Terlambat Mengerti 1
Arini gadis berusia 19 tahun, mahasiswi semester 2 sebuah perguruan tinggi negeri. Diusianya yang sangat belia dia harus menyandang status ibu dari seoarang bayi perempuan hasil pengkhianatan sahabat dengan tunanganya. Keputusan apa yang akan diambil Arini selanjutnya, apa dia akan membuang bayi itu atau menitipkanya di panti asuhan ataukah merawatnya sendiri dengan segala resiko yang harus dihadapi.
Penasaran ceritanya ? yuk ikuti kelanjutanya..
Terlambat Mengerti season 2
Bagaimana nasib cinta Cila dan Agam ketika mereka dihadapkan pada kenyataan bahwa hubungan mereka terhalang tembok kebencian yang tertanam kokoh dihati Agam karena kisah masa lalunya. Akankan Cinta mampu mengalahkan kebencian tersebut, ataukan justru Cinta baru yang akan hadir menghapus luka...
____________________________________
Cover by pexels
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kurnia Setiyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
Mengingat apa yang menimpa Arini tempo hari membuat Doni resah, Dia khawatir Juna akan berbuat lebih nekat lagi.
"Bagaimana kalau kita segera menikah saja?" tanya Doni sambil mengemudikan mobilnya.
"Tapi Mas...," ucap Arini terpotong.
"Aku tidak mau hal seperti kemarin terjadi lagi, setidaknya jika kita menikah aku bisa selalu menjagamu, menjaga Cila juga."
"Mas tahu kan statusku, apa keluarga Mas bakal setuju? Terutama mungkin Ibu Mas.
"Tidak usah khawatir, aku akan menjelaskan semuanya."
Arini terdiam, dia tidak yakin keluarga Doni akan menerimanya. Jikapun dia menceritakan semuanya apakah akan ada yang percaya, melihat data di atas kertas dia adalah orang tua tunggal Cila.
"Apa yang kamu pikirkan?" tanya Doni melihat Arini terdiam.
"Engga Mas, kurasa lebih baik kita jangan terburu-buru."
Sesampainya di rumah Arini masuk ke kamarnya, diusapnya dengan lembut wajah Cila yang sudah tertidur nyenyak.
"Cila sayang, Om Doni melamar Ibu. Kamu pasti senang bukan jika dia jadi ayah Cila? ucap Arini lirih sambil memandangi wajah putrinya itu.
Arini masih memikirkan ucapan Doni yang meminta segera menikah. Bukan menolak, Arini khawatir jika keluarga Doni tidak bisa menerimanya. Jikapun dia menjelaskan semuanya, mungkin Doni akan percaya tapi bagaimana dengan yang lain. Lalu bagaimana setelah Doni tahu jika Cila bukan anaknya, apakah mungkin sikapnya akan berubah. Apalagi jika dia tahu Juna adalah ayah kandung Cila.
Semua pemikiran Arini mungkin tidak benar, tapi itulah ketakutan yang terus melintas di pikirannya saat ini. Yang pasti dia takut kehilangan Cila. Dia akan mengatakan semuanya jika memang waktunya sudah tepat.
Sementara di rumahnya, Doni menemui sang ibu yang masih asik di depan televisi.
"Bu, aku mau menikahi Arini," ucap Doni tanpa basa-basi.
"Arini..? Apa yang kamu maksud perempuan yang berstatus Ibu tanpa suami itu?" tanya sang ibu dengan tidak suka.
"Bu, dia perempuan baik-baik. Cobalah membuka hati Ibu untuknya," pinta Doni lirih.
"Ibu tidak akan pernah setuju jika kamu memilih dia. Hanya membuat malu keluarga saja." Bu Rini kekeh dengan pendiriannya
"Baiklah, jika Ibu masih seperti jangan salahkan aku jika aku menikahinya tanpa restu ibu. Maafkan aku." Doni bangkit meninggalkan ibunya.
"Apa kamu mau menjadi anak durhaka?" teriak sang ibu.
Doni tidak menoleh sama sekali, dia masih ingat bagaimana hubungannya dengan orang di masa lalunya kandas begitu saja karena ulah sang ibu. Kini dia tidak mau kejadian itu terulang kembali, terlebih dia sungguh benar-benar mencintai Arini.
Pagi-pagi Doni mengemasi beberapa lembar pakaiannya, dia memutuskan untuk tidak tinggal di rumah itu sementara waktu. Tanpa berpamitan pada ibunya, Doni keluar begitu saja menuju restonya, dia akan tinggal di sana untuk sementara.
Doni menghubungi Arini, mengajaknya pergi dengan Cila jalan-jalan. Kebetulan hari itu weekend, Arini libur dari pekerjaan kantornya.
"Kamu sama Cila siap-siap ya, aku segera menjemput kalian," perintah Doni saat panggilannya tersambung.
"Kita mau kemana Mas?" tanya Arini.
"Jalan-jalan saja, sudah lama kita nggak ngajak Cila keluar."
"Baiklah, aku akan segera bersiap."
Sesuai permintaan Doni, Arini dan Cila sudah siap saat Doni menjemputnya. Mereka segera pergi setelah Doni meminta izin pada Bu Mira untuk membawa anak dan cucunya itu. Dengan senang hati Bu Mira pun memberinya izin.
Mereka pergi ke berbagai macam tempat wisata, dari taman bermain, kolam renang sampai pergi ke Candi Borobudur.
Cila sungguh terlihat bahagia, dia merasa menemukan keluarga yang sungguh sempurna saat itu. Apalagi saat berada di Candi Borobudur, Doni rela menggendong Cila naik sampai bagian paling atas yang tingginya cukup menguras energi.
"Mas jangan berubah, jika nanti Mas tahu kalau Cila bukan anak kandungku. Dia anak Mas Juna dengan Iren." Arini membatin saat melihat perjuangan Doni untuk Cila.
Setelah turun ke bawah, mereka asik menikmati jajanan khas yang ada di sana. Cila yang kelelahan akhirnya mengahampiri ibunya dan tidur di pangkuannya begitu saja.
"Cila kelelahan," ucap Arini memberi tahu.
"Kita pulang sekarang saja," ucap Doni yang kemudian mengangkat Cila dari pangkuan Arini dan menggendongnya.
Mereka pun berjalan berdampingan, Juna dengan Cila di gendongannya, Arini dengan semua barang bawaannya. Di tengah perjalanan menuju tempat parkir yang memang cukup jauh, Arini bertemu dengan teman sekolahnya dulu.
"Arini ya?" tanya Mita teman sekolah Arini.
"Ehh Mita, lama banget ya nggak ketemu." Arini menyalami lalu memeluk temannya itu.
"Ehh Rin, itu anak sama suami kamu ya. Jangan-jangan kamu nikah sama duda," ledek Mita, yang melihat seorang laki-laki dengan perkiraan usia di atas Arini menggendong seorang anak perempuan.
Mendengar ucapan temannya itu membuat Arini tersenyum mengejek Doni.
Sementara Doni yang mendengar itu langsung melototi Arini tanda memgancam.
"Awas kamu ya Arini, beraninya kalian sebut aku duda," ucap Doni dengan tatapan mematikan langsung menarik tangan Arini.
" Maaf ya, aku duluan. Kasian dia sudah kelelahan menggendong anakku dari atas sana." Arini menunjuk lokasi Candi.
"Ok..., kapan-kapan kita ketemuan ya."
" Siap," ucap Arini sambil berlalu mengikuti langkah Doni.
"Seneng kamu ya, melihat aku di ejek seperti itu." Doni tampak kesal namun menggemaskan.
"Mestinya Mas seneng, aku berarti awet muda," ucap Arini lalu tertawa puas.
"Kamu yang awet muda, aku yang di bilang tua, duda lagi."
"Sabar Mas, selisih kita kan memang lumayan jauh.
"Iya memang lumayan jauh, tapi masih cocok juga kali dampingi kamu. Teman kamu aja yang matanya siwer mungkin." Doni yang kesal malah membuat Arini semakin tertawa.
Mereka segera masuk ke dalam mobil. Di tengah perjalanan, Doni meminta Arini menemaninya membeli beberapa keperluan harian. Doni menghentikan mobilnya di sebuah supermarket. Tidak tega meninggalkan Cila sendirian di mobil, akhirnya Doni menggendong Cila yang masih terlelap membawanya ikut masuk.
Arini menenteng keranjang belanjanya, sementara Doni menunjuk barang-barang yang dia butuhkan. Ketika Arini tengah sibuk dengan barang belanjaannya, tiba-tiba ada ada yang memanggilnya.
"Arini...?"
Arini menengok kaget dengan panggilan tersebut, terlihat olehnya sosok perempuan yang tidak asing baginya. Dia adalah Melin, kakak dari Juna.
"Kak Melin, bagaimana kabar Kakak?" tanya Arini.
"Baik Rin, lama banget nggak ketemu. Bagaimana keadaanmu?" tanya Melin sambil memeluk Arini.
"Aku baik Kak."
"Bukankah kamu Doni sahabatnya Juna?" Melin penasaran saat melihat Doni di samping Arini dengan menggendong seorang anak.
"Iya Kak, lama nggak ketemu ya Kak."
"Siapa anak ini?" tanya Melin menunjuk ke arah Cila.
"Dia anakku Kak," jawab Arini.
"Dia anak kami, kami akan segera menikah," Imbuh Doni.
Melin merasa bingung dengan jawaban kedua orang tersebut.
"Jadi maksudnya," tanya Melin belum paham.
"Maaf Kak, anak ini adalah anakku. Mungkin dalam waktu dekat ini aku dan Mas Doni akan menikah."
Mendengar jawaban itu membuat Doni merasa sangat senang. Sementara Melin masih dalam kebingungannya.
"Ooh, seperti itu. Semoga kalian bahagia ya," jawab Melin.
Dalam hatinya Melin bertanya-tanya, " jika mereka baru mau menikah lantas siapa ayah kandung anak itu?" Namun rasanya tidak etis jika menanyakan hal seperti itu di tempat umum.
"Oya, Ibu juga balik ke Jogja. Berkunjunglah, Ibu akan sangat senang dengan kedatanganmu Arini," ucap Melin.
"Iya Kak, inayaaalloh saya akan mengunjungi Ibu."
Mendengar ucapan Melin membuat Doni merasa cemburu. Keluarga Juna sangat menyayangi Arini, sementara ibunya belum mau menerima kekasihnya itu.
Setelah berpamitan Melin pun segera pergi meninggalkan Arini dan Doni. Dia berniat akan segera menanyakan semuanya pada Juna. Karena melihat sepintas wajah anak itu mirip dengan Juna. Dia penasaran mungkinkah benar dia anak Juna.
****
happy reading
pacaran menjauh menderita
sampe lika liku laki2 SAH ttp aja gt, lgsg baca end aja deh
cila itu anak tiri tantemu loh
cila ke agam
utk cinta sejati akan tau balik ke t4 nya..
yo wes lah obati agam aja lha
penyelamat jika ada apa pun.