Arumi gadis cantik tomboy dan baik hati bertemu dengan pria songong dan sok tampan, pertemuan itu meninggalkan kenangan yang tak terlupakan bagi sang pria tampan, dia menyimpan dendam yang membara terhadap gadis itu.
Dunia memang sempit, sang pria tampan menjadi guru olahraga di sekolah Arumi, di sana mereka pun saling melampiaskan dendam masing-masing.
Lama kelamaan rasa dendam dan benci berubah menjadi cinta, bagaimana keseruan kisah cinta mereka.
Yuk capcus langsung baca karyaku ya...🙏🙏
jangan lupa tinggalkan jejak rate, like dan komentar 🙏🙏🙏
terimakasih
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sri Ghina Fithri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
Setelah makan siang di kantin, Laras kembali mencoba menghubungi sahabatnya.
Pelajaran yang padat membuat gadis itu lupa dengan sahabatnya.
Laras menekan nomor ponsel Arumi lalu menemukan tombol hijau untuk memanggil sang sahabat.
"Halo," lirih Arumi mengangkat panggilan dari Laras.
"Arum, lu di mana? Kenapa lu enggak sekolah," tanya Laras panik saat panggilan sudah tersambung.
"Sorry, Ras. Gue enggak bisa ke sekolah, gue,--"
"Kenapa?" Laras sudah memotong ucapan Arumi yang masih menggantung.
"Makanya, Ras. Dengerin apa yang gue omongin dulu," ujar Arumi.
"Gue enggak ke sekolah, karena gue sakit," ujar Arumi memberitahukan keadaannya saat ini.
"Hah? Lu sakit? Kok bisa? Perasaan kemarin lu sehatnya sehat aja," ujar Laras tak percaya.
"Ya udah, kalau lu enggak percaya. Kita video call, ya," ajak Arumi.
Arumi memutuskan panggilan tersebut lalu dia menghubungi sahabatnya via video call.
"Rum, lu beneran sakit?" tanya Laras saat melihat Arumi tengah berada di rumah sakit.
"Iya, Ras. Lu sih, enggak percaya sama apa yang gue bilang," jawab Arumi.
"Iya, deh. Gue percaya, tapi lu sakit apa?" ujar Laras.
"Gue diare, Ras. Gara-gara makanan pedas yang kemarin," jawab Arumi.
"Ya ampun, kasihan banget sih lu, oh iya, lu kan enggak bisa makan pedas, Rum. Lu di rumah sakit mana?" tanya Laras pada sahabatnya.
"Gue di rumah sakit Ciputra Citra," jawab Arumi.
"Ya udah gue ke sana, ya. Mungkin hari ini gue enggak belajar tambahan dulu sama pak Ridho, enggak seru kalau enggak ada lu," ujar Laras memutuskan.
"Ya udah, terserah lu aja," ujar Arumi.
"Oke, udah dulu, ya, gue mau cari pak Ridho dulu untuk minta izin," ujar Laras sebelum dia memutuskan panggilan dengan sahabatnya.
Setelah itu Laras langsung membayar makanannya di kasir kantin. dia melangkah menuju ruang majelis Guru untuk menemui Pak Ridho.
Sebelum dia sampai di ruang majelis Guru Laras mendapati Pak Ridho tengah duduk santai dengan Pak Dian di taman samping lapangan basket.
Laras langsung melangkah mendekati posisi kedua guru tampan tersebut.
"Permisi, Pak," ucap Laras menyapa gurunya.
"Eh kamu, Ras," Pak Ridho kaget melihat Laras datang menghampirinya.
Ridho melihat jam di pergelangan tangannya.
"Ada apa, Ras? Kita mulai belajar nanti jam 2 kan?" tanya Ridho.
Guru tampan itu bingung karena masih ada waktu sekitar 20 menit lagi untuk memulai pelajaran sesuai jadwal yang sudah di tentukan.
Tian hanya mencermati sahabat dari gadis yang dibencinya itu.
"Maaf, Pak. Saya sudah mengganggu, saya mau minta izin untuk tidak ikut belajar tambahan hari ini," ujar Laras.
"Kenapa, Ras? Arumi mana?" tanya Ridho heran melihat gadis itu datang seorang diri.
"Eh iya, ya. Tumben nih anak sendirian, biasanya mereka selalu nempel seperti perangko," gumam Tian di dalam hati menyadari siswi nya tak bersama gadis tengil yang selalu mengusik hari-harinya.
"Mhm, saya mau jengukin Arumi di rumah sakit, Pak," jawab Laras
"Rumah sakit? Emangnya gadis tengil itu bisa sakit juga?" gumam Tian di dalam hati.
"Di rumah sakit? Ada apa dengan Arumi, Ras?" tanya Ridho pada Laras.
"Dia mengalami diare hebat, sehingga dia kekurangan cairan," jawab Laras.
"Kok bisa?" tanya Ridho lagi.
Ridho masih ingin tahu tentang keadaan siswi teladannya itu.
"Kemarin, Arumi tak sengaja memakan makanan pedas. Ditambah dia sejak dulu tidak boleh makan makanan pedas lambungnya sangat sensitif," jawab Laras dengan jelas.
"Hah? Jangan-jangan dia masuk rumah sakit gara-gara ulah gue," gumam Tian di dalam hati.
Dia merasa menyesal telah mengerjai Arumi kemarin.
"Oh, ya udah. Kalau gitu, hari Kamis kita mulai belajar tambahannya," ujar Ridho.
"Terima kasih, Pak," ujar Laras.
"Kalau begitu saya permisi, Pak," ujar Laras berpamitan pada gurunya.
Setelah itu Laras pun melangkah keluar dari kawasan sekolah.
Kali ini Laras memilih untuk naik ojek online menuju rumah sakit.
Dia memesan ojek online melalui aplikasi yang ada di ponselnya.
Tak berapa lama Laras menunggu, ojek pesanannya datang menghampirinya.
"Mbak Laras, ya?" tanya si pengendara ojek online tersebut.
"Iya, Pak," sahut Laras.
Laras menaiki ojek itu, lalu meminta tukang ojek untuk mengantarkannya menuju rumah sakit Ciputra Citra.
Saat di perjalanan menuju ke rumah sakit, sepeda motor yang ditumpangi oleh Laras tiba-tiba mogok.
"Aduh, kenapa, Bang?" tanya Laras heran.
"Enggak tahu nih, Mbak. Saya cek dulu, ya," ujar si tukang ojek.
Laras pun turun dari sepeda motor, dia mendengus kesal.
Mereka tepat berhenti di depan sebuah supermarket.
"Aduh, mana jauh lagi. Aku beli minum dulu, Bang," ujar Laras pada si tukang ojek.
"Iya, Mbak," sahut si tukang ojek.
Laras pun melangkah menuju pintu masuk mini market.
"Auw," pekik Laras.
Seseorang sudah menabrak bahu Laras sehingga dia meringis kesakitan.
"Eh, maaf," ujar seorang pria tampan yang baru saja melintas di sebelah Laras.
"Ma-maaf," ujar si pria tampan nan baik hati itu.
Penampilannya yang rapi mengenakan kemeja serta jas yang terpasang di tubuh kekarnya membuat pria yang memiliki tinggi 180 cm itu terlihat sangat memukau dan menawan bagi setiap kaum hawa yang melihatnya.
"Wilona," lirih Nick sambil melambaikan tangannya tepat di depan wajah Laras yang masih diam mematung terpana dengan keindahan ciptaan Tuhan yang sempurna itu.
"Hei," ujar Nick sambil menjentikkan jarinya tepat di depan wajah Laras.
"Eh, ka-kamu Arnold," lirih Laras baru ingat bahwa dia pernah berjumpa dengan pria tampan yang penuh pesona itu.
"Bu- i-iya," jawab Nick gugup.
Dia hampir saja mengungkapkan siapa dirinya sesungguhnya.
Dia juga tidak pernah mendengar cerita Tian tentang gadis dunia mayanya.
"Oh, apa kabar?" tanya Laras pada pria yang ada di hadapannya.
Seketika rasa sakit itu sirna begitu saja saat dia melihat pria tampan di hadapannya.
Rasa kagum Laras terhadap Nick semakin bertambah saat kini kembali berjumpa, hanya saja ada sedikit rasa kecewa karena sejak pertemuan itu Arnold tak pernah lagi menghubungi Wilona lewat akun media sosial mereka.
"Baik, kamu gimana kabarnya?" tanya Nick pada Laras yang dikiranya sebagai Wilona.
"Baik," jawab Laras.
"Kamu sendirian?" tanya Nick pada Laras.
"Iya, tadi sama tukang ojek di sana, eh, tukang ojeknya mana? Kok aku ditinggal," ujar Laras panik saat tak lagi melihat tukang ojek yang tadi membawanya.
Nick menoleh ke arah tunjuk Laras, dia memang tak lagi melihat sosok tukang ojek online di pinggir jalan.
"Kamu mau ke mana?" tanya Nick pada Laras.
"A-aku mau ke rumah sakit," jawab Laras jujur.
"Ya udah, yuk aku antar," ajak Nick tidak mau kehilangan kesempatan untuk bisa mengenal wanita yang sudah menarik perhatiannya sejak mereka berjumpa beberapa Minggu yang lalu
Bersambung...
ijin mampir baca ya'!