Dulu, sebelum jalan aspal mencapai Dusun Wanasetra, aku dan adikku harus bangun ketika langit masih gelap. Kami berjalan lebih dari tujuh kilometer menuju sekolah, melewati pematang sempit, kebun, lereng rawan longsor, dan sungai yang tidak memiliki jembatan tetap. Di kaki kami hanya ada sepatu bekas dari pasar loak. Sepatu itu terlalu sempit untukku, terlalu besar untuk Nira, dan selalu basah saat musim hujan.
Kami menjahit telapak yang terbuka dengan benang karung, menambalnya memakai potongan ban, lalu memakainya kembali pada pagi berikutnya. Di sekolah, sepatu lusuh itu menjadi bahan ejekan. Di rumah, sepatu yang sama menjadi bukti bahwa Ayah dan Ibu masih berusaha menjaga kami tetap belajar. Ketika panen gagal, Ibu sakit, dan Ayah menerima pekerjaan berbahaya di tempat pemecahan batu, perjalanan menuju sekolah berubah menjadi perjuangan mempertahankan keluarga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heriawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PAGI YANG SELALU GELAP
Dulu, namaku Elangga Ranuatmaja, tetapi orang-orang di dusun memanggilku Langga. Saat itu aku berusia sebelas tahun dan duduk di kelas lima SD. Adikku bernama Nirwasita Purnamasari. Kami memanggilnya Nira. Umurnya delapan tahun dan baru masuk kelas dua.
Pada masa itu, pagi di rumah kami selalu dimulai ketika langit masih gelap. Tidak ada jam dinding. Ibu mengetahui waktu dari suara jangkrik yang mulai pelan dan ayam tetangga yang belum sempat berkokok. Jika Ibu sudah meniup bara di tungku, berarti kami harus bangun.
"Langga, bangunkan adikmu," katanya dari dapur.
Aku membuka mata dengan susah payah. Udara dari sela-sela dinding bambu terasa dingin di kulit. Di sampingku, Nira masih menggulung tubuh di dalam selimut tipis. Hanya rambutnya yang terlihat.
"Nira," panggilku sambil menggoyang bahunya. "Bangun."
Ia mengerang dan menarik selimut sampai menutup kepala.
"Masih malam, Kak."
"Kalau menunggu terang, kita sampai sekolah saat anak-anak lain pulang."
Nira mengintip dari bawah selimut. Matanya masih setengah tertutup. "Mungkin sekolahnya bisa dipindah ke sini."
Aku tertawa pelan. "Coba bilang kepada kepala sekolah."
Rumah kami berdiri di ujung Dusun Wanasetra, di kaki Bukit Giriwungu. Ada enam belas rumah di dusun itu. Semuanya terbuat dari bambu atau papan. Ketika musim kemarau, tanah di depan rumah pecah-pecah. Ketika musim hujan, jalan berubah menjadi lumpur yang bisa menelan sandal sampai mata kaki.
Tidak ada listrik. Lampu minyak adalah satu-satunya cahaya. Tidak ada kendaraan yang bisa masuk karena jalan terlalu sempit dan menurun tajam. Orang yang ingin pergi ke pasar harus berjalan sampai jalan kabupaten, lalu menunggu mobil bak terbuka yang lewat. Sekolah kami berada lebih jauh lagi, sekitar tujuh kilometer dari rumah.
Ibu menuangkan air hangat ke baskom kecil. Aku dan Nira mencuci muka bergantian. Air itu segera berubah keruh karena sisa tanah di tangan dan kaki kami. Nira menggigil saat membuka baju tidur.
"Pakai baju rangkap," kata Ibu. "Kabut turun tebal."
Seragam kami digantung dekat tungku sejak malam. Warnanya tidak lagi benar-benar putih. Ibu sering menggosoknya dengan abu dapur agar noda tanah berkurang. Kemejaku memiliki tambalan kecil di siku. Rok Nira adalah bekas milik sepupu kami dan masih terlalu panjang, sehingga Ibu melipat bagian pinggangnya dua kali.
Ayah duduk di dekat pintu sambil memandang langit melalui celah dinding. Namanya Waskita Ranuatmaja. Ia jarang bicara pada pagi hari. Wajahnya selalu tampak lelah karena bekerja di ladang orang sampai sore. Tangannya kasar dan penuh garis luka.
"Tidak hujan," katanya. "Tapi sungai mungkin naik karena hujan di bukit semalam."
Aku berhenti memasang kancing. "Kalau tinggi, kami lewat mana?"
"Lihat dulu. Jangan memaksa. Kalau air sampai menutup batu ketiga, pulang."
Aku mengangguk, meski dalam hati khawatir. Minggu sebelumnya aku sudah terlambat dua kali. Pak Sasmita, kepala sekolah, mengatakan satu keterlambatan lagi akan dicatat dalam buku kedisiplinan. Ia tidak pernah melihat sungai kami. Baginya, terlambat adalah terlambat.
Ibu membungkus nasi jagung dengan daun pisang. Di dalamnya hanya ada sedikit garam dan dua potong tempe tipis. Ia membagi bekal menjadi dua, lalu memasukkannya ke tas kain kami.
"Makan saat istirahat," pesannya. "Jangan di jalan."
Nira mengangguk terlalu cepat. Aku tahu ia sering lapar sebelum sampai sekolah. Kadang-kadang ia menggigit ujung daun pisang hanya untuk mencium bau nasi.
Setelah bersiap, kami duduk di lantai menunggu Ayah selesai memeriksa sesuatu di sudut rumah. Biasanya kami berangkat menggunakan sandal jepit. Di dekat sekolah, kami mencuci kaki lalu memakai sepatu yang disimpan dalam tas. Tetapi sandal kami sudah terlalu tipis. Sandal Nira putus dua hari sebelumnya dan diikat menggunakan tali rafia.
Ayah kembali membawa dua bungkusan koran.
"Apa itu?" tanya Nira.
Ayah meletakkannya di lantai. Ia tidak langsung menjawab. Wajahnya tampak berbeda, antara bangga dan cemas. Ibu berhenti mengikat bekal dan ikut memandang.
Ayah membuka bungkusan pertama. Di dalamnya ada sepasang sepatu hitam. Permukaannya kusam dan bagian depan penuh goresan. Setelah itu, ia membuka bungkusan kedua. Sepasang sepatu cokelat kecil muncul, meski ukurannya masih tampak terlalu besar untuk kaki Nira.
Mata adikku langsung terbuka lebar.
"Sepatu baru?"
Ayah tersenyum tipis. "Bukan baru. Tapi masih bisa dipakai."
Ia mendapatkannya dari pasar loak di kecamatan. Dua hari sebelumnya, Ayah membawa dua karung singkong untuk dijual. Uangnya seharusnya dipakai membeli minyak tanah dan beras. Namun, di pasar ia melihat tumpukan sepatu bekas milik anak sekolah. Ia menawar lama sampai pedagang bersedia melepas dua pasang dengan harga murah.
Ibu memegang sepatu hitam itu. "Minyak tanah tinggal sedikit."
"Aku bisa cari kayu lebih banyak," jawab Ayah.
"Beras juga tinggal dua kaleng."
Ayah menunduk. "Kalau mereka tidak punya sepatu, mereka disuruh berdiri di luar kelas lagi."
Aku tahu yang ia maksud. Pada upacara hari Senin, Pak Sasmita pernah memisahkan anak-anak yang tidak memakai sepatu. Aku berdiri bersama enam murid lain di dekat pagar. Nira menangis karena mengira aku dihukum. Sejak itu, Ayah selalu berkata akan mencarikan sepatu, walau aku tidak pernah benar-benar percaya.
Ibu menghela napas. Ia tidak marah. Ia hanya menghitung lagi sisa uang di dalam kaleng kecil. Lalu ia menyentuh bahu Ayah.
"Nanti aku buat keripik singkong lebih banyak," katanya.
Ayah mengangguk. Kami semua tahu singkong di kebun belum tentu cukup. Namun, pagi itu tidak ada yang ingin merusak kegembiraan Nira.
Adikku segera memasukkan kaki ke sepatu cokelat. Kakinya tenggelam di dalamnya. Ketika ia berdiri, tumitnya terangkat dan hampir terlepas.
"Besar sekali," kataku.
"Nanti kakiku tumbuh," jawabnya yakin.
Ayah mengambil potongan kain dari sebuah karung lama. Ia menggulungnya lalu memasukkannya ke ujung sepatu Nira. Setelah itu, ia mengikat talinya kuat-kuat. Nira mencoba berjalan mengelilingi ruangan. Langkahnya kaku, tetapi wajahnya cerah seolah seluruh rumah telah mendapat cahaya baru.
Aku belum mencoba sepatuku. Aku takut ukurannya terlalu kecil. Aku juga takut melihat pengorbanan Ayah menjadi sia-sia. Namun, ia mendorong pasangan hitam itu ke arahku.
"Pakai, Langga."
Aku memasukkan kaki kanan. Tumitku terjepit, tetapi masih bisa masuk. Kaki kiri lebih sulit. Aku harus menarik bagian belakang sepatu dengan kedua tangan. Ketika akhirnya terpasang, jari-jariku menekuk di dalam.
"Pas?" tanya Ayah.
Aku menatap tangannya yang penuh luka, lalu mengangguk. "Pas."
Ayah berjongkok dan memeriksa tali sepatu kami satu per satu. Wajahnya sangat dekat dengan lantai. Saat itu aku belum memahami mengapa ia memandang sepatu bekas itu seperti benda berharga. Bertahun-tahun kemudian, barulah aku mengerti: ia sedang melihat jalan yang mungkin membawa anak-anaknya keluar dari kesulitan yang sama.
Ia berdiri dan membuka pintu. Udara dingin masuk bersama kabut.
"Berangkatlah sebelum matahari muncul," katanya. "Dan jaga sepatu itu baik-baik. Kita harus membuatnya bertahan sampai tahun ajaran selesai."