Di depan kamera, Aura Zhafira adalah presenter TV yang selalu tersorot lampu studio. Namun di balik layar, sebuah krisis memaksa Aura menandatangani perjanjian rahasia dengan Reno Adhyastha CEO dingin yang paling benci sorotan media.
Pernikahan mereka hanyalah transaksi dingin di atas kertas dengan aturan ketat: tanpa perasaan dan harus rahasia dari publik.
Namun, saat dua manusia dari dunia yang bertolak belakang ini dipaksa tinggal satu atap, akankah batas di atas kertas itu tetap bertahan? Atau justru akankah akan tumbuh rasa di antara mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Neng Wendah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
~ Harapan di Tengah Keheningan
Pemeriksaan intensif dari tim dokter spesialis saraf akhirnya selesai. Dokter utama mematikan senter medisnya, lalu berbalik menatap Reno dan Aura yang sejak tadi berdiri dengan dada berdebar di samping ranjang perawatan Ibu Salma.
Wajah dokter yang semula tampak serius kini sedikit melunak. Senyum tipis menghiasi bibirnya, seolah membawa secercah kabar yang telah lama dinantikan.
"Alhamdulillah, Pak Reno, Bu Aura... Ini adalah sinyal perkembangan yang sangat positif," ujar dokter dengan suara tenang. "Refleks saraf dan gerakan jemari Ibu Salma tadi menandakan bahwa tingkat kesadaran beliau mulai terangkat perlahan dari fase komanya."
Aura spontan menahan napas. Jemarinya yang dingin mencengkeram lengan jas Reno tanpa sadar.
"Dokter... artinya Ibu saya akan segera siuman?" tanyanya penuh harap.
Dokter mengangguk pelan.
"Secara medis, Ibu Salma memang belum siuman sepenuhnya, Bu Aura. Beliau masih berada dalam kondisi pasca-koma yang membutuhkan stabilisasi fungsi otak. Namun, respons refleks yang muncul tadi membuktikan bahwa otak beliau mulai merespons suara dan kehadiran orang-orang terdekat."
Dokter berhenti sejenak agar pasangan itu mencerna setiap kalimatnya.
"Ini kemajuan yang sangat luar biasa. Dibandingkan hasil pemeriksaan beberapa minggu lalu, grafik aktivitas otak beliau menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan."
Air mata haru kembali menggenang di pelupuk mata Aura.
"Jadi... selama ini Ibu benar-benar mendengar suara kami?"
"Kemungkinannya cukup besar," jawab dokter. "Karena itu saya sarankan keluarga tetap sering berbicara kepada beliau. Ceritakan hal-hal yang menyenangkan, berikan semangat, atau putarkan suara yang beliau sukai. Rangsangan emosional seperti itu sering kali membantu proses pemulihan."
Aura tak mampu lagi menahan tangis.
Selama berbulan-bulan, ia selalu datang setiap hari. Menceritakan aktivitasnya, pekerjaannya sebagai penyiar, hingga perkembangan rumah mereka.
Kini ternyata semua itu mungkin benar-benar didengar oleh sang ibu.
Reno mengangguk mantap.
"Terima kasih, Dok. Lakukan pemantauan dua puluh empat jam tanpa putus. Berikan penanganan terbaik untuk ibu mertua saya. Apa pun yang beliau butuhkan, segera penuhi."
"Baik, Pak Reno."
"Kalau perlu datangkan dokter konsultan dari luar negeri."
Dokter tersenyum kagum.
"Untuk sementara, kondisi Ibu Salma masih dapat ditangani dengan sangat baik oleh tim kami, Pak. Tetapi bila memang diperlukan, kami tidak akan ragu melakukan konsultasi internasional."
"Saya percayakan semuanya kepada tim dokter."
"Kami akan berusaha semaksimal mungkin."
Setelah berpamitan, dokter beserta tim medis meninggalkan ruangan.
Pintu kembali tertutup.
Suasana hening menyelimuti kamar VIP itu.
Aura kembali menghampiri ranjang.
Ia membungkukkan badan, lalu mengecup lembut dahi ibunya yang terasa hangat.
"Ibu..."
Suara itu terdengar begitu lirih.
"Aura tunggu Ibu bangun, ya."
"Kita akan pulang bersama."
"Ibu harus lihat betapa indahnya rumah kita sekarang."
"Halaman yang dulu gersang sudah dipenuhi bunga lagi."
"Aura sengaja menanam bunga melati kesukaan Ibu."
"Semuanya menunggu Ibu pulang."
Butiran air mata jatuh mengenai punggung tangan Ibu Salma.
Aura mengusapnya perlahan.
Seolah takut tetesan air matanya mengganggu tidur sang ibu.
Reno berdiri di belakangnya.
Perlahan ia merangkul bahu Aura dari samping.
Usapan lembut di pundak istrinya berhasil membuat Aura sedikit lebih tenang.
"Ibu mendengarkan kita, Sayang."
Aura menoleh.
"Iya?"
"Ibu sedang berjuang."
"Beliau pasti ingin melihat putrinya tersenyum."
Aura mengangguk pelan.
"Kalau begitu... aku tidak boleh menangis terus."
Reno tersenyum.
"Itu baru istriku."
Aura tertawa kecil di sela tangisnya.
"Mas..."
"Hm?"
"Terima kasih."
"Untuk?"
"Karena tidak pernah menyerah."
Reno mengusap ujung mata Aura menggunakan ibu jarinya.
"Suami yang baik memang tugasnya menjaga keluarganya."
"Tapi Mas melakukan lebih dari itu."
"Aku hanya melakukan apa yang seharusnya."
Aura memandang Reno begitu lama.
Tatapan pria itu selalu berhasil membuat hatinya tenang.
Dulu ia menikahi Reno karena terpaksa.
Kini, ia tak mampu membayangkan hidup tanpa pria itu.
"Aku mencintaimu..."
Kalimat itu meluncur begitu saja.
Reno sedikit terkejut.
Aura sendiri tersipu setelah menyadari apa yang baru saja ia ucapkan.
Pipi wanita itu memerah.
"A-aku..."
Belum sempat menyelesaikan kalimatnya, Reno sudah tersenyum hangat.
"Aku juga mencintaimu."
Bukan dengan suara keras.
Melainkan dengan nada lembut yang begitu tulus.
Aura menundukkan kepala malu.
Reno mengangkat dagunya perlahan.
"Kenapa menunduk?"
"Malu..."
"Malu sama suami sendiri?"
Aura mengangguk kecil.
Reno terkekeh pelan.
Ia kemudian mengecup lembut kening Aura.
Kecupan yang penuh kasih sayang.
Bukan sekadar ungkapan cinta.
Melainkan janji bahwa ia akan selalu ada di sisi wanita itu.
Aura memejamkan mata menikmati kehangatan tersebut.
Beberapa detik kemudian, ia menyandarkan kepalanya di dada Reno.
Mendengar detak jantung pria itu membuatnya merasa damai.
"Kalau bukan karena Mas..."
"Aku mungkin sudah kehilangan segalanya."
Reno mengusap punggung istrinya.
"Kamu juga sudah menyelamatkanku."
Aura mendongak bingung.
"Aku?"
"Iya."
"Dulu hidupku hanya berisi pekerjaan."
"Setiap hari rapat."
"Setiap malam laporan."
"Aku punya segalanya."
"Tapi tidak pernah benar-benar bahagia."
"Setelah kamu datang..."
"Aku baru tahu rasanya pulang ke rumah dengan seseorang yang menungguku."
Aura tersenyum haru.
Perlahan ia menggenggam tangan Reno.
Jemari mereka saling bertaut erat.
Tak ada lagi kecanggungan seperti di awal pernikahan.
Kini sentuhan sederhana saja sudah cukup membuat keduanya saling memahami.
"Ayo."
Reno mengusap punggung tangan Aura.
"Kita biarkan Ibu beristirahat."
Aura mengangguk.
Sebelum keluar, ia kembali menatap sang ibu.
"Ibu..."
"Aura pamit dulu."
"Besok Aura datang lagi."
"Kali ini Ibu harus kasih respons yang lebih banyak, ya."
Senyum tipis menghiasi wajahnya.
Entah mengapa, kali ini langkah Aura terasa jauh lebih ringan.
Harapan yang sempat redup kini kembali menyala.
Setelah memastikan seluruh sistem keamanan dan perawatan Ibu Salma berjalan ketat di bawah pengawasan penjaga khusus, Reno membimbing Aura melangkah keluar menuju area parkir basement.
Udara malam terasa sejuk.
Langit dipenuhi bintang yang berkelip malu-malu.
Reno berjalan sambil menggenggam tangan Aura.
Jari-jari mereka saling bertaut.
Sesekali ibu jari Reno mengusap punggung tangan istrinya dengan lembut.
Gestur kecil yang selalu membuat jantung Aura berdegup lebih cepat.
"Kita tidak langsung pulang ke penthouse ya, Sayang."
Reno membukakan pintu Lexus hitam miliknya.
Aura masuk sambil tersenyum.
"Mau ke mana dulu, Mas?"
Reno menutup pintu perlahan.
Kemudian memutari mobil menuju kursi pengemudi.
Ia memasang sabuk pengaman lebih dulu sebelum membantu memasangkan sabuk pengaman Aura.
Wajah mereka kini begitu dekat.
Aura bahkan bisa merasakan embusan napas Reno.
Jantungnya kembali berdebar.
Reno tersenyum jahil.
"Deg-degan?"
Aura salah tingkah.
"Nggak..."
"Oh ya?"
"Iya."
"Lho, kok pipinya merah?"
Aura buru-buru menoleh ke arah jendela.
"Mas suka godain aku."
"Soalnya lucu."
"Habis itu bikin aku malu."
"Justru itu yang Mas suka."
Aura mencubit pelan lengan Reno.
"Mas..."
"Ternyata istriku sekarang berani cubit suaminya."
"Soalnya suamiku usil."
Reno tertawa lepas.
Tawa yang jarang terdengar ketika berada di kantor.
Hanya Aura yang mampu melihat sisi hangat pria itu.
Reno lalu menggenggam tangan Aura sebentar sebelum menyalakan mesin mobil.
"Mas mau ajak kamu ke suatu tempat."
"Anggap saja ini perayaan kecil."
"Perayaan?"
"Iya."
"Karena siaran perdana istriku sukses."
Aura tersenyum malu.
"Mas nonton?"
"Bukan cuma nonton."
"Aku minta seluruh direksi rumah sakit ikut menonton."
"Maaas..."
Aura menutup wajahnya.
"Malu."
"Kenapa?"
"Nanti mereka menganggap aku numpang terkenal karena suami."
Reno menggeleng.
"Mereka menghormatimu karena kemampuanmu."
"Bukan karena statusmu."
"Aku bangga punya istri secerdas kamu."
Kalimat sederhana itu membuat hati Aura menghangat.
Tak ada hadiah yang lebih indah daripada dihargai oleh orang yang dicintai.
Mobil melaju meninggalkan rumah sakit.
Lampu-lampu kota mulai menghiasi jalan.
Di sepanjang perjalanan, Reno sesekali melirik Aura.
Sementara Aura menikmati pemandangan malam dengan senyum yang sejak tadi tak pernah lepas dari wajahnya.
Tanpa mereka sadari, malam itu bukan hanya menjadi awal dari kesembuhan Ibu Salma.
Tetapi juga menjadi malam yang semakin menguatkan cinta di antara keduanya.
Dan di balik kemudi mobil yang terus melaju membelah jalanan kota, Reno telah menyiapkan sebuah kejutan romantis yang akan membuat malam penuh harapan itu menjadi kenangan yang tak pernah bisa dilupakan oleh Aura.