Sejak istrinya memilih pergi demi pria lain, hidup Ages Sabiru hanya memiliki satu tujuan yaitu membesarkan putra semata wayangnya, Kalandra Sabiru. Dengan kasih sayang yang tak pernah berkurang, Ages berusaha menjadi ayah sekaligus tempat pulang terbaik bagi anaknya.
Tahun demi tahun berlalu. Kalandra tumbuh menjadi remaja yang ceria, sementara Ages menjelma menjadi sosok ayah yang selalu mengutamakan putranya di atas segalanya. Di balik candaan, sarapan sederhana, dan perjalanan pulang bersama, tersimpan ikatan yang tak tergantikan.
Namun, ketika masa lalu yang telah lama mereka tinggalkan kembali muncul, hubungan ayah dan anak itu akan diuji. Mampukah cinta dan kepercayaan yang telah mereka bangun selama bertahun-tahun bertahan menghadapi kenyataan yang selama ini disembunyikan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R²_Chair, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pagi hangat di rumah Sabiru
"Dek..." Panggil nya setelah mengetuk pintu kamar sang anak.
"Kala!" Panggilnya lagi
"Kala! Bangun!"
Suara Ages terdengar sedikit keras dari balik pintu kamar.
"Hm... lima menit lagi, pap..."
"Lima menitmu itu tiga puluh menit,dek."
Tidak ada jawaban sedikitpun dari sang penghuni kamar.
Ages menggeleng pelan. Ia membuka pintu kamar yang memang tidak pernah dikunci oleh Kalandra.Remaja itu masih meringkuk di balik selimut.
Ages menghampiri ranjang, lalu menarik sedikit selimut putranya.
"Kalau telat, jangan salahin papa."
"Masih ngantuk,pap..."
"Semalam main game?"
"Bukan.Aku abis Nugas."
Ages mengangkat sebelah alis. "Jujur."
"...Nugas dulu, habis itu game."
"Nah, itu baru jujur."
Kalandra terkekeh sambil mengusap wajahnya. "Bapak Ages tau aja."
"Yaudah, bangun."
"Siap, Bos"
"Bos?"
"Iya.Bos yang tugasnya selalu membuat M-Banking Kala bunyi"
Ages tertawa kecil.
"Kalau gitu Bos ini minta anak buahnya mandi sekarang."
"Siap laksanakan." jawab Kala sambil bersikap hormat.
Ages hanya bisa geleng kepala melihat kelakuan anak nya yang kadang membuatnya heran dan bingung.
Sikap dan sifat Kalandra sungguh membuat dunia Ages jungkir balik,kadang manja,kadang mandiri,kadang cengeng...dan pastinya kadang tengil juga.
Namun di balik itu semua,Ages begitu menyayangi anaknya.Anak yang menjadi saksi bisu tentang bagaimana dunia menghukumnya.Memberikannya luka sekaligus bahagia.
Di dapur,aroma nasi goreng memenuhi ruang makan.Di meja sudah tersedia telur mata sapi, irisan mentimun, dan segelas susu.
Kalandra yang baru selesai mandi langsung duduk.
"Harum banget,pap." Ucapnya sambil ingin mengambil sepotong mentimun namun Ages terlebih dahulu menepuk
tangannya.
"Cuci tangan dulu,dek."
"Iya,Galak banget sih Bos Ages ini.."
Tak lama Kala kembali duduk di meja makan.Begitu suapan pertama masuk ke mulutnya, kedua matanya langsung berbinar.
"Enak banget Pap."
"Lebih enak dari kantin?"
"Jauh banget."
"Lebih enak dari restoran?"
"Jelas lah..."
Ages tersenyum puas. "Dipuji terus nanti Papa bisa-bisa buka rumah makan."
Kala nampak seperti berpikir."Boleh juga,namanya?"
"Kantin Pak Ages."
"Kurang keren pap."
"Kamu aja yang kasih nama."
Kalandra berpikir sejenak. "Masakan Seorang Ayah."
Ages tertawa. "Itu malah kayak buku resep."
Ages kemudian mengambil piring miliknya."Udah,makan cepat.Gak jadi buka kantinnya."
"Loh,kenapa pap?"
"Duit papa udah banyak."
Kala melongo mendengarnya."Sulit di percaya! Sombongnya Bapak Ages!"
"Bukan sombong,Punya!"
Tawa keduanya langsung memenuhi ruangan yang hanya ada mereka berdua.
Suasana pagi di rumah mereka selalu sederhana, tetapi penuh tawa.Tak lama kemudian, suara mobil terdengar di halaman.
"Om papi datang!"
Kalandra berlari kecil menuju pintu.
Pria yang baru datang itu adalah kakak kandung Ages. Sejak Kalandra kecil,Arsen dan istrinya sudah menganggap Kalandra seperti anak sendiri.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Arsen langsung memeluk keponakannya.
"Gimana sekolahnya dek?"
"Aman, Om papi."
"Perasaan kamu tambah tinggi dek,Bentar lagi kaya nya bakal lebih tinggi dari papamu."
Ages yang baru keluar membawa dua cangkir kopi langsung menimpali.
"Belum tentu."
"Pasti lah. Gue aja sekarang kalah tinggi sama anak gue."
"Lah emang itu mah lo nya aja yang pendek." Ledek Ages.
Mereka bertiga tertawa.
"Pap, Om papi... kapan kita liburan lagi?" tanya Kalandra.
Arsen melirik Ages.
"Gimana? Lo sibuk terus, ya?"
Ages menghela napas. "Beberapa proyek memang lagi padat."
"Wah... berarti batal lagi dong pap."
Melihat wajah putranya sedikit murung,
Ages langsung menyela.
"Minggu depan papa kosong dua hari."
Kalandra langsung menoleh.
"Serius?"
"Iya."
"Kita camping?"
"Boleh."
"Mancing juga?"
"Boleh."
"Naik jeep?"
Ages tertawa.
"Permintaan kamu mulai banyak,dek."
"Kan mumpung papa libur.Kapan lagi coba papa libur panjang."
"Ok lah,sesuai list kamu."
"Yes!" Sorak Kalandra membuat Arsen tersenyum.
"Dari dulu, kalau soal Kala, lo memang nggak pernah bisa nolak."
Ages menatap putranya yang sedang tersenyum lebar. "Dia cuma minta waktu gue..bukan minta yang aneh-aneh dan gue masih sanggup ngasih itu."
Kalandra yang mendengar ucapan tersebut hanya diam ia tahu Ayahnya selalu bekerja keras demi dirinya dan Kala berjanji suatu hari nanti, ia akan menjadi kebanggaan terbesar bagi laki-laki yang telah mengorbankan segalanya itu.
"Ngapain lo pagi-pagi ke rumah gue?"
"Emangnya ada larangan gue datang pagi-pagi kesini?"
"Bukan gitu," Ages menyeruput kopinya yang masih terlihat mengepul. "Apakah senganggur itu sampai seorang Arsen datang pagi-pagi ke rumah orang tanpa tujuan."
Arsen berdecak sebal,memang benar apa yang di katakan Ages.Ia tidak senganggur itu untuk pergi ke rumah orang,apalagi pagi buta seperti sekarang.
Jika bukan karena sang istri,mungkin ia tidak akan ada di sini sekarang.Apalagi pagi ini ia harus mengecek kantor cabang milik dirinya.
"Mami nya si Kala nyuruh gue anterin ini buat anak bontonya." Ucap Arsen sambil mengangkat sebuah paper bag berisi kotak makan.
"Wah..apa itu Om papi."
"Mami kamu bilang,hari ini adek ada tes renang.Makanya mami kamu bikinin bekal buat kamu."
Wajah Kala seketika berbinar,memang benar hari ini ia ada tes berenang.Kemarin malam tantenya itu menanyakan tentang sekolahnya.
Tamara,istri Arsen selalu setiap malam tentang keadaan sekolah Kala membuat Kala merasa bahagia.Walaupun ia tidak mempunyai seorang ibu,namun ia tak pernah kurang kasih sayang.
Ada Tamara yang menjadi sosok ibu bagi nya,perhatian dan kasih sayang Tamara selalu hadir sejak ia kecil.
"Kok adek gak bilang sami papa?"
Kala tersenyum sambil menggaruk kepalanya."Lupa pap,aku juga gak akan ingat kalau Tante mami gak tanya,untung tante mami semalam tanya tugas apa yang harus di siapkan dan adek ingat hari ini adek ada tes renang."
Ages hanya bisa geleng kepala,ia tidak marah atau kecewa.Justru ia sangan bersyukur karena ada sang kaka ipar yang begitu perhatian pada anaknya.
"Kenapa gak di anter Sean aja sih bang?"
"Sean ada piket,jadi harus pergi pagi-pagi banget."
Kala dan Ages mengangguk mengerti.
"Om papi,bilang sama tante mami makasih belalnya pasti nanti adek abisin."
Arsen mengacak kasar rambut sang keponakan yang sudah ia anggak anak sendiri itu."Nanti Om papi bilang."
"Kamu punya hp dek,tinggal pencet kontak tante mu terus bilang makasih.Repot banget pake titip pesan segala."
Kala menatap kesal ayahnya,"Pap ini gak paham basa basi banget sih."
"Dasar duda kolot."
Ages melotot mendengarnya,sedangkan Arsen ikut menertawakan adiknya itu.Begitulah Ketiganya jika sedang bersama,selalu ada perdebatan kecil yang membuat suasana semakin hangat.
Tanpa mereka sadari, di luar pagar rumah,sebuah mobil berhenti beberapa saat.
Seseorang memperhatikan rumah keluarga Sabiru dari balik kaca mobil,sebelum akhirnya kembali melaju pergi.
Belum ada yang tahu siapa orang itu.Namun, kehadirannya akan menjadi awal dari masa lalu yang perlahan kembali mengetuk pintu kehidupan Ages dan Kalandra.
.......
.......
.......
...♡ Sabiru ♡...