(Agar nyambung baca Suami Biadab dulu ya besti)
Belum bisa melupakan kepergian mommy nya, Albert memutuskan untuk melajang seumur hidup namun keinginannya ditentang oleh para Dadddy, mereka melakukan drama agar Albert mau menikah dengan wanita pilihan mereka.
Elizabeth, wanita yang dipilihkan para Daddy untuk menjadi pendamping Albert.
Melalui kencan buta yang dijadwalkan mereka berdua bertamu, Albert sebisa mungkin membuat Elizabeth ilfil sedangkan Elizabeth berusaha membuat Albert untuk menerimanya.
Apakah mereka berdua berjodoh? yuk ikutin ceritanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon el Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagaimana Dengan Uncle?
Sepanjang perjalanan menuju kantornya, Albert berkali-kali memukul setir mobil, dirinya masih sangat kesal dengan uncle Sean. Entah mengapa ayah kandungnya tersebut sangat egois, tidak mau memikirkan perasaannya sedikit pun.
Sesampainya di kantor, di loby ada Hardan dan asistennya yang membuat Albert semakin kesal.
"Astaga sudah kesal sekarang malah bertatap muka dengan curut ini," gumam Albert dalam hati.
Meski dia sangat kesal dengan Hardan bukan bearti dia tidak mau menemui teman sekaligus partner bisnisnya.
"Ada apa?" tanya Albert dengan dingin.
Hardan tersenyum, kemudian dia meminta Albert untuk duduk dulu.
"Ada kendala, kemarin aku mengirim email. Apa kamu tidak melihatnya?" jawab dan tanya Hardan.
Albert menggelengkan kepala, memang dari kemarin dia tidak membuka email sama sekali karena waktunya dia habiskan dengan Elizabeth.
"Nanti aku akan cek," jawab Albert.
"Masalahnya kita harus ke lokasi sekarang," sahut Albert.
Dia yang enggan pergi meminta asistennya untuk pergi bersama Hardan, kali ini Albert kegalauan Albert benar-benar membuat dirinya malas mikir perusahaan.
Awalnya Hardan tidak setuju karena ini masalah yang cukup serius tapi Albert meyakinkannya kalau asistennya maupun dia sama saja.
Setelah kepergian Hardan dia pergi ke ruangannya, Albert memandangi foto cinta pertamanya. Matanya membasah mengingat kenangan akan mommy nya.
Sangat menyakitkan saat itu, melihat tubuh mommy nya terpental beberapa meter saat sebuah mobil menabraknya.
"Aku sangat membenci orang yang telah membunuh mommy tapi kini anaknya telah menjadi cintaku mommy," gumam Albert sambil mengelus foto mommy nya.
Albert yang kesal membuang semua benda yang ada di atas meja kerjanya, entah mengapa kenyataan mempermainkan hidupnya.
Beberapa waktu berlalu, dia yang melihat ruangannya berantakan memanggil OB untuk membersihkannya.
Meski berat tapi Albert mencoba fokus dengan pekerjaannya, dia mencoba mengesampingkan rasa yang sedari tadi bergulir di dalam kepalanya.
Tak terasa waktu makan siang telah datang, Elizabeth yang sudah memasak untuk Albert datang ke kantor dengan membawa masakannya.
Dengan senyum yang mengembang Elizabeth masuk ke dalam ruangan Albert.
Melihat Elizabeth datang Albert mengalami perang batin, seakan ada yang menahan dirinya untuk menyambut sang kekasih.
"Kamu sibuk banget ya," kata Elizabeth dengan sedikit manja kepada Albert.
"Iya, kemarin kan aku tidak ke kantor banyak masalah juga dengan beberapa proyek," sahut Albert.
Elizabeth mengangguk paham, sebelum dia pulang, Elizabeth mengajak Albert untuk makan siang bersama tapi Albert menolak dengan alasan dia masih sibuk.
Dari sini Elizabeth sudah merasa kalau Albert berbeda, pikirannya melayang ke sikap Uncle Sean yang berubah beberapa waktu lalu juga berubah.
"Kamu nggak mengikuti uncle kamu kan Albert?" tanya Elizabeth.
Albert mencoba tersenyum kemudian menatap Elizabeth.
"Nggak, aku beneran sibuk. Kamu pulang dulu dan tunggu aku di apartemen," kata Albert.
Dia hanya bisa mengangguk lalu pamit pulang, di dalam mobilnya Elizabeth nampak sedih jika sampai Albert berubah pikiran bagaiamana dengan perasannya yang telah tenggelam dalam cinta membara Albert?
Setibanya di apartemennya, Elizabeth duduk di balkon sambil memikirkan banyak hal termasuk kemungkinan Albert meninggalkannya.
"Sudahlah Elizabeth, jika Albert ingin meninggalkan kamu lepaskan saja dia," gumam Elizabeth.
Tak terasa malam hari telah tiba, Elizabeth tersenyum sambil menangis karena Albert tak kunjung datang, beberapa kali dia menghubungi kekasihnya tapi tidak aktif.
"Sedari awal seharusnya aku sadar diri, aku hanya seorang pungguk yang tidak mungkin bisa menggapai bulan," batinnya lalu pergi ke kamar.
Jika sikap Albert terus begini maka Elizabeth memutuskan untuk pergi dari kota London, dia ingin memulai hidup baru tanpa ada bayang-bayang Albert maupun Hardan.
Elizabeth mencoba memejamkan mata Tapi beberapa saat kemudian sebuah tangan melingkar di perutnya, sontak Elizabeth membuka matanya, dampak Albert yang memeluk dirinya dari belakang.
"Albert kamu kenapa nggak bilang kalau mau datang," protes Elizabeth.
"Maaf, pekerjaan aku sangat banyak dan baru saja selesai," sahut Albert.
Sebenarnya bukan pekerjaan yang membuatnya datang terlambat tapi memang pikirannya yang kacau.
"Kamu sudah makan?" tanya Elizabeth.
"Belum," jawab Albert.
"Astaga kenapa nggak makan diluar."
Tanpa pikir panjang, Elizabeth pergi ke dapur untuk membuatkan Albert makanan. Di dalam kulkas hanya ada ada pasta dan buah-buahan sehingga Elizabet berniat membuat spaghetti moza.
Setelah matang, Elizabeth membawa makannya ke dalam kamar tapi Albert malah tertidur sangat lelap.
"Astaga dia tidur dalam kelaparan," gumam Elizabeth.
Dengan pelan Elizabeth mencoba membangunkan Albert namun kelihatannya Albert sulit untuk dibangunkan dan perjuangannya malam ini membuat makanan harus sia-sia.
"Ya sudah tidur yang nyenyak my prince," kata Elizabet lalu mengecup kening Albert.
Matahari mulai merangkak naik, Albert dan Elizabeth masih saling peluk di atas tempat tidur hingga bunyi alarm ponsel Elizabeth berbunyi.
Kriiiiiing
Sekali lagi bunyi alarm dalam ponselnya berbunyi dan Elizabeth langsung bangun.
"Cepat sekali sudah pagi, perasaan baru tidur satu jam," kata Elizabeth sambil menguap.
Dengan langkah malas, Elizabeth pergi ke kamar mandi kemudian kembali lagi ke ranjang untuk membangunkan Albert.
"Albert, ayo bangun,"
Beberapa kali menggoyang tubuh Albert tapi Albert masih saja setia terhadap bantalnya bahkan dia membelakangi Elizabeth.
"Albert kamu nggak ke kantor?" tanya Elizabeth.
"Satu menit lagi," jawabnya.
Mendengar jawaban Albert tentu Elizabeth tertawa bahkan dia menghitung mundur.
"Sepuluh, sembilan, delapan, tujuh, enam, lima, empat, tiga, dua, satu."
Sekali lagi Elizabeth membangunkan Albert, dia bilang kalau satu menit telah berlalu.
"Astaga cepat sekali," gerutu Albert.
Dengan malas Albert bangun, melihat Elizabeth yang ada di hadapannya membuat Albert tersenyum sambil mencubit pipi kekasihnya tersebut.
"Kamu manis sekali," puji Albert.
Elizabeth sungguh berbunga-bunga, tak disangka kekasihnya sangat manis sekali.
"Seperti biji kopi," sambung Albert dengan tertawa.
Elizabeth yang kesal mencubit perut Albert dengan keras sehingga Albert memohon ampun.
"Maaf maaf, nggak kok kamu memang manis baby," bujuknya.
Setelah sarapan, Albert pamit pulang karena dia harus ganti baju sebelum pergi ke kantor.
"Hati-hati ya," pesan Elizabeth.
Mood yang baik rusak berantakan setelah Albert tiba di rumah karena lagi-lagi Uncle Sean memintanya untuk meninggalkan Elizabeth.
"Uncle please, Albert baru saja merasakan indahnya jatuh cinta kenapa sih Uncle untuk menghancurkan perasaan Albert," protes Albert.
"Uncle tidak ingin kamu salah memilih pasangan Albert," sahut uncle Sean.
"Dia adalah anak pembunuh mommy kamu," sambung Uncle Sean.
Albert mengusap rambutnya dengan kasar, dia tidak mempermasalahkan latar belakang Elizabeth karena bagi Albert Elizabeth adalah segalanya.
"Saat ayahnya membunuh mommy dia belum lahir Dad, dia tidak tau apa-apa," tukas Albert.
"Uncle nggak mau tau Albert, dia tetap saja anak pembunuh."
Ucapan Uncle Sean benar-benar membuat Albert muak, dia bicara seperti itu seolah dia tidak memiliki salah terhadap mommnya nya.
"Kalau Elizabeth adalah anak seorang pembunuh lantas bagaimana dengan Uncle yang menyiksa mommny bahkan hampir saja membunuh mommy dan aku yang masih di dalam perut,"
pengen ku timpuk si Hans itu ngeselin amat dah kek cewe aja pnuh drama