Keira Hartono tidak pernah menyangka bahwa malam sebelum pernikahannya, dia akan memergoki tunangannya sendiri — Brandon Liem, pewaris Liem Group — sedang tidur dengan adik tirinya, Celine.
Tapi Keira bukan wanita yang bisa diinjak dua kali.
Alih-alih menangis dan memohon, dia mengambil ponselnya, merekam segalanya, dan memberikan ultimatum pada kedua keluarga:
*"Ganti pengantin prianya, atau ganti pengantin wanitanya."*
Pilihan jatuh pada Reynard Liem — kakak Brandon yang dikenal seluruh Jakarta sebagai pewaris yang "sudah gila" setelah kecelakaan mobil yang menewaskan kakeknya. Dia duduk di kursi roda, tidak bisa berbicara dengan benar, dan menghabiskan hari-harinya bermain Rubik sendirian di pavilion belakang rumah.
Semua orang menertawakan Keira. *"Menikahi orang gila demi balas dendam? Kasihan sekali."*
Tapi Keira tahu sesuatu yang tidak diketahui siapa pun.
Dia tahu bahwa tiga tahun dari sekarang, Reynard Liem akan bangkit kembali — lebih kuat, lebih kejam, dan lebih berkuasa dari sebelumnya. Yang perlu dia lakukan hanyalah menjaganya sampai saat itu tiba. Setelah itu, cerai, dan mereka berdua bebas.
Rencananya sempurna.
Sampai dia mulai jatuh cinta pada suaminya.
Sampai dia menyadari bahwa di balik tatapan polos dan kata-kata cadel itu, ada sepasang mata gelap yang mengawasinya — dengan obsesi yang tidak pernah dia sangka.
*"Kei mau pergi dariku? Tidak boleh."*
*"Selain di sisiku, kamu tidak boleh ke mana pun."*
Ternyata, Reynard Liem tidak pernah gila.
Dan dia tidak pernah berencana untuk melepaskannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lumisse, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 19
Bab 19: Casting
Pak Hendra tidak menghalangi ketika Keira membawa Reynard keluar tiga hari kemudian.
Kepala pelayan itu hanya menunduk lebih lama dari biasanya, mungkin karena adendum dari Hendrick sudah sampai ke seluruh bagian rumah. Christina tidak muncul. Namun Keira bisa merasakan mata dari jendela utama mengikuti mereka sampai mobil keluar gerbang.
Reynard duduk di kursi belakang dengan wajah sangat puas.
"Jangan senyum seperti itu," kata Keira dari kursi depan.
"Rey senang."
"Aku tahu."
"Kei bawa Rey."
"Karena hari ini tempatnya tidak terlalu berisik. Kalau kamu pusing, langsung bilang."
"Tidak pusing."
Hari itu mereka menuju hotel bisnis di Jakarta Selatan. Naomi sudah menunggu di ruang meeting yang disewa untuk casting kecil. Di meja ada daftar nama, air mineral, kamera sederhana, dan beberapa kursi untuk peserta.
"Kak Keira!" Naomi melambai. "Koh Rey! Siap jadi juri paling ganteng?"
Reynard menunduk ke Rubik. "Rey bukan juri."
"Tapi kalau Kak Keira lihat aktor terlalu lama, Koh Rey boleh protes."
Keira menatap Naomi. "Nao."
Naomi tertawa dan segera membuka laptop.
Casting berlangsung lebih serius daripada yang dibayangkan orang luar. Keira meminta peserta membaca dua adegan, satu emosi tertahan, satu konflik terbuka. Ia tidak hanya melihat wajah. Ia memperhatikan napas, fokus mata, cara tangan bergerak saat gugup, dan apakah seseorang bisa mendengar lawan mainnya.
Beberapa kandidat gugur dalam lima menit.
Seorang gadis bernama Zahra menarik perhatian karena suaranya bersih. Seorang aktor muda punya timing komedi bagus. Keira memberi catatan cepat, Naomi mengetik, sementara Reynard tampak memainkan Rubik di sudut ruangan.
Tampak.
Setiap kali Keira tersenyum pada peserta pria, Rubik berputar sedikit lebih keras.
Naomi menyadarinya lebih dulu. Ia mencondongkan badan ke Keira dan berbisik, "Koh Rey sedang cemburu pada aktor nomor tujuh."
"Dia tidak mengerti cemburu."
"Kak, Rubik itu hampir jadi bubuk."
Keira melirik. Reynard langsung memperlambat putaran, wajahnya polos.
"Nomor tujuh aktingnya bagus," kata Keira sengaja.
Rubik berbunyi klik terlalu keras.
Naomi menunduk menahan tawa.
Menjelang siang, Livia Tanuwijaya datang.
Pipinya sudah tidak merah. Rambutnya diikat rapi, pakaiannya sederhana, dan ia membawa portofolio dalam map hitam. Begitu melihat Keira, ia menunduk sopan.
"Mbak Keira, saya ingin berterima kasih soal kemarin."
"Pipimu sudah baik?"
"Sudah. Klinik produksi mencatat lukanya. Pak Leo juga mengubah jadwal. Tiffany tidak kembali ke set."
"Bagus."
Livia menarik napas. "Saya juga dapat kabar, peran pendukung utama yang tadinya dekat dengan Tiffany ditawarkan ke saya."
Keira tersenyum. "Selamat."
"Saya tahu ini ada pengaruh dari kejadian kemarin."
"Mungkin. Tapi kesempatan tidak bertahan kalau kamu tidak bisa mengisinya."
Livia menatapnya, matanya jernih. "Saya akan mengisinya."
Keira menyukai jawaban itu.
Setelah Livia membaca adegan, ruangan menjadi sunyi beberapa detik. Ia tidak berlebihan. Tidak menangis keras. Namun saat ia menahan sakit hati dalam dialog, bahunya turun sedikit, matanya tetap terbuka, dan suara terakhirnya bergetar tipis. Itu cukup.
Naomi berbisik, "Kak, dia bagus."
"Aku tahu."
Reynard ikut mengangkat kepala. "Tidak jelek."
Naomi hampir menjatuhkan pulpen. "Itu pujian tertinggi dari Koh Rey hari ini."
Livia tampak bingung, tetapi Keira tertawa pelan. "Anggap saja dia bilang kamu punya potensi."
"Terima kasih," kata Livia hati-hati.
Keira menutup map. "Livia, aku sedang membangun perusahaan hiburan. Belum resmi besar, tapi aku ingin mencari talenta yang bisa tumbuh bersama kami. Kalau suatu hari aku menawarkan kontrak, kamu tertarik?"
Livia tidak langsung menjawab.
"Perusahaannya sudah punya kantor?"
Keira diam.
"Manajer artis?"
Diam lagi.
"Daftar proyek satu tahun?"
Naomi menahan napas.
Livia menunduk sedikit. "Maaf, Mbak. Saya bukan menolak. Saya hanya harus realistis. Saya tidak punya keluarga kaya. Kalau salah memilih perusahaan, saya bisa kehilangan momentum."
Keira menatap gadis itu, lalu tersenyum. "Pertanyaanmu benar."
Livia tampak lega.
"Saat semuanya siap, aku akan datang lagi dengan jawaban yang layak."
"Kalau begitu saya akan menunggu."
Setelah Livia pergi, Naomi menutup laptop pelan. "Dia menolak kita dengan sangat sopan."
"Dia menguji kita," kata Keira. "Dan dia benar. Kita belum punya rumah, belum punya manajer, belum punya daftar proyek yang bisa ditunjukkan. Kalau ingin merekrut orang bagus, kita harus menjadi tempat yang pantas."
Reynard menatap Keira. "Kei bisa."
Keira tersenyum kecil. "Aku tahu."
Setelah casting selesai, Naomi mengajak mereka makan di pusat perbelanjaan dekat hotel. Keira awalnya ingin langsung pulang, tetapi Reynard melihat etalase toko pakaian terlalu lama.
"Kamu mau beli baju?"
"Tidak."
"Kalau tidak, kenapa lihat?"
"Baju Kei sedikit."
Naomi langsung menyambar, "Setuju. Kak Keira, sejak menikah baju Kakak kebanyakan warna aman. Ayo coba sesuatu."
Keira kalah oleh dua pasang mata.
Di butik, Naomi memilih beberapa dress. Keira mencoba satu dress biru muda dengan belahan tidak terlalu tinggi. Ia keluar dari fitting room, dan Reynard langsung berkata, "Jelek."
Naomi melotot. "Koh Rey!"
Keira melihat cermin. "Menurutku tidak jelek."
"Jelek."
Ia mencoba dress kedua, warna merah bata, sedikit lebih pendek.
"Jelek."
Dress ketiga, hitam sederhana.
"Jelek."
Keira akhirnya berdiri dengan tangan di pinggang. "Apa semua baju di matamu jelek?"
Reynard menatap lututnya yang terlihat. "Kaki."
Naomi menutup mulut, hampir tertawa.
Keira mengerti. Ternyata bukan bajunya. Masalahnya adalah kulit yang terlihat.
"Baik," katanya, menahan senyum. "Kalau begitu kita beli baju untukmu."
Reynard langsung waspada.
Setengah jam kemudian, Keira memilih kemeja putih, sweater abu-abu, dan jaket navy. Reynard hanya mau menyentuh pakaian hitam. Apa pun yang terlalu terang ia dorong menjauh.
"Rey, hidup tidak hanya hitam."
"Hitam bagus."
"Kamu seperti mau rapat pemakaman setiap hari."
"Jelek?"
Keira menatapnya dalam kemeja hitam baru. Sayangnya, tidak jelek. Justru terlalu bagus sampai beberapa pegawai butik mencuri pandang.
"Lumayan."
Reynard tampak puas.
Keira mengambil satu sweater krem dan menempelkannya ke dada Reynard. "Coba yang ini."
Reynard langsung menjauh. "Jelek."
"Kamu belum lihat di cermin."
"Sudah tahu."
"Hidupmu akan sangat gelap kalau semua isi lemari hitam."
"Ada Kei."
Keira berhenti.
Naomi yang mendengar dari rak sebelah langsung pura-pura sibuk melihat label harga, tetapi senyumnya tidak bisa disembunyikan.
"Apa hubungannya denganku?"
Reynard menatap sweater krem itu, lalu Keira. "Kei terang."
Keira meletakkan sweater kembali ke rak lebih cepat dari perlu.
Naomi tiba-tiba mengambil jaket hitam untuk Reynard dan outer putih santai untuk Keira, lalu menyuruh mereka berdiri berdampingan di depan cermin.
"Ya ampun!" Naomi menepuk tangan. "Kalian couple goals banget!"
Reynard menunduk melihat jaket hitamnya, lalu pantulan Keira dalam outer putih di sampingnya.
Kali ini, ia tidak berkata jelek.