Suara tangisan bayi di ruang bersalin malam itu tidak membawa kebahagiaan bagi Husein. Bagi pria itu, jeritan napas pertama putri kecilnya adalah detik terakhir dari hembusan napas wanita yang paling dicintainya. Istrinya mengembuskan napas terakhir tepat setelah merenggang nyawa demi melahirkan sang buah hati.
"Namanya... Kirana Husein..." bisik Husein dengan suara bergetar, memeluk tubuh istrinya yang telah mendingin tanpa sedikit pun menatap bayi di dalam boks bayi.
Sejak hari itu, Kirana tumbuh bukan sebagai lambang cinta, melainkan sebagai bayangan duka yang teramat dalam bagi Husein. Setiap kali melihat wajah polos Kirana, yang terbayang di benak Husein hanyalah penderitaan dan kepergian istrinya. Rasa benci yang tidak adil mulai mengakar di dada Husein. Bagi Husein, kehadiran Kirana adalah alasan utama mengapa belahan jiwanya telah tiada.
Demi menjauhkan Kirana dari pandangannya, Husein mengirim putri tunggalnya itu ke sekolah asrama di tempat yang sangat jauh sejak usia K
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dua Garis Merah
Mentari pagi kembali memancarkan cahayanya, menembus celah gorden kamar utama. Sesuai kebiasaannya dalam beberapa waktu terakhir, Kirana mengerjap perlahan dan mendapati sisi ranjang di sebelah kirinya telah kosong. Devan sudah lebih dulu berangkat ke kantor karena ada urusan mendadak pagi ini.
Namun, tidak seperti hari-hari biasa, rasa kantuk Kirana seketika lenyap digantikan oleh debaran jantung yang bergemuruh kencang di dadanya.
Ingatannya langsung melompat pada rencana yang sudah ia susun semalam. Waktu terbaik untuk menggunakan testpack adalah pagi hari saat pertama kali buang air kecil.
Dengan gerakan cepat namun hati-hati, Kirana bangkit dari tempat tidur. Ia berjalan menuju meja rias, membuka laci terdalam, dan mengambil kotak kecil berisi testpack yang ia beli kemarin. Jemarinya sedikit bergetar saat mengeluarkan alat tes kehamilan tersebut dari bungkusnya.
Membawa benda itu di tangannya, Kirana langsung melangkah tergesa-gesa menuju kamar mandi utama. Pintu dikunci rapat dari dalam.
Ia berdiri di depan wastafel, menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan degup jantungnya yang kian tak beraturan. Campuran antara rasa penasaran, doa, dan ketidakpastian berkecamuk menjadi satu di dalam kepalanya.
"Bismillah..." bisik Kirana lirih pada dirinya sendiri.
Sesuai dengan petunjuk yang ia baca, Kirana melakukan tes tersebut. Kini, ia hanya bisa meletakkan alat itu di atas permukaan meja wastafel, lalu menutup matanya sejenak, memanjatkan doa dalam hati agar firasat dan rasa mualnya selama beberapa hari terakhir berbuah manis—sebuah jawaban atas kehadiran buah hati yang sangat dinantikannya bersama Devan.
Detik demi detik terasa begitu lambat berlalu. Kirana menunduk, perlahan membuka matanya dan menatap alat testpack yang tergeletak di atas meja wastafel.
Di sana, pada layar kecil alat tersebut, dua garis merah tegas terpampang makin jelas.
Dua garis merah! Positif!
Air mata kebahagiaan seketika menetes membasahi pipi Kirana. Jemarinya bergetar hebat saat mengangkat alat itu, mengusapnya penuh rasa haru yang tak membendung. Firasat seorang ibu, rasa mual beberapa hari terakhir, hingga keinginan ganjil memakan mangga tunggal kemarin... semuanya kini terbukti nyata. Ada kehidupan baru yang sedang bertumbuh di dalam rahimnya—buah cinta utuh antara dirinya dan Devan.
Kirana memeluk alat tes itu di dadanya, menyunggingkan senyum paling bahagia seraya mengusap lembut perut ratanya.
"Terima kasih, Ya Tuhan..." bisiknya penuh rasa syukur.
Ponsel di atas meja rias berdering. Kirana segera menyapu air matanya dan keluar dari kamar mandi. Nama Devan tertera di layar. Kirana menarik napas dalam-dalam, menetralkan suara agar tidak terdengar gemetar.
"Halo, Devan?" sapa Kirana lembut.
"Selamat pagi, Sayang. Maaf ya tadi pagi aku tidak sempat pamit secara langsung," suara berat Devan terdengar hangat dari balik telepon. "Bagaimana keadaanmu pagi ini? Sudah sarapan?"
Kirana tersenyum manis, sebuah ide kejutan langsung terlintas di kepalanya. "Aku baik-baik saja, Devan. Hari ini... aku ingin membawakan makan siang untukmu ke kantor. Kau ada waktu, kan?"
Di ujung telepon, Devan terdengar terkekeh penuh rasa sayang. "Tentu saja, Sayang. Untuk istriku, aku selalu punya waktu. Aku tunggu di ruanganku nanti siang, ya."
"Baiklah, sampai bertemu nanti siang, Suamiku," jawab Kirana pelan sebelum menutup sambungan telepon.
Kirana melihat jam dinding. Masih ada beberapa jam sebelum jam makan siang tiba. Dengan hati berbunga-bunga, ia langsung beranjak menyiapkan kotak hadiah kecil berhiaskan pita indah—tempat ia akan menyembunyikan testpack bernoda dua garis merah itu sebagai kejutan manis yang akan mengubah hidup Devan selamanya.