipun perutnya seringkali menyenggol tangan suaminya. "Sudah tahu cuaca sedang buruk, kenapa malah hujan-hujanan? Kau pikir kau ini pahlawan di film aksi?"

Brixton tetap diam, membiarkan istrinya mengurusnya. Ia menikmati setiap omelan itu. Bagi pria lain, omelan mungkin terdengar mengganggu, tapi bagi Brixton, ini adalah musik paling indah yang ia dengar setelah berminggu-minggu kesunyian.

"Lihat ini, dadamu kedinginan sekali," Alana terus mengomel sambil menyeka tubuh Brixton dengan handuk hangat yang dibawakan Bibi Martha. "Jika kau sakit, siapa yang akan mengurus perusahaanmu? Kau ini keras kepala, egois, dan sekarang kau membuatku harus bekerja ekstra saat aku sendiri sedang kesulitan membawa beban sebesar ini!" Alana menunjuk perutnya yang buncit dengan wajah yang cemberut namun matanya memancarkan kecemasan yang tulus.

"Maaf..." bisik Brixton singkat, mencoba menahan senyum kemenangannya.

"Maaf tidak akan menurunkan suhu tubuhmu! Diamlah dan minum ini," Alana menyodorkan gelas berisi teh jahe hangat dan sebutir obat penurun panas. Ia tidak lagi memedulikan kedinginannya sendiri; ia hanya fokus pada pria di depannya.

Alana duduk di pinggir tempat tidur, mulai mengoleskan minyak kayu putih di dada dan punggung Brixton untuk memberikan kehangatan. "Lain kali kalau kau mau mati konyol, jangan lakukan di rumah ini. Kau membuat bayi ini ikut panik, kau tahu?" ucap Alana sambil mengelus perutnya yang mendadak menendang kuat.

Brixton menatap wajah Alana dari dekat. Ia melihat beberapa helai rambut merah jambu istrinya yang terlepas dari ikatannya, menempel di dahi Alana yang berkeringat karena kelelahan. Ia melihat bibir Alana yang terus bergerak mengomel, namun tangannya sangat lembut saat menyentuh kulitnya.

"Alana," panggil Brixton pelan.

"Apa lagi? Kau mau mengeluh sakit? Sudah kubilang diam dan istirahat!"

"Kenapa kau masih peduli?"

Gerakan tangan Alana terhenti sejenak. Ia terdiam, menatap lurus ke arah dada Brixton. Keheningan menyelimuti ruangan itu selama beberapa detik.

"Karena aku bukan kau, Brixton," jawab Alana dengan suara yang lebih rendah, kehilangan nada omelannya. "Aku tidak bisa melihat orang lain menderita dan mengabaikannya begitu saja, meskipun orang itu adalah kau—orang yang paling sering menyakitiku. Sekarang tidurlah. Aku akan mengompres keningmu."

Malam itu, Alana benar-benar tidak beranjak dari samping tempat tidur Brixton. Ia duduk di kursi kayu yang keras, berkali-kali mengganti kompres di dahi suaminya. Kadang-kadang ia tertidur sebentar dalam posisi duduk, lalu terbangun lagi saat mendengar rintihan (yang disengaja) dari Brixton.

Perut buncitnya membuat Alana sulit menemukan posisi duduk yang nyaman. Ia sering memegangi pinggangnya yang pegal, sesekali meringis saat bayinya menendang kandung kemihnya. Namun, setiap kali ia melihat wajah Brixton yang "sakit", ia akan kembali memeras handuk dan memastikan suhu tubuh pria itu stabil.

Brixton, yang sebenarnya sudah merasa bugar, merasa sangat bersalah sekaligus bahagia. Ia melihat bagaimana Alana berjuang melawan rasa kantuk dan pegal demi dirinya. Ia melihat bagaimana Alana mengabaikan rasa mualnya sendiri untuk memastikan Brixton meminum air putihnya.

"Alana, tidurlah di sampingku. Kursi itu akan membuat punggungmu sakit," ucap Brixton di tengah malam.

"Tidak usah. Aku tidak mau tertular penyakitmu atau terganggu oleh igauanmu," sahut Alana jutek, meskipun ia kemudian menguap lebar.

"Aku serius. Tempat tidurnya cukup luas. Kau sedang hamil besar, Alana. Kasihan bayinya jika ibunya tidur sambil duduk seperti itu."

Alana menatap Brixton dengan curiga. "Kau tidak sedang merencanakan sesuatu yang aneh, kan?"

"Aku sedang sakit, untuk apa aku merencanakan sesuatu?" Brixton mencoba memasang wajah selemas mungkin.

Akhirnya, karena rasa lelah yang tidak tertahankan, Alana menyerah. Ia naik ke tempat tidur, berbaring di sisi yang jauh dari Brixton dengan posisi membelakangi pria itu. Ia menarik selimutnya tinggi-setinggi mungkin.

"Jangan berani menyentuhku," ancam Alana sebelum akhirnya jatuh tertidur karena kelelahan yang luar biasa.

Brixton berbalik pelan, menatap punggung Alana. Di bawah cahaya lampu tidur yang redup, ia melihat betapa rapuhnya wanita ini. Di dalam perut itu, ada darah dagingnya yang tumbuh. Ia merasa seperti pecundang yang luar biasa. Ia harus berpura-pura sakit hanya untuk mendapatkan sedikit perhatian dari wanita yang seharusnya ia cintai dengan sepenuh hati.

Esok paginya, Brixton memutuskan untuk memperpanjang sandiwaranya satu hari lagi. Ia masih berbaring di tempat tidur saat Alana bangun.

"Bagaimana perasaanmu? Masih pusing?" Alana langsung menempelkan punggung tangannya ke dahi Brixton begitu ia membuka mata. Rambutnya berantakan, dan wajahnya bengkak karena kurang tidur, namun di mata Brixton, ia adalah wanita paling cantik di dunia.

"Masih sedikit lemas," bohong Brixton.

"Ya sudah, hari ini jangan ke kantor. Aku sudah menyuruh sopirmu untuk memberitahu asistenmu," ucap Alana sambil beranjak dari tempat tidur dengan susah payah. "Aku akan buatkan bubur ayam untukmu. Dan jangan coba-coba turun dari tempat tidur sebelum aku kembali!"

Alana pergi ke dapur, dan selama satu jam berikutnya, Brixton bisa mendengar suara denting peralatan masak dari lantai bawah. Ia mendengar Alana mengomeli pelayan karena sayurannya kurang segar, dan ia mendengar suara tawa kecil Alana saat berbicara dengan Bibi Martha.

Saat Alana kembali dengan nampan makanan, ia tampak sangat bersemangat. Ia menyuapi Brixton sesendok demi sesendok, sambil terus mengoceh tentang betapa merepotkannya merawat orang sakit sekaligus mengandung.

"Kau tahu, anakmu ini sangat nakal tadi malam," ucap Alana sambil meniup bubur panas. "Dia menendang terus, seolah tahu ayahnya sedang bersandiwara... eh, maksudku, sedang sakit manja."

Brixton tersedak kecil. Apa dia tahu aku berpura-pura? pikirnya panik. "Maksudmu?"

"Kau itu kalau sakit persis seperti anak kecil," Alana mencubit hidung Brixton dengan gemas tanpa sadar—sebuah tindakan spontan yang membuat keduanya membeku.

Mata mereka bertemu. Ada kilatan memori tentang masa-masa sebelum kebencian merenggut segalanya. Untuk sekejap, dinding es di antara mereka mencair. Alana segera menarik tangannya kembali, wajahnya memerah karena malu.

"Makan saja sendiri! Aku mau merawat bunga-bungaku yang kau hancurkan kemarin!" Alana bangkit dengan terburu-buru, mencoba menyembunyikan rasa gugupnya.

"Alana!" panggil Brixton sebelum Alana mencapai pintu.

Alana berhenti namun tidak menoleh. "Apa lagi?"

"Terima kasih. Dan... maaf."

Alana terdiam cukup lama. Bahunya yang tadinya tegang perlahan melonggar. "Sembuhlah dengan cepat, Brixton. Rumah ini terlalu sunyi jika kau tidak ada untuk menggangguku."

Setelah Alana pergi, Brixton meletakkan mangkuk buburnya. Ia merasa sangat malu pada dirinya sendiri. Sandiwara ini berhasil; ia mendapatkan perhatian Alana, ia mendapatkan omelannya, dan ia merasakan kembali kehangatan yang selama ini ia buang. Namun, ia juga menyadari bahwa kepolosan dan kebaikan hati Alana adalah sesuatu yang sangat berharga—sesuatu yang selama ini ia injak-injak demi egonya yang terluka karena Elena.

Sepanjang hari itu, Brixton memperhatikan Alana dari kejauhan. Ia melihat Alana berbelanja perlengkapan bayi melalui ponselnya, melihat Alana mengusap perutnya sambil berbicara sendiri, dan melihat Alana yang kadang-kadang masih mual namun tetap memaksakan diri untuk membawakan Brixton jus buah segar.

Brixton mulai menyadari satu hal: ia tidak perlu berpura-pura sakit untuk mendapatkan perhatian Alana. Ia hanya perlu berhenti menjadi monster.

Namun, rasa takut untuk benar-benar terbuka masih ada. Ia takut jika ia bersikap baik secara permanen, ia akan kehilangan kendali atas perasaannya sendiri. Ia takut jika ia mencintai Alana, ia akan mengkhianati kenangan Elena.

Tapi saat sore hari tiba dan Alana kembali masuk ke kamarnya dengan sepiring buah potong, mengomel tentang Brixton yang belum menghabiskan air putihnya, Brixton tahu bahwa ia lebih memilih diomeli Alana seumur hidup daripada harus kembali ke bar dan tidur dengan wanita yang tidak memiliki jiwa.

"Kau lihat ini? Ceri ini mahal sekali, jadi habiskan!" omel Alana sambil meletakkan piring itu di nakas. "Dan besok kau harus sudah sehat. Aku tidak mau melihatmu bermalas-malasan lagi, mengerti?"

Brixton tersenyum—kali ini senyum yang tulus, bukan senyum sinis yang biasa ia tunjukkan. "Mengerti, Nyonya Vance."

Alana mendengus, namun ada rona merah di pipinya. Ia berjalan keluar dengan langkah yang sedikit berat karena kandungannya, meninggalkan Brixton yang kini merasa benar-benar hidup kembali. Sandiwara itu mungkin berakhir, tapi sesuatu yang baru—sesuatu yang lebih lembut—mulai tumbuh di sela-sela luka yang selama ini menyelimuti kediaman Vance.

Malam itu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Brixton tidur dengan nyenyak tanpa bantuan alkohol atau pelampiasan nafsu. Ia tahu bahwa meskipun Alana masih bersikap jutek dan terus mengomel, gadis itu masih memiliki ruang di hatinya untuk memaafkan. Dan Brixton bersumpah, ia tidak akan membiarkan ruang itu tertutup lagi oleh kebodohannya sendiri.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!