Amara yang tidak percaya pernikahan lagi, kini tiba-tiba ada seorang yang menawarkan pernikahan sebagai pengganti 100 hari tanpa iya duga ternyata dia adalah pria yang pernah menolong nya pria yang selalu dia anggap lemah dan bodoh.
Dalam pernikahan itu kedua nya saling membantu dalam karir dan kekeluargaan walaupun di penuhi dengan saling mengejek dan perdebatan, hingga tepat di hari ke 100, Amara yang di jebak oleh musuhnya meminum obat terlarang dan membuat mereka melakukan hubungan suami istri yang tidak ada dalam pikiran nya, rasa cinta yang baru mulai di sadari justru malah berakhir dengan rasa kecewa karena adiknya sadar dari koma nya.
konflik semakin banyak rahasia masa lalu mulai terungkap saat mantan suaminya mengejarnya, di tambah masalah tentang identitas Amara yang menjadi ancaman bagi nya, siapa kah sebenarnya Amara dan Rahasia Apa yang di sembunyikan mantan suaminya?
Apakah Amara akan memilih kembali dengan sang mantan atau justru malah memilih suaminya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anisa Kalista putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mengunjungi Makam
Amara langsung mendorong Arnav, Dia langsung berjalan cepat menghampiri Glen, wanita itu berusaha untuk terlihat tenang seolah tidak terjadi apa-apa.
"Apa sih Lo, teriak-teriak begitu?" Amara langsung menatap Glen dengan tatapan tajam, karena panggilan Glen yang heboh itu menjadi pusat perhatian orang-orang.
"Habisnya, takut kamu kenapa-kenapa sih?" jawab Glen sambil tercengir, Dia merasa lega wanita itu tidak kenapa-kenapa.
"Ada apa memang nya?" Amara bertanya karena tahu, Glen memanggil nya pasti ada sesuatu.
"Harus balik ke perusahaan lagi, masih ada beberapa pekerjaan," Jawab Glen merasa tidak enak hati.
"Oke deh, Gue juga ada urusan." Amara mengangguk mengerti, kemudian kedua nya menghampiri Adara untuk pamit karena bagaimanapun juga, gadis itu tengah menunggu nya.
"Adara, Tante Amira pulang duluan yah," pamit nya membuat gadis kecil itu cemberut.
"Kok buru-buru, karena ada Adara yah?" tanya gadis kecil itu hendak menangis.
"Tidak, Om ada urusan, jadi Tante harus ikut, kamu di sini sama Tante Amera yah, kapan-kapan ketemu lagi," ucap Amara sambil mengacak pelan rambut Adara, namun gadis kecil itu tiba-tiba memeluk kaki nya membuat Amara langsung berjongkok.
Gadis itu langsung memeluk Amara dengan erat, membuat Amara langsung terhenyuh merasa ada sesuatu yang membuat nya menjadi hangat.
"Besok kalo ada waktu, Adara ke Rumah Sakit yah," ungkap gadis kecil itu.
"Tante ada urusan penting, besok gak masuk kerja," jawab Amara langsung melepaskan pelukannya, lalu segera berdiri.
"Kalo begitu Tante pergi dulu yah," lanjut nya lalu segera berjalan dan menggandeng tangan Glen menjauh dari Adara yang tampak terlihat sedih, entah mengapa gadis kecil itu merasa sangat begitu kehilangan, Adara sendiri juga tidak mengerti dengan dirinya sendiri.
"Ayah, kita balik yuk."Adara langsung menghampiri Ayahnya yang tadi juga melihat interaksi kedua nya.
Arnav pun menurut saja, karena dirinya juga masih ada janji dengan pasien, sedangkan Amera di cuekin begitu saja, wanita itu merasa kesal dengan anak dan Ayah itu, biasa nya Adara lah sebagai jembatan nya kini bahkan Adara sama seperti Ayahnya membuat wanita itu merasa kesal.
Sedangkan Amara dan Glen memutuskan untuk pisah setelah berada di depan, Glen awalnya ingin mengantar Amara namun wanita itu menolak dan ingin naik Taxi saja karena ada urusan, Glen pun langsung masuk ke dalam mobil nya setelah memastikan Amara naik ke dalam Taxi.
Sedangkan Amara kini sudah berada di dalam Taxi, mengingat pelukan Adara membuat hati nya merindukan anak nya, akhirnya karena merasa rindu Dia memutuskan untuk membeli bunga tabur dan satu buket bunga, Dia memutuskan mengunjungi Makam anak nya.
Setelah perjalanan panjang itu, kini Taxi yang Amara tumpangi sampai di depan sebuah pemakaman umum, setelah membayar Taxi wanita itu berjalan ke arah pintu masuk, di sana juga bertemu dengan petugas yang berjaga di pemakaman, wanita itu hanya mengangguk saja saat di sapa.
Lalu setelah nya berjalan ke arah makan di mana anak nya di kuburkan, Dia melihat makam yang kini sudah di keramik, yang bertulis 'Zelinnara Rezada binti Arnav Rezada' di batu nisannya, melihat itu Dia mendengus, karena merasa yang mengandung nya Dia tapi Arnav yang di akui.
"Maafkan Ibu, yang baru bisa mengunjungi mu," ucap Amara sambil menaburi bunga dan meletakkan buket bunga di samping batu nisan.
"Ibu sangat begitu merindukan mu, Ibu selalu berpura-pura kuat, tapi ibu lemah kalo mengingat mu, Nak," lanjut nya sambil meneteskan air mata nya.
Dia memeluk batu nisan itu seolah memeluk anaknya.
"Maafkan Ibu yang tidak bisa memaafkan Ayahmu, Ibu sudah punya suami baru lagi, Nak. apa Zelin marah kalo Ibu menikah lagi?" perempuan itu bercerita walaupun tidak ada sahutan, Dia terus memeluk batu nisan itu hingga akhirnya, merasa lelah dan memutuskan untuk pulang.
****
Pukul 5 sore wanita itu baru sampai di rumah nya, Dia langsung merebahkan tubuhnya di sofa ruang tamu, kebetulan rumah itu tampak sepi tidak ada orang, membuat Amara merasa lega karena tidak perlu menghabiskan energi untuk berbicara .
Dia memejamkan matanya perlahan untuk melupakan rasa sedihnya, matanya terasa berat mungkin efek menangis tadi membuat mata nya perih lalu merasa ngantuk, hingga akhirnya Amara terlelap di sofa ruang tamu.
Pukul 6 sore Glen pulang dari kantor, pria itu langsung berjalan masuk setelah Bu Delima membuka pintu, wanita itu langsung menunjuk ke arah Amara saat Glen hendak bertanya, pria itu langsung berjalan diam-diam agar tidak menganggu tidur wanita itu.
Dia menatap Amara yang terlelap, Dia tahu wanita itu suka susah tidur, tapi kali ini Dia tertidur pertanda bahwa wanita itu sudah sedikit demi sedikit sembuh dari penyakitnya.
Akhirnya setelah menatap lama, Dia langsung berjalan ke arah tangga karena tidak ingin membuat wanita itu terbangun, pas hendak menaiki tangga Dia melihat Melani yang tampak terlihat berada di dapur, wanita itu tersenyum sambil menunjuk ke arah Amara, membuat Glen hanya mengangguk saja dan menyuruh Mama nya untuk membiarkan nya saja.
Glen memutuskan untuk mandi setelah sampai di kamarnya, Dia merasa gerah dan lelah setelah menghadapi hari yang cukup panjang itu.
Dari arah pelataran rumah, Klaudia tampak baru pulang, wanita itu turun dari mobil nya dengan bersungut-sungut karena merasa badan nya cukup lelah akibat pasien Amara yang tiba-tiba di tinggal begitu saja, membuat dirinya menangani nya seorang diri karena entah mengapa rekan nya tiba-tiba pada sok sibuk semua.
"Lelah sekali, Bener-Bener menguras energi dan tenaga, " keluh nya saat Bu Delima membuka pintu, wanita itu hanya diam saja tidak mau berkomentar.
Setelah masuk ke dalam dia langsung duduk di sofa ruang tamu, pandangan mata nya tertuju pada sosok Amara yang terlelap dengan nyenyak nya.
"Enak-enakan tidur, setelah membuat orang sibuk setengah mati," gerutu nya langsung berjalan mendekat ke arah Amara.
Bibir Klaudia menyungging senyum, Dia merencanakan ide jahat nya, dengan tidak punya perasaan dia langsung menyiram Amara dengan segelas air.
Byuur.
"Banjiiiir..." teriak Klaudia sambil tertawa terbahak-bahak.
Amara langsung terbangun dari tidurnya, mata merahnya langsung menatap tajam ke arah Klaudia, Dia merasa terkejut sekaligus marah, karena gara-gara Klaudia tadi dia merasa jantungnya hendak copot karena mendengar suara teriakan wanita itu.
Kini wanita itu dengan tanpa dosa nya malah tertawa terbahak-bahak, Bener-Bener kakak iparnya itu perlu di kasih pelajaran.
"Klaudia Jonson, Gue tidak mengusik Lo yah?" Seru Amara dengan suara yang terlihat dingin dan penuh dendam.
"Tidak bisakah Lo, biarin Gue tenang sedikit aja?" lanjut nya dengan mode soft spoken.
"Gak lah ngapain? emang sudah kerjaan ku, mengganggu mu, karena kau hari ini bikin Aku kesel, jadi rasakan akibatnya," jawab wanita itu panjang lebar sambil tersenyum jahat.
"Oh begitu yah? baik biar Gue kasih pelajaran." Amara langsung berjalan ke arah Klaudia lalu mengambil air yang ada di meja, dan langsung menyiram wanita itu membuat wanita itu memekik keras.
"Emang yang bisa seenaknya cuma Lo doang, Gue juga bisa yah, apa kemarin belum cukup membuat Lo jera." Amara langsung menjambak rambut Klaudia dan mencakar wajah wanita itu, membuat Klaudia terhuyung ke lantai, wanita itu hanya menjerit kesakitan.
"Gleeen, tolong kakak mu ini, istrimu kesetanan," teriak Klaudia dengan kerasnya.
Glen yang baru selesai mandi terkaget-kaget saat melihat Bu Delima tergopoh-gopoh menghampiri nya.
"Ada apa Bu?" tanya Glen dengan heran.
"Anu Nona Klaudia bikin ulah, membuat Nona Amara marah," ucap Bu delima dengan terbata-bata.
Glen pun segera mengikuti Bu Delima dengan masih memakai handuk yang melilit di pinggang nya, karena ikut panik.
"Dasar Jal*ng murahan, sakit tahu?" Klaudia terus mengumpat mengatakan banyak kata-kata kasar membuat Amara semakin murka
"Jadi orang itu ngaca dulu deh sebelum berucap, situ yang jal*jg simpanan, pantesan hidup nya rusuhin orang, ternyata cuma di jadiin selingkuhan sungguh menyedihkan." Balas Amara panjang lebar dengan mengejek.
Klaudia yang mendengar itu hendak membalas, namun Glen dengan cepat menarik tubuh Amara, menggendongnya seperti karung beras.
"Kasihan banget cuma di porotin doang, di nikahin kaga," Lanjut nya sebelah akhirnya Glen menaiki tangga.
"Dasar bulsit omong kosong!" umpat Klaudia berusaha untuk duduk, Dia merasa tidak terima dengan apa yang di katakan Amara.
BERSAMBUNG