Ali seorang mantan tentara bayaran harus menyembunyikan identitasnya setelah memutuskan pensiun dan memilih hidup sebagai warga sipil. Namun siapa sangka kecelakaan yang menimpa putranya membuat ia terpaksa kembali menjadi jagoan dan meninggalkan kehidupannya yang membosankan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Its Zahra CHAN Gacha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
Semua tahanan segera membubarkan diri saat melihat Ali roboh.
Salah seorang napi yang melihat Ali sekarat segera berteriak memanggil sipir penjara.
"Tolong , ada yang sekarat!" seru pria itu menarik lengan sang sipir
Kedua pria itu berlari menghampiri Ali yang tergeletak di lantai. Sang sipir kemudian menghubungi ambulance dan membawanya ke rumah sakit.
Ali membuka matanya, lelaki itu menatap sekelilingnya sembari memegangi perutnya yang terasa perih pasca operasi.
Mengetahui dirinya ada di rumah sakit, Ali merasa jika ini adalah momen yang tepat untuk kabur.
Diluar ruangan dua orang pria berjalan menuju bangsal perawatan Ali.
"Kali ini aku harus memastikan sendiri jika dia benar-benar mati."
"Bagaimana jika dia belum mati Komandan?"
"Maka aku yang akan menghabisinya dengan tanganku sendiri,"
Lelaki itu kemudian memegang handle pintu dan menariknya.
*Krieett!!
Ia melihat sosok Ali terbaring di ranjangnya ditutupi selimut.
Sementara sang komandan menghampiri Ali di brangkarnya, pria yang satunya tampak berjaga-jaga dan mengawasi kondisi di luar ruangan.
Lelaki itu terlihat kesal saat mengetahui Ali tidak ada di ranjangnya.
"Sial, bedebah itu membohongi kita dengan tipuan murahan ini!" Pria itu melampiaskan kekesalannya dengan mencabik-cabik bantal yang disulap menyerupai manusia.
Di luar gedung, Ali tampak merayap seperti cicak menuruni gedung. Beberapa orang terkejut saat melihat Ali melompat masuk ke dalam ruangan dari jendela.
Ali segera meminta maaf dan bergegas keluar dari ruangan itu menuju ke lift.
Saat melihat banyak tentara berjaga di depan pintu keluar Ali memilih turun menggunakan tangga darurat.
Ia bahkan sengaja memakai baju cleaning servis agar bisa meloloskan diri dari rumah sakit.
Ia segera naik Busway dan memilih mengunjungi ayahnya di panti Werdha.
Adolf menyambut kedatangan putranya dan menyuruhnya masuk.
"Apa yang terjadi denganmu?"
Ali menceritakan tentang kasus yang dialaminya kepada sang ayah.
Adolf menyuruh Ali untuk menemui sahabatnya. Ia merasa jika Ali akan aman jika bersama temannya itu.
Ali menurut dan segera menuju alamat yang diberikan oleh ayahnya tersebut.
"Kali ini jangan libatkan teman-temanmu karena kau bisa membahayakan mereka. Akan lebih baik jika untuk sementara waktu kau tinggal dengan temanku Azar," ucap Adolf
"Baik ayah, maaf jika sudah merepotkan mu," jawab Ali
"Aku tidak masalah. Sepertinya aku juga harus kembali berakting menjadi lansia yang mengalami demensia agar para intel itu tak mencurigai ku," Adolf segera duduk di kursi rodanya dan mengantar Ali pergi meninggalkan kamarnya
Seperti dugaanya, beberapa orang pria bertato mendatangi kamarnya.
Adolf sudah menebak jika mereka adalah para intel yang sedang memburu keberadaan Ali.
"Maaf, apa anda Adolf Sanjaya?"
"Benar, apa yang bisa saya bantu?" tanya Adolf
"Apa putra ada di sini?"
Adolf mengangguk membuat para Intel yay lain langsung menggeledah kamarnya.
Tidak lama mereka keluar dari kamar Adolf , "Lapor komandan, Al tidak ada di tempat ini!" ucap salah Seorang dari mereka
Sang komandan tersenyum dan kemudian membungkuk di depan kursi roda Adolf.
"Bukankah anda bilang jika Ali ada di tempat ini, lalu dimana dia?"
Adolf segera masuk ke dalam kamarnya dan menunjukkan foto Ali.
Lelaki itu tampak geram saat mengetahui Adolf membohonginya.
"Sebagai pensiunan Tentara harusnya anda lebih kooperatif agar kami tidak mencurigai anda yang berusaha melindungi seseorang buron!"
Adolf yang kesal dengan sikap arogan komandan muda itu sengaja memencet tombol pemanggil perawat untuk mengalihkan kecurigaan para Intel.
Tak lama seorang perawat datang mengunjungi Adolf, namun salah seorang intel melarangnya menemui Adolf karena sedang di interogasi.
Sang perawat menjelaskan jika ada pada penderita demensia yang memerlukan perawatan khusus. Ia datang ke ruangan itu karena lelaki itu menekan tombol merah yang berarti ada meminta dirinya untuk mengganti pampersnya.
"Terserah anda jika melarang saya ke sini tapi Anda harus siap dengan konsekuensinya. Yaitu mengganti diaper pak Adolf jika tidak mau seisi ruangan ini dipenuhi aroma busuk!" seru sang perawat dengan nada ketus
Benar saja tak lama para intel mengendus aroma busuk, sehingga memanggil perawat itu kembali.
Adolf terkekeh melihat para intel itu berlari keluar meninggalkannya.
**********
*Tok, tok, tok!!
Seorang pria tua keluar.
"Saya Alex Rudiart putra Adolf Sanjaya," ucap Ali memperkenalkan dirinya
Lelaki itu segera menariknya masuk dan mengunci rapat pintu rumahnya.
"Jadi kau Putranya Adolf, kau tampak keren seperti ayahmu saat masih muda," jawab Azar
Ali kemudian duduk di kursi panjang dan meletakkan tas ranselnya.
Tidak lama seorang wanita datang membawakan minuman untuknya.
"Karena kau sedang mengalami masalah dengan identitas mu, maka aku sudah menyiapkan identitas baru untukmu," pria tua itu kemudian meminta wanita itu untuk mengambil gambar Ali
Ia kemudian masuk dan memerintahkan anak buahnya untuk membuatkan kartu identitas penduduk sementara untuk Ali.
Hanya dalam waktu lima menit Ali sudah mendapatkan kartu tanda penduduk yang baru.
"Wah keren sekali, bahkan KTP ini terlihat sangat asli tanpa celah,"
"Tentu saja, kalau masalah tipu menipu itu adalah keahlian kami. Jadi mulai sekarang kau akan menjadi karyawan magang di perusahaan jasa perpanjang SIM dan STNK," jawab Azar
Ali mengernyitkan keningnya mendengar ucapan pria itu, "Jadi usaha Om adalah perusahaan jasa??"
"Benar, harusnya memang begitu tapi sebenarnya kami adalah para mafia yang berprofesi menggandakan dokumen palsu seperti SIM, STNK, dan sertifikat tanah untuk mengambilnya dari pemilik aslinya," jawab Azar
"Oh, begitu. Lalu apa tugasku?" tanya Ali
"Karena kau masih magang, kau tinggal mengamati cara kerja kami saja. Nanti kalau kau sudah hapal cara kerja kami, maka aku akan memberikan posisi sesuai kemampuan mu,"
"Ok Om," jawab Ali
Keesokan harinya Ali mengikuti anak buah Hazard menemui seorang pemilik apartemen. mereka diminta untuk membayar pajak mobil mewah pemilik apartemen.
Pemilik apartemen yang tidak curiga segera memberikan surat-surat kendaraan miliknya kepada mereka. Para sindikat Penipu itu mulai menggandakan mengadakan surat-surat berharga mobil tersebut. Mereka memberikan dokumen yang palsu kepada pemilik mobil setelah mendapatkan uang jasa darinya.
Setelah berhasil mendapatkan surat-surat mobil tersebut Azar kemudian menggadaikan dokumen tersebut untuk mendapatkan keuntungan.
Ali yang sudah mengetahui pekerjaan Azar mencoba belajar bagaimana cara membuat salinan dokumen dari pria itu.
"Bagaimana bisa hasilnya semirip ini?" tanya Ali
"Sebagai seorang anggota intelejen itu adalah hal yang mudah anak muda," bisik Azar
Selama satu Minggu Ali terus mengikuti anak buah Azar melakukan praktik penipuan.
Hingga di Minggu kedua mereka mendapatkan seorang customer seorang miliarder.
Mereka meminta Azar untuk mengurus proses balik nama sebuah rumah mewah.
Mendapatkan mangsa kakap Azar pun mengerjakan proyeknya dengan cepat dan ekstra hati-hati.
Namun siapa sangka pemilik rumah mewah itu adalah sepupu Max. Ia kemudian melaporkan tindakan penipuan yang dilakukan oleh Azar kepada Max.
Max segera memerintahkan anak buahnya untuk mencari keberadaan Azar.
Sementara itu Ali yang merasa situasi mulai aman berencana meninggalkan kediaman Azar.
"Terimakasih atas bantuan Om selama ini, aku pamit dulu," ucap Ali
"Kalau kau mau pergi setidaknya makan dulu. Sebentar lagi pesanan makan siang kita sampai, jadi tunggu sebentar ya,"
"Baiklah," Ali kemudian kembali ke kamarnya untuk menunggu
Tidak lama terdengar suara orang mengetuk pintu. Azar memerintahkan anak buahnya untuk membuka pintu rumahnya.
*Brakkk!!
Azar terkejut saat mendapati anak buahnya terhempas di depannya.
Beberapa orang pria berjas hitam memasuki ruangan itu.
"Siapa kalian?" tanya Azar
" Azarenka Sagala sebaiknya serahkan semua uang yang kau ambil dari Hanz Jimenez,"
"Oh Hanz rupanya, baiklah kalian tak perlu membuat keributan jika hanya menginginkan uang itu kembali. Kita bisa membicarakannya baik-baik bukan?" jawab Azar berusaha tenang
Ia menyuruh anak buahnya mengambil koper berisi uang di kamarnya. Seorang anak buah Azar memberikan koper itu kepada Azar.
"Uang ini masih utuh dan sama sekali belum aku sentuh, jadi silakan pergi dari sini dan jangan buat keributan," Azar memberikan koper itu kepada pemimpin mereka
*Bugghhh!!
Lelaki itu menghantamkan koper itu ke kepala Azar hingga pria tua itu jatuh tersungkur ke lantai.
"Kau pikir kami datang hanya untuk uang ini saja. Serahkan semua uang dan aset berharga kalian jika kalian masih ingin hidup!" seru pria itu
Melihat tak seorangpun bergerak, pria itu menyuruh anak buahnya untuk menggeledah seluruh ruangan itu. Mereka bahkan menghajar anak buah Azar yang berusaha menghalanginya.
*Brakkk!!
Ali terkejut saat melihat seseorang mendobrak pintu kamarnya.
"Cepat serahkan uang hasil curian kalian atau aku akan membunuhmu!"
Ali segera beranjak dari tempat tidurnya dan menghajar pria itu.
Semua anak buah Max terkejut saat melihat teman mereka terkapar di depannya.
Seketika mereka langsung menyerang Ali dan berusaha membunuhnya.
Dengan kekuatan Ali tak butuh waktu lama baginya untuk mengalahkan musuh-musuhnya.
Azar begitu terpukau dengan kemampuan beladiri Ali.
"Sebaiknya kalian pergi dari sini, karena aku yakin mereka pasti akan datang lagi mencari kalian,"
season 2 donk thooorrrrrrr
di tunggu Looh
Sekalian rekomen buat yang kesusahan nyari novel yang seru dan bagus, mending coba baca yang judulnya Caraku Menemukanmu
eman2. bagus lho. sayang kan.
untuk hera kyak e sudah saatnya dia terpojok. tinggal masukin karung saja terus dibuang ke laut.. kira2 kalau hera dibuang ke laut, mak hiu doyan g sih? 🤣🤣🤣
ini adalah sebuah cerita yang mengajari kita tentang semangat hidup.
hidup itu ber putar, kadang hidup terasa nyaman, namun kadang hidup juga terasa susah. belajar lah dari kisah ali dalam cerita ini. jatuh bangun penuh kesialan. namun tetep semgat bertahan .
kata bang Haji sih berakit rakit kehulu. berenang renang ketepian. 🏃♂️