rapuhnya sebuah jalan bersih yang dipilih, membawanya ke arah yang berlawanan. Setiap langkahnya seperti berjalan di atas kerikil yang berduri tajam—menyakitkan berbahaya, dan tak mudah untuk kembali pada jalan yang bersih, Di tengah kekacauan, hanya satu yang tetap suci: hati dan janji. Namun janji yang dipilih untuk di ucapkan kini tersayat oleh darah dan pengkhianatan karna arus sebuah jalan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ardin Ardianto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gelap mendekat
Hari Kamis menjelang gelap.
Langit Jakarta Utara sudah berubah warna jingga ke ungu tua, matahari tenggelam di balik tumpukan kontainer pelabuhan seperti api yang perlahan padam. Angin sore membawa bau garam laut dan oli mesin, dingin menusuk kulit Shadiq saat ia parkir motor butut di pinggir gang sempit dekat rumah kontrakan. Lampu jalan kuning mulai menyala satu per satu, menerangi bayang-bayang panjang di tembok retak.
Shadiq matikan mesin, napasnya berat. Dua hari terakhir terasa seperti mimpi buruk yang tak kunjung usai. Arva dan Irva di Cianjur. Peti AK emas-perak masih tersembunyi di bawah kasur, seperti bom waktu yang menunggu ledakan. Pria kelinci perak sudah pergi kemarin, tapi kata-katanya masih bergaung: “Kau punya koneksi dengan Agung dan Farhank. Boongi mereka soal peti. Itu memudahkan tugas kita nantinya.”
Shadiq masuk rumah. Ia duduk di sofa plastik reyot, tatap ponsel jadul. Pesan dari Arva belum dibalas sejak telpon kemarin. Ia coba ketik lagi:
“Sayang, aku lagi beresin semua. Tolong kasih tahu Irva Papa kangen. Aku akan buktiin.”
Kirim.
Loading…
Terkirim.
Tidak ada balasan. Titik hijau Arva offline.
Shadiq taruh ponsel di meja. Ia masuk kamar, dorong kasur busa. Peti kayu kecil terbuka pelan. Dua AK-47 custom emas-perak mengkilap dingin di bawah cahaya lampu bohlam kuning. Ia angkat satu, beratnya terasa seperti dosa. Magazen klik masuk. Ia tatap laras dingin itu lama.
*Kalau gue pake ini… gue jadi apa?*
Ia tutup peti lagi, dorong kasur kembali. Ponsel bergetar di ruang tamu. Nomor tak dikenal. Ia angkat.
Suara pria kelinci perak, tenang seperti kemarin.
“Sudah mikir? Pengiriman ke-3 besok malam. 10 peti. Lo harus cari info dari Farhank. Beda jalur, katanya. Lo punya akses. Lo tahu tempatnya.”
Shadiq suara rendah. “Gue nggak percaya kalian. Tapi gue butuh jalan keluar. Gue ikut cari info. Tapi gue nggak mau bunuh orang.”
Pria itu tertawa kecil. “Bagus. Besok lo ketemu Farhank. Lo alihkan perhatiannya. Ambil ponselnya. Cari detail pengiriman ke-3. Kirim ke gue.”
Shadiq diam sebentar. “Gue nggak janji apa-apa.”
Call mati.
Shadiq taruh ponsel. Ia duduk di teras, tatap langit malam yang mulai gelap. Angin malam dingin menusuk tulang. Ia mikir rencana: besok ketemu Farhank, alihkan perhatian, ambil ponsel, intip info pengiriman ke-3.
*Gue main dua kaki. Tapi kalau salah satu tahu… gue mati.*
Sabtu pagi.
Shadiq berangkat ke pelabuhan lagi. Motor butut melaju di jalan tol pagi yang macet. Ia sampai jam 08:00. Kontainer kecil bekas kantor Farhank sudah ramai—Farhank ada di sana, tablet di tangan, Baron di samping, dua pria besar lain mengawasi.
Farhank lihat Shadiq, mata menyipit. “Lo telat lagi?”
Shadiq angkat bahu. “Macet. Tapi gue di sini. Mau bantu cari kontainer hilang.”
Farhank tatap lama, tapi angguk. “Ikut. Kita cek gudang curah.”
Mereka pindah ke gudang curah pinggir pelabuhan—tempat kontainer rusak dan barang hilang disimpan. Gudang besar, gelap, bau karat dan oli tebal. Farhank buka laptop, koneksi internet lewat modem seluler.
Shadiq duduk di sebelah Farhank, pura-pura bantu. Ponsel Farhank diletakkan di meja, layar menyala. Shadiq lihat kesempatan.
Saat Farhank sibuk call Getes Arnold di kapal, Shadiq ambil ponsel Farhank pelan. Buka aplikasi pesan (PIN tebak dari kebiasaan Farhank: tanggal lahirnya).
Chat terbaru: pengiriman ke-2.
“Minggu depan, 10 peti, jalur sama (BBC Everest varian), kapal khusus ‘BBC Phantom’, no special, cuma beda kontainer.”
Shadiq foto cepat dengan ponsel Kelinci Perak, kembalikan ponsel sebelum Farhank selesai telpon.
Farhank tutup call. “Getes bilang kontainer hilang di Singapore. Kita harus cari tahu siapa dalangnya.”
Shadiq pura-pura kaget. “Gue bantu cari."
Farhank angguk. “Besok malam ketemuan Agung. Lo ikut.”
Shadiq pulang siang itu. Di rumah kosong, ia kirim foto chat ke “KP1” ponsel Kelinci Perak.
Balasan cepat: “Bagus. Besok malam lo buka kontainer dari dalam. Setelah itu, lo bebas + keluarga lo aman.”
Shadiq tatap peti di bawah kasur.
*Gue main dua kaki. Tapi kalau salah satu tahu… gue mati.*
Malam itu, Shadiq tidur di sofa.
Ponsel Kelinci Perak bergetar. Pesan baru: “Besok malam gudang curah. Bawa AK. Jangan bawa Farhank tahu.”
Shadiq tatap layar.
*Ini akhirnya. Dan gue harus pilih: bantu Kelinci Perak rampas pengiriman, atau mati bersama keluarga gue.*
---