Kia dan Bimo, dua orang yang berusaha bersatu, Tetapi halangan yang mereka hadapi tidak mudah. Bisakah mereka melewatinya? Kenapa Bimo meninggalkan Kia? Apa alasan Kia sangat membenci Bimo? Rahasia apa yang mereka simpan ? Apa ada orang lain yang sama dengan Bimo mencintai Kia? Dengan siapa Kia bisa bahagia? Temukan disini di "Rahasia hati"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon maylazee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cemburu
"Sebentar saja, Kia...acaranya paling dua jam," kata Kak Tuti meminta aku menemani Kak Farid ke acara kantornya.
Acara penarikan undian nasabah VIP. Yang di adakan di sebuah Restoran hotel terkenal.
"Farid sampai mengirim gaun lho...mau, ya... sebentar saja." pinta Kak Tuti.
Aku jadi tidak enak menolaknya. Padahal aku sudah berjanji pada Rima mau bertemu dengan Bimo, Erwin dan Luthfi.
"Tapi nanti Rima mau datang, kami mau ada acara sama teman-teman," kataku.
"Malam juga kan? Ini sudah selesai sebelum jam 7 malam, please..." mohon Kak Tuti padaku.
Aku mengangguk setuju. Baiklah belum sampai jam tujuh juga acaranya. Kak Tuti sangat mendukungku pacaran dengan Kak Farid. Bukan hanya satu kampus tapi Kak Farid sahabatnya dari kecil. Kak Tuti mengenal semua tentang kak Farid jadi dia mengatakan padaku.
"Farid anak baik, Kakak tahu semuanya," jelas Kak Tuti.
Aku memakai gaun model jumpsuit warna hitam, tanpa lengan dengan high heels yang di berikan Kak Farid.
Kak Tuti bahkan ikut memberi polesan make up di wajahku.
"Pakai lipstik merah bata saja, supaya kelihatan segar," katanya, aku menurut saja.
***************
Jam empat tepat Kak Farid datang. Dia menunggu di ruang tamu bawah. Kak Farid tersenyum melihatku turun
"Terima kasih, Kia," katanya. Aku mengangguk sambil mengikuti Kak Farid.
Rima terkejut sekali ketika aku keluar dengan Kak Farid. Dia baru datang dan ingin menjemputku ke acara reuni dengan teman-temanku.
"Aku sebentar saja, kunci motor di atas meja belajar nanti aku telpon," kataku sambil memberikan kunci kamarku pada Rima.
Rima seperti mau mengatakan sesuatu, tapi aku buru-buru masuk Mobil. Rima cuma memandangku tidak berkata apapun. Dia sepertinya takjub memandangku memakai gaun dengan high heels.
Saat mobil keluar dari halaman kost ku. Tak sengaja aku melihat Bimo dan Erwin berdiri di ujung pagar.
Aku bingung harus bagaimana. Hatiku sudah tidak enak tapi aku mencoba tenang. Baiklah cuma dua jam pikirku.
Aku langsung mengirim pesan kepada Rima dan mengatakan.
"Aku cuma dua jam, kirim alamat tempatnya aku langsung menyusul ke sana," pesanku.
***********
Japan restaurant hotel Hilton.
Suasana ramai sekali. Mereka menantikan pengundian hadiah undian berupa sebuah mobil Honda keluaran terbaru. Aku di perkenalkan Kak Farid dengan teman-temannya. Mereka meledek Kak Farid dan bertanya kapan di resmikan.
Aku agak bingung berada di tengah orang banyak. Mereka semua seperti orang dari kalangan atas. Aku merasa sendiri walau Kak Farid selalu mengajaku bicara. Satu kata bagiku suasana saat itu sangat tidak nyaman.
Aku bahkan dikenalkan dengan Orang tua Kak Farid. Ayahnya seorang PNS dan Ibunya seorang Hakim. Mereka sangat senang melihatku. Mengetahui Kak Farid sudah punya pasangan.
Krisdayanti sebagai bintang tamu menyanyi dengan bagusnya. Tapi pikiranku kemana-mana. Aku selalu melihat jam di tanganku. Kak Farid sepertinya merasa bahwa aku tidak nyaman.
"Kia, tidak nyaman?" tanyanya.
Aku tersenyum sambil menggeleng.
"Kami di Ayam goreng Kalasan."
Pesan dari Rima dia juga menulis pesan bahwa Bimo tidak berbicara dari tadi.
Aku merasa waktu bergerak lambat. Ingin sekali cepat acaranya selesai. Apalagi mengetahui Bimo marah.
Jam menunjukan delapan malam. Aku sudah tidak sabar lagi padahal baru penarikan undian belum penyerahan hadiah.
"Kak Farid, Kia harus pulang menemui teman, kami sudah janjian untuk reuni," kataku pelan supaya Kak Farid tidak tersinggung.
Kak Farid terlihat kaget dan langsung berdiri dari kursi. Minta izin temannya untuk mengantarku ke tempat reuni.
"Maaf... kenapa tidak bilang kalau ada acara lain, Kaka jadi tidak enak," ujar Kak Farid.
Aku cuma tersenyum Kak Farid mengantarku ke tempat reuni.
***************
Rima sudah menungguku di depan rumah makan.
"Heri...." Aku berteriak, ketika masuk ke dalam restoran.
Heri langsung tertawa melambaikan tangannya padaku. Kulihat Bimo di dekatnya sibuk memainkan Handphonenya.
Ternyata Heri kuliah di Kota yang sama dengan Rima. Dia kuliah di Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan jurusan Analis kesehatan.
"Kamu tidak suka pelajaran kimia, kenapa mau jadi Analis?" tanyaku pada Heri.
"Aku harus meneruskan jejak Ayahku, bekerja di rumah sakit," jawabnya.
"Aku kangen kamu, Her," kataku.
Heri tersipu malu. "Jangan begitu bisa kena timpuk aku," katanya sambil melihat Bimo.
Bimo tertawa kecut. Masih sibuk melihat Handphone. Dari tadi dia bahkan tidak melihatku datang. Ingin sekali aku mendatanginya tapi aku bingung harus mulai dari mana.
Aku salah apa pikirku. Aku cuma menemani Kak Farid ke acara kantornya. Hubunganku dengan Kak Farid sebatas teman walaupun Kak Farid naksir denganku.
Hubunganku dengan Bimo juga belum jelas. Walaupun aku masih menyimpan rasa padanya. Aku jadi bingung hanya bisa memandang Bimo.
Heri bahkan menyenggol Bimo. Bimo cuma melihat Heri sebentar kemudian kembali sibuk dengan Handphonenya. Dia tidak melihatku sama sekali. Aku menghela napasku. Hatiku tidak karuan.
Aku lihat Rima dengan Luhtfi. Bicara sambil tertawa. Mereka bisa seperti itu kenapa aku harus merasakan situasi yang berbeda kalau bersama Bimo.
Handphone Bimo berbunyi dia mengangkat panggilan.
"Sekarang! Sudah lengkap! Aku kesana," katanya sambil berdiri.
"Sudah selesai, kan?"
"Aku pergi dulu," katanya langsung meninggalkan kami.
"Bim, mau kemana?" tanya Rima.
"Nanti aku langsung pulang," katanya pada Luthfi.
Bimo keluar meninggalkan kami tanpa melihatku sedikitpun. Aku cuma bisa menunduk menahan sesak di dadaku.
"Susul," bisik Rima sambil memegang tanganku. Aku menggeleng sambil menarik napas panjang. Tertunduk bingung harus bagaimana.
Bimo pergi begitu saja suasana jadi tidak nyaman. Kami pun memutuskan untuk bubar saja.
Aku bahkan belum makan apapun. Di acara Kak Farid. Aku memutuskan pulang cepat. Tidak sempat sampai acara makan. Di sini aku juga tidak makan karena harus bubar. Perutku pedih sekali dan sepertinya maagku kumat.
Aku tahu Bimo marah tapi apa harus seperti itu tidak melihatku sama sekali. Hatiku jadi sakit mengingatnya.
****************
"Kamu maunya seperti apa, Kia? Kalau kamu mau sama Kak Farid, ya... sudah jadian! Kalau masih sayang sama Bimo, kembali sama Bimo, jangan membuat orang bingung."
"Bimo dari pertama melihatmu di kost sampai ke restoran, mukanya menakutkan, aku sampai tidak berani bicara sama dia."
Rima menceramahiku panjang sekali ayatnya. Mungkin dia kesal rencana tidak berjalan lancar karena Bimo marah.
Aku meminum obat maag.
"Akan kupikirkan nanti," kataku sambil berbaring membelakangi Rima.
Rima memukul punggungku.
"Pilih satu di antara mereka," ujarnya.
Aku tidak menjawab cuma meringis menahan perutku sakit sekali rasanya.
Keesokan harinya aku menemui kak Tuti dan bilang yang sebenarnya. Kak Tuti sangat terkejut.
"Kenapa tidak bilang kalau sudah punya pacar? Maafkan kak Tuti, ya?" katanya dengan nada menyesal.
Aku menceritakan Bimo bekerja di Kalimantan utara. Makanya dia tidak pernah ke sini. Kami masih dalam masa memikirkan untuk kembali. Aku tidak punya perasaan untuk Kak Farid. Jadi lebih baik kuakhiri saja hal membingungkan ini.
Kak Tuti memahaminya dia berjanji akan menjelaskan pada Kak Farid. Aku juga meminta maaf pada Kak Farid, lewat Kak Tuti. Mulai saat itu kak Farid tidak pernah datang ke kost lagi.
Satu bulan sudah Bimo tidak menghubungiku. Aku sudah mencoba menelponnya. Tapi tidak pernah diangkat. Aku juga sudah mengirimkan pesan.
"Maaf!" tulisku.
Kenapa harus aku yang merasa bersalah. Aku jadi sangat tertekan dengan semua ini. Sikap Bimo membuatku kesal.
Rima mengirinkan foto Bimo dengan seorang Wanita. Dia sedang memegang bahu Bimo dan tersenyum di sebelah Bimo. Rima mengirimkan lewat Facebook.
"Apa mungkin? Bimo lagi pacaran, Kia...sampai tidak menghubungimu?" tanya Rima.
"Kalau benar berarti aku harus berusaha keras melupakannya sekarang," jawabku.
Ada rasa sesak di dadaku. Aku kembali merasa sakit oleh Bimo. Bahkan aku menangis saat memikirkannya.
"Dasar jahat!"
Padahal aku sudah memutuskan untuk kembali padanya.
*****************
Magang nasional di umumkan. Untuk Mahasiswa semester akhir akan di adakan dalam minggu ini. Aku ikut mendaftarkan untuk memperoleh pengalaman kerja.
Aku sudah menyelesaikan bab ke 2 skripsiku. Jadi tinggal 2 bab lagi selesai kuliahku.
Aku di tempatkan magang di sebuah perusahaan BUMN bergerak di bidang Telekomunikasi. Magang berlangsung tiga bulan. Kalau kami kinerjanya bagus akan ditarik jadi pegawai kontrak.
Sebuah terobosan bagus untuk mengenal dunia kerja. Sebelum terjun langsung untuk bekerja.
Papa dan Mama bahkan datang. Kami berbelanja menyiapkan keperluan magangku.
"Bajunya harus sopan, seperti orang kerja," kata Mama.
Kami pun memborong, baju baju kantor. Mama memilih sepatu warna coklat untukku.
"Jangan yang tinggi haknya," pintaku pada Mama.
Aku tidak suka sepatu hak tinggi kakiku pasti sakit kalau aku memakainya.
Papaku bahkan menyuruhku membeli tas kerja,
"Kan... cuma tiga bulan, Pa...pakai yang ada saja," ucapku.
"Kesan pertama itu penting, kalau mau bagus dilihat orang," jelas Papa.
Benar itulah Papa. Kenapa tidak suka sama Bimo. Karena kesan pertamanya sudah tidak baik.
***************
Tiga hari kemudian.
"Kia, Bimo sakit!" kata Luthfi menelponku tiba-tiba.
"Sekarang ada di rumah sakit." lanjutnya.
Aku bergegas ke rumah sakit yang disebutkan Luthfi. Erwin menungguku di luar langsung mengajakku ke dalam saat aku datang.
Bimo pingsan di tempat pelatihan karena Asam lambung. Aku melihat Luthfi duduk di sebelah Bimo dan Bimo masih tertidur.
Aku cemas sekali hampir dua bulan kami tidak bertemu. Saat mendengar dia di rumah sakit aku berlari menemuinya.
Dia bangun menatapku saat aku melihat selang infusnya. Aku beranjak ingin memanggil perawat tapi dia memegang tanganku.
"Aku mau panggil perawat," kataku pelan.
Dia masih memegang tanganku sambil menatapku. Dia menarikku duduk di ranjang kemudian memelukku erat.
Aku tidak tahan lagi, aku menangis terisak dan sadar selalu lemah bila bersama Bimo. Selalu aku yang mengalah selalu aku yang memaafkannya.
Aku melepas pelukan Bimo dan mencoba berhenti menangis.
"Aku cemburu," kata Bimo pelan.
Kalimat pertama kudengar setelah hampir dua bulan tidak bertemu. Aku marah padanya. Emosiku langsung meledak.
"Tidak kangen padaku? Kenapa telponku tidak di angkat? Mana pacarmu yang di foto itu?" tanyaku terisak. Menjauhkan tangan Bimo dari tubuhku. Aku beranjak turun dari ranjang.
Dia kembali memelukku sambil menghela napas. Aku mencoba melepaskan pelukannya.
"Jawab pertanyaanku," kataku, sambil terisak.
"Aku marah, aku cemburu, puas?" tanyanya sambil menatapku.
"Jadi sekarang mau kamu, apa?" Aku balik bertanya setengah berteriak
"Berhenti! Coklat, aku sakit," katanya pelan sambil kembali memelukku.
Aku membiarkan sementara. Bimo sudah mengakui kalau dia cemburu. Berarti dia masih sayang padaku.
*****************
"Harus makan," kataku sambil berusaha membujuk Bimo.
Erwin membelikan bubur ayam karena Bimo tidak mau makanan rumah sakit. Dia mau memakannya walau cuma empat suap. Aku sebenarnya mau bertanya banyak tapi Bimo kelihatan lemas.
Handphone Bimo berdering rupanya dari Kakaknya. Dia mengatakan jangan khawatir pada Mas Tito. Karena Mas Tito sedang di luar kota.
"Tugasku bagaimana?" tanyanya pada Luthfi.
"Jangan terlalu di porsir, Bim... dibawa santai aja," ujar Luthfi.
Bimo mengerjakan tugas sampai lupa makan dan lupa tidur. Jadi beginilah akhirnya dia ambruk.
Luthfi menyerahkan buku besar bergambar alat berat dan berbahasa Inggris padaku
"Melihat gambarnya saja aku pusing! Aku menyerah, Kia saja yang mengerjakannya," suruh Luhfi sambil tersenyum padaku.
"Terjemahkan dulu baru di rangkum," lanjut Luthfi.
Aku menatap Bimo dia mengangguk sambil tersenyum. Aku memgambil bukunya penuh bahasa Inggris. Pantas saja mereka menyerah semua.
"Baiklah," kataku.
Aku mengikat rambutku keatas. Mulai mengerjakan tugas Bimo.
"Hmm... kan! Dulu disuruh belajar bahasa Inggris yang benar, tidak penurut, sih..." kataku sambil mendelik padanya.
Bimo menatapku yang sedang memgerjakan tugasnya. Lama sekali sampai aku jadi risih.
"Istirahat saja sudah hampir selesai," kataku ketika dia tersenyum.
"Tidak kangen padaku?" tanyanya masih menatapku.
"Kamu punya pacar untuk apa aku kangen...," jawabku.
"Dia pegawai kantor pelatihan! Kenapa selalu mengira aku punya yang lain? Dulu Yuni, sekarang Memey," katanya terlihat kesal.
"Kenapa mengacuhkanku? Bukan sehari dua, tapi sebulan, kamu tidak tahu perasaanku?" tanyaku.
"Aku sibuk, tugasku menumpuk tidak akan selesai bila kita bertengkar," jelasnya.
Aku meneruskan mengerjakan tugas pelatihan Bimo.
"Apa aku terlihat seperti pria yang suka gonta-ganti wanita?" tanyanya sedikit keras.
Aku menghentikan kegiatanku, menghampirinya dan membetulkan selimut.
"Yang sakit harus istirahat, dilarang ribut! Kalau bicara terus, nanti tambah sakit," kataku sambil memegang wajahnya.
Luthfi dan Erwin tertawa melihatnya.
"Ahh!" katanya kesal sambil berbaring menghadap dinding dan membelakangiku.
Aku melanjutkan kegiatanku. Untungnya hari ini sabtu, senin aku sudah mulai magang dan besok Bimo sudah bisa pulang.
**Bagaimana Kia magang? Ada apa di tempat pelatihan Bimo?
** Mau Camping sama Bimo, Kia, Luthfi sama Heri? Mau lihat ke seruannya? Baca episode selanjutnya... sehat selalu....trims...
malas terima nasib jadi wait reader 😓
gadis sakit
rahasia miko kebuka
kia marah
mereka bercerai
kia bantu gadis
miko kecelakan
staga aaa kenapa otakku traveling thor
lama banget update
bab baru kapan terbit
i ok i fine
not bad not bd
-----------
kumerasa sakit----sakit
😂😂😂😂