Dewi ingat janji-janji manis Arif saat menikah: melindungi dan membuatnya bahagia. Tapi kekeras kepala dan kecanduan judi membuat janji itu hilang – Arif selalu sibuk di meja taruhan, tak mau mendengar nasihat.
Arif punya kakak laki-laki dan adik perempuan, tapi ia dan adik perempuannya paling dicintai ibunya, Bu Siti. Setiap masalah akibat judi, Bu Siti selalu menyalahkan Dewi.
Dewi merasa harapannya hancur oleh kekeras kepala Arif dan sikap mertuanya. Akhirnya, ia harus memutuskan: tetap menunggu atau melarikan diri dari perlakuan tidak adil?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ningsih Niluh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
uang dan janji yang patah
“Dewi,” ujar orang itu dengan suaranya lemah.
Dewi mengangkat kepala, mata nya masih sedikit buram karena baru terbangun dari lamunan. Di depannya berdiri Arif—wajahnya kusam, rambutnya berantakan, tapi matanya memancarkan cahaya yang ia tidak lihat sudah lama. Tangan kanannya memegang tas kertas yang terlihat penuh, sedangkan tangannya kiri menggenggam pegangan pintu dengan kencang.
“Arif? Kamu kenapa pulang sekarang?” tanya Dewi dengan suara yang terkejut. Ia sudah beberapa hari tidak melihat Arif pulang—kadang-kadang arif tidur di rumah ibunya, kadang-kadang ia bilang tinggal di rumah teman. Dewi sudah mulai terbiasa hidup sendirian di rumah mereka yang sama, jadi kehadirannya sekarang membuat hatinya berdebar-debar.
Arif melangkah masuk, tanpa mengucapkan apapun. Ia meletakkan tas kain di meja tamu, lalu menghadap Dewi dengan wajah yang penuh kesalahpahaman. “Dewi, maaf aku pulang terlambat lagi,” ujarnya, matanya menatap mata Dewi dengan penuh harapan. “Aku mau ngomong sama kamu. Ada yang penting.”
Dewi mengangguk, lalu duduk di kursi terdekat. Nyeri di perutnya masih terasa, tapi ia mencoba menahannya. “Baik, bicara aja,” katanya dengan tenang. Ia penasaran apa yang mau dikatakan Arif, tapi juga takut—takut bahwa ini hanya lagi-lagi janji yang tidak akan terpenuhi.
Arif duduk di kursi di hadapannya, lalu mengangkat tas kain dan membukanya. Di dalamnya ada banyak uang kertas yang terlipat rapi—uang yang terlihat banyak, lebih banyak dari yang pernah ia lihat dalam satu waktu. Dewi mengangkat alisnya, terkejut. “Arif, itu apa?”
“Dewi, maaf,” ujar Arif lagi, suaranya mulai bergetar. “Aku mau ngakuin sesuatu ke kamu. Beberapa hari terakhir ini, aku berjudi lagi.”
Kata-katanya seperti kilat yang menyambar Dewi. Hatinya yang tadi berdebar-debar, sekarang menjadi dingin dan sakit, walaupun ia telah mendengar dari teman Arif , tapi saat Arif yang bicara langsung tetap saja membuatnya sakit hati. “Apa?” tanya ia dengan suara yang lemah. “Kamu janji dulu tidak akan berjudi lagi, kan? Kamu janji akan berubah.”
Arif mengangguk, tangannya memegang kepalanya dengan rapat. “Ya, aku tahu. Aku maaf banget, Dewi. Aku gak bisa mengontrol diri. Teman-temanku memaksa aku, dan aku terlalu bodoh untuk menolaknya. Tapi, dengarkan dulu ya.” Ia mengambil beberapa uang dari tas dan meletakkannya di mejanya. “Hari ini, aku menang. Aku menang banyak, Dewi. Semua uang ini adalah hasilnya.”
Dewi melihat uang itu, tapi hatinya tidak merasa senang. Ia hanya merasa sedih dan marah. “Apa gunanya uang ini, Arif? Kalau kamu masih melakukan hal yang salah? Kamu tahu kan, aku benci banget sama yang namanya judi. Itu yang membuat kita sering bertengkar dulu bahkan sekarang.”
“Ya, aku tahu,” jawab Arif, lalu melangkah mendekati Dewi. Ia berusaha menggenggam tangan Dewi, tapi Dewi segera menarik tangannya kembali. “Tapi ini kalinya terakhir, Dewi. Aku bersumpah. Aku akan selalu jujur pada kamu mulai sekarang. Aku tidak akan melakukan hal yang tidak kamu suka lagi. Uang ini, kita bisa gunakan untuk kebutuhan kita. Kita bisa beli perabotan yang lebih bagus, kita bisa bayar biaya perawatan mu, bahkan kita bisa menyimpan untuk masa depan kita.”
Dewi hanya diam, matanya menatap lantai. Ia tidak tahu apa yang harus dikatakan. Uang itu memang bisa membantu banyak hal—terutama biaya perawatan tumornya yang semakin meningkat. Tapi ia takut untuk mempercayai Arif lagi. Sudah terlalu banyak janji yang hancur, terlalu banyak harapan yang patah.
“Dewi, percayakan aku sekali lagi,” ujar Arif dengan suara yang lembut. Ia jongkok di depan Dewi, matanya melihat mata Dewi dengan penuh kesetiaan. “Aku tahu aku sudah banyak menyakitkanmu. Aku tahu aku tidak pernah menjadi suami yang baik. Tapi aku sungguh-sungguh akan berubah. Aku akan lebih perhatian padamu, aku akan selalu pulang ke rumah, aku akan membantu pekerjaan rumah, dan aku akan menjaga pola makanmu seperti yang dokter perintahkan.”
Arif mulai membujuk Dewi dengan kegigihan. Ia menceritakan bagaimana ia menang judi hari itu—betapa takutnya ia saat berjudi, tapi betapa senangnya ia ketika menang. Ia berkata bahwa ia akan mengakhiri hubungan dengan teman-temannya yang selalu memancingkannya berjudi, dan ia akan fokus pada keluarga mereka.
Selama setengah jam, Arif terus membujuk Dewi. Kata-katanya begitu manis dan penuh harapan, membuat hati Dewi yang tadinya keras semakin melemah. Ia melihat wajah Arif yang tampak tulus, melihat mata nya yang memerah karena menangis, dan ia mulai merasa iba. Mungkin, kali ini Arif benar-benar serius. Mungkin, kali ini ia benar-benar akan berubah.
“Dewi, tolong,” ujar Arif, menyentuh tangan Dewi dengan lembut. “Berikan aku kesempatan terakhir. Aku tidak bisa hidup tanpa mu. Kamu adalah segalanya bagiku.”
Dewi mengangkat kepala, matanya juga mulai penuh air mata. Ia melihat uang yang tergeletak di mejanya, lalu melihat wajah Arif. Hatinya berjuang antara rasa takut dan rasa harapan. Akhirnya, rasa harapan menang. Ia mengangguk perlahan. “Baiklah, Arif. Aku akan memberi kamu kesempatan terakhir.”
Arif langsung tersenyum lebar, kebahagiaan terlihat jelas di wajahnya. Ia berdiri dan memeluk Dewi erat, mencium kepalanya berkali-kali. “Terima kasih, Dewi. Terima kasih banyak. Aku akan buktikan padamu bahwa aku berharga mendapatkan kesempatan ini.”
Dewi merasakan pelukan Arif yang erat, dan rasa senang yang sudah lama hilang mulai muncul di hatinya. Ia berharap bahwa kali ini semuanya akan berbeda. Ia berharap bahwa Arif benar-benar akan berubah, dan mereka bisa hidup bahagia bersama.
“Tapi ingat, Arif,” katanya dengan suaranya lemah. “Ini kesempatan terakhir. Kalau kamu mengkhianati aku lagi, aku tidak akan pernah memaafkan mu lagi. Aku akan pergi dan tidak akan pernah kembali.”
Arif mengangguk, masih memeluk Dewi. “Aku tahu, Dewi. Aku tidak akan mengkhianati mu lagi. Janji.”
Hari itu sore, Arif tidak keluar rumah. Ia membantu Dewi memasak makan malam—makanan yang sehat, tanpa pedas dan tanpa banyak minyak, seperti yang dokter perintahkan. Ia membantu mencuci piring setelah makan, lalu mereka duduk di teras rumah sambil melihat matahari terbenam. Arif menceritakan banyak hal—tentang pekerjaannya yang akan lebih baik, tentang rencana mereka untuk masa depan, tentang bagaimana ia akan menjaga Dewi dan membuatnya sehat.
Dewi mendengarkan dengan senang hati. Ia merasa seperti kembali ke masa lalu, ketika mereka baru saja menikah dan penuh harapan. Hatinya terasa tenang dan damai, seolah semua beban yang selama ini menekannya sudah hilang.
Malam itu, Arif tidur di sisi Dewi, memegang tangannya dengan erat sepanjang malam. Dewi tidur nyenyak, pertama kalinya setelah lama. Ia bermimpi bahwa mereka hidup bahagia bersama, bahwa tumornya sembuh, dan bahwa Arif selalu ada di sisinya.
Keesokan pagi, Dewi bangun lebih awal. Ia melihat Arif yang masih tidur, wajahnya terlihat damai. Ia tersenyum, lalu pergi ke dapur untuk membuat sarapan. Ia memasak bubur untuk Arif, seperti yang dia minta sore sebelumnya. Saat bubur sudah matang, ia kembali ke kamar untuk membangunkan Arif.
Tapi ketika ia membuka pintu kamar, ia terkejut. Kasur yang tadinya ditempati Arif sudah kosong. Tas kertas yang berisi uang juga sudah tidak ada di mejanya. Dewi mencari-cari Arif di seluruh rumah, tapi tidak menemukan tanda-tandanya. Hanya ada selembar kertas yang diletakkan di mejja kamar, dengan tulisan tangan Arif:
“Dewi, maaf. Aku harus pergi dulu. Ada urusan penting yang harus aku selesaikan. Aku akan kembali besok, janji. Jangan khawatir tentang uang, aku akan gunakannya untuk kebutuhan kita.”
Dewi membaca tulisan itu berulang-ulang, tangisnya mulai menggenangi pipinya. Hatinya yang tadi penuh harapan, sekarang hancur lagi. Ia tahu, ia seharusnya tidak mempercayai Arif lagi. Ia seharusnya tahu bahwa janjinya hanya omong kosong. Tapi mengapa hatinya masih menyimpan harapan bahwa Arif akan kembali? Mengapa ia masih berharap bahwa kali ini semuanya akan berbeda?