Bagaimana jika tiba-tiba Jonathan Anderson bertemu kembali dengan wanita yang dulu pernah dia buat sakit?
Bagaimana jika wanita tersebut datang dengan membawa seorang anak kecil dengan wajah yang sangat mirip dengan dirinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cucu@suliani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Melakukan Sesuatu
Carol terlihat kebingungan kala melihat wanita paruh baya di hadapannya hanya diam mematung seraya memperhatikan wajah putranya, dia tidak tahu apa sebabnya.
Satu hal yang Carol perhatikan, wanita paruh baya itu terlihat memakai pakaian serba hitam. Mungkin saja dia baru saja kehilangan cucu yang sepantaran putranya, pikirnya.
"Ehm, maaf Nyonya. Anda kenapa?" tanya Carol yang merasa tidak nyaman saat mendapati tatapan yang begitu sulit diartikan dari wanita itu.
Wanita paruh baya yang ada di hadapan Carol terlihat tersentak kaget, dia terlihat mengalihkan pandangannya kepada Carol lalu dia terlihat tersenyum tidak enak hati.
"Maaf jika aku terlalu lama menatap wajah putramu, dia sangat tampan. Bisakah kita berbicara sebentar," kata wanita paruh baya itu.
Carol terdiam, dia tidak mengenal sama sekali wanita yang berada di hadapannya. Lalu, kenapa harus berbicara walaupun sebentar, pikirnya.
Apalagi Carol baru datang dari luar negeri, dia takut jika wanita itu mempunyai niat yang jahat terhadap dirinya dan juga putranya.
"Maaf, Nyonya. Bukannya saya sombong, tapi kita tidak saling mengenal," kata Carol dengan lembut agar wanita paruh baya yang berada di hadapannya tidak tersinggung.
Wajah wanita paruh baya itu terlihat berubah sendu, lalu dia menghampiri Carol dan mengusap lengan Carol dengan lembut.
"Perkenalkan, namaku Berlin Anderson. Aku wanita tua yang baik hati, bisakah kita berbicara sebentar?" kata Berlin seraya mengulurkan tangan kanannya.
Mata Carol langsung membulat dengan sempurna ketika mendengar nama Anderson, itu artinya wanita paruh baya yang berada di hadapannya adalah Ibu dari Jonathan Anderson.
Lelaki yang selama ini selalu menjadi motivasi untuk dirinya agar bisa menjadi seorang wanita karir yang sukses, Berlin langsung tersenyum melihat akan hal itu.
"Ah, maaf Nyonya Berlin. Maaf karena tidak mengenali anda, sudah enam tahun saya tinggal di luar negeri dan saya baru datang kemarin. Maaf kalau tidak mengenali wanita sehebat anda," kata Carol seraya membalas urutan tangan dari Berlin.
"Kamu terlalu berlebihan," kata Berlin.
Berlin jadi berpikir, pantas aja putranya tidak menemukan wanita yang pernah dia tiduri, karena ternyata Carol berada di luar negeri.
Padahal, Berlin baru saja bertemu dengan Carol dan juga Julian. Namun, hatinya begitu yakin jika Julian adalah cucunya.
Niat awal Berlin ke pemakaman adalah untuk mengunjungi pusara terakhir suaminya, lelaki yang begitu dia cintai itu telah meninggal satu tahun yang lalu.
Dengan seperti itu dia resmi mewariskan seluruh aset berharganya kepada Jonathan, putra semata wayangnya. Putra yang selalu dia banggakan.
Terkadang Jonathan sampai tidak ada waktu untuk Berlin, karena terlalu sibuk bekerja bersama dengan Leo.
Bahkan, Jonathan tidak pernah ada waktu untuk sekedar berkencan dengan seorang wanita. Sebenarnya alasan utamanya bukan karena sibuk bekerja, karena dia sering bertemu dengan wanita cantik.
Namun, Jonathan selalu bersikukuh jika dia akan menikah dengan wanita yang pernah dia tiduri. Dia ingin bertanggung jawab, dia ingin mempertanggungjawabkan apa yang sudah dia lakukan terhadap wanita yang dia tiduri itu.
"Kamu sangat cantik, boleh aku tahu nama kamu?" tanya Berlin.
"Tentu saja, aku Carolina Liandra Sebastian dan ini putraku Julian," jawab Carol.
Mendengar nama Sebastian disebutkan, Berlin teringat akan perusahaan yang putranya beli enam tahun yang lalu dari keluarga Sebastian.
Perusahaan itu dijual dengan harga murah, karena saat itu Barra Hendry Sebastian mengalami kebangkrutan.
Perasaan Berlin menjadi berkecamuk kala mengingat putranya yang mengaku telah meniduri seorang wanita di sebuah Club malam yang memakai seragam pelayan.
Dia merasa sangat bersalah, mungkin saja kala itu Carol sengaja menjadi pelayan karena tidak punya uang setelah kebangkrutan sang ayah, pikirnya.
Namun, dengan teganya sang putra merenggut mahkota dari Carol, tapi dia juga tidak bisa menyalahkan Jonathan sepenuhnya. Karena saat itu Jonathan dalam keadaan pengaruh obat perangsang.
"Jadi, apakah kita bisa bicara sebentar? Mungkin dengan duduk bersama di kedai es krim akan terasa lebih baik?" tawar Berlin seraya melirik ke arah Julian.
Mendengar kata es krim mata Julian terlihat berbinar, dia bahkan langsung melompat-lompat kegirangan. Padahal, Carol belum mengiyakan.
"Ayolah, bukankah hari ini cuacanya sangat panas? Akan sangat menyenangkan duduk seraya memakan es krim dengan rasa--"
Belum selesai Berlin mengatakan apa yang ingin dia sampaikan, tapi Julian sudah lebih dulu menyela.
"Coklat yang ditaburi kacang mede," celetuk Julian.
Hati Berlin berdebar dengan sangat kencang mendengar apa yang dikatakan oleh Julian, padahal Julian hanya menyebutkan es krim kesukaan dari Jonathan, tapi entah kenapa dia merasa ingin menangis mendengar akan hal itu.
"Granny kenapa diam saja?" tanya Julian kepada Berlin yang hanya mematung menatap dirinya.
"Eh? Tidak apa-apa, kita akan pergi kalau ibumu mengizinkan," kata Berlin.
Mendengar apa ya dikatakan oleh Berlin, Julian terlihat menarik-narik baju yang dipakai oleh ibunya tersebut. Kemudian, dia bertanya dengan kepalanya yang mendongak.
"Mom!" Julian terlihat menatap Carol dengan penuh harap.
Carol terlihat menghela napas berat, lalu mengeluarkannya dengan perlahan. Dia berjongkok dan mensejajarkan tubuhnya dengan putranya itu.
"Ya, baiklah. Sepertinya memakan es krim adalah hal yang tidak buruk," kata Carol.
Julian terlihat begitu senang, bahkan dia sampai melompat dan memeluk ibunya dengan sangat erat.
"Terima kasih, Mom," kata Julian dengan tulus.
"Ah, syukurlah. Kalau begitu tunggu sebentar, aku mau menemui suamiku dulu," kata Berlin.
Tanpa menunggu persetujuan dari Carol, Berlin terlihat berlari untuk membeli sebuket bunga mawar. Kemudian, dia menyimpannya di atas pusara terakhir suaminya.
Dia terlihat tersenyum senang kala mengingat dirinya akan pergi bersama dengan Carol dan juga Julian, lalu dia kembali menghampiri Carol dan juga Julian.
"Ayo," ajak Berlin.
Sopir langsung membukakan pintu mobil, dengan cepat Berlin mengajak Julian dan juga Carol untuk segera masuk dan duduk di bangku penumpang.
Bahkan Berlin sendiri yang menggendong Julian dan mendudukkannya di atas pangkuannya, setelah itu dia meminta pak sopir untuk segera melajukan mobil tersebut menuju kedai es krim yang tidak jauh dari pemakaman tersebut.
Saat tiba di kendari es krim, dengan tidak sabar Julian memesan es krim yang sangat dia inginkan. Es krim coklat dengan taburan kacang mede di atasnya, dia bahkan memesan satu cup besar.
Carol hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah dari putranya tersebut, sudah sangat lama memang putranya itu tidak memakan es krim
Karena itu dia mengizinkan putranya itu untuk memakan makanan dingin tersebut, makanan yang entah kenapa sangat disukai oleh Julian. Padahal Carol sangat benci es krim, karena saat kecil dia pernah sakit gigi dan pipinya sampai bengkak dua minggu Karen makan es krim.
"Apa es krimnya enak?" tanya Berlin.
"Sangat, Granny. Terima kasih," jawab Julian seraya tersenyum manis.
"Oh ya ampun, kamu sangat mirip dengan Jo," kata Berlin.
Mendengar akan hal itu Carol merasa tidak enak hati, dia terlalu mengidolakan lelaki itu pada saat dia hamil. Dia merasa bersalah karena putranya sangat mirip dengan Jonathan.
"Ehm, Sayang. Daddy kamu, mana?" tanya Berlin seraya memperhatikan wajah Carol.
Dia sengaja bertanya seperti itu karena ingin tahu jawaban yang akan keluar dari bibir Julian, sungguh dia merasa sangat penasaran.
"Emm, kata Mommy, daddy sedang bekerja. Daddy kerjanya jauh, jadinya ngga pulang-pulang," kata Julian sendu.
Carol terlihat memalingkan wajahnya karena dia tidak sanggup untuk bertatap mata dengan Julian dan juga Berlin, setiap kali putranya bertanya tentang ayahnya dia hanya akan mengatakan jika ayah Julian sedang pergi bekerja.
"Benarkah? Kenapa dia tidak mau pulang?" tanya Berlin.
"Sepertinya daddy tidak punya ongkos buat pulang, nanti kalau Ian besar dan sudah bekerja, Ian akan mengumpulkan uang yang banyak." Julian berkata sambil menjilati sendok es krimnya.
"Untuk apa?" tanya Berlin.
"Kalo sudah banyak uang, Ian akan jemput daddy pulang. Kasian Mommy bekerja sendirian untuk membelikan Ian semua yang Ian perlukan," kata Julian.
Hati Carol seakan mencelos, dia bahkan sampai menitikkan air matanya. Namun, dengan cepat ia mengusap air matanya tersebut.
Hal itu tidak luput dari penglihatan Berlin, dia ikut bersedih melihat Carol menitikan air matanya. Karena walau bagaimanapun juga ini adalah ulah putranya.
Berlin terlihat mengusap-usap puncak kepala putra Carol, dia bukan hanya bermaksud untuk mencurahkan kasih sayangnya terhadap bocah tampan tersebut.
Namun, sengaja dia melakukan hal itu sampai dia mendapatkan beberapa helai rambut milik Julian. Setelah itu, dengan cepat dia memasukkan helaian rambut milik Julian ke dalam tas miliknya.
"Ehm, maaf. Aku lupa kalau aku masih mempunyai janji, aku harus segera pergi," kata Berlin dengan tergesa.
Dia terlihat mengecupi setiap inci wajah Julian, lalu segera berpamitan kepada Carol dan juga Julian untuk pergi dari sana.
Carol hanya bisa menatap heran kepergian dari wanita paruh baya itu, tapi tidak lama kemudian dia terlihat menggedikkan kedua bahunya.
***
selamat siang semuanya, selamat beraktivitas. Jangan lupa untuk tinggalkan komentarnya, sayang kalian selalu.