Nayla memendam rasa cintanya pada seorang Elang Edgar Wiguna sejak ia masih berusia 13 tahun dan baru saja menginjak masa remajanya. Bagi Nayla Elang terlalu Sempurna untuk dirinya yang biasa saja.
"Elang terlalu starbak untuk aku yang kopikap"
Itulah mantra yang Nayla ucapkan agar tidak terlalu berharap Elang membalas cintanya dan hubungan yang rumit dengan Elang pun membuat Nayla semakin menekan perasaannya.
Elang adalah adik Bimo yang merupakan mantan kekasih kakaknya sendiri, Nadia.
Selain itu Elang juga merupakan kakak dari sahabatnya sejak dulu yang bernama Amelia.
Rumit bukan ?
Sebisa mungkin Nayla menyembunyikan perasaannya dari sang kakak juga sahabatnya sendiri. Rasa cinta itu Nayla telan bulat-bulat sendirian dan menyimpannya dengan rapi.
Tapi apa yang terjadi jika ia selalu gagal dalam membina hubungan dengan pria lain dan selalu terjebak pada Elang yang telah mencuri seluruh hatinya ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MeeGorjes, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cetak Angka
Selamat membaca ♥️
"Nih ambil !! " ucap Amel ketus seraya menyerahkan sebuah benda hitam pada Elang yang tengah berdiri di pinggir lapangan.
"Kamu kenapa?"
"Jangan banyak tanya !!" potong Amelia cepat. Gadis itu memanyunkan bibirnya dengan sorot mata tajam menahan kesal.
Elang tahu jika sang adik sedang dalam mood yang tak baik, maka Elang pun memilih untuk menuruti kemauan Amelia yaitu tak lagi banyak bertanya.
"jangan jauh-jauh," ucap Elang pada Amelia yang akan menempati tempat duduk di bangku penonton yang berada beberapa tingkat di atas di mana Nayla sudah duduk menantinya.
"Aku mau duduk di atas sama Nayla, "sahut Amelia.
"Di sini saja," kata Elang sembari menunjuk tiga buah bangku kosong yang letaknya tak jauh dari para pemain.
Amelia menyetujui, tapi sebelumnya ia mengajak Nayla untuk turun dan duduk di bangku yang telah Elang sediakan. berkedok perhatian pada sang adik padahal terselip maksud lain di dalamnya yaitu membuat Nayla duduk lebih dekat dengannya.
Elang melirik dengan ujung mata saat Nayla menuruni tangga dan menghampiri Amelia untuk duduk bersama di bangku yang tak jauh darinya. Elang pun tersenyum samar.
"kenapa Mel ?" tanya Nayla pada temannya itu karena Amel masih saja menunjukkan wajah tak bersahabatnya.
"aku lagi kesel tapi ceritanya nanti ya," jawab Amelia. sebenarnya Amelia pun bingung dengan dirinya sendiri. Entah kenapa ia merasa kesal.
Amelia bingung apakah ia kesal karena Rafa karena selalu mengganggunya atau karena Rafa mengumbar gombalan pada siswa perempuan yang lainnya.
"Gak mungkin nggak mungkin banget kalau aku cemburu, " gumam Amelia lirih. Ia tak mau siapapun mendengar ucapannya termasuk Nayla.
Amelia tak mau Jika ia mempunyai perasaan lebih pada Rafa sahabat sang kakak. lelaki itu terlalu konyol bila dijadikan sebagai kekasih sungguh laki-laki seperti Rafa bukanlah tipe Amelia.
Amelia mengangkat wajahnya saat terdengar riuh tepuk tangan. Ternyata riuh tepuk tangan itu dimaksudkan untuk menyambut kedatangan seorang pemain basket lainnya yang datang terlambat siapa lagi jika itu bukan Rafa.
"Makasih, makasih," ucap Rafa terlihat jumawa.
Lelaki itu sudah berganti baju basket sambil menggendong tas hitam bermerk tanda ceklis putih di punggungnya. merk yang sama dengan sepatu basket yang ia gunakan.
Rafa tak langsung duduk, ia berdiri bersama pemain lainnya mendengarkan arahan dari pelatih mereka. Ia berdiri membelakangi Amelia dan juga Nayla.
Di seberang sana tim lawan pun sedang mendengarkan pengarahan dari pelatih mereka. elang dan Rafa yang berdiri bersebelahan melihat ke arah tim lawan yang ternyata mereka pun sedang melihat ke arah di mana Rafa dan Elang berdiri.
Tapi anehnya mata mereka tidak tertuju pada Elang dan timnya, Rafa pun mengikuti arah pandangan mereka yang ternyata tertuju pada seorang gadis cantik berkulit putih bertubuh tinggi langsing yang duduk di belakangnya.
Kehadiran Amelia memang terlihat mencolok bagi para kaum Adam. penampilannya yang cantik khas indo bule membuat Amelia menjadi pusat perhatian. tentunya hati Rafa menjadi ketar-ketir, karena ia merasa persaingannya semakin banyak.
Sedangkan Elang, Ia cukup tenang karena Nayla adalah gadis yang pemalu. Penampilannya juga kurang modis tapi di mata Elang hanya Nayla gadis paling cantik yang ada di ruangan ini. Padahal saat ini banyak juga siswa-siswi dari sekolah lain yang datang untuk melihat pertandingan.
"Ih rasanya pengen gue colok mata mereka yang berani lihat-lihat Amelia," geram Rafa.
"Kamu ngomong apaan, Fa ?" tanya Pak Yosef yang merupakan guru olahraga sekaligus pelatih basket mereka.
"eh apa Pak?" tanya Rafa karena ia kehilangan fokus.
"kalau saya lagi ngomong itu dengerin makanya !" kata Pak Yosef yang terlihat sedikit emosi.
"Ssttt, diem Fa," kata Elang.
Rafa kembali berusaha fokus pada timnya, tapi ia tak bisa menghilangkan pikirannya tentang Amelia. Rafa harus mencari cara agar para kumbang-kumbang yang tak diundang itu berhenti untuk mengganggu bunga miliknya.
"Kamu mau tanding sambil bawa tas ?" pertanyaan pelatih itu ditujukan pada Rafa dan lagi-lagi ia terlihat emosi.
Rafa nyengir kuda, lalu ia melepaskan tas ranselnya itu dan berjalan ke tepian. Alih-alih menitipkan tasnya kepada para pemain cadangan Rafa lebih memilih untuk menitipkan tasnya pada gadis cantik yang berkulit pucat itu.
"Mel, Rafa titip tas ya," ucapnya.
"ih ngapain titip ke aku? "tanya Amelia judes seperti biasanya.
"Soalnya di dalamnya banyak barang berharga, Rafa nggak bisa sembarangan titip ke orang lain,"
" emang dalamnya ada apaan Kak Rafa?" tanya Nayla dengan wajah serius ingin tahu.
"ada buku, pulpen, handphone dan juga hati Rafa yang hanya bisa dititipkan pada Amelia," jawabnya kembali menggombal.
"Ini ambil, aku gak mau ," ucap Amelia seraya memberikan kembali tas itu pada Rafa.
"Mel, dimintain tolong segitu aja masa nggak mau sih?" tanya Rafa dengan memasang mata puppy eyes agar Amelia merasa sedikit iba padanya.
Tak ingin berdebat lebih lama dengan terpaksa Amelia pun menyetujuinya. "terima kasih ya Mel, Amel itu udah cantik, baik hati, juga tidak sombong. tipe idaman Rafa banget pokoknya mah," ucap Rafa.
"tapi yang lain juga tasnya dititipin di bawah" Amel berusaha menolak permintaan pemuda itu.
tanpa banyak bicara Rafa berjalan dan meraih tas ransel hitam milik elang dan menyerahkannya pada Nayla. "jagain tas Elang ya Nay," ucap Rafa. Ia lakukan itu agar Amelia tidak menolak keinginannya lagi.
Elang melihat kejadian itu dari tengah lapang dengan wajah penuh tanda tanya. " tas lo dijagain Nayla, " teriak Rafa.
Amelia masih ingin protes tapi Rafa segera berlari ke tengah lapangan karena pertandingan akan segera dimulai.
Perdebatan kecil mereka tadi menjadi pusat perhatian dan upaya Rafa sepertinya berhasil untuk menunjukkan pada siswa-siswa lain bahwa Amelia adalah miliknya.
Dari tengah lapang pemuda itu tersenyum manis pada Amelia yang menekuk muka di pinggir lapangan dan dengan terpaksa menjaga tas miliknya.
"tukeran yu Nay," ucap Amelia.
"nggak mau," sahut Nayla. Ia langsung memeluk tas milik Elang.
"Kamu kok gitu sih Nay? ikut-ikut godain aku kayak si Rafa," keluh Amelia Gadis itu menyangka jika sahabatnya ikut serta dalam menggodanya bersama Rafa.
Nayla tersenyum dengan arti yang ambigu. senyum yang menurut Amelia adalah untuk menggodanya padahal yang sebenarnya adalah ia tersenyum karena senang bisa menyentuh, memegang bahkan memeluk barang milik Elang. untuk mengabadikan itu Nayla mengambil foto selfie dengan ponselnya sendiri.
Bagaikan sebuah mimpi ia bisa memeluk ransel Elang. Rasa-rasanya seperti memeluk orangnya langsung.
Elang melihat kejadian itu dari tengah lapang basket, Ia tersenyum samar untuk menyembunyikan rasa bahagianya saat melihat Nayla memeluk tas miliknya.
"nggak usah berterima kasih El. kita kan bestprenan jadi harus tolong menolong dengan ikhlas," ucap Rafa. " cukup lu traktir gue makan aja di hanamasa," lanjutnya lagi tepat sebelum pertandingan dimulai.
Peluit tanda pertandingan dimulai pun ditiup, dengan penuh semangat Elang meraih bola basket itu dan mengopernya pada Rafa.
Rafa pun melakukan permainan itu dengan sangat gesit. Ia kembali mengoper bola itu pada Elang yang berdiri di dekat ring. Pertandingan baru saja dimulai selama 2 menit tapi Elang sudah mencetak skor dengan slam dunk. riuh tepuk tangan pun terdengar menggema.
"Go Elaaaang," teriak Nayla tanpa sadar ia begitu senang karena Elang berhasil mencetak angka.
Elang hafal benar dengan suara yang meneriakkan namanya, walaupun di tengah riuhan tepuk tangan. Elang pun menolehkan kepala dan memberikan senyuman manisnya pada gadis itu hingga wajah Nayla merona merah.
to be continued ♥️
thanks for reading ♥️
jangan lupa like komen vote dan hadiah
rafa somplak
seenaknya aja Elang, dia aja udah digelayutin kuda poni, giliran kamu baru jg dating udah cemburu