"Diterima ya, Mba. Dijalani saja dulu, banyak shalat dan baca Qur'an. Semoga tugas akhirmu, lekas selesai. Insya Allah, ini keputusan yang baik, Mba. Sepertinya Mas Akbar, anak yang shaleh."
"Iya, Pak, Bu. Saya jalani. Makasih restu dan doanya."
Aku berdiri, pamit. Masuk ke kamar. Kututup pintu, segera sujud syukur kepada Pemilik Semesta.
"Bismillah, semoga aku bisa."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lilinur m, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kapan Pulang?
Mas, Kapan Pulang?
"Ini sudah memasuki akhir bulan Februari, Mas. Kapan rencana pulang? Jangan terlalu mendekati hari H, ya Mas."
" Tidak, aku sudah meminta izi dengan Pimpinan. Belum ada respon. Beliau juga sedang sibuk. Doakan ya."
"Tentu, Mas. Oya, Bagaimana hasil akreditasi kemarin?"
"Alhamdulilah, sudah selesai mengerjakannya, semoga mendapatkan hasil yang memuaskan."
"Aamiin. Mas, sudah dulu, ya. Mau menggosok.baju, Mas istirahatlah. Besok, selamat mengajar."
"Sayang juga, ya. Jangan dandan terlalu cantik. Ingat ya, kamu dandan hanya untuk suamimu."
"Sejak kapan Mas berubah menjadi Zafran-moon, ayolah Mas, mereka sudah tahu kalau aku mau menikah." Ujar Sekar terkekeh pelan.
"Aku baru saja membuka facebook-mu, dan aku menemukan foto-foto kalian. Para penggemarmu duduk dekatmu, sayang. Bagaimana kalau sayang pakai masker saja?"
"Kenapa, Mas?"
"Supaya kecantikanmu hanya aku saja yang melihat." Tegas Akbar.
Sekar semakin tergelak. Sejak kapan calonnya itu posesif sekali, melebihi dirinya.
Wajah Sekar memang imut, jika disandingkan dengan murid yang diajarkan tidak akan beda jauh. Bahkan ada yang sampai mengatakan, 'Sekar masih cocok jika memakai seragam SMA.
"Sekar sayang, kamu dengarkan?" Tanya Akbar.
"Iya Mas, tenang saja. Mas kan sudah hafal dengan Sekar. Tenang saja." Jawab Sekar.
Sekali lagi, Sekar mendapatkan sifat Bapak yang ditemukan pada calon imamnya, Akbar.
Bapak paling tidak suka kalau Ibunya berdandan. Apalagi kalau ada acara kondangan, klakson motor terus dibunyikan, kalau Ibu belum keluar dari istananya.
Akbar juga demikian, hanya saja, ia berpesan pakai saja yang sewajarnya. Supaya tidak pucat. Wajah Sekar memang sudah putih, jadi tidak diperlukan banyak polesan bedak, ia hanya pakai pelembab kadang dan pewarna bibir yang mengandung pelembab.
Itu yang disukai oleh Sekar. Imam yang seperti Bapak.
Walaupun tidak semua sifat yang dimiliki Akbar sama dengan Bapaknya, tetapi Sekar tetap menghargai. Manusia saja memiliki sifat yang unik dan berbeda. Butuh waktu untuk menyatukan dua hati serta meleburkan ego pada diri masing-masing.
Sekar sekarang sudah duduk di kelasnya. Ya, Sekar mengajar di SMA yang terletak tidak jauh dari rumahnya, setidaknya 15 menit waktu yang ditempuh dengan mengendarai sepeda motornya.
Sudah hampir tiga bulan ini, Sekar mengisi kelas bahasa Indonesia di kelas 2 SMA. Sekar menggantikan sementara dikarenakan guru tersebut cuti melahirkan. Bu Dina, namanya. Teman Sekar juga, mendengar Sekar pulang, Dina meminta tolong untuk mengajar sementara di kelasnya, beliau juga sudah izin dengan kepala sekolah. Sekar pun mau dan disinilah ia sekarang. Berhadapan dengan aneka sifat makhluk Semesta.
Sifat ramah dan dekat dengan anak-anak, menjadikan Sekar mudah berkolaborasi sebagai guru dan murid dalam kelas.
Penggemar Sekar pun kebanyakan para murid laki-laki. Acap kali para murid tersebut setelah berswafoto ria, mengunggah di akun facebook atau instagram-nya, setelah itu menandai guru imut dan cantik mereka, Sekar.
Oleh karena itu, Akbar, akhir-akhir ingin segera pulang untuk mengahalalkan Sekar. Supaya tidak ada yang melihat cantik wajah kekasihnya itu.
Sudah pukul tiga sore tapi sang kekasih belum mengabari Sekar. Tentu saja gelisah. Hanya saja, tidak ditunjukan Sekar kepada publik.
Publik? Ya, sekarang di rumah Sekar, sudah banyak orang-orang yang membantu acara pernikahan Sekar dan Akbar.
Biasanya jam segini, Kakanda sudah memberikan info terbaru mengenai keberadaannya. Lebih baik aku buka facebook saja ya, siapa tahu dapat info mengenai resep masakan terpopuler.
Sekar sangat suka mencoba resep yang sedang populer pada waktunya. Meskipun belum bisa memasak, tetapi rasa ingin tahu tentang masakan, Sekar sangat menyukai.
Ting. Ada pemberitahuan di medsosnya. Sekar buka.
Deng deng...
"Jadi ini, yang membuat Kakanda Prabu belum menelepon Dinda."
Lihat saja nanti pembalasanku, Kakang. Sekar menyeringai.
"Mbakyu Ipar, e calon, hai, apa kabar?" Teriak seseorang.
Semesta mendukungku, terima kasih.
"Baik, Kanda. Dirimu bagaimana?" Sambil memeluk kakandanya.
Terima kasih sudah membaca cerita ini. Terima kasih atas apresiasinya. Semoga sehat selalu. Aamiin.