Aneh bukan? Tapi kembali lagi, hati manusia tidak bisa dipaksakan. Karena cinta merupakan keikhlasan, tak ada paksaan atau pun pelampiasan. Semuanya murni dari kesucian hati yang paling dalam.
Kita tidak bisa menentukan kepada siapa hati ini akan berlabuh. Semua terjadi dengan sendirinya, namun tetap dalam kendali Sang Pencipta.
Ada saatnya berjuang dan diperjuangkan. Tugas kita hanyalah memantaskan diri sesuai dengan apa yang diharapkan, karena jodoh merupakan cerminan diri. Namun, jika harapan tidak sesuai dengan kenyataan, maka yakin itulah yang terbaik. Bisa jadi, jalan kita menuju kebahagiaan yang hakiki.
Pencipta maha tahu, apa yang sebenarnya lebih kita butuhkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AAH♥️, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ainun 27
3 minggu berlalu
Mataku berbinar memandangi benda berwarna putih berbentuk persegi panjang di tanganku. Tidak henti-hentinya pula aku melafazkan syukur kepada Sang Pemberi rezki. Siang ini, setelah shift pagiku selesai, aku menerima gaji pertamaku, gaji yang telah lama aku dambakan.
"Ainun," panggil Winda kepadaku sembari berjalan mendekat.
Aku menoleh dan tersenyum melihatnya. "Hai, cantik."
Di ruang karyawan kami duduk bersama dan berbincang. Setelah menerima uang dari hasil keringat kami, berbagai rencana yang diusulkan oleh Winda. Mulai dari liburan, shopping dan makan-makan. Menggiurkan, tapi mengingat bahwa aku harus menghemat dan membayar hutangku, keinginan itu hanya bisa aku pendam.
"Ai, bagaimana kalau kita liburan, shopping atau makan-makan?" ucap Winda dengan bersemangat.
"Pengen banget. Tapi ... bagaimana, yah." Aku menggaruk dahiku yang tidak gatal.
Winda menatapku dengan kening yang berkerut. "Kan, udah gajian. Tuh, amplopnya saja belum dibuka."
Aku menggigit bibir bawahku sembari menatap amplop putih yang masih tersegel rapi. Aku memang belum menceritakan prihal hutangku yang segunung kepada Winda. Tapi aku akan mencoba menjelaskan.
"A-ada yang harus aku bayar, Win," ucapku ragu.
"Bayar? Maksud kamu?" dengan ekspresi herannya.
"Aku harus bayar hutang."
"Kamu punya hutang? Berapa? Sama siapa?" Winda menyerangku dengan pertanyaannya.
Aku menelan ludahku mendengar cercaan pertanyaan dari Wanita di sampingku. Tidak mungkin juga mengatakan kalau aku berhutang kepada pemilik cafe. Tanpa berfikir panjang aku mengatakan, "R-rentenir. Iya, aku berhutang kepada rentenir." Aku mengangguk menyakinkan.
Winda membulatkan matanya. "Apa! Kamu berhutang kepada rentenir? Bagaimana bisa? Ai, harusnya kamu bilang dong, sama aku kalau kamu lagi butuh pinjaman. Aku akan bantu kamu. Tidak perlu repot berhutang sama Si Linta darat itu," omelnya kepadaku.
"Ceritanya panjang, Win."
Winda yang mendengarku hanya bisa menghela nafas kasar, "Huuerrrrfff ... baiklah kalau gitu, kita jalan dan aku yang bayar."
"T-tap ..." ucapanku terpotong olehnya.
"Tidak ada tapi-tapian. Gak enak lagi kamu?" Winda mentoel hidungku. "Dasar!"
Aku tertawa melihat tingkahnya. "Bawel, ih."
"Jadi, waktunya kapan, nih?" tanyanya kepadaku.
"Terserah kamulah. Yang penting bukan waktu kerja."
"Emm ... bagaimana kalau nanti malam?"
"Baiklah, bukan masalah." Aku hanya menuruti keinginan Winda. Lagi pula, sebentar malam waktuku kosong.
Disela-sela perbincanganku dengan Winda, tiba-tiba ponselku berbunyi menandakan ada pesan yang masuk. Aku merogoh tasku megambil benda pipih berbentuk persegi panjang tersebut.
Nomor Tidak Dikenal:
Selamat siang🙂
Mataku membelalak melihat siapa pengirim pesan tersebut. Iya, nomor yang mengaku sebagai penggemarku. Aku belum membalasnya, kembali ponsel itu berbunyi.
Nomor Tidak Dikenal:
Lagi senang yah 🤗
Aku menutup mulutku yang menganga tanpa sadar. Winda yang memperhatikan ekspresiku mengerutkan keningnya.
"Hei, kamu kenapa?" Sembari melihat ponselku dan membaca pesanku yang masuk. "Kenalan kamu?"
Aku menggeleng dengan cepat. "Aku tidak tahu."
"Tapi, kok, dia tahu keadaan kamu, Ai? Aneh."
Winda semakin menampakkan kebingungannya. Aku yang mendengar ucapannya menjelaskan secara detail mengenai nomor yang tidak dikenal itu. Mulai dari awal nomor tersebut menghubungiku dan mengetahui siapa diriku. Yang membuat Winda lebih terkejut adalah saat orang tersebut mengaku sebagai penggemarku.
"Ai, kita harus mencari tahu siapa orang itu," ucapnya kepadaku.
Aku mengangguk mengiyakan, "Pasti, kita akan mencari tahu siapa dia."
.
.
.
.
.
Siapa kira-kira?
Terima kasih banyak kepada Readersku yang masih setia dengan Novel AINUN 🤗 semoga semuanya dalam keadaan sehat wal Afiat 😇 aamiiinnn 😇
Jangan lupa tinggalkan jejak like Comment dan VOTE ok
AINUN yakin bahwa readersnya adalah orang yang baik dan pastinya pengertian 🤗
Salam
AAH♥️
trnyata lutfii orang nyaa