NovelToon NovelToon
Suami Karismatik Milik CEO Cantik

Suami Karismatik Milik CEO Cantik

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Dijodohkan Orang Tua / Peran wanita dan peran pria sama-sama hebat
Popularitas:6.8k
Nilai: 5
Nama Author: Lonafx

Tamara Hadinata adalah perempuan tegas yang terbiasa memegang kendali. Memiliki gaya hidup yang dipenuhi ambisi dan emosi, membuatnya tak pernah serius memikirkan pernikahan.

Ia sibuk bekerja, sesekali terlibat hubungan sementara tanpa komitmen nyata. Sampai keputusan papanya, mengubah segalanya.

Khawatir dengan gaya hidup dan masa depan Tamara, sang Papa menjodohkannya dengan Arvin Wicaksono—Pria karismatik, intelektual, dan dianggap mampu menjadi penyeimbang hidup putrinya.

Namun bagi Tamara, pertemuan mereka adalah benturan dua dunia dan karakter yang tak seharusnya saling bersinggungan.

____
Bagaimana pernikahan mereka bisa terjadi?
Lalu, apa jadinya jika dua orang yang nyaris bertolak belakang, disatukan dalam ikatan pernikahan?
Di tengah kesibukan dan perbedaan, bisakah keduanya hidup berdampingan meski memulai hubungan tanpa cinta?

kuyyy ikuti kisahnya ya~

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lonafx, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10 Malam Obrolan Pertama

Waktu membawa malam turun perlahan, menutup hari yang panjang oleh hiruk pikuk pernikahan.

Berbeda dari biasanya, malam itu suasana kediaman keluarga Wicaksono jadi lebih hidup.

Elva—sang Mama, sangat bersemangat karena pengantin baru itu tidak keberatan, memenuhi permintaannya untuk bermalam di rumah mereka.

Ia menyambut menantunya, menjamu dengan baik, hingga sudah menyiapkan kamar khusus untuk beristirahat.

Tamara—meski masih canggung, ia tetap terkesan dengan sambutan hangat keluarga barunya itu.

Sekaligus merasa ini awal yang baik, walau belum tahu pasti hal apa saja yang akan menantinya di depan.

Tapi satu hal yang ia tahu, setelah ini hidupnya mungkin tidak akan sama lagi.

Malam itu di teras belakang rumah, waktu sudah menunjukan hampir jam sepuluh, ketika langkah seseorang mengejutkan Arvin yang sedang duduk sendiri.

Pandangannya berpindah dari buku tebal miliknya, sorot matanya dari balik kacamata terpaku sebentar, melihat papanya ikut duduk di sampingnya.

"Sendirian, Vin? Istri kamu gimana?" Arman menegurnya, seraya meletakkan secangkir kopi di atas meja.

Arvin menutup bukunya, meletakkan di atas meja. "Tamara di kamar, Pa. Tadi... aku suruh dia istirahat duluan," jawabnya.

Arman mengangguk-angguk paham. "Tamara nggak keberatan kan, malam ini kalian tidur disini dulu? Mama kamu tuh yang ngebet banget biar kalian nginep."

Arvin mengangguk. "Aman, Pa. Dia nggak keberatan, kok."

Arman kembali menatapnya, kali ini sorot matanya penuh maksud, lalu menyeletuk ringan.

"Kamu gimana sih, Vin? Nyuruh istri kamu istirahat, tapi kamu sendiri nggak nemenin. Malah di sini."

Arvin tersenyum tipis, lalu melepas kacamatanya yang biasa ia gunakan saat aktivitas tertentu.

"Aku hanya membiarkan dia menyesuaikan diri dulu, Pa," katanya sambil meletakkan benda itu di atas buku.

Hening beberapa saat. Hanya suara gemerisik air kolam pada taman, yang terdengar lebih jelas seperti irama menenangkan.

Arman menatap putranya lama, seperti menimbang-nimbang sesuatu sebelum berbicara.

Ia menepuk pelan pundak Arvin. "Terima kasih ya, Vin. Papa senang... akhirnya kamu mau membuka diri untuk hubungan baru," ucapnya. Senyum kecil mengiringi pandangannya yang tulus.

Arvin menunduk sedikit, mendengarkan tanpa memotong, karena ia sudah menebak kemana arah pembicaraan ini.

Hingga Arman kembali melanjutkan, "Papa tahu ini mungkin nggak akan mudah buat kamu. Tapi Papa hanya minta, tolong jangan anggap pernikahan ini sebagai keterpaksaan, tapi anggap lah ini sebagai amanah, Vin."

Arvin hanya mengangguk, mengiyakan. Wajahnya tetap tenang, tanpa reaksi emosional yang berlebihan.

Arman menatap penuh pengertian. "Perlahan tapi pasti, Vin. Apapun bentuk luka di masa lalu, pasti akan terobati juga seiring berjalannya waktu."

Sorot matanya teduh, suaranya senada dengan mimik wajahnya, hangat dan menenangkan.

Ia mengambil cangkir kopi miliknya, menyeruput sebentar. "Papa rasa, memang ini waktu yang tepat untuk memulai semuanya lagi," tambahnya.

Arvin mengangkat wajah, lalu menatap papanya. "Aku akan coba, Pa." Hanya itu yang keluar dari mulutnya.

Arman menepuk pundaknya lagi, seolah ingin memberikan dukungan penuh untuk putranya itu.

Suasana obrolan itu perlahan lebih mencair. Hingga Arman berkata lagi, seakan menemukan arah pembahasan lain.

"Eh tapi, Vin. Serius, deh. Papa sebenarnya cukup penasaran soal yang satu ini," ucapnya, dengan nada bicara lebih santai.

"Soal apa, Pa?" Arvin bertanya dengan alis sedikit terangkat.

Arman sedikit mencondongkan tubuh. "Tamara itu, bukan perempuan pertama yang Papa kenalkan ke kamu. Kalau biasanya kamu langsung menolak, tapi... "

Suaranya menggantung di ujung kalimat, lalu segera melanjutkan, " ...kamu langsung memutuskan menerima perjodohan dengan Tamara, bahkan hanya setelah bertemu satu kali dengannya."

Belum ada jawaban. Arvin tampak masih menahan diri untuk bicara, pandangannya jatuh ke riak air kolam taman di depan mereka.

Ia pun sampai sekarang belum tahu pasti darimana keberanian itu datang, saat hatinya merasa tergerak memutuskan untuk memilih Tamara.

Sampai Arman kembali bersuara, sedikit menggodanya. "Ya... Papa tahu, memang ada banyak alasan untuk memilih Tamara. Dia cantik, pintar, juga pebisnis muda yang sukses."

Sudut bibir Arvin terangkat tipis, pandangannya beralih pada papanya.

"Sebenarnya... aku sudah pernah melihatnya sebelumnya, Pa. Waktu itu masih belum tahu tentangnya," ungkap Arvin.

Arman menyimak dengan dahi berkerut samar. "Oh ya? Kamu nggak pernah bilang." Pria itu terheran.

Arvin terdiam, bahkan napasnya terlihat tenang. Hanya senyumnya yang terlihat lebih menyimpan rahasia.

Ia lantas berdiri, menyudahi obrolan. "Aku ke kamar dulu ya, Pa," pamitnya seraya mengambil buku dan kacamatanya.

Arman berdecak pelan. "Loh, sekarang malah buru-buru mau ke kamar?"

Arvin menoleh sebentar. "Mau istirahat, nyiapin energi buat besok jadi tameng," guraunya.

Arman terpaku sepersekian detik. Kemudian mengangguk-angguk paham, seperti baru mengingat sesuatu.

"Hm... Semoga besok istri kamu nggak kaget ya, Vin," suaranya bernada jenaka.

Arvin mengiyakan, lalu segera berjalan memasuki area rumah.

Sementara itu, Tamara duduk sendiri di kamar yang tiba-tiba terasa terlalu romantis—ranjang elegan, aroma manis floral klasik, serta lampu yang menyala lembut.

Nuansa itu memberikan paduan kesan hangat sekaligus menenangkan. Tapi, ia masih belum juga bisa beristirahat dengan nyaman. Bahkan setelah Arvin membiarkannya sendirian, hampir satu jam yang lalu.

Ia sempat berbaring mencoba memejamkan mata, tapi tak kunjung terlelap. Padahal tubuhnya lelah, setelah hampir seharian menyalami tamu.

Tamara mendesah kesal, lalu menyandarkan tubuh pada kepala ranjang. Rambutnya sedikit berantakan, dengan wajah setengah frustasi.

Tangannya meraih ponsel yang sejak tadi tergeletak di atas nakas, seolah menantang untuk dilihat.

Jarinya menggulir layar, masuk ke ruang obrolan dan mendapat pesan dari Meliza yang dikirim dari setengah jam yang lalu.

Ta, gimana hadiah yang aku kasih? Udah dibuka belum? Kamu pasti suka, deh. Pokoknya harus dibuka ya. Tulis Meliza.

Tamara meletakkan kembali ponselnya. "Aku udah bilang, nggak usah ngasih hadiah apa-apa," bisiknya. Tapi ia tetap menerima karena Meliza sempat memaksanya waktu memberikan hadiah itu.

Pandangannya tertuju pada meja di salah satu pojok ruangan, terdapat beberapa barang miliknya. Di dekat benda itu, ada satu paper bag pemberian dari Meliza yang bahkan hampir ia lupakan.

Alisnya terangkat sedikit, lalu segera berjalan menuju meja itu. Tangannya mengeluarkan sesuatu dari tas itu. Satu kotak hitam persegi, berukuran cukup besar dan terlihat elegan dengan permukaan glossy.

Tamara membawa benda itu dan duduk di tepi ranjang. Ia masih tersenyum kecil saat membukanya. Namun, senyumnya langsung lenyap ketika melihat isinya.

Matanya menatap lebar-lebar, dengan napas setengah tertahan, seolah sesuatu yang dilihatnya adalah benda teraneh yang pernah ia temukan.

Tangannya meraih benda pertama, set pakaian dalam wanita berbahan renda, yang terlihat seperti kekurangan bahan ketika direntangkan di udara.

Matanya berpindah. Napasnya semakin tertahan saat memegang satu per satu benda lainnya: mulai dari penutup mata, tali, cambuk, hingga beberapa jenis borgol yang lebih terlihat seperti mainan—entah untuk apa, tapi otaknya merespons cepat.

"What the... " Kata-katanya menggantung di udara.

Mulutnya tiba-tiba kaku, tak sanggup sekadar mengeluarkan umpatan. Ia tahu sahabatnya itu memang selalu punya cara untuk menjailinya, tapi bagian ini, sungguh sangat diluar prediksinya.

Tamara memejamkan mata sejenak, seraya meletakkan kembali benda-benda itu. Pandangannya tertumbuk pada satu catatan kecil yang sengaja ditinggalkan Meliza.

Jangan lupa lingerie show di malam pertama!

Ia hanya bisa menatap lama tulisan itu, dengan mulut sedikit terbuka tanpa bisa berkata-kata lagi.

Rasa panas merambat pelan di pipinya, merasa malu sendiri, antara geli dan ingin mentertawakan kepolosannya sendiri.

Tamara menggigit bibir bawahnya, ingin rasanya meneriakkan nama perempuan itu keras-keras. Matanya melirik tajam ke arah benda itu, bersumpah untuk segera menyingkirkannya.

Hingga suara pintu tiba-tiba terbuka, langsung membuat bahunya sedikit tergerak mundur.

Arvin muncul dari balik pintu, membawa buku psikologi tebal dan kacamata di tangannya. Tanpa tahu kalau jantung Tamara hampir jatuh saat menyadari kedatangannya.

Sementara Tamara yang kelabakan, bergegas menyimpan kembali benda-benda itu rapat-rapat ke dalam kotak, sebelum Arvin melihatnya.

"Kamu belum tidur?" tanya Arvin sambil menutup kembali pintu.

Pandangannya menyapu sekilas benda persegi hitam di pangkuan istrinya, sembari menunggu jawaban.

Tamara segera menaruh kotak itu di atas nakas. "Eum... Ini... mau tidur," jawabnya, dengan ritme jantungnya masih belum beraturan.

Arvin mengangguk singkat, lalu dengan santainya berjalan menuju sisi ranjang lainnya.

Tamara menyelipkan anak rambut ke belakang telinga, wajahnya masih panas karena menahan kesal terhadap kejailan sahabatnya.

Tapi sorot matanya memperhatikan Arvin duduk di tepi ranjang, sambil meletakkan buku dan kacamata di atas nakas.

Bagaimana bisa dia setenang itu? batin Tamara.

Ia merasa heran, karena Arvin bersikap seolah ini adalah hal yang paling biasa. Padahal, dirinya sendiri sejak tadi sibuk menata degup jantung karena menghadapi situasi baru ini.

"Kamu perlu sesuatu?" tanya Arvin yang menghadap ke arahnya.

Tamara menggeleng, tatapannya segera beralih dari Arvin.

Tapi Arvin belum melepaskannya dari pandangan, sudut bibirnya terangkat tipis. "Kamu gugup?" tanyanya lagi.

"Enggak!" jawab Tamara sambil menoleh cepat, terlalu cepat malah.

Tapi dalam hatinya menggerutu, Duh... kok aku jadi kayak remaja yang baru belajar pacaran gini sih!

Tamara menarik selimut, sekadar menutupi tubuhnya hingga pinggang. Mencoba tetap rileks, meski menyadari dirinya seperti dibaca setiap kali Arvin menatapnya.

"Aku tuh cuma nggak terbiasa aja berbagi tempat tidur sama orang," kata Tamara dengan suara pelan, sedikit melemah.

Arvin tak langsung menanggapi. Ia mengangguk paham. "Nanti juga terbiasa. Lagipula, kita hanya berbagi tempat tidur, bukan kewajiban... " tuturnya.

Sorot matanya berubah lebih hangat. "Kecuali kalau kamu mau," guraunya dengan senyum tipis.

Tamara membeku di tempat, seolah udara ruangan itu ingin menghimpitnya. Kata-kata itu diucapkan dalam nada candaan, tapi entah kenapa, sukses membuat otaknya jadi gaduh.

Apa dia barusan menggodaku? batinnya.

Ia menegakkan punggung. "Udah, jangan ngomong lagi. Aku mau tidur," katanya bernada ketus, padahal hanya untuk menutupi degup jantungnya yang belum juga stabil.

Kamu bahaya kalau ngomong terus. Ia lanjut mengomel dalam hati.

Tamara lantas merebahkan diri, memutar badan membelakanginya. Selimut di tarik sampai ke leher, seolah itu adalah satu-satunya pelindungnya malam itu.

Arvin menahan tawa melihat tingkah istrinya. Di depan orang-orang, perempuan itu memang punya wibawa tegas, tapi sekarang, ia tak ubahnya seperti anak kecil yang takut kena siram air.

Arvin menatap punggung Tamara, sorot matanya lembut meski perempuan itu tak melihatnya.

"Tidur lah, kamu harus punya ekstra tenaga untuk menghadapi besok," katanya.

BERSAMBUNG...

1
🥀⃟ ⃟ThallaAyleena⃟ ⃟🥀
iyaa.. keterlaluan banget.. kalau Arvin itu cowok gak sabaran, udah dtinggalin kamu🙄
Lonafx: marahin aja kak😂😝
total 1 replies
🥀⃟ ⃟ThallaAyleena⃟ ⃟🥀
wahh keren nih dua sohibnya.. pandai menasihati meski dgn cara ngomel dan menghakimi wkwk tp biasnaya manjur, karna mereka orang terdekatnya
Lonafx: cuma mereka yg berani mengomeli ceo galak😂
total 1 replies
🥀⃟ ⃟ThallaAyleena⃟ ⃟🥀
iya bener.. jangan sampai nyesel loh
🥀⃟ ⃟ThallaAyleena⃟ ⃟🥀
ya ampunn.. Arvin jadi cowok sabar banget...
🥀⃟ ⃟ThallaAyleena⃟ ⃟🥀
dia terbiasa keras sama dirinya sendiri.. gak heran tumbuh jadi perempuan dominan yg suka mengontrol,
Lonafx: menempa wehh, typo😫
total 2 replies
🥀⃟ ⃟ThallaAyleena⃟ ⃟🥀
lahh, Papa sakit serius ternyata, pantes pengen banget putrinya cepet nikah
🥀⃟ ⃟ThallaAyleena⃟ ⃟🥀
kira2 Arvin bakal ilfeel gak ya🤣
🥀⃟ ⃟ThallaAyleena⃟ ⃟🥀
Tata lagi ngedrama, apa pasang skin menggatal/Sly/ tapi sama suami sendiri juga sih gapapa😄
🥀⃟ ⃟ThallaAyleena⃟ ⃟🥀
definisi senggol di bales senggol/Facepalm//Facepalm/
Cahaya Tulip
penasaran bakal ada besok🤭

arvin godaanmu sampai ke hatiku🤣
Cahaya Tulip
kucing kali takut aer🤣
Cahaya Tulip
emang iya tata.. 🤣
Cahaya Tulip
kurang bahan nggak tuh? apanya yang ditutupin? 🤣
Cahaya Tulip
wah, ada apa besok? 😗
Cahaya Tulip
wah.. ada apa ini? 😗
Muna Junaidi
Sesuai dengan undangan mareee kita berhalu ria mumpung lagi sendirian🤣🤣🤣mas tolong anaknya dibawa dulu dolanan istri tercintamu mau main sama othor🤭🤭
Lonafx: wahhh siap kakak😝🥰 terima kasih 🙏
total 1 replies
Cahaya Tulip
🥺 kalimat yang diharapkan semua perempuan setelah menikah.. rasa aman tempat pulang perlindungan
. yg lagi mahal sekarang🥺
Cahaya Tulip
Papa Rudi.. sekrang jadi sendirian ya🥺
Cahaya Tulip
untung badai nya tata lagi mode off😂
🧣𝗢𝗞𝗜𝗥𝗔 𝗔𝗗𝗜𝗧𝗢𝗠𝗔🧣
wkwk fiturnya nambah habis kepalanya kebentur😂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!